Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Kekurangan Asupan Gizi


__ADS_3

Satu bulan kemudian...


Bian menundukkan tubuhnya di atas meja kerjanya. Wajahnya benar-benar lesu karena capek. Jadwal yang padat membuatnya tidak ada waktu untuk bersantai. Dia sampai tidak ada waktu untuk menghubungi istrinya.


"Tuan.."


Bian mengangkat kepalanya dengan malas. "Ada apa, Kak? Aku mau istirahat sebentar."


"Ada kabar baik dari Rumah Sakit, Tuan."


Mata lesu Bian langsung berbinar. Pria itu menegakkan duduknya lalu memperbaiki jasnya yang berantakan. "Kabar baik apa?"


Daniel berjalan mendekat. "Kenapa Tuan sangat bahagia ketika saya mengatakan ada kabar baik dari Rumah Sakit?" Sengaja menunda informasi karena senang menggoda tuannya.


"Jangan berbelit-belit, Kak. Katakan saja kabar baik itu." Timpal Bian kesal. Setiap Daniel ingin menyampaikan sebuah informasi pasti asistennya itu menunda informasi itu.


"Hehehe..." Daniel cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Nona Amara sudah bisa di bawa pulang besok pagi. Terapinya berhasil. Alhamdulillah, Tuan bisa menikmati bulan madu setelah ini. Mungkin itu yang membuat Tuan cepat sekali marah akhir-akhir ini. Tuan kurang asupan gizi dari istri."


Bian mengernyit mendengar ucapan Daniel. Selama ini dia selalu makan dengan baik dan dengan gizi yang seimbang. Ia kembali menatap Daniel dengan heran. "Rara memang belum sempat masak makanan untukku, Kak. Tapi, aku selalu makan dengan gizi yang seimbang kok. Aku juga nggak pernah merasa kekurangan asupan gizi. Mau di bilang kurang vitamin C, bibirku nggak pernah kering, apalagi sampai pecah-pecah."


Daniel ingin tertawa mendengar jawaban Bian. Tuannya itu terlihat bodoh karena tidak mengerti maksud ucapannya. "Kalau masalah vitamin C, Tuan tidak akan kekurangan, karena sepertinya Nona Amara sudah memberikannya untuk Tuan."


Bian melengos. "Aku nggak ngerti maksud Kak Daniel. Aku mau menghubungi istriku dulu. Bicara dengan Kak Daniel membuatku bingung. Aku nggak ngerti arah pembicaraan Kak Daniel." Bian meraih handphone yang tergeletak di atas meja.


"Tuan harus tidur sekamar dengan Nona Amara melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh pasangan suami istri ketika malam pengantin." Ucap Daniel dalam satu tarikan nafas. Hah..."


Gleg...!


Bian menelan ludahnya. Handphone yang sudah menempel di telinganya ia turunkan lagi. Menatap Daniel tanpa berkedip karena masih tertegun mendengar ucapannya.


"Itu yang saya maksud asupan gizi, Tuan. Tuan Muda belum mendapatkan nafkah batin dari Nona Amara."


"Hubungannya apa dengan mudah emosi?"


"Tuan akan tau seiring dengan berjalannya waktu."

__ADS_1


Bian tidak menimpali. Ia menyandarkan tubuhnya sambil sesekali melirik Daniel. Ucapan Daniel yang menghubungkan emosi dengan nafkah batin membuatnya penasaran akan hal itu.


"Sore ini ada beberapa berkas yang perlu Tuan periksa. Tapi, jika Tuan merasa capek, Tuan bisa istirahat dan pulang lebih awal. Nanti malam saya akan mengantarkan berkas itu ke rumah Tuan. Urusan berkas tidak mendesak dan bisa ditunda.


" Hmm..." Bian berpikir sejenak. Kapan pun dia akan menyelesaikannya, tetap dia yang akan tanda tangan, bukan orang lain. "Baiklah, aku mau istirahat sebentar kalau begitu. Aku tidak akan pulang, aku istirahat di sini saja. Bangun kan aku saat maghrib nanti." Bian beranjak bangkit setelah melihat anggukan kepala Daniel.


Pria itu merebahkan tubuh ya perlahan setelah sampai di tempat istirahat. Kamar dengan ukuran tiga kali tiga meter itu sengaja di pakai sebagai tempat istirahatnya. Ia sudah melengkapi dengan spring bed dengan ukur 160 cm.


Sebenarnya Bian ingin ke Rumah Sakit untuk segera bertemu dengan istrinya. Tapi, dia sering malas kembali bekerja kalau sudah bertemu dengan istrinya.


***********


"Apa Nona sudah bisa istirahat dengan baik sekarang?" Seorang Perawat yang sedang bertugas menanyakan keadaan Amara. Menurut Dokter yang bertanggung jawab, Amara sudah dinyatakan sembuh dari ketergantungan obat itu.


Bu Santi berdiri di samping menantunya untuk menunggu jawaban yang akan dikeluarkan Amara. "Katakan saja apapun yang kamu rasakan, Nak. Jangan ada yang disembunyikan, biar kamu bisa diberikan penanganan yang tepat." Ucap wanita itu dengan lembut. Tangannya sibuk mengelus-elus kepala menantunya.


"Mm... Alhamdulilah aku merasa sangat baik, Mbak. Aku sudah bisa tidur sendiri tanpa harus menunggu kedatangan Dokter. Aku juga tidak cemas lagi kalau mau tidur." Amara menjelaskan dengan senyum yang terus mengembang. Bu Santi pun ikut tersenyum bahagia mendengar ucapan menantunya.


"Baik.. kalau begitu kita tunggu keputusan Dokter. Dokternya akan visite jam sepuluh pagi ini. Kalau begitu saya pamit, selamat pagi." Perawat itu menunduk sopan seraya beranjak keluar.


Amara beralih menatap Bu Santi yang masih berdiri di sampingnya. Wanita itu masih menatap Perawat yang sudah berjalan keluar dari ruangan.


"Mmm... aku akan seperti itu kalau sudah sembuh nanti, Bu." Timpal Amara.


"Andai saja kalian akan tinggal bersama Ibu. Ah, alangkah bahagianya Ibu melihat kalian berangkat kerja setiap hari."


"Pinginnya begitu, Bu. Tapi... Kak Bian yang tidak akan bisa."


"Iya, Nak. Ibu juga sudah memutar otak untuk memikirkan caranya. Tapi, tetap saja Ibu tidak menemukan jalan keluarnya. Mungkin kita akan lebih saling menyayangi dan saling merindukan jika kita berjauhan."


"Kenapa tidak Ibu saja yang tinggal di sini bersama kami?"


Bu Santi tersenyum lemah seraya menggeleng pelan. "Terlalu banyak kenangan pahit di rumah itu, Nak. Lagian, Ibu juga tidak mungkin meninggalkan rumah Ibu karena itu adalah peninggalan dari Almarhum Bapak kalian." Menghela nafas berat seraya kembali menatap Amara. "Tidak apa-apa walaupun kita jauh, Nak. Ibu yang akan lebih sering kemari menjenguk kalian. Apalagi kalau kamu sudah bekerja nanti. Pasti kamu akan jarang pulang karena sibuk."


Amara dan Bu Santi menoleh ke arah pintu saat mendengar pintu itu di ketuk.


"Assalamu'alaikum ..." Bian tersenyum sumringah memasuki ruangan. Dia datang dengan memakai jas lengkap.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam.." Bu Santi langsung menyambut uluran tangan putranya. "Kenapa mampir dulu, Nak. Katanya ada rapat penting hari ini."


"Masih jauh, Bu." Bian melirik jam tangannya. "Baru jam setengah sembilan. Pertemuannya nanti jam sebelas. Aku mau melihat keadaan istriku dulu." Bian mendekati pembaringan Amara. Tersenyum lembut pada wanitanya itu. Serindu apapun dia pada Amara, pasti yang disapanya terlebih dahulu adalah ibunya.


"Sayang... bagaimana keadaan kamu sekarang. Katanya mau diizinkan pulang hari ini." Bian memberikan satu ciuman di dahi Amara.


"Insya Allah, kata perawatnya tadi tinggal menunggu keputusan Dokternya saat visite nanti."


"Cieee... yang mau bulan madu sebentar lagi.." Ameena tiba-tiba muncul di depan pintu. Tanpa salam tanpa mengetuk pintu, ia langsung masuk. Meraih tangan Bu Santi terlebih sebelum mendekati Amara.


"Astagfirullah, Na.. kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu.." Amara menghela nafas berat mendapati tingkah temannya yang satu ini.


"Hah, kelupaan.." Ameena mengibas-ngibas jilbabnya karena hawa panas yang di bawanya dari luar. "Aku terlalu khusyuk mengikuti Kak Bian tadi. Untungnya dia tidak menyadari keberadaan ku di belakangnya. Huh... sampai keringat dingin gue.."


"Kenapa kamu mengikuti ku? Memangnya kamu sudah lupa ruangan tempat perawatan Amara?"


Ameena menyebikkan bibirnya seraya beralih menatap Bian. "Tadinya aku tidak berniat untuk mengikuti Kak Bian. Tapi, aku jadi tertarik untuk mengikutinya setelah mendengar percakapannya dengan Asisten kece itu."


Bian melotot menatap Ameena. Percakapannya dengan Daniel tadi adalah percakapan yang mengandung unsur-unsur di dalam pernikahan. "K.. kamu menguping, Na?"


"Yes, you right... hahaha.."


Bian semakin melototkan matanya. "Jangan katakan apapun, Na. K.. kamu ini ... kok bisa sih..." mengusap wajahnya dengan kasar.


Ameena mendekatkan mulutnya ke telinga Amara. "Suami lho kekurangan asupan gizi, Mara. Gk..gk..gk..."


"Ameena ..." Bian mengatupkan bibirnya agar Ameena tutup mulut. Namun, hal itu sepertinya sangat sulit, mengingat mulut gadis itu yang selalu blak-blakan.


"Maksud lho apa?" Amara menautkan alisnya. Ekspresi dua orang itu benar-benar membuatnya penasaran.


"Jangan katakan apapun, Na!"


Ameena kembali menatap Bian. "Kenapa sih?! Perasaan gue, nggak ada yang aneh-aneh deh, yang gue dengar tadi. Gue kan cuman mau cerita ke sahabat gue. Suaminya kekurangan asupan gizi karena dia sedang sakit." Ameena melengos seraya beralih menatap Amara. "Mara, keluar dari Rumah Sakit ini, gue mau membawa lho ke salon untuk perawatan. Lho harus mempersiapkan diri sebelum memberikan asupan gizi ke suami lho."


"Yang dikatakan Ameena itu benar, Nak." Timpal Bu Santi sambil menahan senyum. "Kalau perlu, kamu bawakan orang yang bisa memberikan perawatan lengkap untuk istrimu di rumah. Melakukan perawatan di rumah itu pasti lebih nyaman daripada di tempat orang. Mempersiapkan diri untuk memberikan asupan gizi untuk suami itu sangat penting, Nak. Pastikan asupan gizi suami terpenuhi agar tidak jajan sembarang tempat."


Tidak ada yang bicara. Semua tertegun mendengar penjelasan Bu Santi.

__ADS_1


*******


__ADS_2