
Tiga bulan berlalu...
Amara sudah sembuh total. Gadis itu bahkan sudah bisa beraktivitas dengan normal. Ia tinggal di sebuah Apartemen bersama Myta. Wanita yang merawatnya itu ternyata bukan seorang perawat sungguhan. Tapi, dia hanya wanita lulusan SMA yang dibayar oleh Bu Fatimah untuk mengawasi Amara. Myta juga adalah seorang single parent untuk dua orang anaknya. Karena butuh uang, Myta langsung mengiyakan tawaran Bu Fatimah. Walaupun dia harus tinggal di luar negeri dengan bermodal sebuah kartu yang diberikan wanita itu.
Tugas dari Bu Fatimah tidaklah berat. Myta hanya diharuskan menjaga agar Amara tidak menghubungi Bian. Itulah mengapa wanita itu tidak pernah mengeluarkan handphone di hadapan Amara.
Namun, Amara bukanlah gadis bodoh. Gadis itu memang tidak menghubungi Bian, tetapi dia sudah mengabari keadaannya pada keluarganya, termasuk pada Ameena juga. Berbekal kartu Bian yang dibawanya, ia membeli sebuah handphone agar mudah menghubungi keluarganya.
Malam itu...
Amara terkejut saat handphonenya tiba-tiba bergetar. Selama ini, tidak pernah ada orang yang menghubunginya duluan. Dengan sedikit ragu Amara meraih benda itu. Bibirnya tersenyum saat menyadari kalau itu adalah papanya.
"Assalamu'alaikum, Pa.."
"Wa'alaikum salam, Nak. Bagaimana keadaan kamu sekarang?"
"Alhamdulillah, Mara sehat, Pa."
Pak Arif terdiam beberapa saat. "Nak, kapan kamu akan pulang?"
"Papa..." Amara bingung mau berkata apa pada papanya. Dia hanya bisa memejamkan matanya menahan rasa bersalahnya.
"Papa kasihan sama Nak Bian, Mara. Setiap hari dia selalu datang ke rumah. Badannya terlihat kurus dan tidak terurus. Sekarang bahkan Papa jarang sekali melihat senyuman di wajahnya."
Amara menghela nafas berat. "Mara di tempat ini karena perbutan neneknya, Pa."
"Tapi itu bukan salah Nak Bian, Nak. Lagian sekarang neneknya itu sudah lumpuh karena kecelakaan itu. Dia tidak bisa berjalan dan bicara pun, suaranya tergagap."
"Itu adalah harga yang harus dia bayar karena kejahatannya, Pa."
__ADS_1
"Jika kamu tidak mau pulang, setidaknya hubungi Nak Bian, Nak. Bilang kalau kamu baik-baik saja di sana."
"Hah.." Amara kembali menghela nafas berat. "Jika aku menghubunginya, dia pasti akan mencari tau keberadaanku, Pa. Aku belum siap bertemu dia lagi." Amara terdiam lagi. Hanya helaan nafas berat yang terdengar beberapa kali. Pak Arif pun ikut diam. Dia tidak berani terlalu memaksa putrinya. Luka yang Amara rasakan pasti sangat dalam, sehingga putrinya butuh waktu untuk bisa kembali seperti dulu.
"Pa..."
"Iya, Nak."
"Aku ingin kerja di tempat ini. Apa Papa bisa mengirim semua berkas yang aku perlukan untuk mencari kerja?"
Pak Arif terdiam lagi. Setelah cukup lama terdiam, pria itu menarik nafas panjang. "Apa kamu benar-benar tidak akan pulang, Nak?"
"Papa..." Amara tidak tau harus berkata apa lagi. "Aku.. aku akan pulang nanti, Pa. Aku mau bekerja dulu di tempat ini, agar aku bisa melupakan kenangan buruk itu."
"Mm.. baiklah, Nak. Papa akan mencoba berdiskusi dengan mamamu."
Pak Arif mematikan sambungan telepon. Amara duduk perlahan seraya mendudukkan kembali tubuhnya di sisi ranjang. Tidak bisa dipungkiri kalau dirinya sangat merindukan Bian. Namun, dia harus memastikan Bu Fatimah tidak bisa berulah lagi. Dia tidak mau menjadi korban wanita itu untuk yang kedua kalinya.
Sudah beberapa hari ini ia mempertimbangkan banyak hal. Antara ingin kembali atau tetap diam di negeri orang.
"Sejak kapan Nona punya handphone?"
Amara tersentak kaget dan langsung menatap ke sumber suara. Myta sedang berdiri di depan pintu kamarnya dengan tatapan mata khawatir. "M.. Mbak Myta..."
"Kamu memposisikan aku dalam bahaya, Nona. Bagaimana kalau Bu Fatimah sampai tau kalau Nona menghubungi...."
"Aku tidak menghubungi Kak Bian, Mbak." Amara memotong ucapan Myta seraya beranjak bangkit. "Berapa uang yang anda terima dari wanita itu?" Amara bertanya pada Myta, tetapi ia seperti enggan menatap wanita itu. "Jika aku ingin pulang sekarang, apakah Mbak Myta akan mengembalikan paspor milikku?"
"T.. tidak, Nona. Kamu tidak boleh pulang sebelum cucu Bu Fatimah menikah. Riwayatku akan tamat kalau sampai Nona kembali."
__ADS_1
"Oh," Amara mengalihkan pandangannya seraya tersenyum getir. "Ternyata Mbak Myta sudah di setting sama wanita itu. Lalu apakah Mbak Myta tau, kalau gadis yang berdiri di depan Mbak Myta ini adalah calon istri dari cucu Bu Fatimah itu?!"
Myta tersentak, menatap Amara dengan heran. "Ng... nggak mungkin. " Bu Fatimah bilang, Nona adalah cucu tirinya dia. Tapi, Nona punya skandal dengan cucu kandungnya. Itulah mengapa Nona diasingkan untuk sementara waktu. Nona akan dijemput Bu Fatimah setelah semua urusannya selesai."
Amara kembali tersenyum getir. Ucapan Myta yang mengatakan Bu Fatimah mengakuinya sebagai cucu tiri membuatnya ingin tertawa tetapi kesal. Wanita itu pernah bilang tidak sudi di panggil Nenek oleh Amara. Lalu, tiba-tiba sekarang dia mengarang cerita seperti ini untuk menyembunyikan kebusukannya. "Itu hanyalah cerita rekayasa. Ini, ini, ini.." Amara menunjuk satu persatu perhiasan yang melekat di tubuhnya. Ini semua pemberian cucunya Bu Fatimah. Tapi, karena aku berasal dari kalangan biasa, Bu Fatimah menentang hubunganku dengan Kak Bian." Menjelaskan dengan berapi-api. Dia sudah muak dengan drama ini.
"I.. itu..itu.. tidak mungkin, Nona. Bu Fatimah itu orang baik. Dia tidak mungkin mengarang cerita seperti itu." Myta menggeleng-geleng pelan, tidak percaya dengan cerita Amara. Wanita itu masih saja terobsesi oleh kebaikan Bu Fatimah yang memberinya banyak uang.
"Aku ada di sini karena diculik, Mbak Myta." Kata itu akhirnya keluar dari mulut Amara. "Sebenarnya, jika Bu Fatimah tidak menculik aku, mungkin sekarang aku sudah menikah dengan laki-laki yang sangat aku cintai." Sambungnya dengan sedikit penekanan pada ucapannya. Myta yang masih terus menggeleng-geleng mendengar ceritanya membuatnya sedikit kesal.
Myta masih menggeleng-geleng tidak percaya. "Nona jangan membuatku bingung. Lebih baik Nona diam di sini demi keamanan kita berdua. Aku akan mengembalikan paspor Nona jika sudah waktunya." Myta bergegas keluar dari kamar Amara. Wanita itu masuk ke dalam kamarnya, mengunci pintunya agar Amara tidak menyusulnya.
Ia meraih handphonenya. Tangannya sibuk mencari sesuatu di benda gepeng itu. Menghubungi seseorang untuk meminta kepastian. Wanita itu terdiam saat panggilannya terhubung. Mendengar suara laki-laki yang menjawab, Myta menelan ludahnya. Ia menarik nafas dalam sebelum mulai bicara.
"S.. saya m.. mau bicara dengan Bu Fatimah.." Myta bicara tersendat-sendat karena gugup. Takutnya orang yang menjawab panggilannya bukan Orang biasa.
"Maaf, Nyonya Besar kami sedang sakit sehingga tidak bisa dihubungi. Jika anda ingin membicarakan hal yang penting, saya akan membacakan nomor telepon Tuan Besar kami. Anda bisa menyampaikan apapun itu pada Tuan Besar kami nanti."
Myta meletakkan handphonenya dengan perasaan was-was. Ucapan Amara tadi benar-benar mempengaruhi pikirannya. Ia beralih menatap kedua anaknya yang sudah tidur lelap. Apakah pekerjaannya salah selama ini..?
Myta menarik nafas dalam. Ia harus mencari informasi terkait ucapan Amara tadi. Amara tidak pernah bicara selama ini. Namun, sekalinya bicara, gadis itu langsung membuat Myta merasa bersalah.
Sementara itu...
Amara termenung setelah kepergian Myta. Ia merutuki kebodohannya yang mengatakan semuanya pada Myta. Seharusnya dia menahan diri dari mengatakan hal itu. Tapi, semua sudah terlanjur. Ia hanya berharap, semoga Myta mendukungnya.
Amara Menatap gelang yang melingkar indah di pergelangan tangannya. Gelang pemberian Pak Akmal itu masih menghiasi pergelangan tangannya. "Aku.. aku.. merindukan Kak Bian. Bohong kalau aku mengatakan tidak ingin menikah dengan Kak Bian. Aku hanya berharap, Kak Bian bisa menemukanku di tempat ini tanpa aku harus memberitahukan keberadaan ku. Aku percaya akan kekuatan cinta, Kak. Jika Kak Bian masih menyimpan perasaan itu untukku. Kekuatan cinta itu akan membawa Kak Bian kepadaku." Amara bergumam sendiri. Matanya terpejam membayangkan kenangan-kenangan indahnya bersama Bian.
********
__ADS_1