Jodohku Pimpinanku

Jodohku Pimpinanku
Eps.224


__ADS_3

"Nih sayang, sudah saya turutin nih kemauan kamu," ucap Fattan sambil membantu makanan yang dipesannnya dibantu juga oleh orang yang disuruh Fattan untuk membawa makanan tersebut.


"Terima kasih sayang, baik banget deh sudah mau nurutin kemauan istrimu yang sedang hamil ini." Syiffa sambil memeluk lengan suaminya.


"Tentu saja, demi anak kita, akan melakukan apapun yang kamu mau sayang." Fattan sambil mencium rambut istrinya.


"Makasih kak." Ucap Syiffa.


"Iddih, tapi bilang sayang sekarang malah bilang kakak. Lagian saya ini suami kamu, bukan kakakmu." Gerutu Fattan.


"Kan tadi cuma menggoda suamiku ini supaya mau menuruti kemauanku hehe," ucap Syiffa sambil cengengesan.


"Emmzz.. pinter banget ya ngerayunya sekarang." Ucap Fattan sambil memijit hidung istrinya.


"Kak sakit tahu. Ih nyebelin banget deh punya suami tidak pernah berubah ah," gerutu Syiffa sambil menatap sebal Fattan.


"Biarin saja, suka suka saya dong," ucap Fattan.


"Iya deh terserah kak Fattan saja maunya gimana. Oya ngomong ngomong itu orang lagi ngapain kak dari tadi lihat kita mulu." Bisik Syiffa sambil menatap seseorang yang kini sedang berada di luar mobil.


"Heh kamu lagi ngapain disini hah? Bukannya sudah beres saya nyuruh untuk membawa makanannya." Fattan sambil menatap orang tersebut.


"Emang iya sudah beres, tapi ingat mana bayarannya. Bukannya tadi berjanji akan kasih uang, tapi mana belum di kasih juga uangnya. Makannya saya menunggu disini untuk bayarannya. Mana sini bayarannya." Gerutu orang tersebut.


"Eh iya, saya lupa hehe. Ini uangnya," ucap Fattan sambil membuka dompetnya lalu mengeluarkan uang sebanyak satu juta dan memberikannya uang tersebut kepada orang itu.


"Yaelah Bang, kirain saya mau kasih uang semuanya tuh. Masa iya cuma dikasih seratusribu sih Bang." Protes Ipul.


"Lagian itu juga besar loh. Dari pada saya mau kasih cuma sepuluh ribu iya mau?" Ucap Fattan.


"Iya juga sih Bang, ya sudah deh terima kasih nih uangnya." Ucap Ipul.


"Heem." Jawab Fattan.


Namun Syiffa pun hanya menggelengkan kepala saat melihat tingkah suaminya.


"Karena makannya sudah beres. Saatnya kita pulang." Ucap Fattan sambil mengemudikan mobilnya.


"Oya kak, mau enggak nih martabaknya," ucap Syiffa yang kini sedang memakan martabak tersebut.

__ADS_1


"Enggak ah sayang, kamu saja makan sendiri biar kenyang." Ucap Fattan sambil menatap istrinya.


"Kayaknya kak Fattan, anti banget ya jajanan kayak gini?" Tanya Syiffa.


"Bukannya anti banget sayang. Saya suka kok, tapi kalau mau suka dibuatkan oleh Bi Ina." Ucap Fattan.


"Oh jadi kak Fattan, enggak mau karena makanan ini bukan buatan Bi Ina gitu?" Tanya Syiffa.


"Heem, kan kalau dirumah kelihatan bersih dan higenisnya." jawab Fattan.


"Dengerin ya Kak, tidak semuanya orang yang jualan dipinggir jalan itu jorok dan tidak bersih kak. Kak Fattan mah pikirannya negatif ya. Coba kalau kak Fattan jadi pedagan nih, terus ada orang yang berpikir seperti itu, gimana perasaan kak hah?" Tanya Syiffa sambil menguyah makanan yang lain.


"Ya pasti sakit hatilah. Lagian apa yang mereka pikirkan tidak benar. Enak saja berpikiran begitu." Gerutu Fattan.


"Nah, seperti itu juga. Pikiran pedagang jika ada yang menganggap negatif mereka. Jadi tidak ada salahnya dong mencoba selama pedagang itu selalu menjaga kebersihannya." Ucap Syiffa.


"Iya juga sih, ya sudah suapin dong." Ucap Fattan.


Lalu Syiffa pun segera menyuapkan makananĀ  tersebut ke mulut istrinya.


"Kok beda banget ya rasanya. Ini martabaknya enak banget." Ucap Fattan sambil menguyah martabak tersebut.


"Betul tuh apa yang kamu katakan sayang." Ucap Fattan.


Lalu mobil yang dikendarai pun sudah sampai di rumahnya.


"Ya sudah sayang, ayo turun. Pelan pelan jalannya." Ucap Fattan.


"Iya kak." Jawab Syiffa.


Lalu Fattan dan Syiffa pun keluar dari mobilnya.


"Kak, itu makannya gimana?" Tanya Syiffa.


"Maksud gimana apanya sayang?" Fattan sambil mengerutkan keningnya dan merasa tidak percaya.


"Iya yang bawa makanannya siapa ke dalam." Ucap Syiffa.


"Ya tentu saja Bi Ina, dan Pak Toni. Ya sudah ayo, kita masuk ke dalam." Ajak Fattan.

__ADS_1


"Tunggu dulu!" Ucap Syiffa.


"Apalagi sayang hah?" Ucap Fattan sambil menatap istrinya.


"Itu soal makanan kak hehe." Syiffa sambil cengengesan.


"Emangnya kenapa dengan makanan?" Tanya Fattan.


"Bayi kita yang menginginkan makanannya untuk dibawa oleh Ayahnya." Ucap Syiffa.


"Yang benar saja sayang, mana ada anak kita memerintahkan kepada Ayahnya seperti itu." Fattan.


"Ih serius kak, ini keinginan anak kita. Ya sudah kalau kak Fattan tidak mau membawakan makanan juga. Jangan salahkan bila nanti anak kita-"


"Iya ya sayang saya turuti nih kemauan anak kita." Fattan sambil berjalan balik menuju mobilnya lalu mengambil makanan tersebut.


"Ya sudah ayo sayang kita jalan." Ajak Fattan dengan berjalan pelan karena membawa banyak makanan.


"Oke. Nah gitu dong kak." Syiffa sambil tersenyum kepada suaminya.


"Tunggu sayang!" Syiffa memberhentikan langkah suaminya.


"Apalagi sayang hem." Ucap Fattan merasa gemas dan sedikit kesal.


"Jangan marah gitu dong kak, kasihan anak kita nanti bilang punya Ayah jahat benar." Ucap Syiffa.


"Terus harus gimana dong?" Tanya Fattan.


"Ya ulangi lagi ucapan yang tadi dengan lemah lembut." Ucap Syiffa.


Lalu Fattan pun menghembuskan nafas kasarnya dan harus sabar menghadapi Ibu hamil saat tadi Dokter berbicara.


"Apa lagi istriku cantik yang baik hati." Tanya Fattan dengan lemah gemulai.


"Ini tolong bawakan tas saya ya." Syiffa sambil menyimpan tasnya ditangan Fattan.


"Tapi sayang-"


"Kak Fattan!" Syiffa sambil menatap tajam suaminya.

__ADS_1


"Iya ya deh." Ucap Fattan. Lalu Syiffa pun berjalan terlebih dahulu dan Fattan belakangan karena jalannya pelan membawa banyak makanan dan ditambah tas istrinya.


__ADS_2