
YUNA DINATA, itulah nama gadis cantik jelita dan penuh pesona. Siapapun lelaki yang melihatnya, pasti akan dibuat terpesona dengan mata tak berkedip, dan mulut melongo bengong seperti sapi ompong. Dia tercatat sebagai salah seorang model yang sedang naik daunnya. Baru-baru ini ia sudah menggeluti dunia akting berkat film perdananya yang sukses dihadapan publik. Usianya pun tergolong muda, baru 23 tahun. Dan ia datang ke kampus untuk menemui kekasihnya.
Ketika ia berjalan di pintu utama menuju lorong, langkah kakinya bergema keras di lantai marmer. Ketika berjalan, rok panjangnya yang cokelat menggerisik, menyentuh kaki-kakinya yang langsing. Ia sangat menyukai pakaian yang dikenakannya itu; rok itu berasal dari perancang Arizona kesukaannya. Rok itu yang terbuat dari kain nan indah, gaya versi kekinian. Dengan leher tinggi, korset halus yang serasi yang menonjolkan dadanya, pinggang yang sedikit ketat, dan rok panjang yang dibawahnya tersembunyi lapisan rok dalam berenda putih yang agak kaku. Itu membuatnya merasa sangat feminim.
Kecantikannya memang luar biasa, bagai bidadari turun dari khayangan. Kulitnya bersih dan halus bak pualam, dengan lekuk tubuh laksana gitar spanyol. Rambut lurus panjang sebatas punggung, hidungnya mancung, bibirnya sensuam dengan dagu lancip. Hampir semua lelaki, dari kalangan mahasiswa sampai satpam dan tukang kebun mengagumi kecantikanya. Dan dengan anggunya, wanita cantik penuh pesona itu masuk ke dalam kampus. Seulas senyum manisnya, senantiasa menghias bibirnya yang merah merona dan merekah. Kacamata hitam yang dipakainya, justru semakin menambah cantik dan penuh pesona penampilannya. Semua orang yang ada disana terbelalak memperhatikannya dan membicarakanya.
“Siapa gadis itu? Waaahh. Dia cantik sekali,” semua orang bertanya-tanya seakan-akan mencari sesuatu yang tersembunyi di wajah gadis itu.
“Itu adalah Yuna Dinata, model cantik yang terkenal itu. Benar. Benar. Benar. Itu benar dia!” seru salah satu mahasiswa yang mengenali gadis itu dengan terperangah. Ia dan temannya menatap heran.
“Apa? Benarkah? Kenapa dia ada disini?” sahut temannya yang satunya tidak percaya.
Mereka mulai berbisik membicarakan kedatangan Yuna ke kampus ini.
Awalnya Yuna sempat kebingungan untuk menemui seseorang yang dicarinya tak bisa dihubungi sama sekali. Ia pun tidak punya seseorang yang dikenalnya disini. Sementara itu, para mahasiswa kampus terus melihat-lihat kearahnya dengan tatapan heran. Ia tetap berlalu dan melewati sekumpulan pria yang memperhatikannya. Ia dengan tenang lewat tanpa menoleh kearah mereka sedikitpun meskipun mereka tak berhenti bersiul-siul dan menggodanya.
Yuna hendak beranjak dari situ namun tanpa sengaja ia melihat orang yang dirasa dikenalnya. Tanpa ragu, ia langsung menghampirinya. Ketika pria itu sedang mengobrol santai bersama rekan-rekannya di lorong kampus dengan asyik-asyiknya membicarakan tentang festival band mereka.
Sebuah suara dari kejauhan terdengar jelas oleh mereka.
“Doni..! Apa itu kau?” di lepaskannya kacamata hitamnya.
Tiba-tiba Doni disentakkan oleh suara Yuna memanggil namanya sehingga membuatnya menoleh ke sumber suara. Betapa kagetnya Doni ketika tahu siapa yang memanggil namanya. Pembicaraan pun terhenti dengan temannya itu. Semuanya menoleh ke arah Yuna. Teman-teman Doni membalikkan badan dan mengangkat wajah memandang ke Yuna. Teman Doni langsung terperangah melihat gadis itu.
“Yuna. Kau disini?” ujarnya tak menyangka dan percaya melihat gadis cantik yang di kenalnya itu. Terakhir kali di lihatnya sejak perpisahan sekolah dulu. Gadis manis itu tersenyum. Lalu menoleh kearah dua pria lainya.
Ketika pembicaraan Doni dan temannya terhenti, mereka pun membiarkan Doni untuk berbicara dengan gadis itu dan berlalu pergi. Yuna pun sempat melempar senyum pada teman-teman Doni yang melambai-lambaikan tangannya karena tergoda akan kecantikannya.
“Jadi bagaimana kabarmu? Lama tidak bertemu,” Yuna bertanya seraya melepaskan kacamatanya dan disimpanya dalan tasnya.
“Aku baik,” balas Doni dengan mantap. “Ya. Lama tidak bertemu. Bagaimana denganmu?” ia berbalik bertanya.
“Ya seperti yang kau lihat. Aku sekarang menjadi wanita yang super sibuk,” seru Yuna seraya bercanda.
“Wow, itu keren. Kau berhasil jadi seorang model seperti impianmu”, puji Doni.
“Ya begitulah,” ujar Yuna sambil tersenyum. Lesung pipi muncul saat dia tersenyum, membuat wajahnya semakin memesona.
“Kau ternyata kuliah disini rupanya?” tanya Yuna dengan suara lembutnya yang menggoda.
Doni mengangguk membenarkan.
“Betul. Karena aku pria penurut saat disuruh untuk kuliah.” Bakasnya. “Lalu, bagaimana denganmu? Bukankah kau seharusnya berada di lokasi pemotretan? Kenapa malah bisa ada disini? Apa kau tersesat?” Doni berbalik bertanya.
Yuna tampak berpikir untuk menjawab pertanyaan Doni teman lamanya itu. Ia tampak agak ragu untuk menjawab.
“Aku kesini untuk menemui seseorang yang beberapa hari ini tidak menghubungiku. Aku juga tidak percaya kenapa aku bisa berada disini sekarang” katanya kemudian berterus terang. Ia sedikit menyunggingkan senyumnya dengan kecut.
“Seseorang? Oh ya? Siapa?” Doni bertanya tanpa ragu.
“Seorang pria,” jawab Yuna. “Pria itu bernama Raka. Apa kau mengenalnya?” ujar Yuna berterus terang.
__ADS_1
“Raka?” kening Doni berkerut. Ia sepertinya tidak asing lagi mendengar nama itu. Ya, itu adalah nama yang sering dibicarakan gadis kampus dan termasuk Kanaya. Nama yang terus-terusan terdengar di telinganya setiap hari. “Oh, maksudmu, apa pria yang membuat heboh kampus ini? Raka yang ku kenal?” Doni langsung menebaknya.
Yuna mengangguk membenarkan.
“Begitulah”
“Dia berlaga sok keren dan sok pintar menjadi seniorku. Pria itu kenapa kau mencarinya?” tanya Doni tanpa ragu.
“Tepatnya pria yang ejek itu adalah pacarku,” tutur Yuna tanpa ragu.
Doni langsung tertawa kecil. Dan seakan-akan tidak percaya dengan penuturan Yuna barusan.
“Waw! Ini sungguh mengejutkan! Jadi kau adalah gadis itu. Semua orang membicarakan kalian. Benar-benar pasangan yang populer.”
Yuna terseyum puas. “Benarkah?” matanya berseri-seri tanda kegirangan.
“Memang benar. Wah, aku tidak menyangka itu adalah kau. Raka memang pria yang pemilih. Kau adalah gadis yang beruntung, banyak gadis kampus disini tergila-gila padanya,”
Yuna mengangguk-angguk kecil. “Oh begitu ya. Jadi, dimana aku bisa menemui pria itu? Apa kau melihatnya?”
Doni memberikan anggukan dengan mantap.
“Kau datang pada orang yang tepat! Kami baru saja bertemu di kantin. Kau bisa menemuinya disana. Tapi aku tidak bisa mengantarmu. Kau hanya perlu melewati jalan ini, belok kanan setelah itu. Jangan lupa masuk ke dalam kedai yang bermerk Pemadam Kelaparan,” jelas Doni memberitahu. Ia menunjuk ke arah lorong yang ada di hadapannya.
Yuna tampak serius mendengarkan dan mengikuti arahan tatapan Doni.
“Baiklah. Kalau begitu, terimakasih bantuanya. Kau memang bisa diandalkan. Sampai ketemu lagi teman lama.”
Usai berkata begitu, Yuna pun meneruskan langkahnya menemui Raka. Langkahnya gemulai lembut. Ayunan kakinya indah dan sepatunya tingginya bergesekan dengan lantai sehingga menimbulkan bunyi. Ia terus melangkah.
Di kantin kampus, ternyata Yuna mendapati Raka bersama teman-temannya yang tengah asyik mengobrol. Kelihatannya pembicaraan yang seru. Dan sesaat ketiga temannya itu terperangah melototi kehadiran bidadari yang turun dari langit melangkah kearah mereka, Raka justru kalang kabut sendiri menutupi wajahnya dari Yuna. Tapi tetap saja ia sudah ketahuan oleh Yuna lebih dulu.
“Ooo. Siapa gadis itu? Apa dia bidadari yang jatuh dari langit?” seru teman Raka yang terpana. Matanya melotot dan bergairah.
“Dia menuju kesini. Sepertinya aku kenal gadis itu,” timpal yang satunya lagi tak kalah terkesimanya.
Yuna menghampiri mereka dengan tatapan tajamnya. Khusunya terhadap Raka.
“Rupanya kau ada disini. Aku sudah mencarimu kemana-mana. Kenapa kau sangat sulit untuk ditemui?” kata Yuna yang ditujukan pada Raka yang bersembunyi di balik badan temannya itu.
Raka dengan dingginya menanggapi.
“Kenapa kau kesini?” ia bertanya.
“Kau jahat sekali. Kenapa tidak mengangkat teleponku? Apa kau ingin menghindar dariku? Tega sekali kau melakukanya padaku. Selalu saja bersenang-senang dengan temanmu,” tegas Yuna memarahi Raka dengan meluapkan emosinya.
Semua orang yang berada disana langsung terhenyak dan terbelalak. Sebuah ungkapan yang tak terduga oleh seorang gadis cantik yang mempesona itu. Yang tak disangka lagi, Kanaya juga berada disana menyaksikan kejadian itu secara jelas dan nyata. Ia kaget bukan kepalang. Matanya bulat membesar mengarah pada gadis yang tiba-tiba muncul melontarkan kata yang begitu tak di duga kepada Raka.
“Astaga! Siapa gadis itu? Jangan-jangan...” gumam Kanaya membantin dan tidak percaya. Ia langsung menduga bahwa gadis itu adalah kekasih Raka yang dibicarakan Abel dan Doni padanya. Sekarang, barulah ia percaya dengan gosip itu.
Sementara itu, Raka merasa sedikit terganggu dengan kehadiran Yuna yang begitu mendadak dan menghebohkan kampus. Tidak memungkinkan baginya untuk bertemu Yuna dalam kondisi seperti ini, bisa-bisa orang lain akan mendengar dan melihat mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk berbicara empat mata.
__ADS_1
“Kita bicara di luar saja. Ikut aku,” kata Raka segera.
Raka berupaya menangkan diri dan ingin membawa Yuna pergi dari situ. Begitu tau keadaan di seputarnya memperhatikanya dari tadi. Yuna selalu saja mengomel di sepanjang jalan dan mengikuti Raka.
“Kenapa kau tidak mengangkat telponku? Kau sengaja melakukanya, ya? Sebenarnya apa yang kau lakukan sampai tak bisa menjawab telponku? Apa susahnya mengangkat telepon dariku! Sudah berapa kali kau seperti ini? Sebenarnya kau ini menganggapku apa? Kenapa aku harus berputar-putar seperti orang gila?” ujar Yuna meluapkan amarahnya.
Raka membawanya ke taman kampus, beberapa meter dari kantin kampus. Karena dirasa disana tempat yang aman agar mereka bisa bicara bebas.
Raka menatap Yuna dan menghempa udara. Ia cukup terkejut dengan aksi Yuna yang mendatanginya langsung ke kampus tanpa memberitahunya.
“Baiklah. Sekarang apa maumu?” tanya Raka dengan tatapan sedikit kesal.
“Kau ingin aku apa? Aku ingin kau mengangkat teleponku setiap kali ku telepon. Kau harus memberi kabar sekalipun itu kau sangat sibuk. Jangan abaikan aku seperti sebelumnya. Sekali-kali datang temui ibu dan ayahku untuk makan siang ataupun makan malam. Dan kau tidak boleh mendekati wanita lain. Jadi aku tidak perlu khawatir lagi tentangmu,” oceh Yuna panjang lebar tak henti-hentinya menyalahkan Raka.
Raka terdiam sejenak.
“Apa kau ingin aku melakukan semuanya?”
“Tentu saja. Kau sendiri yang meminta apa keinginanku,” jelas Yuna dengan mantap.
Raka mengerti.
“Aku mengerti. Aku akan mencobanya. Aku akan melakukan seperti yang kau mau,” katanya dengan tegar.
“Sungguh? Aku tidak percaya padamu,” Yuna tampak tidak percaya.
“Untuk kali ini beri aku kesempatan. Percayalah padaku” kata Raka meyakinkan. Ia menatap Yuna lekat-lekat dan dalam. Matanya memberikan pandangan lembut yang membuat Yuna jadi luluh.
Tentu saja ia harus menurut dan melakukan permintaan itu. Jika tidak, sama saja dengan memperpanjang masalah. Yuna bisa saja nekat untuk setiap hari datang ke kampus ini dan mengacau. Hal itu sama sekali tidak boleh terjadi. Beruntung saja Yuna mudah percaya dengan Raka dan tentu saja membuat Raka kembali lega.
Yuna memberikan anggukan kecil.
“Baiklah. Aku akan mempercayai kata-katamu. Kalau begitu, kau harus mengajakku makan malam. Sudah lama kita tidak melakukannya.”
Dengan sigap Raka memberi anggukan dan menerima tawaran itu. “Baiklah. Kita akan melakukannya malam ini. Aku akan menjemputmu.”
Senyum mengembar keluar dari bibir mungil Yuna di lipstik merah merona.
“Aku mengerti.”
“Sekarang pulanglah dan bersiap-siaplah. Aku akan mengantarmu.”
“Baiklah.”
Raka membawa Yuna menuju pelantaran parkir mobilnya. Sepanjang mata memandang, semua orang memperhatikan mereka berdua. Sungguh pasangan yang sejoli dan sempurna. Hal itu membuat Yuna senyam-senyum sendiri ketika perhatian terus tertuju kearahnya. Ia merasa bangga bukan karena dirinya seorang artis yang banyak dikenal oleh kalangan muda, tapi saat Raka memberanikan diri menggandengnya dan itu berarti ia telah menampakkan dan menunjukkannya pada umum tentang hubungan mereka. Para mahasiswa kampus heboh dengan kejadian itu.
“Bagaimana ini? Mereka melihat dan mengambil foto kita,” seru Yuna.
“Jangan pedulikan mereka. Ayo terus jalan dan jangan perlihatkan wajahmu pada mereka.”
“Baiklah,” Yuna menurut.
__ADS_1
Raka mempercepat langkahnya untuk buru-buru membawa Yuna masuk ke dalam mobilnya. Ia pun meninggalkan kampus menuju jalan raya.