Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Surprise...


__ADS_3

Ameena beberapa kali mengalihkan pandangannya. Baru pukul lima pagi, tetapi gadis itu sudah diajak Amara ke Bandara untuk mengantar Humaira kembali ke Pesantren.


"Mara, kapan kita balik. Gue benar-benar ngantuk nih.." Ameena menutup mulutnya yang menguap lebar.


"Ntar dulu, Kak Bian sedang menemani Kak Mayra cari sesuatu di..." Amara terdiam karena tidak ingat ucapan terakhir Bian sebelum meninggalkannya di tempat itu. Barusan Bian memintanya untuk menunggu saja tanpa menjelaskan mau pergi kemana. Hanya memintanya untuk menunggu di Kafe yang buka dua puluh empat jam tempatnya duduk sekarang.


"Kok diam, Mara? Kak Bian pergi kemana? Kita sudah setengah jam menunggu di sini." Ameena menghidupkan layar handphonenya. Waktu menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit.


"Kak Bian tidak bilang mau beli apa atau mencari apa. Dia cuman meminta kita untuk menunggu di sini, Na."


"Hah..." Ameena menelungkupkan wajahnya di atas meja. Gadis itu benar-benar terlihat ngantuk. Mereka berangkat sejak pukul empat tadi. Mereka bahkan shalat subuh di sebuah Masjid setelah sampai di tempat itu.


"Gue benar-benar ngantuk, Mara. Semalam juga tidak tidur dengan baik. Tadi malah dibangunin pukul tiga. Belum lagi nanti ada jam kuliah. Jam delapan kita masuk, Mara. Hoaaamm... nggak kebayang deh nanti.."


Amara hanya bisa diam mendengar keluh kesah temannya. Ia menghidupkan handphonenya. Ia juga sedikit heran. Tidak biasanya Bian pergi sampai selama ini tanpa alasan yang jelas. Tanpa berpikir panjang, ia menghubungi pria itu. Beberapa menit menunggu, tetapi Bian tidak menjawab panggilannya.


Amara menarik nafas dalam. Ia harus bisa berpikir positif. Mencoba menghubungi Bian kembali untuk meminta kepastian. Namun, hanya suara nada sambung. Bian tidak menjawab panggilannya lagi.


"Kirim pesan aja, Mara. Kalau kirim pesan, dia pasti membacanya nanti saat melihat handphone." Ameena mengangkat wajahnya. Mulutnya kembali menguap.


Amara kembali menatap handphonenya. Terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengikuti saran Ameena untuk mengirim pesan.


Kak Bian dimana? Kalau Kak Bian masih lama, aku dan Ameena akan pulang. Aku ada jam kuliah pagi.


Pesan terkirim, tetapi statusnya belum terbaca. Amara kembali menarik nafas dalam.


Sementara itu...


Bian sedang berada di sebuah toko perhiasan. Humaira sudah merencanakan ini dari kemarin. Tetapi, mereka sudah membicarakan ini dengan manager toko itu sebelumnya. Itulah mengapa mereka bisa dilayani walaupun toko belum buka.


Bian terus melirik ke arah tas Humaira di mana handphonenya tersimpan. Kakak sepupunya itu benar-benar tidak mau memberikan handphone miliknya. Menurutnya, Bian terlalu jujur pada Amara. Humaira takut kalau Bian tiba-tiba keceplosan mengatakan dimana mereka berada saat ini.


"Kak, handphone aku bunyi terus. Kayaknya Rara khawatir karena kita pergi sudah cukup lama."


Humaira menepis tangan Bian yang sudah terulur untuk membuka tasnya. "Kamu fokus sama kalung yang akan kamu pilih. Mau kasih kejutan, tapi banyak ngeyel."


Bian berdecak. "Tapi, kita meninggalkan mereka di Bandara, Kak. Kan kasihan Rara. Bagaimana kalau dia ada kuliah pagi. Ini sudah setengah enam." Bian berkata sambil menatap jam tangannya.


Humaira terdiam. Sepertinya wanita itu sedang mempertimbangkan ucapan adiknya. Melirik Bian sekilas lalu merogoh handphone di dalam tasnya. Bukannya mengambil handphone Bian, dia malah mengambil miliknya. "Aku yang akan menghubunginya sekarang. Kamu fokus pilih yang cocok untuknya." Memerintah seraya berjalan menjauh.


Bian tidak menghiraukan hal itu. Pria itu malah mengikuti Humaira untuk mendengar apa yang akan dikatakan wanita itu pada Amara.


Humaira tersenyum sumringah saat panggilannya langsung dijawab Amara. "Wa'alaikumsalam, Ra. Maaf kami tidak bisa balik dengan cepat. Ada kendala sedikit."

__ADS_1


"Terus, penerbangan Kak Mayra bagaimana?"


"Nggak usah pikirkan itu, aku bisa mengurusnya nanti. Maaf ya.."


"Kenapa tidak..."


Tut.. tut.. tut..


Humaira memutus sambungan telepon secara sepihak. Memasukkan kembali handphone ke dalam tas. Namun, ia sangat terkejut saat mendapati Bian sudah berdiri di belakangnya. "K.. kamu kenapa ada di sini, Bi?"


Bian melengos. "Rara belum selesai ngomong tadi, kenapa Kak Mayra mematikan..."


"Ssstttt... berisik banget sih..!" Humaira memotong ucapan Bian. "Kamu terlalu kaku, Dek. Kalau mau kasih surprise, kamu harus berani membuatnya sakit hati terlebih dahulu." Ucapnya seraya masuk kembali ke dalam toko.


"Rara itu sulit digituin, Kak. Dia itu orangnya tidak mudah sakit hati. Apalagi karena masalah sepele seperti ini."


Humaira menanggapi dengan santai. Mengambil kembali handphonenya untuk menulis pesan.


Rara, kamu pulang saja duluan. Bian sedang asyik ngobrol dengan temannya. Katanya, wanita ini adalah temannya waktu SMA. Huh, ni cewek malah ngendus-ngendus nggak jelas pada Bian.


Humaira tersenyum saat melihat pesannya langsung terbaca. Beralih menatap Bian yang sedang fokus menatap kalung yang terlihat sangat indah.


"Kak, yang ini terlihat sangat indah. Apalagi jika Rara yang memakainya." Bian mengangkat kalung yang dimaksudnya. Menunjukkannya pada Humaira.


Terimakasih, Kak. Aku dan Ameena akan pulang kalau begitu. Kami ada jam kuliah pagi. Titip salam untuk Bian Putra Arianto. Jangan sampai lupa jalan pulang karena keasyikan bertemu teman lama.


Satu lagi, Kak. Bilang juga ke dia. Lain kali kalau sibuk, nggak usah sok-sokan mengajak orang keluar kalau ujung-ujungnya meninggalkannya di sembarang tempat.


Humaira menelan ludahnya. Sepertinya Amara benar-benar sakit hati. Tiba-tiba muncul perasaan bersalah. Ia melirik Bian yang sedang melakukan transaksi untuk mengambil kalung itu.


"Kak, aku juga mengambilkan satu cincin untuk Rara."


"I.. iya, Dek." Humaira mengalihkan pandangannya. Tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Bian sudah mengeluarkan uang seharga satu mobil untuk membeli kalung itu. Tapi.. apakah Amara akan menerimanya atau tidak? Hah, Humaira membuang perasaan bersalah itu. Harus bisa membangun kepercayaan untuk hubungan yang kuat. Terserah Bian malu menjelaskannya bagaimana nanti.


"Dek, kamu membelinya pakai kartu kamu yang mana?" Mencoba mengalihkan perhatiannya dari rasa bersalah.


"Hmm.. kenapa menanyakan itu?" Bian hanya melirik lalu kembali menatap cincin yang berkilau di tangannya.


"Mm.. aku cuman mau tau aja. Aku nggak mau aja kalau kamu memakai uang yang dari Ibu untuk membelinya.


Bian tersenyum getir. " Aku punya Kakek yang kaya raya. Uang dari Kakek tidak pernah aku gunakan sebelum ini. Iya.. karena Nenek yang banyak nuntut, aku harus membuat Rara terlihat lebih berkelas dari wanita manapun. Aku akan membuat Nenek menyesal telah menyakiti Raraku."


Humaira mengerjap-ngerjap mendengar ucapan adiknya. "K.. kamu tidak pernah memakai uang dari Kakek selama ini, Dek?"

__ADS_1


Bian menggeleng. "Uang dari Ibu saja tidak habis-habis. Ngapain aku harus memakai uang dari mereka."


"Tapi, itukan uang dari Almarhum Bapak kamu, Dek."


"Mau dari siapapun, tetapi aku tidak pernah memakainya."


Humaira menelan ludahnya. Adik sepupunya itu benar-benar teguh pendirian. Sifatnya sangat mirip dengan Pak Akmal. Jika sudah membuat keputusan, akan sangat sulit diganggu gugat.


**********


Senyum tidak henti-hentinya mengembang dari bibir Bian. Pria itu dalam perjalanan menuju rumah Amara. Ia mengikuti semua permainan yang dibuat Humaira. Setelah mengantar Humaira kembali ke Bandara, ia langsung meluncur pulang. Setelah mengutarakan maksudnya dan mendapat izin dari sang ibu, ia memantapkan langkahnya untuk menemui Amara hari ini.


Setibanya di rumah Amara, rumah itu terlihat sepi. Sebelumnya dia memang tidak pernah menghubungi Amara. Pesan Amara hari itu pun, dia abaikan dan belum dibacanya sampai hari ini. Walaupun terasa berat dan hampir menyerah karena merasa bersalah meninggalkan gadis itu hari kemarin.


Bian segera membuka pintu mobilnya saat melihat Pak Arif keluar dari rumah. "Assalamu'alaikum, Pa.." tersenyum sumringah seraya mendekati calon mertuanya.


"Wa'alaikumsalam.. eh, Nak Bian. Tumben nih datang ke rumah Papa."


"Mm.. iya nih, Pa. Dari kemarin sibuk terus. Makanya baru sekarang bisa datang." Biar beralih menatap Carissa, melambai kecil pada anak itu yang hanya mendongak menatapnya. "Hai, Dek. Mau kemana nih, dandan cantik kayak gini?"


"Mm.. mau pergi ngaji, Kak." Jawab Carissa polos.


"Oh,"


"Nak Bian mau menemui Amara?" Pak Arif mencoba menebak karena melihat Bian celingukan.


"I.. iya, Pak."


Pak Arif menghela nafas berat. "Amara di kostnya, Nak. Kemarin dia nangis terus. Pas Papa tanya ada apa, dianya malah diam. Apa Nak Bian dan Amara bertengkar?"


Bian tersentak. "Ng.. nggak pernah, Pa. Terakhir bertemu.." Bian mencoba mengingat kejadian terkahir pertemuannya dengan Amara.


Pas saat itu, Amara datang bersama Ameena di belakangnya.


"Assalamu'alaikum, Pa." Amara meraih tangan papanya, mencium pipinya lalu masuk ke dalam rumah. Tak sedikitpun ia melirik Bian yang berdiri di depan papanya.


"Na, Rara kenapa?" Bian menghentikan langkah Ameena yang sudah bersiap masuk.


Ameena melengos lalu menatap Bian dengan tajam. "Pikir.. lu salah apa. Jadi laki itu jangan suka mengabaikan orang. Sudah tau salah, malah nanya dia kenapa. Huh, menyebalkan tau nggak.." Ameena kembali melengos seraya meninggalkan Bian.


Bian tertegun, bingung karena tidak tau salahnya.


Ini mah, yang mau kasih surprise siapa...???

__ADS_1


*********


__ADS_2