
KANAYA tampak tidak begitu semangat hari ini. Ia masih memikirkan keinginan ayah dan ibunya tentang menikah. Kebingungannya yang harus menikah dalam usia semuda ini membuatnya jadi stres dan kesal sendiri. Hal itu selalu terpikirkan olehnya.
“Apa yang harus aku lakukan?” gumamnya mengeluhkan diri. Ia memasukan separo makananya diantara gigi-giginya lalu mematahkanya dengan keras. “Putuskan!” ia kembali mengunyah makanannya dengan ogah-ogahan.
Mata Kanaya terbelalak lebar-lebar. Ia memutar otak untuk berfikir keras. Karena ia harus memutuskan segera sebelum ibu dan ayahnya mendesaknya. “Berfikirlah Kanaya. Pikirkan sesuatu,” katanya memaksa diri sendiri. Namun, hanya sia-sia saja. Ia kehilangan akal.
Dari tadi Abel hanya melongo memperhatikan tingkah aneh Kanaya. Ia membiarkan Kanaya berbicara sendiri sebelum ia melihat semua yang dilakukan Kanaya seperti orang putus asa. Tapi kali ini ia semakin penasaran dengan sikap Kanaya yang bertambah tak karuan. Begitupun dengan Doni yang dari tadi terbengong-bengong melototi Kanaya juga sibuk mengunyah. Mereka berduapun mulai berbisik-bisik tentang Kanaya yang saat ini tidak aman lagi.
“Kenapa dia? Ada apa dengannya?” tanya Doni duluan. Ia sengaja berbicara keras, agar Kanaya bisa mendengarnya dengan jelas.
Abel menggeleng kecil. “Entahlah. Kemaren dia baik-baik saja. Bagaimana denganmu?” balas Abel tak tau menau. Ia mengangkat bahunya pertanda tidak mengerti.
“Aku?” Doni menunjuk dirinya sambil mengerutkan kening.
“Aku dengar kau dapat pekerjaan baru” kata Abel berkomentar lain.
“Ya, sangat bagus. Aku jadi orang yang terkenal oleh para gadis remaja. Namaku keluar sebagai daftar pencarian pria tampan nomor dua sebagai pelayan kafe di kota Nirwana,” seru Doni dengan mantap.
“Apa maksudmu?” tanya Abel tidak percaya dengan ucapan Doni.
“Banyak yang datang dan mengambil fotoku. Ada juga yang berani meminta nomorku.”
“Itu tidak mungkin!” bantah Abel segera.
“Datang dan lihatlah bersama Kanaya, kau pasti akan terkejut nanti.”
Abel mendelik.
“Jangan terlalu berbesar hati. Bekerjalah dengan benar. Jangan sampai kau dipecat…”
Kemudian mereka berdua disintakkan dengan suara Kanaya yang memanggil dengan tegas.
“Teman-teman!” seru Kanaya pada kedua temannya itu. Ia mencoba mengutarakan apa isi hatinya. Berharap dapat suatu petunjuk ataupun pencerahan dari mereka.
Doni menoleh ke arah Kanaya, kaget. Menegakkan kepalanya. Menunggu ucapan Kanaya berikutnya. Kini pandangan tertuju pada Kanaya.
“Apa?” katanya kemudian menanggapi. “Apa yang terjadi? Ada masalah?” ia bersikap penuh perhatian yang dalam. Sebenarnya sudah dari tadi ia ingin mengatakan itu pada Kanaya.
Kanaya mengehempa udara sebentar.
“Apakah kalian pernah memikirkan tentang pernikahan?” Kanaya mengajukan pertanyaan yang mengejutkan dan di luar dugaan. Ia berkata dengan gugup dan kebingungan sendiri.
Doni dan Abel malah bengong dan menertawakan Kanaya. Seolah-olah Kanaya menanyakan hal yang lucu. Kanaya jadi salah tingkah dan mati rasa.
“Apa? Menikah? Kau mengagetkanku dengan pertanyaan itu. Terdengar seperti bom yang meledak,” seru Doni sambil menahan tawa.
“Mana mungkin kau bisa menyinggung hal itu? Lagipula menikah sekarang, terus muncul orang yang benar-benar dicintai. Maka takkan bisa bersatu dengan cinta sejati. Karena itulah aku belum menemui seseorang yang ku cintai” tambah Abel menanggapi.
“Oh begitu ya,” Kanaya mengangguk mengerti. Lalu terlihat bingung dengan pikiran kosongnya.
“Tapi kenapa kau menanyakan hal itu? Apa kau mendengar Kak Raka akan menikah dengan wanita itu?” tanya Abel penasaran.
Kanaya tak meresponnya, ia malah menundukkan kepalanya. Ekpresi wajahnya menunjukkan sedang ada kegundahan yang terpendam yang tengah berlangsung antara pikiran dan hatinya. Ia harus menceritakan fakta-fakta, ingin memberitahu tentang semua itu pada temannya. Tapi ia sangat ketakutan.
Kanaya sangat gugup sekarang. Hatinya sangat gelisah. Jika ia memendam sendiri masalah ini, cepat atau lambat mereka juga akan segera tahu.
“Sekarang apa masalahnya?” Doni bertanya Seraya menatap Kanaya penasaran. Ia kelihatan ingin mendesak Kanaya untuk bercerita.
Kanaya menguatkan diri.
“Aku tahu kalian pasti bingung,” perkataan itu secara tiba-tiba keluar dari mulut Kanaya yang gemetar. “Tapi percayalah ini sangat mengejutkan diluar dugaan,” lanjutnya dengan ragu-ragu.
Doni dan Abel di hadapkan dalam keadaan yang membuatnya mati penasaran.
“Ceritakanlah pada kami sekarang?” pinta Abel memaksa.
“Hmmm,” alis mata Doni melengkung ke atas. “Sebenarnya kau ingin mengatakan apa pada kami. Apa begitu menyakitkan begitu didengar?” timpal Doni dengan tenang.
Kanaya menggeleng. “Bukan hanya itu,” kanaya membuka mulutnya dan mengulur-ngulur waktu.
“Lalu apa?” paksa Abel semakin penasaran.
“Tidak apa-apa. Katankalah semuanya. Tenangkan dirimu lebih dulu,” kata Doni seraya memberikan segelas minuman pada Kanaya.
__ADS_1
Kanaya hanya menurut dan meminum airnya. Kemudian menenangkan dirinya sejenak sebelum memberanikan diri untuk bersuara. Kini saatnya.
“Aku..” ia terdiam. “Aku,” Kanaya semakin bergetar dan gugup. “Aku” Ia menghimpun keberanian dan kekuatan untuk pada akhirnya meledakkan bom. “Ya. Inilah waktunya. Inilah kesempatan untuk mengatakkanya pada kalian. Aku akan segera menikah!” ia berseru dengan mantap.
Abel dan Doni tesintak kaget.
“Apa! Menikah?” seru Doni dan Abel bersamaan, serentak terperangah dan mendongak.
Keduanya benar-benar terkejut mendengar hal itu dari Kanaya langsung. Kedengaranya tidak masuk akal, tapi inilah kenyataanya. Mereka malah beranggapan Kanaya sedang mempermainkannya.
“Ayo Kanaya. Katakan padaku bahwa ini hanya gurauan yang tak sehat,” sahut Doni tidak percaya sedikitpun.
Kanaya membantah. Ia mencoba meyakinkan kedua temanya itu.
“Ini bukan gurauan. Ini adalah realitas yang membuatku sakit. Ya, aku akan menikah,” katanya dengan serius.
Abel tampak masih tidak percaya. Ditatapnya Kanya dengan lekat. Bola matanya membesar. Ia mencondongkan badanya mendekat Kanaya.
“Dengan siapa kau akan menikah? Kenapa begitu mendadak?” ia bertanya dengan nada serius.
Kanaya menggeleng dan tampak putus asa dengan semua itu. Perasaanya seperti permen nano-nano, bercampur aduk. Dirinya tengah dihadapi masalah besar untuk pertama kalinya. Ia tampah begitu tidak mempercayai hal ini.
“Apa karena alasan ini kau bertingkah seperti ini dan membuatku penasaran tingkat dewa?” Doni bertanya dengan sarkatis. “Kau baru saja meledakkan bom kepadaku.”
Kanaya mengangguk membenarkan, ia sangat terlihat murung sekarang ini.
“Jika orang tuaku telah menemukan seorang laki-laki untukkku, itu berarti aku setuju pula? Aku sama sekali tidak menyukainya,” kata Kanaya menahan perasaan.
“Apa dia tampan?” Abel balik bertanya.
Kanaya menggeleng dan tampak murung.
“Entahlah. Kami belum pernah bertemu. Tapi hanya melihat fotonya saja,” balasnya.
Doni semakin penasaran, ia pun mencondongkan badannya kedepan ke arah Kanaya.
“Kenapa kau tidak menjelaskan kepadaku tentang pernikahnmu sebelumnya?”
“Aku tidak yakin dengan diriku sendiri. Aku tidak percaya dengan perasaanku saat itu. Bagaimana ini bisa terjadi padaku?”
“Kau seharusnya menantangnya,” katanya kemudian mencoba memberi ide. “Kita adalah anak milenium dan kita tegas serta cukup berani untuk menggapai masa depan kita dengan tangan kita sendiri,” jelasnya dengan mantap.
“Apakah kau percaya pernikahan diatur dilangit tapi dirayakan di bumi, seperti kata orang?” Kanaya bertanya.
Doni langsung terperangah. Ia malah menatap kearah Abel sebentar, pikirnya Abel tau jawabanya. Tapi Abel tak berkutik sama sekali.
“Mmm, yeah,” jawabnya dengan hati-hati”Aku percaya Tuhan telah menetapkan jodohmu tapi melalaui orang tuamu. Meskipun kedengaranya sedikit berbeda.”
Abel setuju dengan pendapat Doni. Tapi Kanaya masih belum bisa menerimanya.
“Bagaimana dengan perjodohanku? Apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan tidak berbuat apa-apa saat ini,” keluh Kanaya.
Doni tampak berpikir sesuatu. Sesaat ia tampak mempunyai ide kreatif.
“Baiklah. Bawa fotoku. Perkenalkan diriku sebagai pengganti kepada orang tuamu,” Doni memberi saran sambil menelan biskuit dan menyesap tehnya. “Itu saja kamu lakukan.”
Kanaya kesal lalu memukul Doni.
“Ibuku tidak akan percaya jika orang itu adalah kau,” umpat Kanaya
“Kau sangat menggampangkannya!” Abel segera memukuli Doni karena kesal. “Kau pikir ini main-main!”
“Memang itu mudah. Ketika satu pintu tertutup. Sebuah pintu yang lain besar dan lebih baik terbuka,” jelas Doni dengan bangga.
“Baiklah,” ujar Abel melepaskan desah. “Lalu, siapa laki-laki itu?”
“Siapa?” Kanaya balik bertanya.
“Laki -laki yang dipilih oleh orang tuamu untukmu,” tukas Abel menahan kesal.
“Dia adalah cucu dari sahabat kakekku,” kata Kanaya singkat.
“Aku mengerti,” kata Doni tanpa konsentrasi. “Kau harus memilih, Nay.”
__ADS_1
“Akupun bingung. Ini sulit untukku pilih,”
“Lalu saat kau menerima perjodohan itu, apa kau sudah memutuskan dengan matang?” tanya Abel.
“Tidak sama sekali. Karena aku tidak bisa mencari jodohku sendiri. Tentu saja aku menerima jodoh yang diberikan orang tuaku. Aku sangat bodoh sekali. Kenapa ini bisa terjadi padaku?”
“Kalau begitu, kau jangan putus asa seperti ini. Pilihan orang tua selalu tepat,” ujar Doni
“Ya aku mengerti. Tapi pilihanku lain lagi. Aku harus segera menghentikan semua ini. Yaa, aku harus menghentikanya,” pikir Kanaya membuat keputusan
“Apa yang akan kau lakukan? Mencoba bunuh diri?” terka Doni mengada-ngada.
“Itu bukan ide yang buruk,” balas Kanaya dengan kesal.
“Hei! Jangan ngawur! Putar otakmu dan pikirkan jalan lain,” bentak Abel pada Doni yang selalu berpikir pendek.
“Apa kau mempunyai usul?” tanya Kanaya pada Abel.
Abel menggeleng. Ia tampak berpikir.
“Pikiranku sedang kacau mana bisa aku memberimu usul.”
“Kau memang tidak bisa diandalkan,” ejek Doni
“Hei! Berhentilah mengejekku terus. Sebaiknya kau pergi saja dari sini. Kau membuatku bertambah pusing saja.”
“Kenapa aku yang harus pergi? Aku dibutuhkan disini,” bantah Doni segera.
“Hei kalian kenapa malah ribut! Aku memintamu untuk membantuku bukannya bertengkar yang tak jelas” bentak Kanaya.
“Aku kehabisan akal,” kata Doni dengan menundukan kepalanya. Ia tampak mengeluh akan hal itu.
“Kau tau, Nay,” gumam Abel dengan tenang, ia menurunkan gelas yang sudah diminumnya itu. Ia menatap Kanaya dengan perhatian penuh. “Bagaimanapun, ini bukan dari akhir hidupmu. Mungkin kau menganggap ini tidak adil bagimu. Meski kau merasa terluka. Tapi sebenarnya keinginan orang tua adalah untuk membahagiakan anaknya. Bukan membuatnya terluka. Dan kesalahan terbesar dalam hidup kita adalah tidak bisa membahagiakan orang tua. Dan ini kesempatanmu untuk melakukan hal itu. Membahagiakan orang tua.”
Doni terhenyak mendengarnya, seperti robot otomatis langsung memberikan tepuk tangan meriah pada Abel yang memberikan masukan. Doni menepuk bahu Abel yang merasa bangga pada temannya yang satu ini.
“Kesalahan” Doni tertawa serak. “Secara pribadi aku percaya bahwa aku adalah salah satu seorang pendosa yang terbesar di dunia ini. Sebenarnya, seluruh hidupku adalah sebuah kesalahan.”
Abel membenarkannya.
“Semua orang juga begitu,” kata Abel.
“Hhhh!” Kanaya mendesah. “Aku sudah memutuskan,” gumamnya datar.
“Jadi?” tanya Abel penasaran.
“Aku akan menikah,” jawab Kanaya yang memilih untuk mengalah dan menuruti pendapat temannya.
“Aku tidak percaya ini. Kau akan menikah dan melangkahiku lebih dulu. Waahh, benar kau akan menikah?” seru Doni dengan antusias.
“Kalau begitu cepatlah menikah. Beres kan?” kata Abel.
“Yaa, hanya saja aku belum menemukan pasanganku saat ini,” keluh Kanaya.
“Baiklah. Nay, katakan pada ibu dan ayahmu kalau kau akan menerima perjodohan itu. Bicaralah dengan baik-baik pada mereka. Setidaknya pilihan orang tua memang selalu tepat,” jelas Abel dengan tenang. Matanya lembut menatap kearah Kanaya.
Kanaya mengangguk tegar.
“Aku mengerti. Secepatnya aku akan memberitahu mereka. Tapi aku harus pergi sekarang. Aku membutuhkan sedikit waktu untuk mengatakanya. Ya, aku harus menenangkan diriku,” ujarnya dengan penuh pengharapan.
“Kemana?” tanya Abel penasaran.
“Aku harus mengunjungi suatu tempat sekarang untuk menghilangkan stresku. Aku pergi dulu. Sampai jumpa,” gumam Kanaya tak membalas pertanyaan Abel.
“Tidak bisakah aku ikut juga? Aku ini sedang stres juga,” pinta Doni
“Tidak bisa. Untuk saat ini biarkan aku sendiri”
Abel membiarkan Kanaya pergi.
“Biarkan saja dia. Hari ini mood-nya tidak baik. Sebaiknya kita jangan mengganggunya,” kata Abel.
Donipun mengangguk mengerti.
__ADS_1
Kanaya beranjak dari situ dengan terburu-buru. Ia meninggalkan kampus menaiki bis untuk pergi ke sebuah toko buku.