Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Berani Melawan


__ADS_3

Setelah pembicaraan dengan Bian pagi itu, Daniel berniat akan merombak kembali jadwal yang sudah ia susun dengan susah payah. Beberapa kali ia termenung, heran dengan sikap Amara. Kalau wanita lain, pasti akan berjingkat sedang saat di ajak pergi berbulan madu.


Ting...!


Ia menatap benda gepeng di depannya. Ternyata ada pesan masuk dari Bian.


Ada yang lupa aku ceritakan pada Kak Daniel tadi.


Daniel menautkan alisnya. Tidak biasanya Bian mengirimkan pesan seperti itu padanya.


Apa yang lupa Tuan ceritakan?


Bian yang di dalam ruangannya tersenyum membaca pesan balasan dari Daniel. Dia sudah menebak, Daniel pasti langsung menjawab karena asistennya itu paling tidak kuat penasaran.


Ada orang yang naksir sama Kak Daniel. Membalas sambil tersenyum.


Siapa?


??????


Pintu ruangan tiba-tiba diketuk. Hal itu membuat Bian tersenyum kecil. Orangnya pasti tidak lain adalah Daniel. "Buka saja, tidak di kunci." Ucapnya. Pura-pura menatap laptop di depannya agar dia terlihat sibuk.


"Tuan.." Daniel menunduk sopan. Ia langsung mendekat dan duduk di sofa tanpa basa basi.


"Ada apa Kak Daniel kemari? Aku tidak pernah meminta Kak Daniel ke ruangan ini." Masih menatap layar laptop.


"Tuan memang tidak memanggil saya. Tapi pesan yang Tuan kirim membuat saya merasa terpanggil ke ruangan Tuan."


Bian tersenyum kecil. "Kak Daniel sudah menikah. Seharusnya kata-kata seperti tadi tidak membuat Kak Daniel terpancing."


Daniel menghela nafas berat. "Saya tidak bahagia dengan berita seperti ini, Tuan. Saya hanya ingin tau, agar saya bisa menemui wanita itu. Saya akan bilang padanya, kalau saya sudah menikah dan sudah pasti tidak bisa mencintainya."


Bian tertegun mendengar ucapan Daniel. Pria itu kini fokus menatap Daniel yang menampakkan ekspresi datar.


"Aku selalu pulang setelah lewat waktu Maghrib, Tuan. Dari pagi saya meninggalkan istri saya. Sangat lah tidak pantas, kalau saya mengkhianatinya, sedangkan dia sendiri mengurus dua anak saya di rumah." Daniel masih menampakkan ekspresi datar.


Giliran Bian yang menghela nafas berat. "Wanita itu juga langsung balik badan saat Rara bilang Kak Daniel sudah menikah dan punya anak."


"Siapa orang itu, Tuan?" Daniel masih bersikeras mempertanyakan orang yang di maksud Bian.


Bian mendengus. "Huh, di bilang orangnya sudah balik badan, masih saja penasaran." Melirik Daniel yang masih fokus menatapnya. "Sudah, Kak Daniel bekerja lagi. Nanti aku kirim namanya lewat chat. Aku juga lupa namanya siapa."

__ADS_1


Daniel menautkan alisnya heran. "Apa jadwalnya harus di rombak lagi, Tuan?" Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Daniel. Ingin mempertanyakan wanita itu, tapi ia rasa itu percuma karena Bian tidak mengingat namanya.


************


Amara bersenandung ria usai membersihkan tubuhnya. Wanita itu merasa sangat bahagia karena mertuanya akan datang sore nanti. Bibirnya tidak henti-hentinya mengulas senyum. Ia pun berusaha memilih pakaian terbaiknya siang ini. Dia harus tampil sempurna karena tidak mau kalau mertuanya mengiranya tidak bahagia. Apapun masalahnya dengan Bu Fatimah, dia tidak akan mengatakannya pada Bu Santi nanti.


Amara tersentak dan langsung menoleh ke arah pintu saat tiba-tiba pintu kamarnya terbuka lebar. Ia hanya menghela nafas berat saat melihat siapa yang masuk.


"Ada apa Nenek kemari?" Tanyanya tanpa ekspresi. "Kalau masuk ke kamar orang itu seharusnya ketuk pintu dulu." Sambungnya lagi. Ia bahkan enggan membalik tubuhnya. Masih fokus menatap pantulan wajahnya di cermin. Perasaan takutnya pada wanita itu sudah berkurang karema Bu Fatimah yang selalu mengganggu ketenangan hidupnya.


Bu Fatimah melipat tangannya di dada seraya tersenyum sinis. "Wow, seorang cucu menantu berkata tidak sopan pada pemilik rumah. Kamu lupa siapa pemilik rumah tempat kamu sekarang berdiri." Melotot kesal karena Amara semakin berani menentangnya.


Amara membalik tubuhnya. "Aku tidak akan pura-pura amnesia, Nek. Rumah ini milik suamiku. Mungkin Nenek yang tinggal di sini sejak dulu. Tapi, aku sudah menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, kalau Kakek menyerahkan rumah ini pada suamiku. Jadi, mulai sekarang, Nenek tidak boleh berbuat semau Nenek padaku." Menatap Bu Fatimah dengan tajam. Kesabarannya sudah habis untuk meladeni wanita itu.


"Kamu jangan macam-macam! Apa kamu sudah lupa dengan yang pernah aku lakukan padamu sebelum ini?" Bu Fatimah berjalan mendekat. Tangannya terkepal karena geram dengan perlawanan Amara.


"Aku tidak akan melawan kalau Nenek bisa berdamai denganku. Nenek kira aku tidak lelah setiap hari berdebat dengan Nenek, harus menuruti keinginan Nenek dan bla bla bla. Aku capek, Nek. Suamiku juga sudah lelah mendengarkan keluh kesahku setiap hari. Andaikan kami tidak memikirkan perasaan Kakek, Kak Bian pasti sudah membawa ku keluar dari rumah ini." Amara terus menatap Bu Fatimah yang hanya diam mendengarkan apapun yang diucapkannya.


"Marilah, Nek. Mari kita berdamai dengan keadaan ini. Sekuat apapun Nenek menolak. Aku adalah wanita yang ditakdirkan untuk Kak Bian. Nenek adalah manusia biasa, sama sepertiku. Kita sama-sama tidak bisa merubah ketetapan Allah yang sudah digariskan untuk kita."


Bu Fatimah masih diam. Namun, dalam hatinya wanita itu mengumpat kesal. Amara bukanlah wanita lemah seperti Bu Santi dulu yang tidak pernah berani menimpali ucapannya.


"Jika tidak ada lagi yang ingin Nenek sampaikan, Nenek bisa keluar sekarang. Aku mau mendirikan shalat karena waktu zuhur sudah masuk sejak tadi. Aku juga akan menyambut kedatangan Ibu Mertuaku. Maaf kalau aku tidak sopan, karena meminta Nenek untuk keluar."


"Oh iya, Nek."


Bu Fatimah menghentikan langkahnya, tetapi tidak mau berbalik menatap Amara. "Katakan apapun yang ingin kamu katakan." Ucapnya datar.


"Aku akan tetap menunggu kata perdamaian itu keluar dari mulut Nenek."


Bu Fatimah hanya tersenyum sinis, menggeleng-geleng pelan seraya berlalu keluar.


Amara menarik nafas panjang setelah Bu Fatimah keluar. Ia menyesali ucapan yang keluar dari mulutnya tadi. "Ya Allah, apa yang sudah aku lakukan.." mengusap wajahnya dengan kasar. Dia benar-benar tidak bisa menghindari godaan syaiton untuk tidak menimpali ucapan Bu Fatimah. Ia meraih handphonenya untuk mengirimkan pesan pada suaminya.


Kak, maafkan aku. Aku benar-benar tidak terkendali tadi. Aku melawan Nenek. Aku bahkan mengusirnya keluar dari kamar. Aku benar-benar minta maaf. Imanku sangatlah lemah sehingga setan dengan bahagianya menaburkan amarah saat Nenek masuk ke dalam kamar tadi.


Amara kembali mengusap wajahnya dengan kasar setelah pesan itu terkirim. Hanya bisa berdoa, mudah-mudahan suaminya memaklumi kesalahannya itu. Berulang kali menatap handphonenya menanti jawaban suaminya.


Ting...!


Amara langsung menatap handphonenya.

__ADS_1


Nanti kita bahasa, Sayang. Aku sedang meeting.


Amara mengembungkan pipinya, memenuhinya dengan oksigen. Ia kembali berdoa, semoga suaminya tidak marah karena tindakan cerobohnya.


Amara bangkit, memilih mendirikan shalat zuhur terlebih dahulu, karena waktu menunjukkan hampir setengah dua.


Setelah shalat, Amara berbaring di atas sajadahnya. Perasaannya tiba-tiba saja kacau. Ia benar-benar memikirkan perdebatannya dengan Bu Fatimah tadi.


Handphonenya bergetar. Amara tersentak dan segera mengambil benda gepeng itu. Ia menarik nafas dalam sebelum menjawab panggilan dari suaminya itu.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikum salam, Sayang. Ada masalah apa?"


Amara terdiam, mencoba memikirkan kata-kata yang tempat untuk menjelaskan pada suaminya. "Aku.. aku melawan Nenek, Kak."


"Terus, apa Nenek menyakitimu?"


"T.. tidak, Kak. Tapi, Sepertinya Nenek tersinggung dengan ucapanku."


"Nanti aku cari kebenarannya saat aku sudah di rumah."


Amara mengernyit. "Apa Kak Bian tidak mau bertanya aku mengatakan apa pada Nenek?"


"Aku bisa melihat semuanya nanti di rumah. Semua kebenaran tanpa rekayasa."


Amara kembali mengernyit. Namun, untuk bertanya ia merasa enggan. Banyak hal yang bisa dilakukan suaminya di luar batas pemikirannya. Bian yang memiliki banyak uang, membuatnya tidak berani memikirkan hal-hal tentang pria itu.


"Setengah jam lagi insya Allah Ibu akan sampai rumah. Kalau kamu lelah, kamu istirahat saja dulu. Aku juga sudah meminta Ibu untuk istirahat dulu setelah sampai."


"Aku nggak bisa tidur, Kak. Aku benar-benar merasa bersalah karena ucapanku tadi pada Nenek." Amara memejamkan matanya. Tidak tau kepada siapa dia akan melampiaskan perasaan bersalahnya. "Apa ... apa aku harus minta maaf pada Nenek?"


Bian mendengus. "Jangan lakukan itu sekarang. Lakukan itu jika aku yang memintamu nanti."


"Tapi..."


"Ssstttt..." Bian memotong ucapan istrinya. "Jangan dipikirkan. Sekarang kamu istiriahat saja dulu. Aku akan usahakan untuk pulang cepat hari ini. Nanti kita selesaikan masalah ini bersama-sama."


"Kak Bian tidak marah padaku?" Amara bertanya dengan ragu.


Bian tersenyum kecil. "Marah untuk apa, Ra? Aku kan belum tau siapa yang salah." Menggeleng-geleng pelan, heran dengan sikap polos istrinya.

__ADS_1


***********


__ADS_2