
Amara menautkan alisnya menunggu pintu terbuka. Hampir lima menit mereka berdiri di depan pintu, tetapi belum ada tanda-tanda pintu itu akan terbuka.
"Duduk dulu lah, Dek." Chayra menarik tangan Amara agar duduk di sofa panjang depan ruangan.
Chayra langsung melotot saat melihat Bian yang terlihat mau ikut duduk. "Jangan bergerak! Kakak cuman mengajak Rara, kamu nggak masuk hitungan. Enak aja mau duduk bersebelahan, padahal tau kalau diri sendiri belum halal."
Bian langsung mengernyit. Kesabarannya kali ini benar-benar diuji oleh kakaknya. "Aku kan bisa duduk di samping Kakak. Kak Ayra sensitif banget deh. Tau gini, aku nggak usah bawa Rara kemari. Aku lebih baik nikah di Singapura." Melengos membuang pandangannya. Rasanya ingin mengambil roti sekepal dan memasukkannya ke mulut Chayra agar tidak terus-terusan protes dengan apa yang dilakukannya.
Chayra melotot. "Oh, terus kamu mau enaknya saja, gitu. Kamu tidak memikirkan keadaan Kakek yang seperti itu?!" Menunjuk jauh ke arah kamar kakeknya.
"Eh, udah dong, Kak Bian dan Kak Ayra kok malah kayak gini sih...?!" Amara tidak tau harus berbuat apa. Gadis itu hanya bisa menautkan alisnya menyaksikan dua bersaudara yang kerjaannya berdebat terus sejak bertemu.
Bian mengangkat bahu sambil menyebikkan bibirnya. "Kakek juga nggak pernah marah aku melakukan apapun. Nggak seperti Kak Ayra yang terlalu berlebihan dalam menghadapi situasi seperti ini. Apa sih, Ra, istilah yang dipakai kalau orang bersikap terlalu berlebihan itu?" Melirik Amara yang masih melongo.
"Ha, maksud Kak Bian?"
"Kamu dan Ameena sering menyebutnya dulu. Apa sih bilangnya, aku kok bisa lupa." Bian mencoba mengingat istilah itu.
"Rara, coba kamu jelaskan ke calon suami kamu, istilah gaulnya terlalu berlebihan itu apa. Kasihan tuh dia." Ucap Chayra sambil menahan senyum.
"Mm.. maksud Kak Bian... lebay ya..?" mencoba menebak walaupun terlihat ragu.
"Ah, you right, Honey." Bian menjentikkan jari-jarinya bahagia. "Hmm.. ternyata kepalaku sering beku dalam mengingat hal-hal yang kurang berguna itu."
Pintu terbuka dari dalam. Tiga orang di depan ruangan serentak menoleh ke arah pintu. Bian berjalan mendekati ibunya yang sedang tersenyum ke arahnya. "Ibu..."
Bu Santi menepuk-nepuk punggung Bian yang sedang memeluknya. "Kamu ini, Nak. Ibu merasa kamu masih kecil aja." Melepaskan pelukannya perlahan. "Amara mana, Nak?"
"Tuh, bersama Kak Ayra cerewet." Menjawab dengan melirik ke arah Chayra.
Bu Santi hanya bisa menghela nafas berat. Sejak Bian bekerja, entah mengapa Chayra senang sekali mengajak adiknya berdebat. "Kita masuk sekarang. Kasihan Pak Arif sudah lelah menunggu kalian dari tadi." Bu Santi mengulurkan tangannya pada Amara. Ingin rasanya memeluk gadis itu untuk melepas rasa rindu. Tapi, urusan di dalam ruangan harus segera di selesaikan agar tidak ada yang menjadi beban pikiran. Hanya bibirnya yang menyentuh pucuk kepala Amara sekilas. Bian hanya tersenyum samar melihat tingkah ibunya.
Amara tertegun saat melihat papa dan ibu tirinya yang sedang memangku adiknya. "Papa, Mama..." Amara berlari mendekat dan langsung memeluk leher papa dan mamanya. Anggota keluarga yang lain membiarkan apapun yang dilakukan Amara.
*********
__ADS_1
Acara sidang isbat dilanjutkan setelah selesai shalat Isya berjamaah. Kini, Amara harus mulai menyesuaikan diri dengan seluruh anggota keluarga besar Bian.
"Ra, kamu mau ikut lagi ke ruangan tadi?" Bian mendekati Amara yang sedang duduk bersama Humaira.
"Ibu memintaku untuk ikut lagi, Kak."
"Ayo kalau begitu. Kak Mayra mau ikut juga?" Beralih menatap Humaira yang hanya diam mendengar percakapan mereka.
"Ng.. nggak deh kayaknya. Aku nggak asa sangkut pautnya dengan pembahasan kali ini. Ra, aku ke kamar duluan ya. Lain waktu kita bertukar cerita lagi." Humaira beranjak bangkit meninggalkan Amara dan Bian.
Bukannya mengajak Amara ke ruang sidang, Bian malah duduk di samping gadis itu. Ia menarik nafas dalam sebelum mulai bicara. "Bagaimana perasaan kamu sekarang, Ra?" Melirik Amara sekilas lalu menatap lurus ke depan.
"Maksud Kak Bian?" Amara menautkan alisnya.
"Sebentar lagi kita akan menikah, Ra. Bagaimana perasaan kamu? Kalau aku.. aku berasa seperti mimpi, Ra." Bian mendongak sambil tersenyum.
Amara tersenyum kecil. "Mmm... bagaimana ya, Kak. Kayaknya aku juga merasa seperti itu. Aku berulang kali tersenyum sendiri mendapati keadaan ini."
"Hah, insya Allah.. besok aku sudah bisa mennggenggam tangan kamu tanpa ada yang melarang lagi."
Amara hanya tersenyum mendengar ucapan Bian.
"Nggak ada lah, Dek. Memangnya kita ketahuan mesum, sampai harus di sidang segala. Sebenarnya kamu juga bisa sih nggak hadir. Tapi, aku akan merasa ada yang kurang kalau kamu tidak hadir." Bian beranjak bangkit.
"Pegang ujung tongkat ini, Ra. Aku ingin kita mengulang momen kencan pertama kita sebelum kita menjadi pasangan yang sah." Mengulurkan tongkat yang dibawanya pada Amara.
Amara tersenyum sambil menatap Bian. Menggenggam ujung tongkat yang disodorkan pria itu.
Kencan pertama itu.. ah, rasanya kejadian itu tidak akan dilupakan Amara seumur hidupnya.
_________
"Sebenarnya, maharnya tidak perlu di bahas dengan calon mempelai wanitanya. Karena Nak Amara masih gadis, jadi maharnya bisa di tentukan oleh papanya." Pak Ismail menjelaskan perihal diadakannya pertemuan malam itu.
"Aku yang memintanya untuk ikut hadir, Abah. Pertemuan ini tidak akan afdol jika calon istriku tidak dilibatkan." Bian menimpali ucapan Pak Ismail.
__ADS_1
"Iya, Abah tau itu, Nak. Putraku Bian adalah orang yang selalu mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna."
Bian tersenyum mendengar jawaban abahnya. Ucapan Pak Ismail memang benar adanya. Bian paling tidak suka dengan pekerjaan yang dikerjakan setengah-setengah.
"Apa kamu pernah membahas secara pribadi perihal mahar yang akan kamu berikan pada istrimu?"
"Tidak, Abah. Kami terlalu sibuk sehingga belum sempat membahas itu."
Pak Ismail beralih menatap Amara. "Bagaimana dengan Nak Amara? Apa yang sekiranya diinginkan Nak Amara pada Bian untuk menjadi mahar dalam acara pernikahan kalian."
"Mmm... kalau aku terserah Papa saja. Tapi, jika Papa berkenan, aku tidak ingin memberatkan Kak Bian."
"Alhamdulillah.." ucap semua orang yang ada di ruangan itu serentak.
"Jadi, Nak Bian siap memberikan mahar apa untuk anak Papa?" Pak Arif angkat bicara.
"Papa bisa menyebutkannya untuk ku. Insya Allah, jika aku sanggup memenuhinya, aku akan memenuhinya. Tapi, sekiranya permintaan Papa terasa berat dan aku merasa tidak mampu untuk memenuhinya, aku akan melakukan tawar-menawar." Jawab Bian dengan bijak. "Atau mungkin Papa ingin kita membicarakan hal ini secara pribadi. Kita bisa bicara berdua nanti setelah acara sidang ini berakhir. Mungkin Papa merasa sungkan untuk mengatakan semuanya di depan semua anggota keluarga."
"Kamu tadi bilang acara sidang, maksud kamu apa?" Pak Ismail menyela karena tidak mengerti dangan maksud ucapan Bian yang mengikut sertakan kata sidang tadi.
"Tidak, Abah. Kemarin Kak Ayra yang memakai istilah sidang untuk pertemuan ini. Kak Ayra malah bilang, ini adalah sidang isbat penentuan jumlah mahar."
"Kalian ini ada-ada saja. Seharusnya kalian menyiapkan palu, agar saat keputusan akhir di dapatkan, Abah bisa mengetuk palu itu."
Yang lain langsung tertawa serentak. Hal itu membuat Amara hanya menunduk malu.
"Kalau begitu, aku akan membahasnya secara pribadi dengan Papa Arif."
"Baiklah jika memang itu keputusan kamu, Nak. Kami akan tau saat kamu menyebutkannya saat acara akad besok siang. Sekarang, saya sebagai menantu tertua di keluarga ini, meminta keikhlasan kita semua untuk mendoakan Abi. Semoga Allah segera mengangkat penyakit beliau."
Akhirnya, pertemuan malam itu berakhir setelah Bian memutuskan mahar yang akan diberikannya pada calon istrinya. Pria itu sangat bersyukur, baik Pak Arif maupun Amara tidak memberatkannya dalam hal ini.
"Terimakasih untuk semuanya, Ra. Aku sangat bersyukur, kamu meringankan langkah kita untuk maju bersama." Bian menatap Amara sambil tersenyum lembut pada wanita itu.
"Kita saling mencintai, Kak. Sangatlah tidak pantas jika aku memberatkan Kak Bian dan mempersulit langkah yang tinggal sedikit ini. Mudah-mudahan Allah meridhoi dan melancarkan rencana yang sudah tersusun rapi ini."
__ADS_1
"Aamiin.."
*********