Jodohku Pimpinanku

Jodohku Pimpinanku
Eps.238


__ADS_3

"Nurul, sekarang kamu katakan dengan jujur. Apakah kamu sedang hamil?" Tanya Fattan sambil menatap Nurul.


"Iya pak." Jawab Nurul sambil mengganggukan kepalanya.


"Terus, siapa pria yang sudah menghamilimu?" Tanya Fattan dengan datar.


"Maaf pak, saya tidak bisa memberitahu siapa Ayah dari anakku ini." Ucap Nurul mencoba menahan airmata yang sudah memanas agar tidar terjatuh lagi.


"Nurul, saya tanya sekali lagi sama kamu. Siapa yang menghamilimu!" Bentak Fattan kepada Nurul.


"Kak jangan bentak Nurul. Tahan emosi kak, Nurul sedang hamil." Ucap Syiffa menenangkan suaminya.


"Emangnya penting ya pak, bila pak Fattan mengetahui tentang kehamilan saya hah? Lagian  ngapain sih pak, harus ikut campur. Dan saya harap, kalian tidak perlu memperdulikan saya." Nurul tiba tiba meneteskan airmatanya yang tadi mencoba menahannya.


"Nurul, kenapa kamu berbicara begitu? Apa salahnya, kamu tinggal katakan saja siap Ayah yang ada dikandunganmu itu. Nanti saya dan pak Fattan akan membantumu mencarikan pria itu." Syiffa sambil mengusap airmata Nurul.


"Iya Nurul, apa yang dikatakan Syiffa benar. Nanti saya akan mencari pria bajingan yang sudah menghamilimu. Maafkan saya Nurul, tadi sudah membentakmu. Karena saya tidak rela melihat wanita mengandung tanpa pria tersebut bertanggung jawab. Jadi katakanlah siapa, Ayah yang ada di dalam kandunganmu?" Tanya Fattan sekali lagi dan berusaha berbicara lembut.


Lalu Nurul pun hanya diam saja, kemudian menatap Ariff sebentar.


"Nurul, kenapa kamu diam saja?" Tanya Fattan sekali lagi.


"Dia adalah.... " ucapan Nurul sengaja digantung lalu menatap Ariff.


"Katakan siapa Nurul?" Tanya Syiffa. Lalu Fattan dan Syiffa pun menatap Ariff.


"Jujur, anak yang ada dikandungan Nurul adalah anakku." Ucap Ariff.


Deg. Syiffa dan Fattan pun merasa terkejut dengan apa yang dikatakan Ariff. Dan merasa tidak percaya kalau pelakunya Ariff.


"Nurul, apakah benar yang di Ariff kalau anak yang ada dikandunganmu adalah anak dia?" tanya Fattan sambil menatap Nurul.


Kemudian Nurul pun menatap Arif, lalu menatap Syiffa dan Fattan sambil menganggukan kepala.


"Apa? Jadi kak Ariff, Ayah dari anak yang ada dikandunganmu?" Tanya Syiffa merasa tidak percaya.


Kemudian Nurul pun menganggukan  kepala, pertanda kalau anak yang ada dikandungan Nurul memang benar, anak Ariff.


Tiba tiba Fattan pun berjalan menghampiri Ariff dengan amarah yang sangat memuncak.


Buggkh.... suara pukulan mendarat tepat dibibir bawah Ariff, sehingga mengeluarkan sedikit darah segar.

__ADS_1


"Apa yang sudah kamu lakukan sama Nurul, Ariff? Berani sekali kamu menghamili dia, dan kamu tidak mau bertanggung jawab. Pria macam apa kamu hah?" Fattan dengan emosi yang memuncak dan sambil mencengkram kerah baju milik Ariff.


"Maaf Tan," hanya itu ucapan yang keluar dari mulut Ariff.


"Kamu bilang, cuma minta maaf hah? Dasar pria brengsek."


Bugghk.... bugghk.... Fattan memukul dua kali bibir kanan dan kiri Ariff, sehingga bibir Arif lembam dan banyak mengeluarkan banyak darah. Dan tiba tiba Ariff pun tersungkur ke bawah lantai karena merasa lelah. Karena Ariff tidak melakukan perlawanan terhadap Fattan dan memilih untuk menyerahkan diri.


"Tolong, hentikan semuanya hiks hiks...." tangis Nurul saat melihat Ariff terus dihajar oleh Fattan. Dihatinya ada sedikit rasa kasihan melihat kejadian ini.


"Kak Fattan, cukup hentikan!" Syiffa berjalan menghampiri suaminya lalu mencoba menahan suaminya agar tidak memukul Ariff kembali.


"Sayang, kamu jangan menghalangi saya untuk menghajar pria brengsek seperti dia. Cukup duduk dan biarkan Ariff merasakan sakitnya yang di alami Nurul." Ucap Fattan sambil istrinya.


"Tidak kak, saya tidak akan membiarkan kak Fattan menghajar kak Ariff lagi. Lagian apa salahnya meminta kak Ariff untuk bertanggung jawab, bukannya kak Fattan  menghajar terus kak Ariff. Percuma kak, ini bukan jalan keluar dengan cara itu." Ucap Syiffa langsung memeluk suaminya dan mencoba merendam emosi suaminya.


"Baiklah Syiffa, saya akan bertanggung jawab dengan kehamilan Nurul. Dan asal kalian tahu, Nurul malah menolaknya." Ariff sambil menatap Syiffa dan Fattan lalu mengusap darahnya yang kini mengalir sedikit dibibirnya.


"Emang benar, apa yang dikatakan pak Ariff. Kalau saya menolak menikah dengan dia." Ucap Nurul sekilas menatap Ariff dan kemudian menatap Syiffa dan Fattan.


"Kamu itu benar benar ya Nurul. Kak Ariff mau bertanggung jawab, tapi kamu malah menolaknya. Kenapa hah?" Tanya Syiffa.


"Kamu dengarin saya, Nurul. Apa jadinya nanti bila kamu melahirkan tanpa seseorang suami hah? Dan kamu itu, jangan egois Nurul. Anak yang ada dikandunganmu itu, pasti butuh seorang Ayah. Kamu mau, anak kamu nanti dihina sama temannya karena melahirkan tanpa seorang Ayah. Dan bagaimana, bila nanti anakmu bertanya tentang ayahnya hah?" Tanya Syiffa sambil menatap Nurul.


"Saya benar-benar tidak tahu Syiffa, apa yang harus saya lakukankan. Hanya saya tidak ingin saja menikah tanpa ada cinta." Ucap Nurul kekeuh dengan pendiriannya.


"Kamu itu terlalu egois Nurul, anak yang ada dikandunganmu kan anakku. Jadi apa salahnya saya bertanggung jawab. Saya pun tidak keberatan kok, meski menikah tanpa ada perasaan cinta." Ucap Ariff sambil menatap Nurul.


"Lagian Nurul, katanya nanti juga akan terbiasa dan cinta pun pasti akan tumbuh dengan seiringnya waktu." Ucap Fattan.


Lalu Nurul pun hanya diam saja, tanpa membalas perkataan Fattan dan Ariff.


"Nurul?" Panggil Syiffa.


"Eh iya ada apa Syiff?" Tanya Nurul  sambil menatap Syiffa.


"Gimana kamu mau kan, menikah dengan kak Ariff?" Tanya Syiffa sambil menatap Nurul.


"Kamu harus mau Nurul. Lagian ini kan demi anakmu. Dan demi masa depan anakmu dan kamu juga nanti." Ucap Fattan sambil menatap Nurul.


"Baiklah saya mau menikah dengan Pak Arif, tapi...." ucapan Nurul sengaja digantung, langsung menatap Ariff kemudian menatap Syifa dan Fattan bergantian.

__ADS_1


"Tapi kenapa Nurul?" Tanya Syiffa mengerutkan keningnya. Karena merasa penasaran dengan ucapan Nurul yang digantung.


"Tapi ada syaratnya. Maksudnya kita menikah hanya sampai anak kita melahirkan, dan setelah itu kita putuskan aja kemauan kita Apakah kita lanjut atau tidak," Nurul menatap Ariff.


"Oke baiklah kalau begitu, jika memang itu kemauan kamu Nurul." ucapan Ariff sambil menatap Nurul.


"Karena saya tidak mau menikah dengan orang  tidak mencintai saya. Dab jika diantara kita sudah menemukan orang yang kita cintai, maka kita berhak untuk hidup dengannya. Gimana?" Tanya Nurul sambil menatap Ariff.


"Baiklah, saya setuju." Ucap Ariff.


"Kalian benar benar aneh ya, dengan syarat kalian. Tapi terserah kalian saja, yang penting kamu dan Ariff harus menikah." Ucap Fattan sambil menatap Ariff dan Fattan bergantian.


"Iya bawel," jawab Ariff sambil menatap Fattan.


"Ya sudah sayang, karena masalahnya sudah selesai. Kita keluar dari sini, lagian makanan yang kamu pesan sudah sampai tuh," ucap Fattan sambil menatap istrinya.


"Ya sudah ayo kak. Syiffa juga lapar nih." Ucap Syiffa sambil mengusap perutnya yang membuncit.


"Ya sudah Nurul, kak Ariff, saya permisi dulu ya." Ucap Syiffa.


"Iya silahkan Syiff." Jawab Nurul.


Lalu Fattan dan Syiffa pun pergi meninggalkan Nurul dan Ariff diruangan kesehatan berdua.


"Oke, kita besok akan menikah!" Ucap Ariff dengan datar.


"A-apa besok kita menikah?" Tanya Nurul merasa terkejut.


"Iya besok, kenapa kamu merasa kaget begitu. Bukankah lebih cepat lebih bagus." Gerutu Ariff sambil menatap Nurul.


"Baiklah." Jawab Nurul.


"Ya sudah, karena waktunya istirahat. Kita pergi ke kantin untuk makan siang." Ucap Ariff.


Nurul pun hanya menganggukan kepala dan beranjak dari tempat kasurnya. Lalu Ariff pun mencoba membantu Nurul untuk turun dari kasur, tapi tangannya dihempaskan oleh Nurul begitu saja.


"Saya bisa sendiri kok," ucap Nurul saat beranjak dari kasur tersebut dan menghempaskan tangan Ariff dengan kasar saat mau membantu Nurul untuk turun.


Lalu Nurul pun pergi begitu saja, meninggalkan Ariff tanpa pamit terdahulu.


Ck, itu cewek galak benar ya. Padahal saya tadi mau niat menolong dia. Ih dasar cewek aneh gerutu Ariff sambil menatap kepergian Nurul yang kini sudah berada di gerbang pintu menuju keluar. Kemudian dengan segera Ariff pun berjalan menyusul Nurul.

__ADS_1


__ADS_2