Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Perjuangan Daniel


__ADS_3

"Aku sedang berjuang untuk cinta kita."


"Hah?!" Amara berusaha untuk duduk. Menatap Bian dengan bingung setelah mendapatkan posisi yang menurutnya nyaman. "Dari dulu juga, pas mencariku udah berjuang namanya. Tapi, Kak Bian tadi cuman bicara dangan Pak Daniel. Kak Bian sepertinya membahas Mbak Myta dengannya. Terus, di bagian mana yang bisa disebut dengan perjuangan?"


Bian tersenyum kecil seraya duduk kembali di samping Amara. "Wanita itu ternyata banyak maunya, Ra. Aku harus mengorbankan sedikit hartaku agar aku bisa membawamu pulang. Dia mau menyerahkan paspor mu dan berjanji tidak akan mengusik kamu lagi jika syarat dan ketentuan yang dia ajukan terkabulkan."


Amara menghela nafas berat. "Aku nggak ngerti dengan kehidupan yang dijalani Mbak Myta. Kenapa dia tidak mencari pekerjaan saja biar kedua anaknya makan dengan baik. Aku tau kalau mengurus dua anak sepertinya memang tidak mudah, Kak. Tapi, menurut ku caranya mencari uang yang salah. Mencelakai orang lain untuk keuntungan sendiri, bukankah itu hal yang salah?"


Bian tersenyum lemah seraya membuang nafas dengan kasar. "Sudahlah, Ra. Intinya kita tidak seperti itu." Beralih menatap tangan Amara. "Apa kita akan bermalam di Rumah Sakit malam ini?" Mengalihkan pembicaraan tetapi masih menatap tangan Amara.


"No," Amara ikut menatap tangannya. "Aku akan meminta teman ku membuka infus ini sekarang."


"Kamu juga kan Perawat, Ra. Kamu pasti bisa membukanya sendiri." Memperhatikan tangan Amara lebih dekat.


Amara melengos. "Bisa sih bisa, Bang. Tapi aku nggak mau gegabah. Biar orang yang sehat yang melakukannya. Nanti takutnya salah, yang ada malah darahnya merembes kemana-mana."


Bian tersenyum kecil. "Kamu terlihat menggemaskan kalau manyun kayak gitu. Kamu semakin cantik kalau marah. Apa..."


"Kalau begitu aku akan lebih sering marah biar aku terlihat semakin cantik." Amara memotong ucapan Bian sambil tersenyum sok imut.


"Aa.. aku belum selesai ngomong, Sayang." Bian menarik gemas lengan baju Amara.


"Hehehe.. makanya jangan suka ngomong asal. Jadinya aku menjawab asal-asalan."


"Hmm.. iya udah, kapan jarum itu di buka, biar kita ke hotel. Aku mau istirahat biar besok bisa pulang dengan menampakkan wajah yang segar dan bersemangat pada Kakek. Kita harus selalu tersenyum ceria di hadapan Kakek."


"Mm..." hanya itu jawaban Amara. Gadis itu termenung membayangkan wajah ramah Pak Akmal yang selalu baik pada siapapun.


"Hei, kok melamun?" Bian melambaikan tangannya di hadapan wajah Amara. Jangan sampai ada sesuatu yang mengganjal perasaan gadis itu di saat mereka akan pulang.


"Ng.. nggak kok, Kak. Aku cuman teringat pada Kakek. Orang baik itu ... aku jadi rindu padanya." Jawab Amara dengan tatapan lurus ke depan.


"Kakek juga merindukan Amara Andini. Dia sampai rela menyuruhku cuti mengurus Perusahaan, hanya untuk menjemput Amara Andini untuk bertemu dengannya."

__ADS_1


"Tapi..." Amara menundukkan kepalanya.


"Ada apa?"


Amara melirik Bian lalu kembali menunduk. "Aku.. aku masih wanti-wanti untuk bertemu dengan Nyonya Besar."


Ekspresi Bian langsung berubah. Pria itu menegakkan duduknya menjauhi tubuh Amara. "Kamu.. kamu jangan memikirkan itu. Aku tidak akan membiarkan Nenek berbuat macam-macam padamu."


"Tuan..."


Bian dan Amara langsung menoleh ke arah sumber suara. Bian bahkan langsung berdiri saking terkejutnya. "Kak Daniel. Sejak kapan Kak Daniel berdiri di situ?"


"Sudah agar lama, Tuan. Sekitar sepuluh menit yang lalu."


Bian menatap sekitar tempat Daniel berdiri. "Dimana wanita itu?"


"Namanya Myta, Kak. Kenapa sih, malas banget deh, nyebut nama orang?!" Amara menepis lengan Bian.


"Bukannya aku malas, Ra. Tapi, lidahku seperti kaku untuk menyebut nama wanita selain kamu."


"Saya sudah mengantar Bu Myta kembali ke Apartemennya, Tuan." Daniel langsung menjawab ketika tidak ada yang bicara.


"Apa Kak Daniel sudah memastikan kalau dia memang kembali ke Apartemen?" Menatap Daniel dengan tajam. Dia hanya khawatir kalau Daniel dikacangin oleh anak buah neneknya itu.


"Saya yakin, Tuan. Saya mengantarnya sampai depan pintu Apartemen. Saya khawatir kalau dia berniat kabur setelah kita mencapai kesepakatan. Itulah mengapa saya melakukan itu. Saya juga memintanya untuk langsung berkemas. Agar saat berangkat besok tidak ada barang yang masih dibereskan."!


Bian tersenyum seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. Hampir saja dia lupa, kalau Daniel adalah orang yang sangat teliti dalam melakukan suatu pekerjaan. Semua harus terlihat sempurna di matanya. "Panggilkan perawat kalau begitu. Kita harus segera membawa Rara pergi dari sini.


********


Daniel menyodorkan tangannya ke hadapan wajah Myta. Pria itu sedang berdiri di depan pintu Apartemen.


"Apa maksud Tuan?" Myta menepis tangan Daniel.

__ADS_1


"Serahkan semua berkas milik Nona Amara sekarang." Tangannya masih terulur tanpa sedikit pun berpindah walaupun Myta menepisnya dengan cukup keras.


"Saya akan menyerahkannya setelah kita sampai di Bandara nanti. Saya takut anda menipu saya dan menelantarkan saya nanti."


Daniel mengernyit. "Apa tampangku mirip tampang seorang penipu? Tuan kami adalah orang yang jujur dan amanah. Sesekali bicara, tetapi tidak pernah berdusta. Tidak banyak bicara, tetapi selalu menjunjung tinggi kebenaran."


"Heh," Myta tersenyum sinis. "Itu hanyalah kata-kata sanjungan seorang anak buah pada bosnya."


Daniel hanya menanggapi dengan ekspresi datar. Wanita di hadapannya ini adalah wanita yang berpengalaman. Dia tidak mau gegabah dan terlalu mengintimidasinya.


"Dimana Nona Amara? Kenapa dia tidak ikut kemari bersama anda?" Myta mengedarkan pandangannya menatap tajam ke belakang Daniel.


"Tuan Muda tidak akan membiarkan calon istrinya terpisah lagi dengan dirinya. Silahkan Ibu membawa keluar barang-barang yang akan dibawa. Sangat lah tidak pantas jika Tuan kami yang menunggu kita."


Myta menatap Daniel. Pria di depannya ini benar-benar taat pada tuannya. Wanita itu jadi penasaran, sehebat apa pria yang akan menjadi suaminya Amara itu, sehingga memiliki kekuasaan yang tidak biasa.


"Jika Ibu masih betah di tempat ini, silahkan Ibu tinggal lagi. Saya tidak punya banyak waktu untuk meladeni Ibu. Tuanku bukanlah orang yang mudah marah. Tuanku sangat penyabar. Tapi, sayangnya saya tidak sesabar Tuan saya untuk menunggu Ibu. Masih banyak pekerjaan yang lebih penting yang harus saya selesaikan." Daniel berbalik arah bersiap meninggalkan Myta.


"Nona Amara tidak akan bisa pulang jika tidak menunjukkan paspornya saat chek in nanti."


Daniel langsung menghentikan langkahnya. Wanita ini benar-benar menguras kesabarannya. Kembali berbalik menatap wanita itu dengan kesal. "Anda jangan macam-macam, Nona. Bu Fatimah sudah tidak bisa lagi memberikan pesangon untuk anda. Semua kartunya sudah di blokir oleh Tuan Muda. Itulah mengapa sekarang dia hanya memberi janji saja pada anda. Kalau Nyonya Besar butuh uang, Tuan Muda selalu memberinya uang cash. Anda jangan terlalu berharap. Jangan sampai Tuan Muda berubah pikiran dan membiarkan anda terlantar di tempat ini. Jika dia mau, kami bisa membawa Nona Muda kami kembali tanpa harus menunggu paspor yang di pegang oleh anda. Yang dijanjikan Tuan kali juga lebih..."


"Saya akan ikut dengan anda sekarang." Myta langsung memotong ucapan Daniel. Wanita itu bergegas masuk ke dalam Apartemen untuk mengambil barang-barangnya. Mendengar ancaman Daniel membuatnya takut. Jangan sampai yang dikatakan Daniel itu adalah fakta. Dia akan kehilangan segalanya. Apalagi yang dijanjikan Bian ini lebih dari cukup untuk menunjang kehidupannya satu tahun ke depan.


Daniel tersenyum sinis lalu manggeleng-geleng pelan. Wanita ini benar-benar gila. Terlihat sangat kentara kalau dia takut kehilangan segalanya. Ia mengeluarkan handphone Bu Fatimah yang di simpannya di dalam saku jasnya. Dia belum memberi tahukan Bian isi handphone itu. Tapi, dia jadi tertarik untuk menunjukkan benda itu pada Myta.


Daniel mengangkat wajahnya saat melihat Myta keluar dengan barang bawaannya. Pria itu mempermainkan handphone milik Bu Fatimah.


"Tuan, apakah Tuan bisa membantu saya membawa barang bawaan saya?" Myta menatap Daniel dengan penuh harap.


"Tidak pantas bagi seseorang yang lebih rendah posisinya minta bantuan pada saya. Saya juga sedang sibuk mengurus handphone Bu Fatimah ini. Isinya ternyata luar biasa."


Myta terkejut bukan main. "M.. maksud anda apa, Tuan?"

__ADS_1


"Bukan apa-apa. Saya hanya ingin Tuan Muda tau apa yang sudah dilakukan anda pada Nona Amara."


Myta langsung menelan ludahnya. Wajah wanita itu berubah merah padam.


__ADS_2