
Sudah tiga hari Bian di Singapura. Pria itu benar-benar mengikuti saran Daniel untuk mengunjungi negara itu. Hatinya sempat ragu. Tetapi, di sisi lain ada keinginan kuat yang seperti mendorongnya untuk pergi ke negara itu. Tempat pertama yang dia datangi adalah Kampus tempatnya menempuh jenjang S2-nya dulu. Di tempat itu pun, Bian tidak menemukan sesuatu yang terlihat menarik. Pria itu akhirnya memilih istirahat karena lelah berkeliling di tempat itu.
Sebenarnya, Daniel sudah mengetahui kalau nomor asing itu adalah milik Amara. Namun, pria itu sengaja menyembunyikannya dari Bian. Anak buahnya berhasil melacak pemilik nomor itu saat Daniel dan Bian masih di Tiongkok. Namun, Daniel sengaja menyembunyikan hal itu atas perintah dari Pak Akmal. Pak Akmal takut kondisi istrinya drop jika Bian menemukan Amara terlalu cepat. Apalagi kondisi Bu Fatimah semakin memburuk setelah Bian mengirimnya pulang waktu itu.
Tiga hari di negara orang tanpa ada kesibukan membuat Bian merasa bosan. Apalagi mengingat, kalau di tempatnya pekerjaan sedang menunggu.
Sore itu...
"Kak, besok aku mau pulang. Ngapain ajak aku keliling sampai tiga hari tanpa ada pekerjaan yang berarti. Buang-buang waktu kita aja. Padahal pekerjaan sudah menunggu kita, tapi Kak Daniel malah terlihat sangat santai. Biasanya Kak Daniel yang paling teliti dalam bekerja. Kenapa sekarang malah berubah menjadi orang yang paling santai?" Bian terus ngomel karena kesal pada Daniel. "Kemarin Kak Daniel bilang, kita akan bertemu pemilik nomor asing itu. Eh, yang ada kita malah nganggur sampai tiga hari di sini._
Daniel tersenyum kecil menanggapi protes bosnya. "Otak juga butuh pendinginan, Tuan. Kalau terlalu dipaksa, yang ada kepala akan memanas. Hal itu malah membuat kinerja menjadi menurun."
Bian menyebikkan bibirnya mendengar jawaban Daniel. Entah mengapa, beberapa hari terakhir ini Daniel berubah menjadi Asisten cerewet yang senang sekali mengganggunya. "Terserah Kak Daniel mau bilang apa. Intinya, aku hanya merasa waktuku terbuang sia-sia di tempat ini, Kak."
Daniel tidak menanggapi dengan baik ucapan Bian. Pria itu malah mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya dia kasihan pada Bian. Namun, di sisi lain, ada aturan dari Pak Akmal yang harus ditaatinya. "Maaf, Tuan. Nanti malam saya mau bertemu dengan teman lama saya. Apa tidak apa-apa kalau Tuan diam di hotel sendirian?"
Bian langsung menatap Daniel dengan heran. "Tidak apa-apa, Kak." Ucapnya kemudian menatap lurus ke depan. Ia merenung sejenak. "Mm.. apa Kak Daniel bisa menyewakan mobil untukku?"
"Untuk apa, Tuan?" Jawab Daniel dengan spontan.
"Aku mau jalan-jalan nanti malam. Seperti kata Kak Daniel, otak juga butuh pendinginan agar tidak meledak karena pekerjaan."
Daniel terdiam sejenak. Nanti malam dia berencana untuk mendatangi Apartemen tempat Amara. Sengaja bilang ke Bian akan bertemu teman lama, agar tuannya itu tidak mempertanyakan kepergiannya jika dia pulang telat nantinya. Da juga ingin memastikan kalau anak buahnya bekerja dengan benar dan tidak membohonginya. "Mm... saya akan menyewakannya untuk Tuan sekarang," ucapnya. Bian akan curiga kalau dia menolak. Sedangkan dia sendiri tidak bisa menemani pria itu nanti malam.
"Ok, aku tunggu di sini. Kalau aku diam terus, malah semakin bosan."
"Saya akan pergi sekarang, Tuan."
"Mm..." Bian duduk di sisi ranjang sambil menunggu ibunya menjawab panggilannya.
*********
"Permisi, selamat malam." Daniel mengetuk pelan pintu Apartemen yang di datanginya. Ia menatap sekeliling yang terlihat sepi. Pria itu jadi ragu, kalau tempat yang di datanginya itu menjadi tempat tinggal kekasih Tuannya. Bagaimana pun juga, seharusnya Bu Fatimah menempatkan Amara pada Apartemen yang lebih besar dan luas agar wanita itu tetap nyaman, walaupun berada di tempat pembuangan.
Ceklek..!
__ADS_1
Daniel kembali menatap ke arah pintu Apartemen. "Permisi, Nona. Apa benar di sini tempat tinggal Nona Amara?" Bertanya dengan sopan karena wanita yang membuka pintu sama sekali tidak dikenal oleh Daniel.
"Maaf, anda siapa?" Myta menatap Daniel dengan tatapan mengintimidasi. Selama ini, tidak pernah ada orang yang mencari Amara. Bagaimanapun juga, mereka adalah orang asing yang tidak dikenal oleh orang sana.
"Saya orang suruhan Bu Fatimah. Lebih tepatnya, orang kepercayaan suaminya Bu Fatimah."
Myta terkejut. Tapi, buru-buru ia menyembunyikan ekspresinya. "Saya tidak akan percaya begitu saja. Tunjukkan bukti kalau memeng Bu Fatimah yang meminta anda untuk datang kemari."
Daniel menghela nafas berat. "Tuan Muda kekasihnya Nona Amara ada di tempat ini. Tuan Besar memintaku untuk mendatangi Apartemen tempat Nona Amara, untuk menjaga agar Nona Amara tidak kemana-mana."
Myta mengernyit bingung. "Saya tidak mengerti maksud anda. Nona Amara juga sedang pergi bekerja." Menjawab dengan acuh tak acuh. Tidak sedikit pun wanita itu berniat untuk mengajak Daniel masuk.
Daniel tersentak. "Kenapa Nona membiarkan Nona Amara bekerja? Nona akan mati kalau Tuan Muda tau masalah ini."
"Heh, anda jangan asal tuduh, Tuan. Nona Amara bekerja atas kemauannya sendiri. Lagian dia juga bekerja sesuai dengan pendidikannya."
Daniel terdiam beberapa saat. "Di Rumah Sakit mana dia bekerja?"
"Di Rumah Sakit Mount Elizabeth."
"Jam berapa kira-kira dia kembali?"'
Daniel membuang nafasnya dengan kasar. "Huh, aku harus bilang apa sama Tuan Besar sekarang."
"Tuan pergi saja dulu. Nanti saya bilang pada Nona Amara kalau Tuan mencarinya. Sebutkan saja nama Tuan."
Baru saja Daniel akan menjawab, handphonenya tiba-tiba bergetar. Pria itu langsung menjauh untuk menjawab panggilan itu.
"Halo.."
".........'
"Apa..?! Tuan Muda kecelakaan?! Iya.. Iya saya segera kesana sekarang." Daniel bergegas meninggalkan tempat itu tanpa berbalik lagi.
Myta hanya menautkan alisnya melihat hal itu. Ingin bertanya, tetapi Daniel sudah pergi. Wanita itu akhirnya memilih masuk kembali. Tidak ingin ikit terlibat dengan masalah yang ia sendiri tidak mengerti.
__ADS_1
Sementara itu...
Bian meringis saat orang-orang mengerumuninya. Tangannya ada robekan gara-gara menyelamatkan anak yang hampir tertabrak mobil.
"Adek tidak apa-apa kan?" Bian menatap prihatin pada anak kecil yang baru saja di selamatkannya itu. Anak itu hanya mengangguk dalam pelukan Bian.
Tiba-tiba tiga orang bertubuh kekar datang mendekat, menyalib kerumunan dan mendekati Bian.
"Tuan harus segera di bawa ke Rumah Sakit. Luka Tuan terlihat cukup dalam." Salah satu dari orang itu mengangkat tangan Bian dan memperhatikan luka di tangan pria itu.
"Anak ini juga harus dibawa ke Rumah Sakit, Pak." Ucapnya sambil mendongak menatap pria bertubuh kekar itu. Bian tau kalau tiga orang itu adalah orang suruhan kakeknya. Dia tidak bisa kemana-kemana sendiri. Past ada saja orang suruhan kakeknya yang mengikuti langkahnya di belakang. Dia hanya bebas dari pantauan kalau sedang ada kunjungan kerja.
"Tuan jangan memikirkan orang lain, pikirkan keselamatan Tuan sendiri."
Bian menatap sinis pada Bodyguard yang menggenggam tangannya. "Anak itu pasti terkejut, Pak. Dia juga butuh pertolongan." Bian tetap bersikeras ingin membantu anak kecil itu, walaupun darah semakin banyak merembes dari telapak tangannya yang terluka.
"Baiklah, Tuan. Intinya sekarang Tuan harus segera di bawa ke Rumah Sakit."
Bian akhiratnya mau bangun setelah tiga orang itu setuju. "Pak, gendong anak ini. Jangan lupa cari tau keberadaan orang tuanya." Perintah Bian. Dia juga heran, kenapa anak itu bisa di pinggir jalan raya sendirian di malam hari.
"Baik, Tuan." Kata tiga bodyguard itu serentak. Ucapan Bian adalah perintah yang tidak boleh dibantah.
Bian meringis menahan sakit. Tangan kirinya menutup luka di tangan kanannya. Keringat dingin mulai bercucuran karena dia kehilangan banyak darah. Dia langsung ke ruang IGD begitu sampai Rumah Sakit. Daniel baru sampai setelah Bian dibawa masuk. Dokter yang berjaga langsung memeriksa keadaan Bian.
"Amara, persiapkan alat. Ada luka yang perlu di jahit."
Deg..!
Bian langsung mengangkat wajahnya mendengar ucapan Dokter itu. Bukan hanya Bian, Daniel yang baru sampai pun, tertegun beberapa saat. Pria itu mendekati seorang perawat laki-laki yang sedang duduk mencatat sesuatu. "Maaf, nama Rumah Sakit ini Rumah Sakit apa ya?" Merendahkan suaranya serendah mungkin agar tidak di dengar oleh Bian.
"Ini Rumah Sakit Mount Elizabeth, Pak." Jawab perawat itu tanpa mengangkat wajahnya. Daniel tidak sempat memperhatikan karena buru-buru masuk.
Daniel kehilangan kata-kata. Kalau sudah begini ceritanya, dia tidak akan bisa menghindari pertemuan itu.
Amara.... !
__ADS_1
We find you...
********