Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Dalam Masa Pemulihan


__ADS_3

Ameena menatap kepergian Bian. Entah mengapa setelah mendengar penjelasan pria itu, timbul rasa kasihan dalam hatinya. Ia menatap kotak kecil yang berkilauan di atas meja. Mengambil kotak itu dan membawanya masuk ke dalam kamar.


"M.. Mara ... Kak Bian meninggalkan ini untuk lho." Menyerahkan kotak kecil pada Amara. Namun, gadis itu tidak langsung meraih kotak itu. Ia masih sibuk mengusap air mata yang mengalir di pipinya. "Gue denger semuanya, Na. Gue egois karena tidak mendengar penjelasannya dari kemarin. Gue egois, Na." Amara kembali terisak. Rasa bersalah semakin menghantui pikirannya.


"Kalau lho merasa bersalah, lho bisa minta maaf sama dia. Semuanya masih belum terlambat, Mara." Ameena akhirnya duduk di samping Amara. Menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu lalu menarik tubuhnya sampai jatuh ke dalam pelukannya. "Kak Bian masih di depan. Kalau lho mau minta maaf, lho bisa menemuinya sebelum dia pergi."


Amara menggeleng pelan. "Gue malu, Na."


"Hah," Ameena menghela nafas berat. "Iya udah kalau malu, lho tunggu lain waktu. Mungkin nanti malam, besok pagi atau besok siang sekalian." Ameena melepaskan pelukannya. "Lho yakin mau tidur di sini malam ini? Gue mau pulang, ada Om dan Tante gue nginap di rumah."


Amara mengangkat wajahnya sambil mengusap air matanya. "Terus, kalau lho pulang gue sama siapa di sini?"


"Heh," Ameena tersenyum jahil. "Kalau lho takut sendiri, lho bisa telpon Kak Bian temani lho tidur. Iya.. anggap saja sebagai permintaan maaf karena lho sudah menuduhnya selingkuh."


Buk...!


Amara langsung melempar Ameena dengan bantal guling di sampingnya. "Lho kira gue cewek apaan. Lagian Kak Bian juga nggak akan pernah mau. Dia itu pria baik-baik, Na. Huh, kenapa coba ngomong ngawur nggak jelas." Memanyunkan bibirnya kesal. Untungnya Ameena berkata begitu saat mereka sedang berdua. Semakin kesini, mulut temannya itu semakin tidak bisa dikondisikan.


"Gue cuman mau menghibur lho. Udah berapa hari coba, lho nggak pernah tersenyum." Ameena tersenyum ketus.


"Gue kan..."


"Udah ah, gue mau shalat lalu pulang." Ameena melipat lengan bajunya seraya berlalu dari hadapan Amara. Namun, ia berbalik setelah sampai di depan kamar mandi. "Oh iya, Mara. Kalau lho buka kotak itu, jangan lupa tunjukin ke gue isinya. Kalau perlu lho buka sekarang biar gue nggak penasaran.Gue nggak mau tidur gue terganggu nanti malam, gara-gara memikirkan isi kotak itu." Kembali mendekati Amara dan duduk di hadapan gadis itu.


"Eh, kan lho bilang mau shalat, kenapa malah kesini lagi?" Ucap Amara. Hal itu membuat Ameena menatapnya dengan tajam.


"Gue mau lihat isi kotak itu dulu. Siapa tau isinya intan berlian yang membuat mata langsung berbinar." Dengan santai mengambil kotak itu dari pangkuan Amara.


Amara merebut kembali kotak itu. "Gue nggak mau membukanya sekarang. Gue harus minta izin dulu sama Kak Bian. Sudah wudhu' sana. Gue tunggu lho, nanti kita pulang bersama." Amara mengusir dengan isyarat tangannya.


"Huh, dasar lho. Awas saja kalau gue nggak bisa tidur nanti malam, gue akan meneror lho dan membuat lho tidak bisa tidur juga." Merenggut kesal seraya kembali ke kamar mandi.


Amara hanya bisa menggeleng-geleng lemah. Sahabatnya itu memang tidak kuat penasaran. Nanti malam dia harus menonaktifkan handphonenya agar Ameena tidak bisa menerornya. Menatap kotak kecil di tangannya. Memasukkannya ke dalam tas ranselnya.


Amara tersenyum kecil. Membayangkan hal yang akan terjadi nanti. Dia tidak perduli dengan isi kotak itu. Dia hanya merasa bahagia karena Bian tetap menjaga hati untuknya.


********


Amara terus menatap layar handphonenya. Sampai sekarang dia masih ragu untuk menghubungi Bian. Perasaannya masih sungkan untuk menghubungi pria itu, karena saat ini dirinya yang merasa bersalah. Menyimpan sakit hati berhari-hari pada pria itu. Sampai rela menahan perasaan rindu ingin bertemu dan bicara dengannya.

__ADS_1


Ia menggigit bibir bawahnya, menutup wajahnya dengan telapak tangan. Rasa malu dan rasa rindu berbaur jadi satu. Ingin rasanya dia menghubungi Bian dan mengatakan sangat merindukan pria itu. Namun, ia masih waras untuk tidak melakukan itu. Terlalu memalukan setelah berhari-hari mendiaminya lalu tiba-tiba mengatakan sangat merindukannya.


Ting...!


Amara kembali menatap layar handphonenya. Lampu notifikasinya berkedip. Dengan ragu, ia meraih benda gepeng itu.


Assalamu'alaikum, Ra. Apa kamu masih marah? Aku sudah berusaha menjelaskan semuanya ke kamu. Kalau kamu masih marah, aku akan berusaha memperbaiki diri ke depannya.


Amara tertegun. Tidak menyangka Bian akan mengirimkan pesan padanya. Ia segera memesan balasan untuk pria itu.


Maafkan aku, Kak.


Handphone Amara berbunyi. Gadis itu terdiam melihat panggilan masuk dari Bian. Ia benar-benar malu untuk menjawab panggilan itu. Dengan ragu, ia akhirnya menggeser ikon berwarna hijau.


"Assalamu'alaikum..." Amara memejamkan matanya sambil mengatupkan bibirnya.


"Wa'alaikumsalam.. Rara sayang. Kamu di rumah atau di Kost?"


"Eh," Amara gelagapan. Tidak menyangka Bian bisa bersikap santai seolah-olah tidak pernah ada masalah sebelumnya. "A.. aku ... aku di rumah."


"Mm.. kenapa nggak jadi tidur di Kost?"


"Hmm.." diam beberapa saat. "Kamu masih marah ya, sama aku?"


"Eh, ng.. nggak, Kak. Aku.. aku minta maaf sama Kak Bian. Aku.. sudah berpikir buruk sama Kak Bian."


Bian menghela nafas berat. "Kamu nggak salah, Sayang. Semua ini gara-gara Kak Mayra. Aku sudah menuntutnya untuk bertanggung jawab. Orang itu benar-benar menyebalkan."


Amara tersenyum sendiri. Tiba-tiba dadanya berdebar tak menentu.


"Mm.. Ra.."


Amara memperbaiki posisinya. "Mm..." hanya itu jawabanya. Ia masih malu untuk bicara banyak.


"Hadiah yang aku berikan ... bagaimana? Apa kamu suka?"


"Eh," Amara kembali gelagapan.


"Kok bilang eh lagi, Ra? Aku kan tanya, apa kamu suka atau tidak?"

__ADS_1


"Aku belum membukanya, Kak."


"Hah," Bian mengusap wajahnya dengan kasar. "Tunggu aku, aku akan ke sana sekarang."


"T.. tapi, Kak.."


Tut.. tut.. tut..


Amara menatap layar handphonenya. Bian mematikan sambungan teleponnya. Ia melirik jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Jika Bian benar-benar ke rumahnya, pria itu akan sampai tiga puluh menit kemudian. "Sekitar setengah sambilan." Ucapnya lirih. Beranjak bangkit untuk mempersiapkan diri. Mengganti pakaian tidur pendeknya dengan piyama berlengan panjang. Memasang jilbab segi empat dan membuatnya terpasang serapi mungkin.


Amara keluar dari dalam kamarnya. Duduk di ruang tamu untuk menunggu Bian. Sudah terlewat dua puluh menit. Itu berarti, kurang lebih sepuluh menit ke depan, Bian akan sampai. Berbagai macam bayangan terbersit dalam pikiran Amara. Masih tidak percaya dengan sikap Bian yang tidak terpengaruh dengan keadaannya yang kemarin.


"Loh, tumben kamu keluar jam segini, Nak?"


Spontan Amara mengangkat wajahnya saat mendengar suara papanya. "Eh, Papa.."


"Kamu kenapa masih di ruang tamu?" Pak Arif akhirnya duduk di samping putrinya.


"Mm.. Kak Bian mau datang, Pa. Dia dalam perjalanan kemari."


Pak Arif ingin tersenyum, tetapi ia tahan. Bingung dengan putrinya. Kapan putrinya itu baikan sehingga mau menerima kedatangan Bian. "Iya udah, Nak. Kalau Nak Bian datang nanti, bilang ke dia agar tidak bertamu sampai melewati jam sepuluh. Nanti kena denda sama Pak RT."


"Iya, Pa." Amara tersenyum sendiri.


"Hmm.. ternyata putri Papa sudah bisa tersenyum lagi sekarang. Kapan baikan sama Nak Bian?"


Amara memanyunkan bibirnya mendengar godaan papanya. "Papa.. apaan sih.." memukul-mukul paha papanya.


"Hahaha... kemarin kayak orang yang kekurangan vitamin C. Bibirnya kering karena kurang senyum. Sekarang alhamdulillah, kayaknya sedang masa pemulihan. Bibirnya mulai terlihat basah kembali."


"Papa..." Amara mengendus-endus di lengan papanya.


Tepat setelah itu, pintu depan diketuk. Amara langsung memperbaiki posisi duduknya. Memperbaiki jilbabnya yang padahal tidak berantakan sama sekali.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikum salam.. dibuka saja, Nak. Pintunya tidak dikunci." Pak Arif bangkit saat melihat Bian berdiri di depan pintu. "Masuk, Nak. Papa akan duduk di depan sementara kalian ngobrol." Mendekati Bian yang masih berdiri di depan pintu. "Kasih obat yang tepat biar cepat sembuh lukanya yang kemarin. Sekarang terlihat lebih baik. Tapi, saat ini masih dalam masa pemulihan."


Bian menggaruk-garuk kepalanya bingung mendengar bisikan Pak Arif.

__ADS_1


*********


__ADS_2