Jodohku Pimpinanku

Jodohku Pimpinanku
Eps. 246


__ADS_3

"Iya Tuan, mau pesan apa ya Tuan?" Tanya pelayan yang tadi di panggil sama Ariff.


"Saya mau pesan sate ayam dan ayam geprek." Ucap Ariff.


"Baik Tuan. Tunggu sebentar Tuan." Ucap sang pelayan tersebut sambil beranjak pergi untuk mengambil pesan Ariff.


"Oya kak, Nurul mau permisi ke air. Pingin pipis kak." Ucap Nurul.


"Heem." Jawab Ariff yang kini sambil fokus dengan handphonenya. Lalu Nurul pun dengan segera berjalan menuju toilet. Namun tiba tiba ada seseorang yang yang berjalan terburu buru dan menyeggol tubuh Nurul dan Nurul pun terjatuh. Namun berhasil diselamatkan saat seseoang menahan tubuhnya.


"Ah...." teriak Nurul saat akan terjatuh, namun berhasil diselamatkan saat seseorang menahan tubuhnya. Kini mereka pun saling menatap satu sama lainnya.


Ehmz.... "Maaf Mbak, Bang, itu lantainya mau saya pel dulu." Ucap Office boy yang tiba tiba datang dan menyadarkan mereka.


"Eh iya maaf pak." Ucap Nurul kepada Office boy tersebut dan langsung berdiri. Saat sudah sadar.


"Nurul?" Tanya pria yang menolong tersebut.


"Maaf, kamu siapa ya? Kamu kenal saya?" Tanya Nurul kepada prua tersebut.


"Tentu saja, saya kenal kamu. Apakah kamu sudah lupa sama saya ya? Sehingga kamu tidak kenal saya." Gerutu pria tersebut.


"Emangnya kamu siapa? Maaf agak lupa, maklum faktor usia hehe." Nurul cengengesan.


"Aku Yadi, Nur. Cinta pertama kamu yang pernah singgah dihatimu dulu." Ucap Yadi dengan pedenya.


Deg. Nurul pun tidak percaya, apa yang dikatakan oleh Yadi. Bagaimana tidak, kekasih masa SMA yang harus berakhir karena tidak ada kabar dari Yadi setelah mereka lulus sekolah. Dan kini mereka harus dipertemukan kembali.


"Oh, Yadi. Terima kasih sudah menolongku dan maaf saya permisi mau ketoilet dulu." Ucap Nurul sambil beranjak pergi. Namun tangannya tiba tiba ditahan begitu saja.


"Nurul, tunggu!" Ucap Yadi sambil menahan lengan tangan Nurul.


"Iya ada apa Di? Maaf lepaskan tanganmu itu." Ucap Nurul sambil menatap Yadi.


"Kamu masih marah sama aku ya?" Tanya Yadi sambil menatap Nurul.


"Sudahlah Di, yang lalu biarlah berlalu jangan dibahas lagi. Dan lupakanlah masa yang pernah kita jalani. Lagian aku sekarang sudah menikah." Ucap Nurul sambil berlalu pergi meninggalkan Yadi.


"Apa? Nurul sudah menikah? Andai kamu tahu Nurul apa yang terjadi sama aku, dan saya yakin kamu pasti tidak akan tega pergi meninggalkanku." Ucap Yadi pada diri sendiri dan sambil pergi menuju tempat duduk, yang mana sahabat sahabatnya berada.


Tanpa mereka sadari ternyata ada seseorang yang memperhatikan mereka dan sambil mengepalkan kedua tangannya.


Nurul yang sudah selesai dari toilet pun langsung berjalan menuju wastafle dan bercermin.


Kenapa kita harus ketemu disaat yang tidak tepat. Dan kenapa juga kita dipertemukan kembali denganmu yadi? Kau yang duluan tega, sudah hampir satu tahun tidak menghubungiku. Jadi jangan salahkan aku, bila aku sudah mengakhiri semuanya ucap Nurul pada diri sendiri dan sambil menatap cermin yang ada diwastafle.


Sudahlah Nurul, lupakan masa lalumu. Dan ingat ada anakmu didalam perutmu yang sangat berharga ucap Nurul mencoba mengingatkan diri sendiri. Setelah selesai lalu Nurul pun berjalan menuju tempat makan, dimana suaminya berada.


"Sudah datang ya kak, pesananku?" Tanya Nurul kepada suaminya yang kini sudah berada di meja makan.


"Heem," jawab Ariff.

__ADS_1


"Ya sudah, perutku lapar nih kak," ucap Nurul sambil mengambil satenya dan membelas ayam gepreknya.


"Ya sudah makan saja." Gerutu Ariff.


"Iya ini juga, mau makan kok." Jawab Nurul.


"Baguslah." ucap Ariff dengam datar.


Kemudian, Nurul pun kini sedang menikmati makan malamnya walaupun dirinya sendiri yang memakan. Soalnya Ariff menolak dan berkata sudah makan.


"Sudah kenyang makannya?" Tanya Ariff sambil menatap istrinya yang sudah selesai makannya.


"Sudah kak. Sungguh enak sekali dan mantap benar seleranya." Jawab Nurul.


"Ya sudah, ayo kita pulang." Ajak Ariff


"Baiklah kak." Jawab Nurul. Namun tiba tiba handphone Nurul pun berbunyi, tanda ada panggilan masuk. Dengan segera Nurul pun, mengangkat panggilan tersebut.


"Iya, ada apa ya Bi?" Tanya Nurul saat  sudah mengangkat panggilan masuk.


"Ibu, sama Ayah Non," ucap Bi Hia disebrang sana.


"Ibu sama Ayah kenapa Bi?" tanya Nurul  merasa penasaran dengan ucapan Bi Hia.


"Mereka ada dirumah sakit Non," jawab Bi Hia.


"Apa? Dirumah sakit?" Nurul sambil melepsakan handphonenya hingga jatuh kebawah karena syok. Lalu kemudian Ariff pun mengambio handphone istrinya yang jatuh kelantai.


"Itu Den, Ibu sama Ayah Nurul kecelakaan dan sekarang ada dirumah sakit." Jawab Bi Hia.


"Baiklah kalau begitu, saya sekarang kesana." Ucap Ariff sambil memutuskan sambungan teleponnya.


"Ayo Nurul, kita kerumah sakit." Ajak Ariff sambil merangkul pundak istrinya. Kemudian Nurul pun hanya menganggukan kepala.


Kini Nurul dan Ariff pun pergi meninggalkan restoran tersebut dan berjalan menuju rumah sakit.


"Kamu yang sabar ya Nurul, aku yakin pasti Ibu dan Ayahmu baik baik saja kok." Ucap Ariff mencoba menenangkan istrinya.


"Iya kak, aku berharap semoga Ibu dan Ayah baik baik saja. Lagian kenapa Ibu dan Ayah bisa kecelakaan begitu? Nurul takut terjadi sesuatu yang Nurul tidak diinginkan hiks hiks." Nurul sambil terisak menangis.


"Sudahlah Nurul, kamu yang tenang. Jangan bicara seperti itu. Kamu doakan saja, semoga Ibu dan Ayahmu baik baik saja." Ariff mencoba menguatkan istrinya.


"Ayolah kak, lebih cepat lagi mengendarai mobilnya." Nurul dengan tidak sabaran.


"Itu sangat berbahaya Nurul. Ini jalanan umum, kalau ngebut takut terjadi sesuatu." Ariff sambil menatap Nurul.


Nurul pun hanya diam saja, tanpa membalas ucapan suaminya. Nurul hanya terus terusan terisak menangis karena begitu sangat khawatirnya terhadap kedua orangtuanya.


2 jam kemudian.


Kini Nurul dan Ariff pun sudah sampai dirumah sakit.

__ADS_1


"Ayo sayang, kita keluar." Ajak Ariff.


"Iya kak." Jawab Nurul.


Lalu Nurul dan Ariff pun keluar dari mobil tersebut dan berjalan menuju masuk ke dalam rumah sakit. Kemudian berjalan menuju ruangan dimana, orangtua Nurul berada.


"Bi, gimana keadaan Ibu dan Ayah." Tanya Nurul saat sudah berada diluar dimana Bi Hia berada.


"Belum tau Non, soalnya dari tadi Ibu sama Ayah masih dalam penangan dokter." Ucap Bi Hia.


"Kenapa ini, bisa sampai begini Bi. Kenapa Ibu sama Ayah harus mengalami kecelakaan segala lagi." Gerutu Nurul.


"Sabar ya Non. Mungkin ini sudah suratan takdir ya Allah kasih. Lagian tidak ada yang tahu kan seseorang akan seperti ini." Ucap Bi Hia sambil tersenyum dan menguatkan Nurul.


Tiba tiba dokter pun, keluar dari ruangan rawat dimana Ibu siti dan Ayah Karim dirawat. Dengan segera Fattan dan Nurul pun berjalan menghampiri dokter tersebut.


"Dok, gimana keadaan Ibu sama Ayah saya?" Tanya Nurul.


"Maaf, emangnya kalian siapa dari pasien tersebut?" Tanya Dokter Dilla.


"Saya anaknya Dari pasien tersebut Dok." Jawab Nurul.


"Oh, jadi gini keadaan Ibu dan Ayah anda sekarang-" ucapan dokter Dilla sengaja di gantung lalu menatap Nurul dan Ariff secara bergantian dan menatap dengan tatapan yang sangat sulit di artikan.


"Dok, gimana keadaan Ibu dan Ayah saya?" Tanya Nurul sekali lagi.


"Maaf Ibu sama Ayah Anda, tidak bisa kami selamatkan," ucap Dokter Dilla sambil menundukan kepalanya.


"Apa? do- dokter barusan bilang apa? Dokter jangan main main sama Nurul Dok, kalau Ibu baik baik sajakan Dok?" Teriak Nurul dengan menangis sejadi jadinya.


"Maaf," ucap dokter Dilla.


"Aah.... ini tidak mungkin kak Ariff, mereka masih hidupkan kak? Katakanlah kalau yang dikatakan oleh dokter tidak benar kak hiks hiks." Nurul dengan terisak dan terus terus menangis.


"Sudahlah Nurul, kamu yang sabar. Mungkin ini sudah takdir orangtuamu untuk pulang ke sang pemilik-Nya. Kita tidak bisa menolak, tidak bisa berbuat apa apa." Ucap Ariff sambil mengusap rambut istrinya.


"Ya sudah, kalau begitu saya permisi." Ucap Dokter Dilla sambil berlalu pergi.


Kemudian Ariff, Nurul dan Bi Hia pun masuk kedalam dimana Ibu dan Ayah Nurul berada.


"Ibu.... Ayah.... hiks hiks, kenapa kalian pergi meninggalkan Nurul sendiri hiks. Sekarang Nurul tidak punya siapa siapa lagi. Kalian tega sekali meninggalkan Nurul." Tangis Nurul saat berada di ruangan Ibu dan Ayahnya berada.


"Nurul, kamu yang sabar. Kamu jangan emosi, lagian kamu enggak sendiri kok. Masih ada aku yang akan menjagamu." Ucap Ariff langsung memeluk Nurul.


"Kak, Nurul enggak tahu harus berbuat apa sama mereka. Nurul begitu belum bisa membahagiakan kedua orangtua Nurul selama ini. Nurul selalu menyusahkan mereka dan Nurul bahkan selalu mengkecewakan kedua orangtua Nurul hiks." Ucap Nurul sambil memeluk erat suaminya.


"Sudahlah Nurul, kamu jangan dipikirkan lagi. Biarkan kedua orangtuamu tenang disana dan  kamu harus ikhlas dan ridho ya Nurul." Ucap Ariff sambil menguraikan pelukannya dan mengusap airmata istrinya yang mengalir dipipinya.


"Iya kak." Jawab Nurul sambil menganggukkan kepala.


Setelah Nurul sudah ikhlas dan menerima kepergian kedua orangtuanya dengan segera jenazah kedua orangtua Nurul dibawa ke dalam mobil ambulans dan dibawa pergi kerumahnya, untuk dikuburkan dikampung halamannya.

__ADS_1


Satu jam kemudian, mobil ambulans pun sudah sampai dirumah duka. Setelah acara pemandian, mengkhafani dan beres mengsholatkan kedua jenazah tersebut, dengan langsung dikuburkan Jenazah kedua orangtua Nurul di keesokan harinya. Kini Nurul pun, hanya bisa ikhlas dan menerima kenyataannya saat kehilangan kedua orangtuanya.


__ADS_2