Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Bayangan Kehidupan Masa Depan


__ADS_3

"Ada-ada saja kamu ini.." Bian menggeleng-geleng pelan.


Bian menatap istrinya yang sedang tertawa kecil. Ia hanya tidak menyangka, Amara benar-benar mengutarakan keinginannya untuk bekerja. Padahal Bian sangat berharap kalau Amara melupakan ambisinya itu. Tapi, saat ini dia tidak bisa mencegahnya karena tidak ada yang menghalanginya. Seandainya mereka sudah punya anak, mungkin hal itu akan mudah dilakukan Bian. Karena perhatian untuk anak harus lebih diutamakan.


Amara menguap lebar. Bian segera menutup mulut istrinya. "Di tutup, Sayang. Astagfirullah.. kebiasaan deh." Bian menggeleng-geleng pelan. "Jelek tau kalau mulutnya seperti tadi."


Amara tersenyum meringis. "Sering lupa kalau pak suami ada di sampingku."


"Oh iya, Ra. Kedepannya kamu nggak usah pakai kata 'Kak' lagi saat memanggilku."


Amara menautkan alisnya. "Terus, aku harus bilang apa? Masa manggilnya Bian aja. Nggak ah, terdengar nggak sopan sama suami."


Bian membuang nafasnya dengan kasar. "Yang nggak segitunya juga kali, Sayang. Kamu manggil aku kayak Kak Ayra memanggil suaminya."


"Mm..." Amara mencoba mengingat. "Mm.. maksudnya, aku harus manggil Kak Bian dengan 'Mas', gitu maksudnya?" Amara terlihat ragu.


Bian langsung tersenyum lebar. "Istriku memang pandai."


Amara menyebikkan bibirnya. "Hmm.. pasti aku sering lupa di awal-awalnya."


"Namanya juga belajar. Ya.. aku akan maklum kalau kamu lupa dua atau tiga kali."


Amara menghela nafas berat, menatap suaminya dengan datar. "Ya udah, besok aku mulai praktek. Sekarang ngantuk mau tidur."


"Eh, enak aja mau langsung tidur." Bian menahan tubuh Amara yang sudah setengah berbaring."


"Loh, ada apa lagi, K.. M.. Mas?"


"Bagus, sudah mulai dipraktekkan." Bian menepuk-nepuk kepala Amara. "Kamu tidak boleh tidur sebelum membayar hutangmu. Dari tadi sore kamu menguji imanku."


Amara menelan ludahnya. "Aku.. aku sudah lupakan hal itu."


"Tapi aku tidak bisa melupakannya karena kamu belum melunasinya. Kalau kamu mau bebas dari hutang, kamu harus membayarnya tunai malam ini." Bian menatap istrinya tanpa berkedip.


"B.. baiklah..." jawab Amara. Terlihat jelas kalau dirinya sedang gugup. Walaupun sudah sering melakukannya dengan Bian. Tapi, ia masih sering malu-malu kalau suaminya meminta itu.


"Aku akan melakukannya sekarang. Soalnya, ada yang harus aku selesaikan nanti. Aku harus punya bekal biar kepala encer di ajak berpikir nantinya.


Amara hanya tersenyum seraya mengangguk lemah. Membiarkan apapun yang akan dilakukan Bian padanya.

__ADS_1


Satu jam pertandingan berlangsung. Bian tersenyum puas saat melihat istrinya terkapar karena kelelahan mengimbangi permainannya. Sedangkan ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Mendirikan shalat dua rakaat dan kembali merebahkan tubuhnya di samping Amara.


"Kak Bian sudah mandi?" Amara mengendus-endus di dada suaminya. "Kak Bian harum.."


Awalnya Bian ingin protes karena istrinya masih memakai panggilan lama. Tapi, Amara yang sudah memejamkan matanya membuatnya tidak tega melakukannya. Akhirnya, hanya sebuah ciuman yang mendarat di dahi Amara. Tersenyum kecil saat merasakan hembusan nafas teratur istrinya di dadanya.


Namun...


Bian membuka matanya setelah merasa istrinya terlelap. Dia sendiri tidak bisa terlelap karena memikirkan banyak hal. Ia meraih benda gepeng miliknya dan membukanya. Waktu baru menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia menekan nomor telepon ibunya karena ingin membicarakan suatu hal dengannya. Tak lama menunggu, ibunya menjawab panggilannya.


"Apa Ibu sudah tidur?"


"Belum, Nak. Ada apa menghubungi Ibu jam segini?"


"Aku nggak bisa tidur, Bu. Butuh solusi dari Ibu."


"Biar Ibu yang ke kamar kamu. Kita bicara di depan kamar kamu. Nanti Amara bangun, kan kasihan, Nak."


"I.. iya ... terserah Ibu. Kalau begitu aku tunggu Ibu di depan." Bian meletakkan kembali handphonenya. Mengusap wajahnya dangan kasar. Terbiasa terbuka pada ibunya membuatnya lebih nyaman manyampaikan keluh kesahnya pada wanita yang sudah melahirkannya itu. Ia beringsut ke pinggir ranjang. Namun, ia terkejut saat tiba-tiba tangannya ditahan Amara.


"Kak Bian mau kemana?" Amara bangkit dengan malas.


"Mm.. tadinya sih tidur. Tapi aku terbangun saat Kak Bian memindahkan tanganku tadi. Terus, aku dengar Kak Bian menghubungi seseorang dengan berbisik-bisik. Aku jadinya curiga. Apalagi tadi aku dengar, Kak Bian bilang mau menunggu di luar." Amara memicingkan mata.


Bian membuang nafas dengan kasar. "Hmm... jadi kamu curiga sama aku, gitu?"


Amara hanya menatap suaminya tanpa berkata sepatah kata pun.


Bian menghela nafas berat. "Tadi itu aku menghubungi Ibu, Sayang." Menarik gemas dagu istrinya. "Sepertinya aku butuh solusi dari Ibu. Pikiranku buntu, benar-benar tidak menemukan jalan keluar untuk masalah yang sedang aku hadapi ini. Untuk masalah di kantor saja, tidak akan selesai dalam waktu dekat. Pemindahan karyawan ini saja membuatku pusing." Bian terlihat ngeri membayangkan hal itu.


"Kenapa Kak Bian tidak meminta Kakek untuk tidak melakukan itu?"


"Kakek itu misterius, Ra. Dia pasti mempunyai alasan yang kuat mengapa melakukan ini. Lagian, kalau kantor pusatnya tidak di pindah, untuk apa kita diminta pindah rumah."


Amara mengernyit. Otaknya buntu jika pembicara sudah mengarah pada pekerjaan suaminya. "Udah ah.. aku tidak mengerti masalah yang begituan."


"Makanya jangan suka curiga. Baru mulai dijelaskan, kamu sudah mulai pusing. Kamu tunggu di sini. Aku mau menemui Ibu di depan kamar."


Amara mengangguk. Ingin menolak pun, dia tidak akan bisa karena dia sendiri tidak bisa memberikan solusi apapun untuk suaminya. Hanya matanya yang menatap kepergian suaminya.

__ADS_1


Amara menatap ke arah jam dinding setelah suaminya keluar dari kamar. Waktu baru menunjukkan jam sepuluh lewat dua puluh menit. Untuk tidur lagi, sepertinya matanya akan sulit terpejam. Sambil menunggu suaminya kembali, ia memilih untuk membersihkan tubuhnya agar bisa melakukan ibadah.


Usai mendirikan shalat dua rakaat, Amara meraih kitab suci. Bacaannya terdengar lebih merdu setelah menikah. Bian selalu rutin menyimak bacaannya setiap malam.


***********


"Ra, dasiku mana, Sayang." Bian sedang berdiri di depan cermin. Pagi ini, dia berangkat agak siang karena tidak ada pekerjaan yang mendesak. Namun, sejak Amara menjadi istrinya. Dia menjadi malas mempersiapkan keperluannya sendiri. Amara yang selalu gerak cepat membuatnya berubah menjadi pria manja.


"Tunggu sebentar, Mas. Aku lupa mengeluarkannya tadi."


"Buruan.. aku sudah telat nih."


Amara bergegas keluar dari kamar mandi. "Padahal ada di laci kecil tempat biasa. Gitu saja meski manggil aku, Mas." Melirik suaminya dengan kesal.


"Aku sukanya milih asal, Sayang. Kalau kamu yang milih, pasti cocok dengan style jaman now." Ucap Bian sambil bersandar di dekat pintu lemari. Menggoda istrinya yang sedang jongkok mencari dasi yang selaras dengan kemeja yang di pakai suaminya.


"Huh," Amara langsung mendengus. "Sini, biar aku pakaikan." Tangannya terlihat lihai melakukan hal itu. "Nah, susah rapi." Tersenyum puas melihat hasil kerjanya.


"Terimakasih, Sayang." Bian menarik tubuh istrinya, memeluknya lalu mencium dahinnya. "Kayaknya aku akan pulang agak malam nanti. Kalau sudah lewat dari jam sembilan, sebaiknya kamu tidak usah menungguku. Kamu tidur saja duluan."


"Iya, Mas.." Amara mendongak. Tangannya masih melingkar di pinggang Bian. "Kayaknya ada yang perlu di perbaiki lagi."


Bian mengernyit. "Apa lagi? Nanti kalau semua diperbaiki aku semakin tampan, Sayang. Memangnya kamu mau banyak karyawan yang naksir aku karena terlalu tampan."


"Ish, kepedean banget sih." Mencubit lengan suaminya.


"Jangan melakukan KDRT, Sayang. Kulit aku mulus, kalau ada merah-merahnya nanti orang-orang akan curiga.


"Tunggu sebentar." Amara tidak menghiraukan celotehan suaminya. Ia mengambil sisir dan meminta Bian untuk duduk di depan meja riasnya.


"Eh, rambut aku mau diapain, Sayang?" Menahan tangan Amara yang sudah siap menghancurkan tatanan rambutnya.


"Kak Bian terlihat terlalu dewasa kalau model rambutnya kayak gini." Amara menghancurkan tatanan rambut Bian yang memakai gaya orang dewasa menurutnya. "Ngapain coba pakai gaya nyisir ke belakang kayak gini. Sekali-kali pakai gaya rambut anak SMA, Biar aura ketampanannya semakin tampak jelas."


Bian tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa menghela nafas berat. Bulan ke empat pernikahnya. Amara sudah berani memporak-porandakkan gaya rambutnya. Wanita itu selalu mengkritik, apapun yang menurutnya tidak cocok.


Minggu depan mereka akan pindah rumah. Tidak tau, Bian akan di atur bagaimana oleh istrinya jika mereka sudah tinggal berdua tanpa campur tangan orang lain.


*********

__ADS_1


__ADS_2