Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Butuh Waktu Berdua


__ADS_3

Tidak ada yang membuka percakapan selama perjalanan. Bian memikirkan banyak hal tentang pertemuannya dengan Khanza besok. Daniel juga sedang memikirkan cara membawa Amara ke Kantor tanpa sepengetahuan Bian. Sedangkan Pak Akmal, ia malah terlihat sibuk senyum-senyum sendiri menatap layar handphonenya.


Daniel mengusap wajahnya dengan kasar. Matanya tetap fokus menatap jalan raya, walaupun pikirannya di penuhi dengan rencana besok. Melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sebentar lagi waktu makan malam keluarga besar tuannya akan berlangsung. Dia harus lebih cepat agar tidak ikut makan malam di rumah Bu Santi. Bagaimanapun juga, dia bukanlah bagian dari keluarga besar itu.


Bian melirik ke arah Daniel beberapa kali karena sikap Daniel terlihat sedikit berubah sejak asistennya itu bicara empat mata dengan kakeknya. Tapi, dia tidak mungkin menanyakan apapun saat ini karena masih ada sang kakek yang duduk di sampingnya.


"Kita sudah sampai, Tuan."


"Mm..." Pak Akmal mengangkat wajahnya menatap sekitar. Mereka memang sudah berada di halaman rumah Bian. "Ah, cepat sekali kita sampai. Aku sampai tidak sadar waktu karena asyik nonton berita." Menutup handphonenya dan kembali menatap sekitar. "Daniel, jangan lupa pesan Kakek tadi. Kakek tau kamu adalah orang yang handal. Kakek yakin, kamu tidak akan mengecewakan Kakek." Memajukan tubuhnya seraya menepuk-nepuk pundak Daniel.


"I.. insya Allah, Kek."


Bian hanya mengernyit mendengar ucapan kakeknya. Sekuat apapun dia ingin tahu. Daniel pasti akan merahasiakan hal itu. Asistennya itu benar-benar setia pada kakeknya. "Aku turun duluan. Kakek dan Kak Daniel silahkan lanjut diskusi. Yang ada aku malah nggak nyambung kalau terus di sini."


"Iya, Sayang." Timpal Pak Akmal sambil tersenyum kecil. "Jangan lupa ikut makan malam ke rumah ibumu. Makan malam keluarga tanpa kehadiran kamu pasti terasa berbeda."


"Iya, Kek. Nanti aku akan ajak Rara kesana." Jawab Bian asal.


"Istri kamu sudah di sana. Dia sedang membicarakan entah apa dengan ibu dan kakakmu."


"Hmm.." Bian menyebikkan bibirnya. "Kakek memang selalu sok tau." Beranjak turun dari mobil. Menutup pintu mobil dengan pelan untuk menghormati keberadaan sang kakek yang masih duduk di dalam mobil.


Bian tersenyum manis saat melihat istrinya sudah berdiri menyambutnya di depan pintu. Melirik ke arah mobil. Ternyata kakeknya salah mendeteksi. "Assalamu'alaikum, Sayang." Langsung mengulurkan tangannya pada sang istri. "Kamu nggak ke rumah Ibu, Sayang.."


"Mm.. udah tadi, Mas. Tapi, tadi Kakek menghubungiku. Beliau bilang, kamu dalam perjalanan. Makanya aku bergegas pulang. Kakek itu bilangnya macam-macam tadi. Dia sampai bilang gini loh, Mas. Hmm.." Amara mengatur ekspresi sebelum mulai bercerita. "Kamu pulang dulu, Nak. Sambut suami kamu biar rasa lelahnya hilang. Gkgkgk..." Amara terlihat sangat bahagia menceritakan itu pada suaminya.

__ADS_1


"Kakek juga bilang gini, Mas. Ah, kok aku jadi sedikit malu mau menceritakan ini." Wajah Amara tiba-tiba berubah memerah.


Bian tersenyum melihat ekspresi istrinya. Pikirannya tentang pertemuan dengan Khanza besok pagi bisa tergeser dengan senyum kebahagiaan istrinya. "Cerita aja, Sayang. Aku juga ingin merasakan kebahagiaan yang kamu rasakan." Menatap ke arah tas kerjanya yang masih ditentengnya sendiri. Sepertinya, Amara benar-benar sangat bahagia sampai melupakan kebiasaannya yang satu itu.


"Kakek bilang ..." Amara melirik suaminya dengan malu-malu. "Hanya.. hanya aku yang paling pantas menjadi pendamping cucu tersayangnya. Aaaa... aku jadi terharu mendengar itu, Mas." Menutup wajahnya yang semakin merah merona. "Aaa..."


"Eh," Bian menahan tubuh istrinya yang hampir jatuh karena kakinya tersandung anak tangga pertama. "Hati-hati, Ra. Kita mau menaiki anak tangga. Kamu ini, Sayang. Bahagianya kelewatan. Sampai tidak sadar mau menaiki anak tangga.


"Ehehehe..." Amara langsung tersenyum meringis. "Mm.. maaf, Mas. Aku terlalu bahagia."


"Itu makanya. Huh, lagian juga Kakek, dia bilang aku adalah cucu tersayang. Tapi, semua beban berat di limpahkan ke aku." Menghela nafas berat. Menatap istrinya seraya mengusap kepalanya dengan lembut. "Memangnya siapa lagi yang lebih pantas menjadi pendamping hidup Bian selain kamu." Mencubit pipi istrinya. "Aku aja cintanya cuma sama kamu. Permata itu tidak boleh disia-siakan loh, Ra." Menuntun tangan istrinya menaiki anak tangga.


Amara kembali tersipu malu. Menggenggam erat tangan Bian yang sedang tersenyum lembut ke arahnya.


Bian langsung terlentang di atas ranjang begitu memasuki kamar. Menarik nafas panjang sebelum akhirnya beralih menatap istrinya yang sedang menatapnya dengan heran. "Ra, tidur dulu sebentar sini." Menepuk-nepuk kasur kosong di sebelahnya.


"Nanti dulu kita ke sana. Aku ingin memeluk kamu dulu. Sini cepat." Kembali menepuk-nepuk kasur.


"Buka sepatu dulu ah, Mas. Kamu ini kebiasaan deh. Sering malas buka sepatu sendiri sekarang."


"Aku jadi pemalas gini karena ada istri yang selalu siap siaga. Istriku yang paling aku cintai dan aku sayangi. Istri yang selalu melayani suami dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikit pun." Beranjak bangkit menatap istrinya yang sedang melipat tangannya mendengar semua ucapannya.


"Barusan juga aku ngeluh, Mas." Timpal Amara sambil berjongkok mencopot sepatu suaminya.


"Ehehehe... itu bukan termasuk mengeluh, Sayang. Itu adalah sebuah peringatan agar aku bisa lebih disiplin ke depannya." Menatap ke arah istrinya yang tidak menimpali ucapannya.

__ADS_1


Amara kembali mendekat setelah meletakkan sepatu Bian di ruang ganti. Bian segera menarik tangan Amara sampai jatuh ke atas pangkuannya. "Temani aku istirahat sebentar. Kita kan ke rumah Ibu jam delapan nanti. Tadi Kakek bilang acaranya akan di mulai jam delapan nanti. Beliau mau shalat isya terlebih dahulu. Kita masih ada waktu satu jam sebelum makan malam. Aku nggak mau menyia-nyiakan waktu ini. Kalau kita sudah di rumah Ibu, aku pasti akan kesulitan memiliki waktu berdua bersamamu. Kak Ayra pasti mengambil alih kamu dan mengklaim hanya dirinya yang paling boleh." Melengos setelah selesai bicara. Kelakuan Chayra yang sering mengambil alih istrinya secara berlebihan selalu saja mengusiknya.


"Terus, mau kamu apa sekarang, Mas?" Masih melipat tangannya di dada.


"Aku hanya ingin rebahan berdua dengan istriku. Aku benar-benar ingin menghabiskan waktu berdua dengan kamu." Mendongak menatap istrinya yang masih duduk di atas pangkuannya.


"Nanti juga kalau sudah tidur aku akan menjadi milik kamu seutuhnya." Menatap intens mata suaminya. Melingkarkan tangannya dengan manja di leher Bian.


Bian segera mengalihkan pandangannya. Tatapan Amara yang seperti itu sering kali membuatnya hilang kendali untuk melakukan lebih dari sekedar pangku-pangkuan. "Jangan menatap aku seperti itu, Ra. Aku takut kamu tidak bisa mengikuti acara makan malam itu." Berucap tanpa menatap istrinya sedikit pun.


"Nggak apa-apa, Mas. Aku nggak apa-apa kok, kalaupun harus menghadiri acara makan malam itu dengan rambut basah. Apa sih yang nggak untuk suamiku ini. Yang penting dia bahagia dan kebutuhan nutrisinya terpenuhi." Menaik-turunkan alisnya menggoda suaminya. Memindahkan tangannya dari leher Bian.


"Jangan menggodaku, Sayang." Menahan tangan Amara. Memberanikan diri menatap kembali mata istrinya.


Amara tersenyum jahil. "Siapa yang menggoda kamu, Mas? Aku serius nih. Mau aku bukakan sekarang.." memainkan jari telunjuknya di leher suaminya.


"Eh, j.. jangan.. jangan." Bian menelan ludahnya, Menahan tangan Amara yang sudah memegang kancing baju teratas. "Kita harus pergi makan malam sekarang. Ayo buruan persiapkan diri kamu." Segera membuka jas dan kemejanya untuk berganti pakaian."


Amara tertawa renyah melihat ekspresi suaminya. Bian benar-benar takut imannya goyah kalau istrinya sampai buka-bukaan. "Makanya, jangan ajak aku berdua-duaan, Mas. Yang ada kita benar-benar berdua saja dan melupakan orang yang sedang menunggu kita di meja makan."


"Ih, kamu ini kayak yang senang sekali melihat aku menderita. Awas saja nanti kalau kamu nggak memberikan aku jatah harian."


"Sejak kapan aku berani menolak keinginan kamu, Mas? Mau kamu dibukakan kapanpun, aku selalu siaga memberikannya. Sekarang pun aku sudah bersedia. Tapi, sepertinya kamu yang belum siap karena takut ketinggalan acara makan malam keluarga."


"Iya, nggak segitunya juga kali, Sayang. Kakek bisa ngamuk nanti kalau kita tidak hadir."

__ADS_1


"Aku sih nggak memikirkan itu. Yang penting suamiku bahagia, apa sih yang nggak.." ucap Amara sambil menahan senyum. Dia benar-benar bahagia melihat ekspresi takut suaminya. Jika mereka benar-benar buka-bukaan, maka sudah pasti mereka akan terlambat ke acara makan malam. Karena Bian selalu mengistirahatkan tubuhnya usai menggauli istrinya.


***********


__ADS_2