
"Kamu harus dandan cantik sekarang." Ameena menarik tangan Amara masuk ke dalam Kost. Pak Arif baru saja pergi. Tapi, Ameena langsung bertindak agar temannya itu segera mempersiapkan diri.
"Lho ini lebay deh, Na. Kayak orang nggak pernah bertemu dengan Kak Bian saja." Amara memilih duduk di sofa daripada mengikuti keinginan Ameena.
"Ck..! lho ini dibilangin juga. Jangan ngeyel kalau lho nggak mau menyesal. Gue jamin, pertemuan kali ini akan lho kenang seumur hidup lho, Mara."
Amara hanya melirik Ameena lalu kembali menatap ke lain arah. "Gue nggak mau berharap lebih, Na. Yang ada nanti malah kecewa lagi." Menghela nafas berat. "Badan gue juga kayak pegel semua." Menggerak-gerakkan ototnya yang terasa kaku.
Ameena menatap Amara. "Lho merasa nggak fit?"
Amara mengangguk lemah. "Dari semalam sih, sebenarnya gue udah merasa nggak enak badan. Tapi, nggak enak kalau bilang gitu sama Papa. Kayaknya butuh spa nih, biar lebih enakan." Menggerak-gerakkan lehernya ke kanan dan kiri.
Mendengar kata spa membuat mata Ameena berbinar. Mendadak ide cemerlang muncul di kepalanya. "Mara, pertemuan dengan Kak Bian jam berapa sih?" Seraya duduk di samping Amara dan menatapnya menunggu jawaban.
"Nanti malam, Na. Mulanya sih, siang ini. Tapi, dia ada acara kumpul keluarga katanya. Ummi dan Abahnya mau datang dari Pesantren."
"Kok Kak Bian bilang Ummi dan Abah ya. Apa dia itu keturunan arab ya?"
"Nggak, cuman Om dan Tantenya itu kan hidup di lingkungan Pesantren. Makanya dipanggil Ummi dan Abah."
"Oh, kirain orang Arab betulan." Ameena membuang nafas kasar. "Mara, ke salon yuk.."
"Mm.." Amara menoleh. "Boleh.. gue beneran mau spa, Na."
Ameena tersenyum sumringah. Tadinya dia kira Amara akan menolak dengan alasan pemborosan. Tapi, temannya itu masih sama seperti dulu, kalau itu berhubungan dengan kesehatan. Tidak sayang duit, yang penting raga sehat. "Tunggu sebentar disini. Gue mau ganti baju dulu." Ameena bergegas masuk ke dalam kamar. Sengaja mengunci pintu dari dalam agar Amara tidak nyelonong masuk ke dalam kamar saat sedang menjalankan misinya.
Setelah yakin semuanya aman, Ameena duduk di sisi ranjang dan membuka benda gepeng di tangannya. Ternyata wanita itu akan menghubungi Bian. Awalnya dia melakukan panggilan suara. Tapi, saat tidak ada jawaban, ia akhirnya mengirimkan pesan.
Kak, aku dan Amara mau ke salon. Amara mau spa. Katanya badannya pegel semua. Tadinya aku menawarkan untuk melakukan perawatan wajah juga karena akan bertemu dengan Kak Bian. Tapi, dia menolak dengan alasan pemborosan. Padahal itu kan demi kebaikan dia sendiri.
Ameena tersenyum setelah pesannya terkirim dan langsung terbaca. "Huh, pas ditelpon nggak mau diangkat. Eh, pas dikirimin pesan dan tercantum nama Amara, langsung deh bereaksi. Heh, bener-bener deh ni orang udah kepincut Amara."
__ADS_1
Ting...!
Ameena langsung menatap handphonenya kembali.
Maaf, aku nggak bisa menjawab telpon. Sedang ada kumpul keluarga. Nggak enak rasanya kalau harus menjawab telepon saat orang tua sedang bicara.
"Oh, astaga.. kok gue bisa lupa. Maaf Kak Bian.. aku berpikiran negatif tadi." Ameena ingin kembali mengirim pesan. Tapi, ia urungkan saat ada pesan masuk lagi dari Bian.
Terimakasih sudah menjaganya. Kamu dandanin dia secantik mungkin. Walaupun tanpa itu pun, sebenarnya dia sudah cantik. Pakai ATM yang aku berikan kemarin untuk membayar biayanya. Jangan ada yang mengeluarkan uang. Jangan balas pesan ini. Aku mau mematikan handphone karena ada Abah yang sensitif di depanku. Nanti aku chat kalau acara sudah selesai.
Amara melotot membaca pesan itu. "Oh, ya Allah.. harapan menjadi kenyataan. Kak Bian memang benar-benar baik. Untung aja sekarang gue nggak ada malu sama dia. Wkwkwk.." Amara cekikikan lalu menarik nafas lega. Bersyukur mendapatkan keberuntungan ini.
"Na, lho sedang apa sih? Lama banget deh. Katanya cuman mau ganti baju, kok malah cekikikan di dalam. Lho lagi pacaran ya.."
Ameena menutup mulutnya saat mendengar suara Amara. Terlalu asyik membalas pesan membuatnya lupa, kalau sedang ngumpet dari Amara. Tidak mau mendapatkan protes dari temannya Itu, kalau ketahuan memberi tahu Bian masalah ini. "T.. tunggu sebentar, Mara. Tadi kebetulan ada pesan masuk. Lho kan tau kebiasaan gue." Segera bangkit untuk mengambil pakaikan di lemari pakaian. "Tunggu sebentar, gue segera keluar."
"Huh, kebiasaan buruk itu seharusnya dihilangkan, Na."
"Iya.. iya.. nanti dah, gue hilangin biar nggak buat lho kesel lagi." Ameena tersenyum sendiri sambil memasang bajunya. Hening beberapa saat.
"Ada apa sih, berisik banget deh. Jilbab gue berantakan lagi nih."
"Buruan keluar, Na! gue bacok lho pakai parang kalau nggak keluar sekarang."
"Eh," Ameena tersentak mendengar ucapan sadis temannya. Tetapi, ia tersenyum kemudian dan kembali memperbaiki jilbabnya. "Punya parang aja nggak. Pakai acara mau bacok gue segala. Mimpi lho kejauhan, Amara."
"Cepat keluar!"
"Hihihi.. iya.. iya ini gue keluar." Ameena membuka pintu perlahan. Masih cekikikan mendengar ucapan Amara yang mau membacoknya. Padahal di tempat mereka itu, bayangan parang aja nggak ada, apalagi parangnya.
"Lho bilang apa sih, sama Kak Bian?! Ngapain coba pakai ngelapor ke dia segala. Kita kan cuman mau spa aja."
__ADS_1
Ameena menautkan alisnya. "Jangan ngomong ngaco deh, Mara." Pura-pura berkata serius.
"Lalu ini apa?" Amara menunjukkan pesan yang diterimanya dari Bian.
Pagi, Cantik. Kata Ameena kalian mau ke salon. Pakai ATM yang aku berikan itu untuk membayar biaya perawatan. Kamu lakukan perawatan total. Jangan cuman Spa aja. Kamu sudah cantik. Sayang sekali kan, kalau kecantikan itu tidak di rawat dengan baik. Aku tunggu notifikasi debit dari Bank. Awas saja kalau kamu pakai uang simpanan kamu pribadi. Aku akan sangat kecewa kalau kamu melakukan itu.
Ameena tersenyum meringis membaca pesan itu. "Waaarrrr biazzzaaaa.. Bian Putra Arianto memang pria luar biasa. Perhatiannya padamu sudah melebihi pasangan kekasih."
"Ck..!" Amara menepis tangan Ameena. "Jangan mengalihkan situasi, Na. Gue tanya kenapa lho bilang ke dia, kalau kita mau ke salon?"
"Bagiku.. itu tidak masalah, Mara. Orang bertanya, iya... gue kan cuma menjawab aja. Kak Bian itu sudah kebanyakan uang. Anggap saja dia bersedekah pada wanita MissQueen seperti kita. Sudah ah, jangan di perpanjang. Masalah sepele juga. Kita berangkat sekarang, let's go.." Ameena menarik tangan Amara untuk keluar. Jika tidak segera menghindar, bisa-bisa Amara benar-benar meminjam parang di Ibu Kost untuk membacoknya.
********
"Kami mau melakukan perawatan total, Mbak." Ameena nyelonong menjawab duluan sebelum Amara menjawab, begitu mereka sampai di salah satu salon yang menyediakan perawatan lengkap.
"Perawatan total?"
"Iya, Mbak. Kami mau Spa, krimbat, masker, totok wajah, scrub-an juga, Mbak." Ameena menjawab dengan percaya diri. Amara mengernyit menatap temannya. Sejak kapan temannya itu tau macam-macam perawatan di salon.
"Na..."
"Sssttt.." hanya melirik Amara lalu kembali fokus pada wanita cantik yang sedang bertanya pada mereka. "Kira-kira akan menghabiskan banyak waktu nggak Mbak?"
"Untuk perawatan kayak gitu sih, kurang lebih menghabiskan waktu tiga jam. Soalnya untuk Spa saja menghabiskan waktu sampai satu jaman, Dek."
Ameena beralih menatap Amara lalu menatap jam tangannya. "Itu berarti zuhur nanti kita selesai, Mara. Ok.. Mbak.. lakukan yang terbaik." Menggenggam tangan Amara seraya mendekatkan wajahnya ke dekat telinga gadis itu. "Kamu tidak mau mengecewakan Kak Bian, kan? Amaranya Bian harus benar-benar berubah menjadi wanita feminim. Hilangkan gelar wanita bar-bar yang melekat dari dulu."
Amara hanya mengerjap-ngerjap mendengar ucapan Ameena. Ingin menimpali, tetapi suaranya tidak bisa keluar. Akhirnya ia hanya bisa mengikuti langkah Ameena dan seorang wanita cantik yang akan mengurus mereka.
Sampai azan Zuhur berkumandang, Amara dan Ameena belum juga keluar dari salon itu. Mereka sedang asyik berbincang dengan pemilik salon yang mengaku mengenal Bian. Tentu saja mereka keasyikan membahas Bian sehingga lupa waktu.
__ADS_1
Setengah jam setelah azan, barulah mereka keluar. Sialnya, di depan pintu masuk mereka harus berpapasan dengan Khanza.
*********