
Tangan Amara keringat dingin setelah mereka turun dari panggung. Bian beberapa kali mengusap tangan istrinya. "Sudah lewat, Ra. Ini.. tangan kamu masih keringetan gini. Suruh dia tenang."
Amara mengernyit mendengar lelucon suaminya. Dia juga heran, Bian terlihat sangat tenang walaupun baru selesai bicara di depan banyaknya tamu undangan yang hadir malam itu. Sedangkan dia sendiri beberapa kali meremas tangannya untuk mengurangi deg-degan.
Tiba-tiba Amara teringat dengan kehamilannya yang belum diketahui suaminya. Dia harus mengatakan hal itu. Bagaimanapun juga hal baik harus segera disampaikan. "Mm.. Mas, aku.. aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Menggenggam erat tangan suaminya.
"Ngomong saja, Sayang. Kenapa harus minta izin dulu."
"Bian.. sini sebentar, Nak.."
Panggilan Pak Akmal membuat Bian langsung beranjak bangkit. "Ra, aku ke Kakek sebentar ya. Kamu bersama Kak Ayra dulu. Kalian berburu kuliner sementara aku kembali."
"Tapi, Mas.. aku.."
"Nanti kita bicarakan lagi." Bian tersenyum seraya mengusap-usap wajah istrinya. Berlalu dari hadapan istri dan kakaknya menuju Pak Akmal yang sedang ngobrol dengan beberapa tamu undangan.
"Suami kamu akan berubah menjadi orang yang paling sibuk malam ini. Tapi, akan lebih baik kalau kamu tidak mengikuti langkahnya. Mengikuti langkahnya, itu berarti kamu siap mendengarkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Semua akan menatapmu dan memberikan penilaian mereka masing-masing tentangmu. Entah itu mereka mengenal kamu atau tidak."
"Maksud Kak Ayra?"
Cahyra tersenyum seraya menepuk pundak adik iparnya. "Jauhi setiap perkumpulan tamu di pesta ini. Perkumpulan itu hanya tempat mulut saling beradu untuk menjatuhkan satu sama lain."
"Oh," jawab Amara pendek. Sebenarnya Amara tidak terlalu paham maksud Chayra. Tapi, dia tidak mau terlalu banyak bertanya. Intinya, dia harus menghindar jika ada yang memintanya untuk ikut berkumpul.
"Sudah jam sepuluh malam, Kakak mau ambil jaket di mobil. Kakak nggak kuat dengan udara malam."
Amara terdiam. Dia melupakan penyakitnya itu karena agak tergesa saat berangkat tadi.
"Kamu mau ikut atau mau tunggu Kakak di sini?"
"Aku.. aku di sini saja, Kak." Amara langsung duduk setelah Chayra pergi. Meneguk segelas coklat hangat untuk menghangatkan tubuhnya.
"Hei..."
__ADS_1
Amara mengangkat wajahnya saat mendengar suara itu. "Kha.. Khanza..." hampir tidak percaya melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Teman lama yang sudah tidak menganggapnya teman lagi, tiba-tiba datang menyapanya.
"Apa kabar Amara Andini? Oh, gue salah.. Nyonya Bian Putra Arianto." Khanza langsung duduk di hadapan Amara tanpa menunggu di persilahkan. Angin apa yang membawa Khanza sampai bisa satu meja dengannya malam ini.
"Hei, Za. Apa kabar?" Amara menyapa dengan ragu.
"Gue nggak menyangka, ternyata lho berhasil menjadi pemenangnya. Tapi tenang aja, gue bukan orang yang mudah menyerah. Gue yakin lho udah tau hal itu dari dulu. Mari kita mulai bersaing dari sekarang."
"Maksud lho apa, Za?" Amara tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya mendengar ucapan teman lamanya itu. "Mas Bian itu bukan barang yang bisa di rebut atau di gunakan oleh siapapun." Menatap sekeliling. Berharap Chayra segera muncul agar Khanza segera mengakhiri hal konyol ini.
"Oh," Khanza menahan senyum sambil menuntut mulutnya. "Sudah merubah nama panggilan ternyata." Tertawa mengejek.
"Gue istrinya sekarang. Bahkan, gue juga sedang mengandung anaknya. Jadi, apapun bentuk persaingan yang lho tawarkan, gue nggak tertarik." Amara bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pergi.
"Tapi gue tertarik untuk bersaing dengan lho." Khanza ikut bangkit. Tidak rela Amara pergi meninggalkannya sebelum dia selesai bicara. "Gue baru tau, kalau papa gue adalah teman dekat kakeknya Kak Bian. So, why not?" Khanza mengangkat bahu seraya menyeringai licik. "Lagian, gue juga seprofesi dengan Kak Bian."
"Semua itu tidak berpengaruh, Za. Mas Bian tidak akan melirik wanita licik seperti lho." Amara pergi meninggalkan Khanza tanpa berniat untuk berbalik lagi. Hal itu membuat Khanza tertawa puas. Sudah lama sekali dia tidak berjumpa dengan teman lamanya. Sekalinya berjumpa, yang ada Amara malah sudah merebut laki-laki yang dikejar-kejarnya dari dulu.
_____________
Bian menarik nafas dalam karena meras kesal mendengar rengekan istrinya. Ia menarik tangan Amara agak menjauh dari tamu kakeknya.
"Sabar, Ra. Aku sedang ngobrol dengan orang-orang Kakek. Sangat tidak sopan kalau kita pemilik acara yang akan pulang duluan."
"Hidung aku mulai meler nih, Mas. Aku nggak kuat dengan udara dingin ini."
"Ck.." Bian mendengus. "Kalau kamu memang tidak kuat, tunggu di luar saja. Aku akan keluar setelah selesai ngobrol." Bian kembali ke tamunya setelah menyelesaikan ucapannya.
Amara terhenyak mendengar apa yang diucapkan suaminya. Hal itu benar-benar di luar dugaannya. Bian benar-benar terlihat seperti orang lain malam ini. Tanpa berpikir panjang, ia bergegas keluar ruangan. Bian hanya melirik tanpa ada niat untuk menghampiri istrinya lagi.
Amara terkejut saat merasakan tepukan di pundaknya. Ia sedang duduk sendirian di bangku panjang sebuah taman tempat di adakannya pesta malam ini.
"Kamu kenapa di sini, Dek?" Ardian membungkukkan sedikit badannya karena posisi duduk Amara yang sedikit meringkuk.
__ADS_1
"Eh, Kak.. aku.. aku hanya sedang mencari udara segar. Aku nggak kuat dengan udara di dalam ruangan itu. Suhu AC-nya terlalu dingin, Kak." Amara tersenyum kecil melirik Ardian. Tangannya sibuk menggosok-gosok lengannya. Badannya juga sudah mulai menggigil karena udara malam yang semakin dingin.
Ardian mengernyit. "Kamu nggak kuat udara dingin, itu berarti kamu sama dengan Chay." Tebak Ardian. "Tau begini kenapa kamu tidak bawa jaket, Dek?"
Amara tersenyum lemah. "Aku lupa tadi, Kak. Kami terlalu tergesa sampai tidak ingat hal itu." Masih menggosok-gosok tangannya. Bibirnya terlihat pucat.
"Bian mana sekarang?" Ardian menatap sekeliling dengan khawatir. Tidak terlihat ada Bian di tempat itu.
"Mas Bian masih di dalam, Kak. Dia masih ngobrol dengan Kakek pas aku keluar tadi."
Ardian menghela nafas berat. Ia berlalu tanpa mengatakan apapun pada Amara. Amara hanya tersenyum kecut melihat kepergian Ardian. Entah mengapa dia merasa sangat kecil diantara banyaknya tamu undangan malam ini. Belum lagi suaminya yang seperti orang asing. Terlihat tidak perduli dengan keadaannya.
Selang beberapa menit, Ardian kembali bersama istri dan mertuanya. Ternyata dia pergi mencari istri dan mertuanya untuk memberitahukan keadaan Amara.
"Kamu nggak apa-apa, Sayang." Bu Santi memeluk tubuh Amara. Tidak tau kalau menantunya itu memiliki penyakit yang sama seperti putrinya. Sengaja memeluk tubuh Amara. Setidaknya hal itu bisa memberikan sedikit kehangatan untuk menantunya itu.
"Cuma dingin aja, Bu." Jawab Amara. Suaranya terdengar sedih. Air matanya jatuh tanpa ia sadari.
"Mas, buka jas kamu." Chayra memaksa suaminya melepas jas yang dipakainya. "Berikan pada Amara. Setidaknya dia akan lebih hangat kalau memakainya."
Ardian langsung membuka jasnya tanpa diperintah dua kali. Menyerahkannya pada Chayra agar dia yang memakaikannya untuk Amara. "Aku akan masuk mencari Bian dulu. Kenapa sih ni anak. Tau istrinya tidak kuat udara malam, masih saja asyik ngobrol dengan orang lain." Ardian langsung bergegas. Tampak jelas kalau dia sangat kesal dengan sikap adik iparnya itu.
Ardian mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Bian. Ia bisa melihat jelas dari tempatnya berdiri, Bian sedang tertawa dengan orang-orang penting kakeknya. "Bian...." Ardian mencengkram lengan Bian saat menemui adik iparnya itu.
"Eh, Bang. Ada apa..?" Bian terlihat santai tanpa merasa bersalah.
Ardian menarik tangan Bian agak menjauh setelah minta izin terlebih dahulu pada Pak Akmal. "Kamu ini bagaimana sih, Dek? Istri kamu kedinginan di luar, kamu malah masih asyik ngobrol di sini."
"Tadi dia bilang tidak kuat dengan udara di ruangan ini. Itulah mengapa aku memintanya menunggu di luar. Sekarang dia malah kedinginan di luar. Bingung jadinya aku. Padahal aku juga memesankan baju yang lumayan tebal untuknya."
Ardian menarik nafas panjang. "Dek, istri kamu itu alergi dingin. Sama seperti kakak kamu. Kalau kamu mengabaikannya, maka itu bisa berakibat fatal nantinya. Hidungnya udah meler. Tisue di dalam mobil sudah habis di pakainya. Tadi kakak kamu sampai memintaku untuk membuka jas dan memakaikannya di tubuh Amara. Dia sudah menggigil parah di luar."
Bian membuang nafas dengan kasar. "Iya.. iya.. aku keluar sekarang. Aku mau pamit sama Kakek dan yang lain dulu." Bian akhirnya mau mengalah. Walaupun sebenarnya percakapan bisnis ini membuatnya paham beberapa hal, tapi dia harus mengetahui keadaan istrinya terlebih dahulu.
__ADS_1
Ardian hanya menggeleng-geleng pelan. Tidak percaya dengan Bian yang dilihatnya saat ini. Dia benar-benar fokus membahas bisnis dengan rekan-rekan kakeknya tanpa memikirkan penyemangat hidupnya yang tersiksa karena keadaan ini.
************