
"Kamu kenapa bengong, Ra?" Bian mengangkat dagu Amara menggunakan ujung pensil di tangannya.
"Eh, nggak ada apa-apa, Kak." Amara mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ayo, aku temani kamu cari jaket dulu. Setelah ini kita makan malam. Pegang ujung pensil ini. Pakaian disini terlalu padat. Bagaimana kalau aku tidak melihatmu dan kehilangan jejak kamu."
"Heh, Kak Bian ada-ada saja."
Ting..!
Bian mengambil handphone di dalam sakunya saat mendengar notifikasi pesan masuk di benda gepeng itu.
Dek, jangan terlalu lama di luar. Kakak senang melihat kamu dekat dengan Amara. Insya Allah, dia itu gadis yang baik. Kakak sudah berangkat pulang. Jangan lupa membawanya mampir ke rumah. Kakak sudah berjanji mau memberinya sesuatu.
Bian tersenyum membaca pesan dari kakaknya. Hatinya merasa tenang. Jika kakaknya senang melihatnya dekat dengan Amara, itu berarti dia sudah mendapatkan dua lampu hijau. Tinggal menunggu respon Kakek, Nenek, Ummi dan Abahnya saja.
Aku akan membawanya pulang setelah makan malam, Kak. Tadi siang kami cuma makan sepiring berdua. Tadi dia sempat membuat nasi goreng di Apartemen. Tapi, nasi goreng itu aku habiskan semuanya.
Bian tersenyum menatap Amara setelah mengirim balasan untuk kakaknya.
"Pesan dari siapa? Kak Bian senyum-senyum terus dari tadi." Amara melipat tangannya di dada merengut kesal.
Bian pura-pura berpikir sambil menahan senyum. "Mm.. aku berkirim pesan dengan seorang wanita. Wanitanya...."
"Huh, menyebalkan.." Amara memotong ucapan Bian seraya beranjak menjauh dari pria itu.
"Eh, Ra.. aku kan belum bilang wanita itu siapa. Kok kamu udah ngambek aja." Menarik ujung jilbab Amara dari belakang.
"Kak, apa-apaan sih? Kalau penitinya lepas, bagaimana? Kak Bian berani bertanggung jawab kalau jilbabku jatuh." Masih menunjukkan ekspresi kesal.
"Kamu sih, ngambek nggak jelas. Baru juga aku bilang wanita. Wanita itu kan umum, Rara."
"Terserah, itu hak Kak Bian. Mau chat sama siapapun, aku nggak ada hak untuk melarang." Amara berbalik membelakangi Bian. Entah mengapa hatinya terasa ngilu mendengar jawaban Bian tadi.
__ADS_1
"Rara, dengarkan aku dulu. Tadi itu aku membalas chat dari Kak Ayra. Kalau kamu nggak percaya, kamu boleh kok melihat pesan itu."
Amara berpikir sejenak. "Mana handphonenya." Menyodorkan tangannya ke depan pria itu.
"Heh, sadis bener kalau marah." Berucap sambil menyerahkan handphonenya pada gadis itu.
"Kenapa nggak bilang kalau Kak Bian chat dengan Kak Ayra?" Amara menatap Bian setelah membaca pesan yang dibalas pria itu.
Bian menghela nafas berat. "Kamu nggak nanya wanitanya siapa. Aku belum selesai ngomong, kamu udah main kabur aja tadi."
"Huh, menyebalkan tau nggak?!" Amara berkata sambil menahan senyum. "Hehehe.. tapi.. pesan terakhir Kak Ayra bikin aku mau ngakak." Amara memperlihatkan layar handphone ke Bian. Ketika Bian menyerahkan handphone itu tadi, pria itu belum membuka pesan terakhir dari kakaknya.
Dasar rakus kamu, Dek. Kasihan Amara, dia yang capek masak, kok kamu yang habisin. Hati-hati, nanti badan kamu melar kalau kebanyakan makan.
Bian melototkan matanya membaca pesan itu. Amara akhirnya tertawa. Ekspresi melotot Bian terlihat sangat lucu di matanya. "Mata sipit, dipaksa untuk melebar. Kak Bian terlihat sangat lucu."
"Huh, iya.. iya.. terserah kamu mau bilang apa. Bagiamana nggak syok saat mengetahui kalau Kak Ayra berkata begitu."
Amara menutup mulutnya sambil cekikikan. Ia sangat menikmati ekspresi Bian yang seperti itu.
Amara menegakkan tubuhnya seraya menarik nafas dalam. "Jangan bilang gitu ke Kak Ayra. Dia itu orangnya baik banget loh. Kejadian tadi itu, hanya wujud dari kerinduannya pada Kak Bian. Seharusnya Kak Bian bersyukur memiliki saudara seperti Kak Ayra. Aku aja iri melihat keakraban kalian."
"Hmm.." Bian akhirnya hanya bisa tersenyum kecil. "Kamu udah dapat jaketnya?" Sengaja mengalihkan pembicaraan. Padahal dia sendiri tau kalau gadis itu belum memilih sama sekali.
"Kan belum sempat milih, Kak. Barusan aja nyuruh aku untuk mencari. Belum aja pindah sempat, bagaimana mau dapat?"
"Hmm.." menggaruk-garuk kepalanya bingung. "Mm.. kamu cari sendiri ya. Aku tunggu kamu di sini. Kak Ayra kan udah pulang. Aku aman kalau dia udah pulang. Tidak akan ada orang yang berani menyeretku lagi."
"Ok kalau begitu. Aku akan pergi sendiri." Amara sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Bian. "Di dalam juga serem, Kak. Banyak kaca mata besar dan segitiga bermuda berbagai model. Gkgkgk.." berlari menjauh. Bian melotot seraya menelan ludahnya. Hal itu yang paling dia takutkan kalau masuk ke area pakaian wanita. Dia paham maksud kacamata besar setelah Adzra mengatakan hal itu beberapa waktu yang lalu. Sebenarnya dia juga sengaja membawa Amara kabur masuk ke area itu. Kakaknya tidak akan mungkin mencarinya ke area itu, karena tau kalau dirinya tidak pernah mau menginjakkan kakinya di tempat seperti itu.
Bian mengusap wajahnya dengan kasar setelah sadar kembali. Amara sudah hilang dari pandangan. "Huh, ya Allah.. untung aja Rara mau pergi sendiri. Entah, apa yang akan terjadi kalau aku melihat segitiga bermuda." Bian bergidik ngeri membayangkan hal itu.
Pria itu memilih menghubungi Bobi sementara menunggu Amara kembali. Ia hampir lupa kalau temannya itu sering lalai. Jangan sampai Bobi lupa menutup pintu sedangkan dia sudah tidur.
__ADS_1
*********
"Ibu, apa.. aku bisa datang lain waktu saja ke rumah Ibu?" Amara menggenggam erat tangan Bu Santi. Mereka sedang duduk bersama di ruang keluarga rumah Chayra. Saat sampai tadi, wanita itu langsung memeluk hangat tubuh Amara.
"Loh, kenapa, Nak?"
"Mm.. aku nggak enak kalau ada di sana. Sedangkan.. kata Kak Ayra... Kakek dan Nenek mau datang besok." Amara menunduk mengatakan itu.
Bu Santi tersenyum. "Itu tidak jadi masalah, Nak. Lagian Kakek dan Nenek kalian akan datang sore hari. Mereka mau tinggal satu minggu di sini. Kalau Ibu sih, tidak keberatan walaupun kamu tinggal di rumah. Ummi katanya mau nginap di sini, bukan di rumah Ibu."
"Bu, aku curiga dengan tingkah dua manusia ini." Chayra tiba-tiba datang dan langsung ikut nimbrung. "Sepertinya mereka memiliki hubungan khusus, Bu. Siapa yang nggak curiga coba?! Pas ketemu tadi, mereka menunjukkan ekspresi yang mencurigakan. Terutama ni anak.." Chayra menepuk paham Bian yang duduk di sebelahnya.
"Ibu udah tau, Nak."
"Hah..?!" Jawaban Bu Santi membuat Chayra tercengang. "S.. sejak kapan Ibu tau?"
Bu Santi tersenyum kecil. "Mm.. Bian sendiri yang bilang ke Ibu sekitar satu bulan yang lalu." Bu Santi berkata sambil menepuk-nepuk tangan Amara yang digenggamnya erat. Wanita itu terlihat benar-benar menyayangi Amara. Ketulusan yang ditunjukkan Amara selama beberapa tahun ini membuat wanita itu yakin, kalau Amara adalah wanita yang tepat untuk putranya.
"Ibu senang mendengar hal itu, Ayra. Setidaknya, adikmu mencintai wanita yang sudah mengenal seluk-beluk keluarga kita. Dia juga wanita yang pandai menjaga sikap. Lagian, Amara juga sudah akrab dengan kita. Kalau udah seperti itu, tidak ada yang perlu diragukan lagi, kan?" Giliran kepala Amara yang dielus-elus Bu Santi. Amara hanya bisa tersenyum kaku. Dadanya berdebar-debar tak menentu.
Chayra terdiam beberapa saat. "Mm.. Ayra juga berpikir seperti itu, Bu. Seandainya Amara tidak tulus, tidak mungkin anak kecil seperti Adzra akan terus mencarinya. Kamu bahkan langsung merebut hati Adzra di hari pertama kamu menjaganya waktu itu." Tersenyum lembut pada Amara.
"T.. terimakasih, Kak." Amara kembali tersenyum kaku seraya menundukkan kepalanya.
"Jangan dipuji terus, Kak. Lihat tuh, wajah Rara udah merona merah."
Chayra dan Bu Santi tersenyum kompak. "Dia bahkan sudah punya nama khusus untuk pujaan hatinya, Bu." Chayra mendorong pelan pundak Bian.
"Apaan sih, Kak?" Bian tersenyum salah tingkah.
Amara semakin menunduk dalam. Rona marah di wajahnya semakin tampak jelas.
"Keluarga ini memang seperti ini, Dek. Kami tidak suka membicarakan orang di belakang. Mumpung kamu ada di sini. Kita bicarakan semuanya." Chayra memperbaiki posisi duduknya. "Kalian saling mencintai. Kalian pasti sudah sepakat untuk menjaga hati masing-masing. Kalau sudah seperti itu, agama menganjurkan kita untuk menyegerakan niat baik."
__ADS_1
Bian langsung menatap Kakaknya. Ia memperbaiki posisi duduknya, karena sedikit terkejut mendengar ucapan Chayra yang memintanya untuk menyegerakan niat baik.