Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Bukan Kesalahan tapi Kecelakaan


__ADS_3

Malam itu...


Acara makan malam berlangsung hangat. Berbagai candaan di lontarkan oleh Adzra. Bocah tujuh tahun itu masih saja suka nemplok pada Amara. Hal itu membuat Bian beberapa kali menatapnya dengan tajam. Sepertinya pria itu cemburu pada keponakannya sendiri.


"Ra, aku mau mengantar kamu pulang." Bian tiba-tiba memecah keheningan setelah yang lain berhenti tertawa.


"Eh, kenapa buru-buru. Nggak.. nggak.. Rara nggak boleh pulang sekarang." Chayra menahan tubuh Amara agar tidak bangkit.


"Nanti aku sibuk, Kak." Bian menimpali dengan nada suara sedikit tinggi.


"Biar Kakak yang mengantarnya nanti." Chayra masih bersikeras.


Bian menghela nafas berat. Waktunya terasa terbuang sia-sia karena tidak bisa menghabiskan waktu berdua dengan Amara. Ia kembali menatap Adzra untuk melakukan negosiasi dengan bocah itu. "Kalau begitu, aku mau mengajak Rara keluar sebentar. Aku perlu bicara dengannya." Bian beranjak bangkit tanpa menunggu persetujuan yang lain. "Adzra, minggir! Uncle mau membawa Aunty sekarang."


Adzra langsung menautkan alisnya sambil menatap Bian dengan tajam. "Uncle ih, kok jadi pelit gini sih. Adzra kan baru sebentar bersama Aunty."


Bian berdecak. Entah mengapa dia cepat sekali kesal jika itu berhubungan dengan Amara. "Uncle juga sebentar di rumah. Kalau kamu terus-terusan merebut Aunty. Uncle jadinya nggak ada waktu bersama. Uncle loh, yang menjemputnya kemari, kenapa sekarang malah Adzra yang nemplok kayak anak kangguru."


Adzra memanyunkan bibirnya kesal. "Uncle itu sudah tua. Ndak boleh bareng Aunty lama-lama karena belum nikah. Kata Mama, kalau belum nikah itu bukan Mahram. Kalau Adzra masih kecil, jadi masih boleh. Iya kan, Aunty?" Mendongak menatap Amara yang duduk di sebelahnya.


"Mm... hmm..." Amara hanya bisa tersenyum meringis menanggapi ucapan Adzra.


Chayra dan Bu Santi saling tatap sambil menahan senyum. Adzra benar-benar mirip dengan sifat Bian yang dulu. Suka menceramahi orang, padahal diri sendiri nemplok pada yang bukan mahram. Tapi, bedanya Bian tidak suka disentuh siapapun.


Bian melengos seraya membuang pandangannya. Dia benar-benar merasa tersaingi oleh Adzra. "Aunty mau pulang sekarang. Kalau Adzra masih tetap duduk di situ, Uncle akan membawa Adzra ke Kostnya Aunty. Di Kostan itu sempit. Adzra nggak ada tempat untuk main. Kalau di rumah kan, Adzra ada lapangan. Ayo, kalau mau ikut, nanti Uncle tinggalkan Adzra di sana."


Adzra menggeleng lalu diam beberapa saat. Anak itu terlihat sedang berpikir. Beberapa kali menatap Bian dan mamanya secara bergantian. " Kenapa Uncle mau membawa Aunty pulang sekarang? Kata Nenek, Aunty mau nginap malam ini." Ia baru teringat kalau Bu Santi bilang Amara akan bermalam di rumah itu.


Bian langsung menarik nafas dalam. Mengakali anak sebesar Adzra bukanlah hal yang mudah. Anak itu sudah bisa membedakan mana yang bisa dipercayai dan yang tidak bisa. "Mm.. Aunty mau masuk kuliah besok. Kalau Adzra mau menyerahkan Aunty sekarang, besok Uncle bawa Adzra membeli banyak mainan." Mencoba mengiming-imingi dengan sedikit mainan mungkin bisa meluluhkan anak itu.


"Mm.. iye ke.." Adzra menyebikkan bibirnya. "Kata Nenek, Uncle Bian sibuk sekali sekarang, makanya jarang pulang. Uncle punya banyak uang ya, sekarang, makanya mau membelikan Adzra mainan?" Adzra menatap Bian dengan tajam.


"Iya, Uncle punya banyak uang, lebih dari uang Papa dan Mama Adzra. Makanya Uncle mau traktir Adzra dan Farel untuk membeli mainan besok."


Ardian yang sedang memangku Farel hanya bisa tersenyum dalam diam. Tidak menyangka kalau Bian rela merogoh kocek gara-gara anaknya nemplok pada Amara.

__ADS_1


"Oke, Adzra mau." Adzra melepaskan genggaman tangannya dari tangan Amara. Anak itu fokus menatap Bian. Yang ditatap hanya tersenyum sambil mengalihkan pandangannya. "Kalau masalah belanja mainan, apapun rela dilepaskan." Bian berkata dalam Dia. Suaranya sangat pelan karena takut Adzra mendengarnya.


"Uncle ndak bohong kan?" Adzra menatap Bian dengan tajam.


Bian tersentak. "Bohong darimana? Udah, kamu diam disini, Uncle mau bicara dengan Aunty. Ayo, Ra.." Bian mengisyaratkan dengan tangan agar Amara mengikutinya.


"Tunggu sebentar, Nak."


Bian berbalik seraya menatap ibunya. "Ada apa, Bu?"


"Sini sebentar.." wanita itu menarik tangan Bian menjauh. Setelah merasa berada di tempat yang aman, Bu Santi menatap putranya. "Mau membawa Amara kemana, Nak? Kalian itu bukan mahram. Apa kamu nggak malu mendengar ucapan keponakanmu tadi?"


Bian menatap ibunya. Melihat raut wajah khawatir ibunya membuatnya merasa bersalah. "Maafkan Bian, Bu. Bian cuman mau bicara empat mata dengan Rara. Ada hal yang perlu Bian sampaikan sebelum Bian berangkat ke Tiongkok."


"Jika itu menyangkut masalah pribadi kamu dengan dia. Kamu bisa membicarakannya di rumah, Nak. Rumah ini luas. Kamu bisa memakai ruangan yang manapun kamu mau. Ibu tidak mau perbuatan kamu mengajaknya keluar rumah menimbulkan fitnah nantinya."


"Aku akan mengajaknya bicara di tempat terbuka, Bu."


"Tapi Ibu tetap tidak mengizinkan kamu membawanya malam ini. Pergilah besok pagi, Nak. Masih ada tiga hari tiga malam lagi."


Bian menghela nafas berat seraya tersenyum pada ibunya. "Baiklah, Bu. Terimakasih sudah memperingatkan aku untuk mengingatkan batas kebolehanku." Memeluk hangat tubuh ibunya.


"Iya, Bu." Bian meninggalkan ibunya untuk mengatakan pada Amara, agar wanita itu beristirahat.


Selepas kepergian Bian, air mata Bu Santi tiba-tiba menetes. Wanita itu terkadang masih tidak percaya dengan keadaan ini. Putranya yang sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa. Apalagi Bian yang sangat mirip dengan Almarhum suaminya. Beberapa kali ia tersenyum sambil menangis haru. Melihat Bian seperti melihat suaminya hidup kembali.


**********


Amara menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Bibirnya tidak henti-hentinya mengulas senyum melihat baju yang dikenakannya. Dress yang terlihat sangat indah. Bian selalu memberikan kejutan yang membuatnya berbunga-bunga.


Setelah merapikan jilbabnya, Amara mengeluarkan gelang pemberian Pak Akmal dari dalam tasnya. Tidak lupa ia mengambil kalung dan juga cincin dari Bian. Kemarin dia melepasnya karena praktek di tempat yang jauh. Kalau memakainya, dia takut lupa atau jatuh.


"Nak, kamu sudah siap?"


"Eh," Amara berbalik dan mendapati Bu Santi sudah berdiri di depan pintu. "I.. Ibu.." merasa sedikit malu karena ketahuan sedang mengagumi dirinya sendiri di depan cermin.

__ADS_1


"Kamu terlihat semakin cantik, Nak." Bu Santi menutup pintu lalu berjalan mendekati Amara. Matanya tiba-tiba tertarik untuk menatap pergelangan tangan Amara. "Hmm.. kapan Abi memberikan ini , Nak?" Mengangkat pergelangan tangan Amara untuk memperhatikan benda yang melingkar di pergelangan tangan wanita itu.


"Kakek memberikan ini sudah lama, Bu." Jawabnya dengan jujur.


"Mm ... lalu kenapa Amara tidak pernah menceritakan hal itu pada Ibu?"


"Oh," Amara tersenyum salah tingkah. "Anu, Bu.. apa namanya.. mm.. aku.. kan jarang bertemu Ibu sekarang. Aku.. aku nggak mau..."


"Sudahlah, yang penting kamu bahagia. Urusan beginian tidak perlu terlalu diumbar." Bu Santi memotong karena melihat Amara kesulitan menjawab.


"Aunty... Aunty, Uncle cari Aunty. Katanya kita mau pergi belu mainan." Suara Adzra dari luar kamar melengking sampai ke dalam kamar. Hal itu membuat Bu Santi dan Amara spontan menatap ke arah pintu. Dua wanita itu saling mengangguk lalu keluar dari kamar.


"Aunty di sini, Sayang." Amara berlari kecil menghampiri Adzra. Namun, Tiba-tiba kakinya menginjak sesuatu dan..


"Aaaa....."


Bruk...!


Amara jatuh ke dalam pelukan Bian. Naasnya, bibirnya menempel di pipi kanan Bian. Untungnya pria itu sigap menangkap tubuh Amara. Untungnya juga Bian berdiri di situ. Jika tidak, bibir Amara pasti mencium lantai rumah itu. Mencium lantai bisa saja mempengaruhi bentuk bibir seksinya.


Sepersekian detik semua tertegun melihat kejadian itu. Amara mengangkat tbuhnya kembali seteleh sadar.


"M.. m.. maafkan aku, Kak." Amara segera menarik diri dari pelukan Bian.


"Astagfirullahal'adziim.. lain kali kamu harus lebih hati-hati, Nak. Kamu tidak apa-apa kan?" Bu Santi berjalan mendekat seraya memperhatikan Amara. Takutnya Amara keseleo atau apa.


"A.. aku tidak apa-apa, Bu. M.. maaf untuk yang tadi. I.. itu bukan kesalahan, tapi kecelakaan."


Bian hanya bisa menahan senyum. Amara benar-benar terlihat lucu. Apalagi ekspresinya seperti ekspresi orang yang ketahuan mencuri sesuatu.


Oalah... Amara apa yang kamu lakukan...


Kenapa malah mencium pipi Bian..


Ini apa ya namanya..

__ADS_1


Bukan kesalahan tapi kecelakaan.


********


__ADS_2