
"Tunggu...!"
Terdengar sorak seorang gadis sambil berlari dengan nafas terengah-engah mengejar dan memanggil sebuah bis yang sudah melaju dari halte bis beberapa detik yang lalu. Karena begitu banyak membawa barang, ia jadi kesulitan untuk berlari mengejar bis itu. Tidak sampai beberapa detik, kini bis biru itu sudah jauh dari pandanganya. Padahal disangkanya ia sudah berlari secepat mungkin untuk bisa mengerjar bis itu. Pupus sudah harapannya sekarang.
Gadis itupun terhenti tepat di depan halte bis. "Sialan!" umpatnya sambil memandangi bis yang sudah hilang dari pandanganya saat belok di perempatan ujung sana. Lalu dihempaskannya barang bawaanya begitu saja karena terlanjur kesal. Gadis itupun kemudian menghampiri bangku panjang yang ada di sebelah papan tanda halte bis setelah mengambil kembali barang bawaanya, diletakkanya barang, lalu duduk disitu. Ia menghela napas panjang, melepas lelah setelah beberapa menit yang lalu membuang tenaga dengan percuma.
"Hhh! Kalau begini terus, bisa-bisa aku jadi gila nanti!" katanya dengan setengah kesal, setengah lagi pada diri sendiri.
Orang yang ada di halte bis terkejut mendengar jeritan gadis itu, dan langsung memandang heran. Kira-kira ada tiga orang pria paruh baya disana, seolah-olah itu adalah kesalahan mereka hanya menggeleng-geleng kepala. Saat menyadari pusat perhatian tertuju padanya, ia hanya tersenyum kikuk sembari malu-malu sendiri dan menunduk.
"Maafkan aku" katanya dengan segan menundukkan kepala karena merasa telah mengganggu kenyamanan orang disana. Tapi ketiga pria itu tak menyahut dan tak mau peduli. Karena memang tidak ingin memperpanjang masalah dengan hal itu.
Tiba-tiba angin kencang menyapu jalan, daun-daun kering di tepi jalan jadi berguguran dan bertebangan ditiup angin. Langit sudah tampak mulai gelap menutupi kota. Awan hitam menggumpal berkeliaran dilangit tengah siap menjatuhkan isinya. Hawa dinginpun mulai terasa menusuk kulit. Rintik-rintik hujan sedikit demi sedikit mulai turun berpacu jatuh ke bumi, petanda akan turunnya hujan.
Akhir-akhir ini cuaca memang tidak bisa ditebak. Kadang hujan, kadang mendung, kadang panas sepanas-panasnya. Tapi, sudah tiga hari ini selalu turun hujan seperti yang ditayangkan oleh berita cuaca setiap harinya.
__ADS_1
Hari ini sabtu sore pada pertengahan bulan maret. Sudah sejak siang tadi gadis itu berada di pusat pertokoan yang terkenal di kota Mataya (kota karangan sendiri, hehe), karena disuruh ibunya mendatangi sebuah toko kain untuk membeli pola baju dan beberapa keperluan untuk persediaan bahan makanan. Sebenarnya ia tidak keberatan melakukan tugas itu untuk mengisi waktu kosong di akhir pekannya itu. Hingga masih menyempatkan diri belanja baju untuk menambah koleksi terbarunya. Tapi kini rasanya ia sudah begitu lama menunggu datangnya bis untuk kembali membawanya pulang kerumah. Belum lagi satu jam yang lalu ibu menelepon sudah mengomel-ngomel untuk menyuruh segera pulang.
"Sepertinya mau turun hujan," gumam gadis itu mengeluh melihat keadaan jadi mendung. Dan benar, ternyata titik-titik hujan semakin lebat berjatuhan membasahi kota dan seisinya.
Sekejab hujan turun dengan lebatnya di barengi angin kencang. Semua orang kalang kabut mencari tempat berlindung yang bisa dijadikan tempat berteduh. Kini, secepat kilat pula halte bis dipenuhi orang yang menumpang untuk berteduh. Beberapa dari mereka malah mulai mengomel sendiri dan mengibas-ngibas pakaian mereka karena basah. Mereka kebanyakan adalah pegawai kantoran yang baru pulang kerja.
Sesekali gadis itu mengusap jam ditangannya yang lembab karena air hujan, dan melihat angka sudah menunjuk pukul 17.30. Gadis itu mulai mengeluh seraya menoleh ke arah jalan sebelah kanannya untuk melihat apakah ada gerangan bis yang datang menyambutnya atau tidak. Dan benar, nasib baik belum berpihak padanya sekarang. Tak ada petanda datangnya bis dari radius ratusan meter dari pandangnya. Ia semakin mengeluh, terus mengingat omelan ibu tadi sudah membuatnya merinding. Belum lagi sampai rumah nanti, entah apa yang akan terjadi padanya. Hanya Tuhan yang tau itu.
Kemudian pandanganya beralih arah hadapnya. Ia bisa melihat diseberang jalan berjejer rapi toko-toko besar dan modern itu. Beberapa orang terlihat menunggu di kursi-kursi toko kafe tersebut, mungkin juga menunggu hujan reda. Dan sebagian lagi tengah menikmati obrolan mereka dengan secangkir kopi yang dibarengi sebuah tawa. Beberapa menit ia hanya menatap keramaian seberang jalan itu. Entah apa yang membuatnya tertarik akan hal itu, tapi lamunannya cukup lama. Pikirannya sudah lain sekarang.
Kanaya Putri adalah nama gadis itu. Gadis yang terlihat kesal menunggu datangnya bis bahkan tidak mempedulikan orang disekitarnya terus memperhatikanya terlihat bengong seperti sapi ompong. Kanaya menampakkan wajah tidak sabaran. Matanya yang bulat terus memperhatikan ke arah jalanan panjang itu meski kerumunan orang agak menghalangi pandanganya. Beberapa menit ia masih duduk ditempatnya menatap keramaian di jalan, tapi tak ada hasil. Bahkan hujanpun turun masih dengan lebat-lebatnya.
Karena cukup lama menunggu, tiba-tiba ia terperangah begitu melihat sosok laki-laki yang dirasa ia kenal. Laki-laki yang tidak bisa membuatnya tidur selalu memimpikan dirinya itu kini tengah berdiri di seberang jalan sana sedang berlari kecil menyebrangi jalan dan melindungi diri dengan tas ranselnya dari hujan. Siapa menyangka, laki-laki itu sekarang sudah berada di halte bis untuk berteduh. Ia tengah berdiri di halte yang sama dengan Kanaya.
Terselip suatu kegundahan dalam pikiran Kanaya saat ini. Keningnya berkerut samar. Ia tahu apa yang membuatnya begitu saat ini. Ya, laki-laki yang dipandangnya tanpa berkedip itu telah membuatnya melamun dan jantungnya berdegup kencang. Pandangannya tak luput dari laki-laki itu. Keberuntungan apa yang membuatnya bertemu dengan laki-laki itu hari ini. Bahkan ia tak bisa menyembunyikan hatinya yang begitu senangnya sekarang.
__ADS_1
"Kakak. Aku sudah lama menyukainya. Mungkin sudah bertahun-tahun. Tapi aku tidak pernah mengatakannya sekalipun. Kenapa begitu sulit sekali menyatakan cinta padanya?" gumamnya membatin. "Bagaimana ini? Sekarang ia ada dihadapanku. Apa yang harus aku lakukan? Dia tampan sekali,"
Kanaya membeku di tempatnya. Tak tahu harus berbuat apa. Akhirnya mengalah sendiri. Karena ia tak berani menyapa duluan, hanya bisa pasrah melihat laki-laki itu pergi menaiki sebuah mobil yang berhenti di bibir jalan.
"Sayang sekali aku hanya melihatnya sebentar" Kanaya menoleh panjang melihat mobil itu pergi.
Tak lama kemudian, sebuah bis berhenti di depan halte, lalu beberapa penumpang turun sambil memegang payung mereka masing-masing. Kanaya bangkit dari tempat duduknya sambil memegangi barang belajaanya kemudian masuk kedalam bis.
"Bis ku sudah datang sekarang. Aku akan menaiki bis ini" gumam Kanaya dengan tersenyum mengembang dipipinya.
Tujuh penumpang segera menaiki bis dengan teratur. Setelah dirasa tidak ada lagi penumpang, bis itupun kemudian melaju menuju halte berikutnya dengan kecepatan sedang.
Langitpun sudah mulai gelap, malam makin naik juga sebagai asap yang gelap. Kota Mataya mulai terang, lampu-lampunya berkedip-kedipan di dalam gelap. Di bumi bertambah banyak cahaya-cahaya menerangi sepanjang jalanan.
Setiap rumah telah memasang bintangnya, memancarkan cahayanya ke malam yang dingin itu, seperti menara api melepaskan cahayanya di malam yang luas. Sekarang tiap tempat di mana ada hidup manusia, selalu berkilau-kilau terang benderang. Di kota-kota memang selalu seperti ini. Kanaya merasa senang, ia masuk dalam suasana malam perlahan-lahan dan indah. Dan segera bis yang ditumpanginya melaju di jalan mulus menembus angin malam yang dingin itu.
__ADS_1
Sesekali terlihat warung-warung tenda makanan memadati jalanan sepanjang mata memandang, dipenuhi anak muda yang datang bergantian. Cuaca dingin dan hujan tak akan menjadi halangan bagi mereka untuk bersenang-senang. Karena mungkin karena malam ini adalah malam minggu dan mereka punya banyak alasan untuk keluar rumah malam ini.
"Ah, senangnya mereka" gumamnya.