
Empat jam kemudian, Syiffa pun terbangun dari tidurnya lalu menatap jam tangannya menunjukan pukul jam 4 sore.
Ternyata sudah sore, makanan yang tadi saya makan sebanyak itu membuatku tidur nyenyak banget ya. Eh tunggu dulu Sebenarnya aku ada di mana ya ucap Syiffa pada diri sendiri sambil melihat-lihat seluruh ruangan.
Siapa yang sudah membawaku kesini ya? Saya tahu pasti ini suamiku yang membawaku ke sini ucap Syiffa.
"Selamat sore sayang, ternyata sudah bangun ya." ucap Fattan tiba-tiba datang memasuki ruangan tersebut.
"Kenapa kak Fattan tidak membangunkanku, tega banget membiarkan istrimu tidur sampai sore," gerutu Syiffa.
"Maaf sayang, habisnya kak Fattan tidak tega melihat kamu tidurnya nyenyak dibangunkan. Jadi ya sudah biarkan saja, sampai kamu terbangun sendiri." Ucap Fattan sambil Menghampiri istrinya.
"Oh ya Kak gimana? Tanya Syiffa sambil menatap suaminya.
"Maksudnya gimana apanya sayang?" Tanya balik Fattan sambil mengerutkan keningnya.
"Masa Kakak lupa ih. Maksudnya Syiffa itu gimana pak Rendy sudah ditelepon belum untuk bisa ketemuan sama Syiffa, eh salah maksudnya sama kita hehe." Syiffa cengengesan.
"Belum Sayang, lagian ngapain sih meski kekeuh pengen ketemu sama si Rendy itu. Sudahlah jangan yang kayak gitu deh ngidamnya." Ucap Fattan yang kini berada diranjang bersama istrinya.
"Pokoknya Syiffa enggak mau kak, kan Kakak tadi sudah janji dan sudah menyetujui." Ucap Syiffa merasa kesal.
"Itukan tadi, sekarang mah beda lagi kali jawabannya tidak boleh!" Fattan sambil menatap istrinya.
"Ih kak Fattan menyebalkan sekali, tadi sudah janji sekarang malah diingkari. Ya sudah kalau tidak mau, biarkan saja Syiffa sendiri saja yang datang keperusahaan Pak Rendy." Gerutu Syiffa sambil beranjak dari kasurnya.
"Mau kemana sayang?" tanya Fattan sambil menahan lengan istrinya.
"Saya mau mau ke perusahaan Pak Rendy. Emangnya kenapa kak?" Tanya balik Syiffa.
"Sendirian ke sananya?" Tanya Fattan.
"Tentu saja sendiri kak. Lagian kan kalau ngajak kak Fattan pasti tidak mau." Syiffa sambil melepaskan tangan suaminya yang menahan lengannya.
"Kata siapa, enggak mau hah? Ya sudah kita berangkat sekarang!" Ucap Fattan sambil menarik tangan istrinya untuk keluar dari ruangan tersebut dan berjalan menuju mobil miliknya.
Kini Syiffa dan Fattan pun sudah berada di dalam mobil. Dengan segera Fattan pun menjalankan mobilnya untuk menuju ke perusahaan dimana Pak Rendy berada.
"Terima kasih kak, sudah mau menuruti kemauan istrimu yang manja ini." Ucap Syiffa yang kini sedang berada di dalam mobil dan bersender dipundak suaminya.
__ADS_1
"Iya sayang, itu pun terpaksa harus menuruti kemauan kamu demi baby kita." Fattan masih fokus dengan menjalankan mobilnya.
"Kalau misalkan Saya tidak hamil, pasti kakak tidak akan mau dong mengabulkan keinginan saya?" Syiffa sambil menatap Fattan.
"Tentu saja tidak sayang, Lagian Kamu mau ngapain sih pingin ketemuan sama pak Rendy hah?" Tanya Fattan.
"Syiffa cuma mau memastikan, apakah dia baik-baik saja? Soalnya Syiffa merasa bersalah sama Pak Rendi setelah kejadian waktu itu." Ucap Syiffa sambil membayangkan waktu dulu dimana suaminya memukul Rendy hingga mengeluarkan darah dari bibirnya akibat kesalah pahaman.
"Sudahlah Sayang, lagian kan itu cuman masa lalu Jadi tidak perlu diingatkan itu lagi. Lagian Pasti si Rendi baik-baik saja kok." Fattan sambil menatap istrinya.
"Tapi Syiffa pingin memastikan saja sendiri, kalau pak Rendy itu baik-baik saja. Lagian Tidak ada salahnya kan kita sambil silaturahmi juga sama dia." Syiffa sambil menatap istrinya.
"Iya terserah kamu aja deh Sayang. Pusing bener deh kalau bicara sama kamu, terus panjang masalahnya tidak ada henti-hentinya." Fattan memilih untuk mengalah.
"Masa bodoh!" ucap Syiffa.
"Eh Kak, stop berhenti. Bukannya itu Pak Rendy ya?" Tanya Syiffa saat melihat Rendy dengan wanita disebuah Cafe.
"Kayaknya iya sih Itu si Rendy. Ya sudah kita ke sana Sayang." Fattan sambil berjalan menuju cafe tersebut dan memberhentikan mobilnya di kafe tersebut saat sudah sampai.
"Kak Rendy?" Sapa Syiffa saat sudah berjalan menghampiri Rendy.
"Syiffa? Eh ternyata kamu ada disini juga ya?" Tanya Rendy merasa tidak percaya bisa ketemu sama wanita yang dulu dicintainya.
"Lagi nongkrong saja Syiff disini. Kabarku baik baik saja kok Syiffa." Ucap Rendy.
"Syukurlah kalau begitu. Saya kepikiran mulu saat kak waktu kejadian itu. Dan merasa bersalah sama kak Rendy." Syiffa sambil menatap Rendy.
"Sudahlah Syiffa, lagiankan itu masa lalu Syiffa. Sekarang kamu jangan khawatir lagi, saya baik baik saja kok." Ucap Rendy sambil tersenyum.
"Terima kasih ya kak, kak Rendy orang yang selalu mengertiin Syiffa." Ucap Syiffa memeluk Rendy. Kini Syiffa sudah menganggap Rendy sebagai kakaknya.
"Iya sama sama Syiffa." Jawab Rendy.
"Eh Rendy, kamu ngapain sih peluk peluk istri saya hah?" Tanya Fattan tiba tiba datang.
"Kak Fattan? Jangan salah paham dulu kok. Lagian ini keinginan baby kita pingin dipeluk unclenya." Ucap Syiffa.
"Apa Uncle? Lagian saya tidak punya uncle seperti dia. Lagian ngapain sih kamu alesan pakai bawa bawa baby kita hah?" Tanya Fattan sambil menatap tajam istrinya.
__ADS_1
"Serius loh kak, lagian saya sudah anggap dia seperti kakakku kok. Jadi kak Fattan jangan salah pahamlah." Gerutu Syiffa sambil menatap suaminya.
"Saya enggak percaya kalau kamu sudah anggap dia sebagai kakak? Pasti kamu masih berharapkan dia kan?" Tanya Fattan.
"Serius kak. Ya ampun kak Fattan tega sekali menuduhku seperti itu. Lagian saya lagi hamil anak kak Fattan, jadi mana mungkin saya mengharapkan kak Rendy.
"Maksudnya, kamu lagi hamil anak dia?" Tanya Rendy merasa terkejut.
"Tentu saja kak, saya lagi hamil anak Fattan Adijaya nih." Ucap Syiffa sambil mengusap perutnya yang masih rata dan menatap suaminya.
"Ih sayang, segitu bangganya kamu sampai bilang dihadapan dia, kalau kamu mengandung anakku." Fattan sambil berjalan menghampiri istrinya dan merangkul pundak istrinya dan merasa terharu.
"Tentu saja, Syiffa sangat banggalah kak mengandung anakmu." Ucap Syiffa sambil menatap suaminya.
"Terus kamu masih tidak percaya kalau saya sama Syiffa tidak ada hubungan apa apa hah? Lagian Syiffa sekarang sudah saya anggap sebagai adikku." Gerutu Rendy.
"Siapa bilang hah? Lagian saya tentu saja percaya kok." Fattan sambil mengusap lembut rambut istrinya.
"Ck, menyebalkan sekali dirimu. Tadi tidak percaya dan sekarang bilang percaya. Syiffa punya suami benar benar hebat." Ucap Rendy sambil menatap Syiffa.
"Maksudnya hebat gimana?" Tanya Syiffa sambil mengerutkan keningnya.
"Iya hebat bersandiwara." Bisik Rendy.
"Apa barusan kak bilang? Kamu minta dipukul ya? Baiklah saya tidak akan menolak." Fattan sambil menatap Rendy.
"Hehe.. lagian saya cuma bercanda kok Tan. Jangan dipukul dong, kasihanilah saya masa bentar lagi mau menikah mukanya penyok sih kan sungguh tidak lucu." Gerutu Rendy.
"Apa kak Rendy mau menikah?" Tanya Syiffa.
"Iya Syiffa. Oya kebetulan ada satu undangan nih buat kamu." Rendy sambil mengambil undangannya di dalam kantong dan memberikan kepada Syiffa.
"Cie.. calon manten nih kak. Semoga lancar sampai hari H nya ya kak dan sukses malam pertamanya." Bisik Syiffa.
"Ih apaan sih Syiffa, mesum ya sekarang pikirinnya. Mentang mentang sudah merasakannya sama suamimu yang berhasil membuat anak yang sekarang yang sedang dikandung ya." Ucap Rendy.
"Tentu saja. Siap dulu dong Fattan adijaya gitu dilawan," ucap Fattan menyombongkan diri dan sambil mengusap Syiffa yang masih rata.
"Ck, sombong!" Gerutu Rendy.
__ADS_1
"Masa bodoh!" Jawab Fattan.
Kemudian Syiffa pun tertawa merasa unik perdebatan antara Rendy dan Fattan. Lalu Fattan dan Rendy pun ikut tertawa.