Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Keputusan Kakek


__ADS_3

Suasana berubah hening setelah tawa karena candaan Bian berakhir.


"Kakek mau bicara serius sekarang." Ucap Pak Akmal memecah keheningan.


Tidak ada yang menimpali. Semua mata fokus menatap ke arah Pak Akmal.


Pak Akmal menarik nafas panjang sebelum mulai bicara lagi. "Kakek rasa, akhir-akhir ini keadaan keluarga ini sedang tidak baik-baik saja." Menghela nafas berat. "Hah, ini semua tidak luput dari keputusan Kakek yang terlalu memaksakan kehendak sendiri."


Masih hening. Hanya tangan mereka yang saling tertaut dengan pasangan masing-masing.


"Ismail, mulai sekarang awasi tindakan Humaira. Abi lihat, pergaulannya terlalu bebas di luaran sana. Kalau perlu segera nikahkan dia dengan laki-laki yang bisa bertanggung jawab. Atau mungkin dia sudah punya pilihan sendiri."


"Iya, Abi. Saya akan usahakan hal itu secepatnya." Pak Ismail menjawab tanpa mengangkat wajahnya. Pria itu malu pada mertuanya karena kurang memperhatikan pergaulan putrinya.


Sementara itu, Humaira hanya bisa menelan ludahnya. Dia tidak tau kalau selama ini gerak-geriknya selalu di awasi sang Kakek.


"Yang kedua, untuk Zidane."


"Iya, Kek." Zidane mengangguk sopan.


"Mulai sekarang kamu yang tinggal di sini bersama Kakek."


"Hah..?!" Zidane dan Alesha tersentak kaget. "Tapi, Kek.."


"Kamu terlalu jarang mengunjungi Kakek dan Nenek kamu. Seharusnya, kamu sebagai cucu tertua, kamu yang seharusnya lebih sering kemari." Sambung Pak Akmal tanpa memperdulikan ekspresi terkejut Zidane.


"Eheheh..." Zidane hanya bisa cengengesan. Selama ini dirinya memang sangat jarang kemari. Selain karena kesibukan di Perusahaan cabang yang di pegangnya, ia juga jarang berkunjung karena istrinya yang sering menolak. Alesha tidak suka karena ada saja yang dikritik Bu Fatimah jika dia datang.


"Nanti kamu diskusikan dengan istrimu." Pak Akmal beralih menatap Ardian dan Chayra..


Zidane akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah. Mau menolak pun, tidak mungkin dia lakukan. Kakeknya terlalu berharga untuk dibantah.

__ADS_1


"Ardian, Ayra.. terimakasih untuk kerja keras kalian. Terimakasih karena kalian sudah mengorbankan banyak waktu untuk merawat Kakek. Kamu juga rela meninggalkan pekerjaan kamu demi menjaga Kakek di sini." Menatap Ardian. "Sebagai rasa terimakasih Kakek, Ruko di depan Rumah Sakit Islam samping toko ibu kalian, aku serahkan pada kalian berdua. Itu adalah bentuk rasa terimakasih Kakek pada kalian berdua."


Ardian dan Chayra saling pandang. "Terimakasih, Kek." Jawab Ardian kemudian.


"Nanti Pak Parjo yang akan menyerahkan sertifikatnya pada kalian." Pak Akmal beralih menatap Bian dan Amara. "Dan untuk pasangan baru." Pak Akmal menjeda kalimatnya. Pria paruh baya itu menahan senyum melihat ekspresi Amara yang terlihat tegang menunggu keputusannya. "Hmm... dengan berat hati, Kakek mengizinkan kalian memilih tempat tinggal lain selain rumah ini. Sejauh ini, Kakek lihat istriku tidak bisa berdamai dengan keadaan. Dia masih suka memaksakan kehendaknya pada cucu menantu. Kakek khawatir, kalau hal itu malah membuat Amara merasa tertekan. Kakek harus mau mengalah karena hal itu. Kalian berdua belum memberikan hadiah terbesar pada Kakek. Akan tetapi, untuk bisa hamil wanita harus bahagia lahir dan batin. Kalau batinnya tersakiti, yang ada itu tidak baik untuk kehamilannya nanti."


Pak Akmal tersenyum lemah. Terlihat jelas kalau dia sangat tidak menginginkan hal ini, karena Bian adalah cucu kesayangannya. Bian bagaikan sosok Ari yang hidup kembali. Itulah mengapa dia bersikeras untuk meminta Bian untuk tinggal bersamanya. "Kakek tunggu kabar baik dari kalian. Masalah pil itu, Kakek yang minta maaf. Untungnya Amara cerdas dalam hal itu."


Bu Fatimah langsung mengalihkan pandangannya mendengar suaminya menyinggung tentang pil kontrasepsi.


"Kantor pusat akan di pindah ke kantor cabang yang di pegang Zidane sekarang. Kantor pusat yang sekarang dialih fungsikan menjadi kantor cabang. Masalah karyawan, itu urusan kalian." Pak Akmal kembali terdiam. Beralih menatap Bu Santi yang tidak pernah bicara dari tadi. Menantunya itu hanya menyimak apapun yang diucapkannya. "Sepertinya Santi rindu berdekatan dengan putranya. Maafkan Abi, Nak. Abi yang salah karena mengambil putramu dan membiarkan kamu tinggal sendirian."


Bu Santi hanya tersenyum seraya mengangguk. Wanita itu memang tidak pernah membantah apapun keputusan mertuanya.


Pertemuan keluarga itu berakhir setelah Pak Akmal mengakhiri pembicaraannya. Pria paruh baya itu masuk ke dalam kamar bersama istrinya, karena waktu maghrib sebentar lagi tiba.


__________


"Kok kamu jadi berlebihan gini sih, Ra. Ya Allah pakai acara menangis segala lagi." Bian tersenyum sambil mengusap air mata istrinya.


"Ini bukan air mata penderitaan lagi, Kak. Ini adalah sebuah air mata kebahagiaan seorang istri karena kebaikan suaminya." Amara menurunkan perlahan tangan suaminya. "Kalau Kak Bian bertanya bagaimana perasaanku saat ini, sepertinya aku tidak akan bisa menjelaskannya pada Kak Bian."


Bian menatap istrinya. Ia jadi terharu karena reaksi istrinya. Ia menebak, kalau keputusan kakeknya lah yang membuat istrinya tidak bisa menahan haru. "Berita mana yang membuatmu paling bahagia, Ra?" Mencoba bertanya karena istrinya benar-benar terlihat berlebihan.


"Mm..." Amara melirik suaminya lalu menunduk. Ia benar-benar terlihat tidak bisa mengekspresikan perasaannya. "Kebaikan Kak Bian yang mau membawaku ibadah ke Tanah Suci." Jawabnya malu-malu tanpa mengangkat wajahnya.


"Eh," Bian menautkan alisnya sambil menahan senyum. "Seriusan nih?!" Mengangkat wajah istrinya dengan jari telunjuknya. "Apa kamu tidak bahagia dengan keputusan Kakek?" Ternyata dugaannya sedikit meleset.


"Mm..." Amara memberanikan diri menatap mata suaminya. "Bahagia sih, Kak. Tapi, aku memang lebih bahagia dengan berita umroh dari Kak Bian. Lagian aku juga..."


"Hah," Bian memotong ucapan istrinya. Menepuk-nepuk kepala Amara, menarik tubuh wanitanya itu ke dalam pelukannya. "Aku juga nggak tau, tiba-tiba aku merasa lebih tenang setelah mendengar keputusan Kakek itu. Tapi, kalau kamu lebih bahagia dengan berita umroh itu, aku akan meminta Kakek untuk membatalkan rencana pindah rumah."

__ADS_1


"Eh," Amara langsung menarik tubuhnya. "Nggak bisa kayak gitu dong, Kak." Menatap suaminya dengan kesal. "Baru aja mulai berangan-angan tinggal di rumah sendiri. Enak saja Kak Bian berkata begitu. Huh, punya suami kok gini banget sih.." gerutu Amara. Ia menatap ke lain arah karena kesal.


Bian tidak menghiraukan ekspresi istrinya. Dari tadi dia sudah sibuk membayangkan Apartemen yang mungkin menjadi selera istrinya. "Kamu mau tinggal di Apartemen yang bagaimana?"


Amara kembali menatap suaminya. "Apa aku juga harus ikut andil dalam hal ini?"


"Tentu saja, Sayang. Kenyamanan kamu yang harus diutamakan. Yang akan banyak menghabiskan waktu untuk menempatinya itu kamu. Kalau aku sepertinya cuman mau numpang tidur saja. Pergi pagi pulang malam dan begitu seterusnya." Ucap Bian. Jadwal kerjanya yang tidak biasa membuatnya berkata begitu.


Amara terdiam, kepalanya langsung beroperasi memikirkan suasana tempat yang kira-kira cocok dengannya. "Aku mau tempat yang banyak pohon buahnya. Aku mau ada halaman luas di depan atau di belakang rumah, biar aku bisa menanam sayur-sayuran seperti di rumah Kak Bian dulu." Amara menaik turunkan alisnya menatap Bian.


Bian langsung menghela nafas berat. "Itu sih kamu mau rumah, Ra. Mana ada Apartemen di lantai sekian lalu mempunyai kebun tempat menanam sayur."


"Hehehe..." Amara tersenyum meringis. "Aku maunya yang begitu, Kak. Nggak usah dah tinggal di Apartemen. Rumah yang sederhana tapi nyaman kayaknya itu lebih menenangkan. Nggak pakai acara naik turun lift. Jadi simpel dan nggak ribet. Lagian, aku juga mau kerja. Pasti bosan kalau kerjaannya cuma jagain rumah."


Bian terdiam beberapa saat. "Terus kamu request apa lagi. Biar sekalian aku pikirkan. Besok pasti memikirkan pekerjaan dan pemindahan karyawan. Kalau kamu sudah mengutamakan keinginan kamu, nantinya aku bisa menyusunnya bersama Kak Daniel."


"Jangan libatkan orang lain, Kak. Ini masalah keluarga kita. Aku maunya Kak Bian yang memikirkan ini. Kak Bian selesaikan masalah Perusahaan terlebih dahulu. Masalah rumah tangga kita Kak Bian urus belakangan."


"Mm.." Bian melirik istrinya.


"Selesaikan kewajiban Kak Bian dulu. Aku bisa tinggal bersama Ibu sebelum Kak Bian selesai mengurus semuanya. Aku juga ingin mencari pekerjaan sebelum punya tempat tinggal tetap. Itu pun, kalau Kak Bian mengizinkan." Amara melirik suaminya ragu.


"Aku sudah bilang dari jauh-jauh hari. Kamu silahkan kembangkan kemampuan kamu. Sayang kan, kalau ilmunya tidak diamalkan. Tapi..."


Amara langsung fokus menatap suaminya setelah mendengar kata tapi. "T.. tapi apa, Kak?"


"Heh," Bian tersenyum kecil. "Kamu jangan kerja di Rumah Sakit yang jauh dari rumah. Aku nggak mau kamu kecapekan karena kebanyakan menghabiskan waktu di jalan."


Amara tersenyum sumringah. "It's ok. Yang penting tidak menjadi pengangguran.."


"Ada-ada saja kamu ini.." Bian menggeleng-geleng pelan.

__ADS_1


__ADS_2