
Ameena mengerucutkan bibirnya setelah capek memotret. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya, tetapi ekspresi yang dia tunjukkan sudah cukup membuktikan, kalau dirinya kesal melihat Amara dan Bian.
"Katanya nggak selera makan, nasi satu porsi ludes kamu makan." Bian menahan senyum sambil meledek Amara.
"Hmm.. kan makanannya kita kongsi, Kak." Amara melirik Bian tidak suka.
"Aku cuma menyuap tiga kali. Satu kali aku menyuap, kamu sudah menyuap tiga kali."
"Ah, masa sih?!" Amara mendelik meremehkan.
"Na, coba kasih buktinya pada Mara. Sepertinya dia tidak percaya dengan ucapanku." Bian menatap Ameena yang masih kesal melihat kelakuan mereka berdua.
Ameena tersenyum, sejak dua manusia di depannya mulai makan, baru kali ini dia terlibat dalam percakapan. "Jangan khawatir, Kak. Semua bukti sudah tersimpan dengan aman."
Amara menautkan alisnya. "Bukti apaan?! Kalian berdua pasti sekongkol untuk menjatuhkan aku."
"Mana ada kayak gitu, Mara. Barusan aja kamu minta maaf karena sudah su'udzon gara-gara masalah tadi siang. Kok sekarang udah mau su'udzon lagi. Mau taubat beneran atau kaleng-kaleng nih.."
"Eh, apaan sih, Kak. Ya taubat beneran lah."
Bian tersenyum kecil seraya menatap sekeliling. "Kalian cuma berdua di tempat ini?" Beralih menatap Amara dan Ameena secara bergantian.
"Penghuninya pulang kampung semua, Kak. Mana mau mereka menghabiskan waktu di kost, kalau memiliki keluarga bahagia. Kalau kayak aku kan beda lagi ceritanya." Amara ikut menatap sekeliling.
"Kamu kan bisa tinggal di rumah Kak Ayra kalau kamu tidak nyaman di rumah kamu sendiri." Ucap Bian menimpali. Tidak sengaja matanya menatap ke arah Pak Satpam yang sedang menatap tajam ke arah mereka. Bian langsung menunduk seraya beristighfar dengan suara lirih. "Astagfirullah.."
"Ada apa, Kak?" Ameena menatap Bian karena terkejut melihat perubahan raut wajah pria itu.
"Hmm.." Bian melirik Ameena lalu kembali menunduk. "Aku.. aku harus pergi sekarang. Ini sudah malam. Kalian istirahat dengan baik ya.. Besok pagi, aku akan bawakan sarapan untuk kalian. Mara," Bian menatap Amara.
"Mm.. iya, Kak." Amara berhenti mengunyah rotinya.
__ADS_1
"Ibu titip salam. Kalau kamu tidak sibuk, Ibu ingin kamu datang ke rumah. Ada yang ingin beliau sampaikan padamu."
"Mm.. insya Allah, Kak." Amara menunduk malu. Ternyata masalah yang dibuatnya tadi siang merambat sampai ke atas. Hanya bisa berdoa, semoga Pak Akmal tidak menanyakan apapun jika ia bertemu dengannya suatu hari nanti. "Tapi.." Amara kembali mengangkat wajahnya menatap Bian. "Apa Kakek dan Nenek masih di rumah Kak Bian?"
"Tidak, Kakek dan Nenek sudah kembali. Mereka hanya mengantar tamu itu saja. Setelah itu mereka langsung bertolak menggunakan pesawat. Mungkin mereka sudah sampai rumah sekarang."
"Hah, mereka bolak balik menggunakan pesawat, Kak?" Ameena melotot tidak percaya. "Apa tidak kasihan sama uangnya. Cuman beberapa jam disini dan langsung pulang."
"Hem," Bian tersenyum kecil. "Itu sudah kebiasaan Kakek. Kalau aku sih, nggak akan pernah mau naik pesawat. Menyeramkan sekali." Bian berucap seraya bangkit. "Aku pulang dulu. Ini untuk bekal kalian besok." Bian beralih menatap Ameena. "Na, bisa anatar Mara ke rumah kan, besok? Uang itu cukup untuk uang bensin kamu. Mungkin bisa untuk sarapan juga. Aku pamit, assalamu'alaikum.." Bian berlalu tanpa menunggu respon dua gadis itu.
"Mara, gue nggak salah dengar atau salah lihat kan.." Ameena melotot menatap uang yang diletakkan Bian.
Amara hanya mengangkat bahu. Tidak enak rasanya mengambil uang itu. Dia yang membuat masalah membuat orang lain mengkhawatirkan dirinya. Tapi, Bian malah meninggalkan uang, agar mereka bisa ke rumah pria itu besok pagi.
*********
"Gila, Mara. Rumah ini cuma satu lantai. Tapi, kok luas banget ya.." Ameena terus menatap sekeliling ruang tamu tempatnya duduk saat ini. Mereka sedang duduk menunggu Bu Santi \ menemui mereka. "Lho sering ya, ke rumah ini?"n
"What...?!" Ameena tidak bisa berkata-kata. Temannya itu tidak pernah menceritakan tentang Bian selama ini. Jika dia tidak bertanya, dia tidak akan banyak tahu tentang pria yang mereka kagumi secara berjamaah itu.
"M.. Mara, lho bilang Kak Bian punya Apartemen?" akhirnya suaranya bisa keluar walaupun sedikit tergagap.
Amara menautkan alisnya. "Kenapa emangnya kalau dia punya Apartemen? Wajarlah, Na.. dia itu orang berada."
"Iya.. m.. maksud aku, k.. kamu nggak pernah cerita masalah ini sama aku."
"Ngapain..? Memangnya aku kurang kerjaan, sampai harus menceritakan semuanya sama lu.."
"Huh, nggak asyik banget sih. Coba kalau kamu bisa kayak si Khanza. Dikasih pinjam pulpen diceritain, dikasih pinjam buku diceritain. Itu baru dikasih pinjam. Apalagi kalau dikasih beneran, kayaknya dia akan membuat pengumuman tentang hal itu."
"Ck, kok ujung-ujungnya ngomongin orang sih, Na. Please deh, dia itu sudah bahagia dengan kehidupannya. Kita itu hanya sebuah masa lalu dari seorang Khanza. Nggak usah bahas dia, atau nanti kamu akan mengajakku nangis berjamaah, gara-gara kita hanya beban hidupnya selama bersahabat dengannya." Ucap Amara. Entah mengapa, membahas Khanza membuatnya merasa aneh. Ia menarik nafas panjang untuk menetralkan kembali pikirannya. Beruntungnya, Bu Santi keluar saat itu. Wanita itu tersenyum lembut pada Amara.
__ADS_1
"Sudah dari tadi, Nak?" Bu Santi duduk di samping Amara seraya memeluk tubuh Amara dengan lembut. Hal itu tentu saja membuat dada Amara langsung berdebar. Perlakuan wanita itu selalu saja membuat Amara merasa mendapatkan kasih sayang seorang ibu.
"Mm.. nggak terlalu lama, Bu."
Bu Santi melepaskan pelukannya. "Ibu khawatir sama kamu, Nak. Kemarin Ibu lihat kamu pergi, tapi Ibu nggak bisa berbuat apa-apa."
"M.. maaf, Bu. Aku.. aku.. cuman tidak tau mau berbuat apa. Kak Ayra memintaku untuk ikut masuk. Tapi, aku kok merasa gimana gitu, Bu. Lebih tepatnya, aku merasa nggak pantas untuk ikut bergabung." Amara berkata jujur pada Bu Santi. Dia lebih suka berkata jujur dan terbuka pada wanita itu. Bu Santi selalu menghargai kejujurannya dan selalu mendengar keluh kesahnya.
Bu Santi ingin bicara lagi. Tapi, saat melihat Ameena berada disitu, wanita itu mengurungkan niatnya. "Mm.., Mara.. Ibu ingin membicarakan sesuatu sama kamu. Tapi, Ibu ingin membicarakan ini berdua dengan kamu."
"Eh, saya bisa pergi sekarang, Bu. Aku memang diminta Kak Bian untuk mengantar Amara kemari. Tidak diminta untuk ikut masuk menemaninya." Ameena langsung menyahut. Mendengar ucapan Bu Santi membuatnya merasa tidak enak kalau harus berdiam diri di sana, sedangkan wanita itu mau bicara empat mata dengan Amara.
"Bukan seperti itu maksud Ibu, Nak. Ibu tidak berniat mengusir kamu keluar. Ibu memang mau bicara pada Amara. Tapi, Ibu juga sedang mencari waktu yang tepat agar tidak mengganggu jam kerja Ibu. Jadi, kamu jangan keburu mau pergi. Kalau kamu pergi, nanti Amara sama siapa disini?"
"Mm.. kalau Ibu mau berangkat kerja, aku akan kembali ke kostan saja, Bu. Nanti aku datang lagi kalau Ibu sudah ada waktu luang."
"Nggak usah sampai kembali ke kostan, Nak. Kamu disini saja dengan teman kamu. Sayur-sayuran kamu di belakang rumah sepertinya merindukan kamu."
"Oh, ya Allah.. aku nggak pernah mengurusnya lagi, Bu."
"Nah, itu makanya. Kamu cuman menanam mereka lalu pergi begitu saja. Mereka juga butuh perawatan. Bukan hanya tubuh manusia yang perlu dirawat."
"Hihihi.. maaf, Bu. Mara kan sibuk kuliah dari kemarin."
"Ibu tau itu, Nak. Ibu juga selalu merawatnya untukmu. Nanti kamu tengok ke belakang ya.. Kalau ada yang sudah bisa dipetik, kamu petik saja. Nanti kita masak bersama dan makan malam bersama disini. Nanti malam kayaknya Ibu ada waktu untuk ngobrol berdua dengan kamu." Bu Santi mengusap-usap kepala Amara seraya beranjak bangkit. "Ibu mau ke toko sebentar. Insya Allah, Ibu akan pulang menjelang waktu ashar nanti. Kalian baik-baik disini ya.. Kalau kalian butuh sesuatu, kalian bisa minta bantuan Bibi di belakang." Bu Santi menatap Amara dan Ameena secara bergantian. "Ibu berangkat dulu ya.."
Amara segera meraih tangan Bu Santi lalau menciumnya. "Take care on the way, Mom."
"Terimakasih pesannya, Sayang." Kembali tangan Bu Santi mengusap-usap kepala Amara. "Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam.." Amara dan Ameena menjawab serentak.
__ADS_1
********