Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Berdebat dengan Abel


__ADS_3

Hari senin, tepat pukul tujuh pagi jalanan kota sudah ramai oleh lautan manusia. Mulai dari pegawai kantoran, pemilik toko, hingga anak-anak sekolahan, mereka memulai aktivitasnya masing-masing. Dan begitu pula dengan puluhan pejalan kaki menunggu lampu merah berganti hijau di persimpangan jalan. Semua kendaraan lalu lalang sehingga mengakibatkan kemacetan yang panjang di disepanjang jalan. Ada yang terjebak oleh lampu merah, sehingga membuat para pengendara begitu tampak kesal dan terburu-buru mendahului kendaraan lainnya. Suara kalson kendaraan memekik memecah suasana pagi itu. Begitulah rutinitas mereka. Dan hampir setiap harinya ini terjadi di kota-kota besar manapun, kota Nirwana misalnya. Sudah menjadi tradisi yang sudah terjadi sebagaimana mestinya.


Tapi tidak dengan gadis yang satu ini. Ia masih nyaman diatas ranjangnya untuk melanjutkan tidur paginya kali ini. Tidak ada juga yang mengganggu tidurnya saat ini hingga ponselnya memekik berdering dengan sebuah panggilan masuk. Sekarang jam sudah menunjuk angka sembilan pagi. Kanaya malas-malasan mengangkat teleponnya.


"Hallo" katanya dengan suara serak. Ia mengusap matanya yang sembab. Mata masih setengah mengantuk.


"Kanaya, kau dimana? Datanglah ke kampus sekarang juga!" suara wanita yang menelepon terdengar lantang dari seberang sana.


"Aku baru saja bangun. Kenapa? Apa ada perubahan jadwal kuliah hari ini?" Kanaya bertanya.


"Tidak ada, datanglah ke kampus aku akan menunggumu. Jangan sampai terlambat. Sampai ketemu nanti"


"Ya, baiklah" jawab Kanaya tanpa protes sedikitpun. Dengan langkah berat ia bangkit dari tempat ranjangnya, membereskan sebentar tempat tidurnya dalam waktu satu menit. Setelah dirasa sudah rapi barulah ia menuju kamar mandi. Ia harus segera bersiap-siap sekarang.


Beberapa menit berlalu. Kanaya kembali dari kamar mandinya dengan wajah yang sudah segar. Mengambil baju di dalam lemarinya, dan mengenakannya dengan sempurna. Ia mengangkat tangan dan mengibas sehelai rambut hitamnya yang jatuh melintas di keningnya menghadap cermin besar dari meja riasnya itu, lalu memoleskan lipstik ke bibirnya yang dimoyongkan. Ia tahu penampilan seperti ini, segar dan alami tanpa riasan yang melekat menutupi kecantikkan alaminya. Bisa dikatakan, ia paling tidak bisa merias diri. Tapi ia tidak mempedulikan hal itu. Lantas melangkahkan kaki keluar dari kontrakannya menuju kampus setelah puas dengan penampilannya sendiri. Sebenarnya ia tidak ada jadwal kuliah pagi untuk hari ini, karena itu sengaja bermalas-malasan untuk datang ke kampus. Tapi mengingat ia sudah diberitahu untuk datang cepat, jadi terpaksa ia ke kampus juga pagi ini.


Kanaya berusaha menerobos kepadatan perempatan jalan yang terlihat selalu padat. Setelah berjalan beberapa puluh meter lagi, dengan cekatan ia langsung merambas masuk ke dalam gerbang kampus menuju fakultasnya dan langsung mendapati keadaan kampus mendadak heboh tidak seperti hari biasanya. Ia melihat sekelompok gadis kampus mulai berbondong-bondong berlari menuju lapangan dan bersorak-sorak. Kanaya memberikan pandangan heran. Matanya bulat besar memperhatikan keadaan seputarnya. Sesuatu telah terjadi tanpa sepengetahuannya.


"Ada apa ini ribut-ribut? Apa yang terjadi?" gumamnya dengan melongo kebingungan. Ia masih berdiri mematung ditempatnya dengan kening berkerut.


Karena penasaran, akhirnya ia menyusul untuk melihat apa yang terjadi. Kini, terjawab sudah rasa penasaranya saat sudah sampai disana. Ternyata ada sebuah pertandingan basket yang tengah berlangsung dan sangat seru. Banyak yang datang untuk melihat pertandingan itu. Kanaya terperangah melongo melihatnya. Ditambah lagi begitu melihat seseorang yang membuatnya terpesona tengah berada di lapangan tersebut sedang mengikuti pertandingan basket. Ia tidak menyangkanya, mendapat keberuntungan pagi ini.


Seseorang yang disukainya, dikaguminya, di idolakannya bahkan telah membuatnya menunggu selama ini berada di antara para pemain tersebut. Pria itu yang membuatnya hilang akal, jadi salah tingkah, tak berkutik ketika bertemu, dan selalu hadir dalam mimpinya setiap harinya, yang berharap suatu saat bisa memilikinya seperti apa yang diinginkannya selama ini.


Hatinya bergetar, seperti biasanya ia sangat terpesona melihat pria tampan itu. Untuk kesekian kalinya, perasaan itu tetap sama seperti sebelumnya. Bahkan semakin bertambah parah. Karena ia selama ini sudah memendam perasaannya pada seseorang yang tidak bisa diutarakannya sejak masa sekolahan dulu. Masa-masa dimana pria yang disukainya merupakan ketua osis di sekolahnya dulu yang cukup populer disekolah. Berpapasan tanpa sengaja membuat jantung Kanaya berdegup kencang saat ia melempar senyum manisnya saat itu. Siapa sangka perasaan suka itu masih berlanjut hingga sekarang. Ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama padanya.


"Kak Raka!" gumam Kanaya sumringah. Matanya yang bulat berseri-seri memandang kagum dengan ketertarikan yang nyata. Tak ubahnya seperti gadis-gadis lainnya yang juga terkesima dengan ketampanan Raka.


Para gadis kampus bersorak-sorak memanggil nama Raka. Pri itu tampaknya juga terkenal dikalangan gadis-gadis kampus ini. Semua mata tertuju padanya. Kanaya yang berada disana ikut meramaikan suasana. Ia juga tak kalah hebohnya dengan gadis-gadis lainnya. Ikut-ikutan jadi suporter untuk tim Raka. Kejadian itu berlangsung beberapa menit.


Tapi tiba-tiba semangatnya hilang dan sirna seketika saat ia melihat sosok wanita berambut pendek berponi sedang memperhatikannya dari arah seberangnya sejak tadi dengan tatapan tajam seraya berpangku tangan mengarah padanya seperti terlihat sedang mengutuknya. Wanita itu memberikan pandangan tajam dan memberi isyarat untuk menghampirinya. Benar-benar tatapan yang menakutkan dan juga amat seram. Kanaya menunduk lesu, seolah-olah seperti anak kecil yang ketahuan mencuri roti. Karena sudah tahu apa maksud dari tatapan itu, ia pun menghampiri wanita itu yang tak berhenti menatap kearahnya menunggu.


"Sial!" gumam Kanaya dalam hati. Ia bersungut-sungut sepanjang jalan.


Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk mengobrol dan santai di taman kampus yang tak jauh dari lapangan itu.


Abel adalah sahabat yang dimaksud Kanaya yang telah menelpon dan mengganggu tidurnya tadi. Dia sangat cerewet dan keras kepala. Satu-satunya teman wanita yang paling dekat dengannya. Sudah mengenal sifat masing-masing dari sudut manapun. Karena itu mereka terlihat selalu berdua dikampus maupun saat sedang diluar kampus. Selalu adu mulut dan bertengkar gara-gara hal yang tak penting sekalipun. Layaknya seperti serial Larva yang tayang ditelevisi setiap paginya yang sering mereka tonton. Keduanya sama-sama saling mengisi satu sama lain. Berbagi cerita dan pengalaman dengan suka maupun duka. Tak heran Kanaya sudah menganggap Abel adalah saudara kandungnya sendiri, terlebih dia tidak punya saudara perempuan.


Kini giliran Abel membelikan beberapa makanan ringan untuk mereka berdua. Sayup-sayup terdengar suara orang berteriak dari lapangan, permainan sedang berlangsung amat seru tak jauh dari taman tempat mereka sering nongkrong. Abel yang baru saja datang dan membawa beberapa makanan langsung kesal melihat Kanaya yang mengabaikannya begitu saja.


Kanaya tengah asyik memperhatikan pria yang berada di lapangan itu, seniornya yang tampan dan juga menawan di kampusnya. Pria itu memang sangat terkenal dikalangan kampus. Banyak para gadis kampus maupun di luar kampus yang menyukainya. Berbadan tinggi dan tegap dalam usia dua puluhan ini, dengan rambut hitam kelamnya dan mata cokelat menusuk tajam, dan karismatik. Siapa yang tidak akan jatuh hati padanya. Layaknya seperti melihat seorang aktor tampan yang selalu menebar pesona di layar kaca.


Bentuk tubuhnya mengesankan, wajahnya yang halus tanpa jerawat. Matanya memikat dan mulutnya menggoda. Bahkan ia juga berasal dari keturunan keluarga kaya. Oleh karena itu, banyak gadis-gadis yang mengantri untuk dijadikan pasangan dan meminta untuk berkencan dengannya. Hal itu juga dirasakan oleh Kanaya yang juga membuatnya tergila-gila pada kak Raka. Tapi ia tidak punya nyali seperti gadis lainnya untuk di ajak kencan dengannya. Memang diakuinya bahwa ia adalah gadis yang bodoh. Bahkan Abel sudah menekankan Kanaya bahwa dirinya malu begitu tahu Kanaya sudah memendam perasaannya sejak lama.


Dalam permainan basket, memang diakui Raka memang paling jago dalam melakukannya. Karena ia selalu meraih kemenangan dalam ajang perlombaan basket sejak masa SMA dulu. Selain itu, Raka merupakan pria pintar dan gampang bergaul dengan siapa saja. Pria yang serba bisa itu memang pantas jadi pria impian dan memenuhi tipe kaum hawa manapun. Makanya Kanaya tak berhenti-henti mengaguminya dari dulu. Ia seperti sudah di sihir oleh Raka. Tak heran pula ia berusaha mati-matian untuk bisa satu kampus dengan kak Raka agar terus bertemu.

__ADS_1


Kanaya yang melihatnya senyum-senyum sendiri dari tadi. Lagi-lagi ia berkhayal tentang Kak Raka dengan raut wajah yang berseri-seri.


"Wow keren sekali!" Kanaya berseru dengan rasa tertarik dan penuh pujian. Ia memandang takjub saat Raka menembus ring lawan dengan sempurna.


Kanaya sekarang tak begitu menanggapi kehadiran Abel. Ia malah mengeluarkan ponsel dalam tasnya. Ia mengangkat ponselnya dan membidik mengambil foto Kak Raka dengan semangat. Abel mulai memanas.


Abel mendengus kesal. "Begitu melihat dia, kau langsung semangat dan tidak mempedulikan kedatanganku!" sindirnya sambil memakan roti cokelatnya, lalu mengambil tempat duduk disebelah Kanaya.


Diletakanya tas sandangnya di atas meja yang beralaskan kayu itu. Lalu menoleh ke arah lapangan, melihat sebentar dengan ogah-ogahan. Pertandingan tampak berlangsung heboh. Tapi sama sekali ia tidak tertarik untuk menontonnya. Ia sibuk mengunyah.


Bukannya menjawab, Kanaya malah keasyikan mengambil foto kak Raka dan membuat Abel semakin jengkel dan menelan ludah dengan sikap Kanaya. Rasanya Abel hendak melempar ponsel itu keselokan agar ia merasa puas.


Tak heran jika Abel selalu bertingkah seperti ini pada Kanaya saat membicarakan Raka. Lihat saja, Kanaya selalu saja menomor duakan Abel saat mereka berkumpul. Ia lupa sedang bersama siapa sekarang. Sepertinya adu mulut akan segera dimulai.


"Pria yang satu ini telah membuat temanku jadi gila tak mengendalikan diri lagi" kata Abel dengan tegang dan menggeleng-geleng kepala. Tatapannya beralih pada Kanaya sambil menunggu sahutan darinya. Tapi hasilnya tetap sama, dan seperti biasa Kanaya tidak menanggapinya lagi.


"Apa kau tidak mendengarkanku!" Abel meninggikan nada suaranya, berpangku tangan memalingkan pandangannya kemana-mana. Bibirnya sedikit disunggingkan kesamping karena kesal. Ia kembali menatap Kanaya, dan meragukan kondisi jiwa temannya sekarang.


"Aku yakin kau sudah benar-benar gila, Nay" kata Abel dengan nada tegas.


Setelah membisu beberapa saat, Kanaya mengarahkan pandangannya pada Abel. Menatap Abel tanpa rasa bersalah sedikitpun. Tatapan seperti itu yang sangat tidak disukai Abel saat ini. Abel sedikit jengkel dengan reaksi Kanaya sekarang ini. Ia menyungging senyum kejam pada Kanaya.


"Kenapa?" tanya Kanaya tersenyum menggoda. "Apa yang membuatmu berpikir begitu?" ia bertanya dengan santainya.


Abel menarik nafas panjang dan berkata. "Jadi kau akan membuang-buang semua waktu ini dengan duduk disini seperti ini? Sebaiknya aku pergi saja!" ia mulai merenggut.


Abel jadi syok. Ia tahu ponsel Kanaya penuh dengan foto-foto Raka yang tidak ada artinya itu hanya mendelik dan mendesah kesal.


"Aku tidak percaya. Apakah aku mendengarnya dengan benar" Abel hanya bisa mengusap dada melihat kelakuan Kanaya yang menjengkelkan. "Aku ini temanmu! Apa kau akan seperti ini selama pria itu tidak mempedulikanmu? Dia bukan pria yang baik!" umpat Abel ingin menasehati.


Kanaya menatap Abel dengan sorotan sedikit kesal. Lalu melihatkan kembali hasil jepretannya pada Abel sambil tersenyum.


"Siapa bilang? Dia pria yang baik, hanya saja suka ganti pacar" seru Kanaya membela diri.


Abel membantah. Ia tau bagaimanapun juga Kanaya tetap akan membela pujaannya itu dengan seribu alasan. Meski sudah berkali-kali ia memberitahu, tapi tetap saja Kanaya tidak mendengarkannya. Abel menggigit bibirnya dan menahan perasaan, serta hanya duduk disana memandang kesal. Satu-satunya cara yang dilakukannya adalah memaklumi Kanaya yang sudah tidak bisa dikendalikan lagi oleh cintanya kepada Raka. Seiring waktu ia pasti akan berhenti sendiri.


"Pria seperti dia kau bilang baik? Apa kau sudah gila, Nay?" kata Abel memaki dan menyeringai.


Kanaya tetap dengan pendapatnya. Ia begitu terlihat dihipnotis oleh kak Raka. Hatinya benar-benar begitu tergila pada Raka yang sama sekali mengabaikannya. Ingin rasanya Abel membawanya ke tempat orang pintar untuk mengobati temannya ini. Tapi rasanya itu tidak akan berhasil. Rasa suka Kanaya sudah mendarah daging dan sudah berakar, tidak bisa di pisahkan lagi mungkin. Jadi tidak ada gunanya juga.


"Tidak, aku masih waras dan normal seperti yang lainnya" kata Kanaya dengan enteng. Dan kemudian sebuah tawa segar keluar dari mulut lebarnya.


Akhirnya Abel memilih mengalah untuk berdebat dengan Kanaya. Ia menghela nafas panjang. Tidak ada lagi kesanggupannya menghadapi temannya yang satu ini. Abel kehabisan akal. Ia hanya mengesap minumannya dengan kesal.


"Ya sudahlah. Kau teruskan saja usahamu itu. Ku harap kau cepat sadar!" omel Abel kemudian tak ingin memperpanjang masalah. Ia kembali minuman cola itu hingga ludes di tenggorokkannya. Ia menghempa udara kemudian.

__ADS_1


Setelah melihat ekspresi Abel seperti itu, Kanaya pun mengerti dan paham. "Aku sudah sadar sekarang," katanya segera. Ia meyakinkan Abel yang terlihat kesal yang menatapnya dengan enggan. "Jangan melototiku seperti itu. Aku tidak takut padamu. Bisakah kau duduk saja dan membantuku untuk mengambil foto kakak?" lanjut Kanaya meminta bantuan dengan santai.


Abel menolaknya mentah-mentah. Jelas saja ia tidak akan menuruti permintaan Kanaya barusan. Ia tidak akan melakukannya sekalipun itu dalam keadaan mendesak dan bahkan itu di akhir hidupnya.


Nadanya tiba-tiba menjadi keras. "Aku tidak mau! Aku tidak akan melakukannya. Kau sendiri tau bahwa sampai kapanpun aku tidak akan melakukannya. Jadi jangan memintaku lagi. Apa kau mengerti?" katanya sambil memalingkan wajahnya dari Kanaya.


Kanaya memasang wajah memelas khasnya. "Ayolah Abel" paksanya dengan rayuannya seperti anak kecil yang meminta dibelikan mainan. "Kau kan teman terbaikku" tambahnya.


Abel diam, malas menanggapi dan tak mempedulikan. Ia hanya mengambil botol minumannya yang kedua dan meneguk minumannya itu. Abel pasang wajah cemberut. Kali ini Kanaya benar-benar mempedulikan Abel yang melihat ekspresinya sudah berbeda.


"Maafkan aku. Aku tidak bisa mengendalikan diri jika melihatnya. Kau juga tahu itu kan? Jadi berhentilah pasang wajah jelek seperti itu" Kata Kanaya sambil bercanda. Ia memadukan tangannya di depan Abel dalam gerakan model lama memohon maaf dan mengaku salah. Ia baru saja berbicara dengan gaya khas asal-asalanya.


Akhirnya Abel luluh, ia menghadap Kanaya sekarang. "Kau sudah keterlaluan. Aku ini temanmu. Sebagai teman yang baik, aku sangat keberatan kau menyukainya" Abel mengkritik.


Kanaya hanya mengangguk mengerti. Ia menunduk lesu dan terdiam setelah mendengar kata Abel. "Aku tahu. Kau sudah beribu-ribu kali mengatakannya padaku. Jadi jangan katakan lagi itu, hatiku jadi sakit" katanya kemudian mulai merengek.


Abel melotot dan mendengus pendek. "Apa itu masih belum mempan juga? Jika kau terus seperti ini, kau akan hidup sebagai wanita lajang sampai tua nanti. Apa kau ingin hidup seperti itu? Ingatlah, di luar sana masih banyak pria tampan seperti dia, bahkan jauh lebih baik darinya. Hanya saja kau sudah dibutakan oleh cintamu itu" ia memberi pandangan menantang.


Kanaya mengangguk membenarkan. Ia tidak bisa membantah Abel jika yang dikatakannya adalah benar. Iapun pasang wajah cemberut dan mewek-mewek. "Aku tahu. Apa yang salah denganku? Sepertinya aku sudah berlebihan menyukai kakak. Oh tidak. Aku sudah kelewatan" katanya kemudian menyalahkan diri.


Abel membenarkan. "Ya, itu memang benar. Kenapa baru sadar sekarang? Untung aku belum mengantarmu kerumah sakit jiwa" ejek Abel.


Kanaya pasang wajah panik. "Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku juga tidak bisa terus seperti ini," ujarnya meminta pendapat. Ia menatap Abel dengan raut muka sedih.


"Sadarlah dari mimpimu. Lupakan pria itu dan carilah pria lain. Aku akan membantumu mencarikan pria yang lebih baik. Ikutlah kencan buta denganku" kata Abel memberi pendapat.


Kanaya menurut dan memberikan anggukan kecil. "Baiklah. Aku hanya perlu melakukan hal itu kan?" katanya, lalu mengambil roti milik Abel dan mengunyah rotinya dengan lahap. "Untuk saat ini aku tidak tertarik dengan kencan buta. Kau saja yang pergi"


Kemudian Kanaya tiba-tiba merenggut, sedih. Ia mencoba menguatkan diri. Abel hanya menggeleng-geleng kepala dan memaklumi. Sifat manja Kanaya terlihat menjengkelkan sekali. Apalagi seperti sekarang ini. Suasana hatinya kadang-kadang mudah berubah.


"Oh tidak, berhentilah merengek. Kau seperti anak kecil saja" kata Abel mulai was-was.


"Biarkan saja. Aku sedang meratapi nasibku" kata Kanaya yang masih merenggut. "Aku sudah terbiasa seperti ini"


Abel memahami. "Ok baiklah. Semoga kau cepat sadar" ia kembali melanjutkan memakan snack keduanya, yaitu gorengan tahu yang ia beli di warung bi Endang tanpa mempedulikan Kanaya. Ia sangat menikmati makanannya sehingga lupa kalau Kanaya sedang memperhatikannya makan.


"Hei, sisakan untukku juga!" sorak Kanaya yang mulai tertarik dengan yang dimakan Abel. Sejenak ia lupa kalau sedang bersedih hati.


Abel menolak. Tidak mau. Belilah sendiri sana" ujarnya dengan enggan.


Alhasil Kanayapun mewek-mewek lagi. "Aku hanya minta sedikit saja. Aku bahkan belum sarapan saat kesini" katanya sambil merampas makanan Abel. Lalu mengunyahnya karena begitu lapar.


Abel terkekeh geli melihatnya. "Iya, ambil ini, aku juga membelikannya untukmu. Tadi aku hanya bercanda"


Kanaya tersenyum puas dan memakan tahu goreng miliknya. "Aku lapar. Temani aku makan" ajaknya kemudian.

__ADS_1


Abel setuju dan menurut. "Iya. Karena itu aku menyuruhmu datang kesini untuk menemanimu makan" sebuah tawa segar keluar dari mulut Abel.


Mereka bangkit dari sana menuju kantin kampus. Pertengkaran pagi ini berakhir dengan tawa.


__ADS_2