Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Sifat Asli Bian


__ADS_3

"Bian, pulang..!" Suara keras Zidane dari balik telepon memaksa Bian untuk membuka matanya. Pria itu sedang tertidur lelap di Apartemennya. Amara yang ingin dia jumpai sore tadi tidak bisa diganggu karena jadwal kuliahnya yang padat.


"Ada apa, Kak? Kenapa berteriak lewat telepon. Kak Zidane sendiri yang mengajarkan sopan santun padaku. Kenapa sekarang Kak Zidane yang teriak-teriak kayak orang nggak ada akhlak." Ucap Bian. Suaranya serak karena belum sadar sepenuhnya. Matanya saja masih setengah terpejam.


"Kamu..! Kamu yang tidak tau sopan santun. Kakek dan Nenek kamu tinggalkan di rumah. Kamu pasti tau kalau Ibu masih sibuk di Toko." Zidane masih meninggikan suaranya. Rasa kesalnya sampai naik ke ubun-ubun karena ulah adik sepupunya itu.


"Aku meninggalkan rumah atas izin dari Kakek kok. Apa Kak Zidane pernah dengar aku meninggalkan rumah tanpa izin?" Ucapannya seraya bangkit. Mengucek-ngucek matanya untuk mengusir rasa kantuk yang masih mendera. "Aku nggak akan pulang malam ini, Kak. Kalau Kak Zidane mau marah lagi. Cari aku di Apartemen."


"Bian... Nenek mau bicara sama kamu. Pulang sekarang, atau harta warisan Almarhum papa kamu akan jatuh ke tangan Ayra." Zidane mencoba mengancam. Adik sepupunya itu, semakin dewasa malah semakin menguji kesabarannya.


Bian tersenyum getir mendengar ancaman Zidane. Ia malah menarik nafas panjang lalu membuangnya dengan kasar. "Hah, lakukanlah jika itu yang menurut kalian benar. Hukum pembagian harta sudah dijelaskan dalam Al-Qur'an dan Hadits. Aku bahkan tidak berani main-main dengan ilmunya Kak Zidane. Apa lagi Kak Zidane itu lulusan Timur Tengah. Malu dong, kalau sampai salah dalam membagi hak orang." Bian langsung mematikan sambungan telepon. Ia bahkan sampai menonaktifkan benda gepeng itu untuk mencegah Zidane menghubunginya lagi.


Zidane menggenggam tangannya untuk menahan kesal. "Dia sepertinya tidak akan pulang, Nek." Akhirnya memberikan kesimpulan akhir pada Bu Fatimah yang sedang menunggu jawaban darinya.


"Ah, anak itu kenapa keras kepala sekali. Nenek ingin segera bicara padanya, Zidane."


Bian menghela nafas berat. "Dia di Apartemennya sekarang, Nek. Tapi, aku kehilangan kata-kata untuk membuatnya mau pulang."


Pak Akmal yang baru datang tersenyum melihat tampang cucu dan istrinya. "Kalian kenapa terlihat kesal begitu?"


Zidane menoleh ke arah Pak Akmal. "Zidane kesal sama Bian, Kek. Sudah di bilang kalau Nenek mau ngomong sama dia. Eh, dia malah tidur santai di Apartemennya."


Pak Akmal kembali tersenyum. "Kalian terlalu memaksa dia. Apalagi kamu, Fatimah. Kamu sendiri tau sifatnya Bian. Dia itu persis seperti Almarhum. Semakin kamu mendesaknya, dia akan semakin menjauh. Atau bahkan dia tidak akan mau pulang selama kita ada di sini."


Zidane mengusap wajahnya dengan kasar seraya duduk di samping kakeknya. "Terus ... apa yang harus kita lakukan untuk membujuknya agar dia mau pulang, Kek?"


"Nggak usah dibujuk. Dia akan pulang kalau sudah merindukan ibunya. Dia tidak akan pulang kalau kalian masih mendesaknya. Dia akan memilih mencari ibunya di tempat lain untuk melepas rindu, jika kalian masih bersikeras seperti ini."


Zidane membuang nafasnya dengan kasar. "Ancaman dariku bahkan tidak membuatnya gentar sedikitpun, Kek. Dia malah seperti tersenyum mengejek tadi."


Pak Akmal tersenyum kecil seraya menepuk-nepuk pundak cucunya. "Dia tidak mempan dengan ancaman. Lebih baik kamu ikut mendukungnya, agar dia semangat lagi. Aku sudah bilang, kalau Bian itu adalah fotokopi Almarhum. Kehilangan semuanya sekalipun, tidak akan menggoyahkan keputusannya."


Zidane melirik kakeknya. Sebenarnya, dia tidak tau apa yang akan dibicarakan neneknya pada Bian. Tapi, wanita itu terus memaksanya untuk menghubungi Bian dan memintanya untuk membujuk Bian agar segera pulang.


"Kamu istirahat saja dulu, Fatimah. Kamu boleh ngomong, kalau Bian sendiri yang memintanya padamu. Jangan pernah paksa cucuku untuk menuruti keinginanmu."


"Tapi, Abi.."


"Bian tidak bisa dihubungi karena dia menonaktifkan ponselnya. Bersabarlah sedikit kalau kamu mau menuai hasil." Pak Akmal bangkit setelah menyelesaikan kalimatnya. "Zidane, ikut Kakek. Ada yang perlu kita bicarakan."

__ADS_1


Zidane mendongak menatap kakeknya lalu mengangguk mantap. "Iya, Kek," jawabnya seraya beranjak bangkit.


"Oh iya, Fatimah." Pak Akmal berbalik setelah berjalan beberapa langkah menjauh dari istrinya. "Aku hampir lupa mengatakan ini padamu. Perbaiki hubungan dengan Santi, jika kamu ingin dihormati Bian." Kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan Bu Fatimah yang masih tertegun mendengar ucapannya.


*********


Pagi itu...


Usai mendirikan shalat subuh, Bian tancap gas menuju kost Amara. Jalanan masih senggang karena masih gelap. Hal itu membuatnya lebih leluasa menggunakan jalan raya. Pria itu benar-benar tidak pulang karena menghindari neneknya.


Bian menghidupkan kembali handphone yang dia matikan sejak semalam. Benar-benar memutus kontak karena malas berdebat dengan siapapun.


Ting...!


Ting...!


Ting...!


Rentetan pesan masuk langsung membuat pria itu mengembangkan senyumnya. Ada beberapa dari Amara dan sisanya dari Zidane. Ia membuka pesan dari Zidane terlebih dahulu.


Jangan belajar jadi pengecut, Dek. Kalau ada masalah dengan Nenek, bicarakan dengan baik-baik.


Dia bela-belain datang ke rumah kamu karena ingin membahas sesuatu. Tapi, kamu malah menghindarinya.


Bian tersenyum getir. Ia memilih untuk menjawab semua pesan itu dengan satu kalimat.


Sepertinya, Kak Zidane akan melakukan hal yang sama jika Kak Zidane berada di posisiku.


Bian mengurungkan niatnya untuk membuka pesan dari Amara. Meletakkan handphone itu di sampingnya. Sebentar lagi dia akan bertemu wanita itu. Dia bisa membicarakan semuanya nanti kalau sudah bertemu.


Sampai di depan Kost. Bian langsung melakukan panggilan. Tidak lama menunggu, panggilannya langsung terjawab.


"Ra, aku sudah di depan kost kamu. Keluarlah, aku menunggumu." Mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban gadis itu.


Bian tersenyum saat melihat Amara keluar dengan sedikit bergegas menghampirinya. Gadis itu mengetuk kaca mobil yang tertutup. Bian menampakkan senyum terbaiknya untuk Amara. Satu hari tidak bertemu benar-benar membuatnya kesal. Rasa gundah dan kesal yang memenuhi pikirannya langsung sirna begitu melihat Amara tersenyum padanya.


"Bagaimana keadaan kamu, Ra?"


"Alhamdulillah, aku baik, Kak. Maaf, aku terlalu sibuk dari kemarin. Jadwal kuliah full dari pagi sampai sore. Dosen yang punya jadwal hari ini, mereka tidak bisa mengisi hari ini. Makanya di pindah ke hari kemarin."

__ADS_1


"Wow, it's amazing. Itu berarti hari ini kamu libur."


"That's true, honey."


"Oh," Bian tersenyum salah tingkah. Jarang sekali gadis itu mengatakan hal itu padanya.


"Kalau kamu libur, kamu mau kan ikut denganku?"


"Ke mana, Kak?" Amara menautkan alisnya heran. "Kalau Kak Bian mau mengajakku ke rumah Kak Bian, aku nggak mau, Kak."


"Aku saja malas pulang, apa lagi membawa kamu? Aku lebih baik menghindar daripada harus membuat masalah." Bian mengatakan itu sambil membuang pandangan. Kembali menatap Amara setelah berhasil menguasai pikirannya.


"Ra, masuk sekarang. Kita ke Apartemen. Aku belum makan dari kemarin. Kemarin sore aku mencari kamu kemari. Tapi, Satpam bilang kamu belum pulang dari Kampus."


Amara diam beberapa saat. "Mm.. kalau aku ikut ke sana, itu berarti kita harus menjemput Ameena terlebih dahulu."


"It's ok. Intinya kamu mau ikut aku."


"Mau nolak pun, Kak Bian pasti maksa aku. Kakak kan suka bersikap otoriter. Maunya selalu dituruti. Nggak suka dibantah dan tidak mau kalah."


Bian tersenyum getir. "Belum dua bulan bersamaku, kamu sudah hafal sifat Bian. Itu berarti kamu sudah siap hidup bersamaku." Tersenyum lebar menatap Amara.


"Eh, siapa bilang begitu. Aku.. aku kan udah bilang, aku akan menikah kalau aku sudah selesai kuliah. Masa iya, aku akan mengkhianati pengorbanan Papa."


"Itu semua bisa diatur, Rara. Papa tidak akan menolak aku, jika aku benar-benar memintamu padanya."


"Tidak, Kak. Kak Bian jangan pernah lakukan itu saat ini. Aku benar-benar serius, mau menyelesaikan pendidikan ku. Apa Kak Bian mau, Tante Hanum semakin meremehkan aku karena aku nikah dini?"


"Wanita itu tidak akan berani menghinamu jika kamu sudah manjadi istriku."


Amara menggeleng-geleng pelan. "Pokoknya aku tidak mau. Aku tau kalau Bian Putra Arianto tidak suka dibantah. Tapi, aku juga tidak mau diremehkan karena keputusan ini, Kak. Selama itu tidak menyangkut dengan pernikahan atau pelanggaran norma agama. Aku akan tetap menuruti keinginan Kak Bian."


"Bodoh..!" Bian mengusap-usap kepala Amara yang berbalut mukenah. "Aku juga memikirkan masa depan kamu. Teguh pendirian itu perlu dikembangkan. Intinya, kamu tetap mencintai aku dan menjaga hati. Insya Allah, tiga tahun itu akan terasa sebentar."


"Terimakasih, Kak. Insya Allah, aku akan menjaga hati ini untuk Kakak."


"Sudah, kamu ganti mukenah sana. Aku tunggu kamu di sini. Sepuluh menit harus sudah kembali."


Amara menggeleng-geleng pelan seraya terlalu.

__ADS_1


*********


__ADS_2