
Siang itu, ketika matahari berdiri tegak diatas kepala yang diselimuti awan putih yang tebal dan menggumpal dilangit nan biru luas. Langit cerah. Udara terasa panas menyengat kulit. Bagaimana tidak, hari sudah menunjuk angka 13.00 siang, dimana matahari sedang panas dan teriknya.
Tapi di sebuah gedung besar di tepi kota tampak sedang dalam proses pembangunan dan terlihat pekerja konstruksi sibuk dengan pekerjaanya masing-masing yang sudah berkeringatan tanpa mengenal lelah. Berbagai pekerjaan mereka lakukan tanpa mengeluh sedikitpun. Sebagaimana mestinya itu sudah menjadi tugas mereka sebagai pekerja kontruksi agar hasil memuaskan. Proses pembangunanpun sekarang sudah mencapai tahap setengah dari hasilnya. Dan tak ada keluhan selama ini. Semuanya berjalan sesuai rencana.
Seseorang pria yang satu jam lalu datang melihat proses pembangunan itu. Proyek pembangungan itu merupakan sebuah program kerja dari SH Group. Dia adalah Bob Adriansah, seorang arsitek untuk SH Group dan juga sekaligus teman dekat Alex. Bob tak kalah tampannya dari pria tampan lainnya. Pria yang juga berbadan tegap, berwajah mulus tanpa jerawat putih cerah itu sangat dipuji-puji oleh pekerja konstruksi disini.
Mereka sering usil ketika Bob datang. Karena Bob yang paling muda dari rekan-rekan lainnya. Bahkan ada dari mereka meminta Bob untuk berkenalan dengan saudara perempuannya. Tentu saja ini bukan untuk pertama kalinya Bob menghadapi hal seperti itu. Setiap kali Bob datang, mereka selalu membicarakan hal yang sama. Bob juga menanggapinya dengan sebuah lelucon dan hiburan tersendiri. Karena itulah Bob terkenal dekat dengan bawahannya. Apalagi Bob merupakan orang yang mudah akrab dengan siapa saja, dan Bob juga pria yang dibilang humoris.
Semua sibuk bekerja dengan pekerjaan mereka masing-masing. Melakukan semuanya sesuai dengan apa yang diperintahkan. Sangat lancar dan berjalan mulus. Namun, tak ada angin tak ada hujanpun, seseorang gadis cantik berpakaian rok mini di atas lutut datang langsung mengacaukan suasana jadi heboh seperti mendapat durian runtuh disiang bolong. Gadis itu keluar dari mobilnya langsung menebar pesona membuat para pekerja konstruksi meleleh melihatnya, apalagi dengan kaca mata hitamnya yang semakin menambah aura kecantikannya.
Bob saat itu ditugaskan mengecek perkembangan pembangunan yang dipimpinnya itu tengah serius berdiskusi. Ia mengamati dan memberi arahan pada anak buahnya. Semuanya menyimak penjelasan dari Bob dan diselangi anggukan mengerti. Ketika Bob sedang sibuk dengan pekerjaannya, ada-ada saja yang mengganggunya. Tiba-tiba seorang pekerja kontruksi datang menghampiri Bob dan memberitahu sesuatu dengan lantang.
“Ternyata bos disini,” kata pria itu dengan napas tersengal-sengal setelah cukup lama mencari Bob dimana-mana. Ia adalah salah satu pekerja kontruksi yang memutuskan untuk menemui Bob langsung.
Bob jadi beralih pandang pada pekerja kontruksi yang menghampirinya itu. “Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Bob segera yang berpikiran telah terjadi sesuatu yang amat serius melihat raut muka pekerja itu.
Pekerja konstruksi itu menggeleng. Untuk kali ini sepertinyasesuatu yang berbeda dari biasanya. “Tidak bos,” kata pekerja itu menggeleng.
“Lalu apa?” Bob kembali bertanya dan semakin dibuat penasaran olehnya.
“Ada seorang wanita cantik seperti model majalah datang mencarimu, bos. Dia sedang menunggu bos di luar” seru pekerja itu dengan antusias. Ia tampak begitu senang memberitahu Bob tentang hal ini. Itu karena gadis itu sendiri yang memintanya secara langsung dengan menebar pesona.
Bob langsung kaget, matanya bulat membesar, karna sepertinya ia tahu siapa yang datang menemuinya. Tanpa berpikir lama, ia langsung cepat tanggap dan bereaksi. Dengan segera ia mengambil perlengkapan pelindungnya yang sudah ia persiapkan dari tadi, dan menghentikan kerjanya. Ia bahkan tidak mempedulikan orang yang serius mendengarkan instruksinya tadi malah terheran-heran dan melongo.
“Benarkah?” seru Bob yang mulai kelihatan panik mendengarnya. Ia hendak ambil langkah seribu sebelum terjadi sesuatu.
Pekerja konstruksi itu terheran-heran dengan apa yang dilakukan Bob sekarang, dan ekpresi Bob tampak terlihat berubah total saat disebutkan ada seorang wanita.
Dipikirnya Bob akan kegirangan. Ia pun bertanya. “Kau tidak ingin menemui wanita itu, bos?” ia mengira Bob mengabaikan kedatangan gadis itu.
“Tentu saja. Aku akan menemuinya,” balas Bob dengan sigap. “Tapi aku pergi harus dengan pelindung ini,” ia segera memakai pakaian seragamnya dengan benar, kacamata dan helm pelindungpun ia dikenakan tanpa ada yang terlewatkan sedikitpun. Bahkan ia juga membawa tongkat pemukul untuk berjaga-jaga. Dan Bob kelihatan seperti menemui seseorang yang ingin mengajaknya berkelahi saja.
“Bos hanya akan menemui seorang wanita bukannya seorang gengster. Kenapa kau berpakaian seperti itu bos? Lucu sekali” ejek anak buahnya itu sambil menahan tawa melihat kelakuan bosnya yang lucu.
Bob menatap tajam pada anah buahnya itu. Memberi isyarat khusus untuk diam dan tidak meremehkannya.
“Diamlah. Kau tidak tahu, dia adalah wanita yang berbahaya. Aku harus begini untuk menemuinya,” seru Bob memberitahu dengan bijak dan beranjak pergi menuju ke tempat gadis itu.
Anak buahnya itu hanya dibuat bengong olehnya, lalu dengan penasaran mengikuti Bob dari belakang untuk melihat secara langsung apa yang terjadi.
“Berbahaya apa maksudnya? Dia hanyalah seorang gadis yang terlihat polos dan seksi. Bagaimana bisa bos menyebutnya wanita yang berbahaya?” gumam pekerja kontruksi kebingungan.
“Kau tidak perlu tahu. Sebaiknya kau kembali bekerja sana. Kita tidak punya banyak waktu untuk bermain” balas Bob yang hendak menemui gadis itu.
“Baiklah bos,” pekerja itupun menurut dan kembali melanjutkan kerjanya.
Melihat Bob menemui seorang wanita, para pekerja konstruksi lain yang melihatnya bersiul-siul sambil menggoda.
"Lihatlah. Hari ini bos kita didatangi wanita cantik. Kelihatannya itu adalah kekasihnya. Aku sangat iri padamu bos" sorak salah satu pekerja konstruksi tanpa ragu. Rupanya berita itu sudah cepat tersebar. Bob tampak kesal dengan ulah anak buahnya itu, ia langsung membunyikan peluitnya dengan kencang menyuruh berhenti.
Priiitt!!!
“Kalian semua diam! Selesaikan pekerjaan kalian cepat. Apa kalian ingin dipecat!” perintah Bob dengan tegas menunjuk-nunjuk mereka dengan tatapan dinginnya.
“Yaa!” jawab mereka serentak dan lantang. Mereka hanya senyam-senyum melihat kelakuan bosnya itu. Para pekerja pun menurut seperti robot otomatis. Mereka sebenarnya memang kembali bekerja, tapi sesekali malah mengintip Bob dengan gadis cantik yang sudah menunggunya dari tadi.
Dan benar, ternyata seorang gadis cantik berambut cokelat gelap selebar bahu membingkai wajahnya terjurai lurus yang dapat membuat tiap laki-laki manapun memandangnya. Hidungnya mancung yang indah melintang di tengahnya adalah mata yang dapat menenggelamkan seseorang. Ia pun mengenakan rias agak tebal dan tidak terlihat norak mengenakan pemerah pada tulang pipi yang menonjol, dan maskara untuk menggelapkan bulu matanya yang panjang. Ditambah pakaian long dres yang sangat pas dan sempurna memperlihatkan bagian tubuh rampingnya, atas bawah yang menarik dan menggoda. Siapa yang tidak akan tergoda akan penampilan dan kecantikannya yang menggoda itu. Di saat siang bolong seperti ini, para pekerja kontruksi mendadak disuguhkan pemandangan yang berbeda dari biasanya.
__ADS_1
Gadis itu adalah Soraya, seorang pramugari cantik yang memanfaatkan hari liburnya untuk menemui kekasihnya, Bob. Soraya tersenyum dan berjalan mendekati Bob yang baru saja datang dengan ekspresi dingin kepadanya.
“Kenapa kau lama sekali? Aku sudah menunggumu beberapa menit yang lalu. Aku sudah menelponmu berkali-kali. Satupun tidak kau angkat. Kau tahu, anak buahmu sedaritadi selalu menggangguku,” kata Soraya melempar senyumnya pada Bob. Ia mencoba menggoda Bob kali ini. Tak peduli orang lain sedang memperhatikannya dari tadi.
Bukannya menjawab, Bob justru memperhatikan penampilan Soraya dengan detail. Tapi sama sekali tidak membuatnya begitu tertarik, meskipun memang diakuinya bahwa Soraya sangat cantik dan merupakan wanita yang paling cantik yang pernah dikencaninya selama ini. Dan segera ia mengarahkan tongkatnya kepada Soraya untuk mencegahnya mendekatinya.
“ Tetaplah disana. Jangan mendekat!” ujar Bob dari situ memberitahu. “Kenapa kau ada disini? Waktuku tidak banyak untuk bicara denganmu” Ia kemudian bertanya karna penasaran mendadak Soraya mengungjunginya tanpa terduga dan menghebohkan keadaan sekitar.
Melihat sikap Bob barusan, Soraya pun terkegut tak menduganya. Terpaksa Soraya mengurung niat untuk lebih dekat dengan Bob, justru membuatnya mundur satu langkah. Jarak mereka dibatasi oleh beberapa kayu-kayu kecil yang dibiarkan begitu saja disitu, cukup jauh dan lumayan dekat. Soraya tersenyum manis pada Bob. Ia mencoba kembali merayu Bob berharap Bob jadi luluh hatinya kali ini.
“Kenapa? Aku merindukanmu. Apa kau tidak merindukanku? Sudah satu bulan ini kita tidak bertemu ataupun berkencan. Bagiku itu terasa seperti bertahun-tahun lamanya” kata Soraya dengan tatapan menggoda.
Bob mencoba bersikap dingin dan tetap konsisten tanpa terpengaruh oleh ucapan Soraya barusan. Ia kemudian berdehem-dehem sebentar. Entah apa yang sedang dilakukanya saat ini, agar bisa mengontrol dirinya untuk tidak mudah goyah. Sikapnya yang berpura-pura dingin lalu menanggapi. Disisi lain, para pekerja konstruksi terus memperhatikanya menyaksikan kejadian langka itu dengan mencuri-curi kesempatan.
“Aku sedang bekerja, jadi jangan basa-basi,” bantah Bob segera mempertunjukkan sisi dinginnya. Nada suaranya berubah jadi terlihat tidak ingin diajak bercanda.
Soraya tampak agak kecewa mendengarnya. Pertama, ia tidak disambut baik oleh Bob dan kedua, ia juga mendapat perlakuan buruk oleh Bob yang bersikap dingin. Ia menghela nafas panjang tidak terima. Apalagi dengan ekspresi para pekerja yang tercengang dan tak menduga Bob seperti itu, sangat tenang dalam berhadapan dengan gadis. Seperti sedang menunjukkan jati dirinya bahwa ia adalah lelaki yang bijak dan wibawa.
“Aku ingin menemuimu. Entah aku datang untuk putus denganmu atau berdamai denganmu. Salah satu dari kedua hal itu, menurutmu yang mana?” kata Soraya berterus terang meminta pendapat dari Bob.
“Kau berada disini mungkin untuk putus,” balas Bob tanpa dipikir-pikir. Kata-katanya tidak bisa dikontrolnya lagi. Mengingat hubungan mereka yang selama ini mulai renggang. “Kau akan terluka jika aku yang lebih dulu mengatakannya. Cepatlah katakan, kemudian pergi. Aku akan mendengarkan.”
Soraya menarik napas secara otomatis, menatap Bob dengan tenang. Ia tetap menunjukkan senyum senyum cerianya pada Bob.
“Apa kau tidak mau berdamai? Aku datang untuk meluruskan kesalahpahaman ini,” Soraya berkata dengan serius.
Bob menggeleng. “Tidak. Karena aku tak melakukan kesalahan apapun padamu. Kalau kau datang untuk mendapatkan maaf dariku, kau sudah buang-buang waktu saja. Itu sudah terlambat” balas Bob tanpa berfikir panjang.
Sebenarnya apa yang membuat Bob begitu marah dan dingin pada Soraya. Kali ini ia tampak tidak begitu peduli dengan hubunganya. Jauh sebelumnya, Bob lah yang mengejar-ngejar Soraya saat ia dikenalkan oleh Joe, temannya beberapa bulan yang lalu saat mereka menghadiri sebuah pesta pernikahan. Meski dari awal, Soraya tidak menyukai Bob, tapi Bob tetap mendekati Soraya hingga akhirnya mereka memutuskan untuk berkencan di sebuah restoran mewah yang terkenal di kota Zoya.
Setelah kenal satu sama lain, barulah keduanya menunjukkan sifat asli mereka. Sedikit demi sedikit mulai terjadi perdebatan kecil dengan perbedaan argumen dan kesibukan masing-masing hingga terjadi pertengkaran-pertengkaran seperti yang terjadi beberapa minggu yang lalu. Ditambah lagi dengan Soraya membuat suatu kesalahan besar pada Bob saat dirinya ketahuan tengah dekat dengan pria lain. Tentu saja Bob dibuat kecewa olehnya. Dan Bob tidak dapat mentolerirnya lagi. Selama ini ia sudah banyak mengalah.
“Begitukah? Baik! Aku mengerti jika itu yang kau katakan. Jangan khawatir, banyak pria di luar sana antri untukku. Aku pergi saja” ketus Soraya yang ingin beranjak pergi.
“Siapa orangnya? Apa lima orang?” tanya Bob dengan kesal. Ia marah-marah tak menentu membuat Soraya tersipu malu.
“Kau marah ya? Apa kau cemburu mendengarnya?” tanya Soraya dengan senang. Ia baru saja berhasil melunakan Bob.
Bob tak menyahutnya. Ia hanya mendesis.
“Jadi, apakah permintaan maafku sudah diterima? Aku sangat senang jika kita bisa berdamai. Ayo kita kembali seperti dulu lagi” Ia kembali bertanya membahas topik sebelumnya seraya mendekat dan memeluk Bob seketika.
Tiba-tiba Bob melepaskan pelukan Soraya dan tidak menjawabnya. Ia justru menarik dan membawa Soraya ke mobilnya.
“Pulanglah. Pembicaraan kita sudah selesai. Maaf aku tidak bisa mengantarmu karena aku sangat sibuk,” ujar Bob dengan sikap kembali menjadi dingin.
Soraya menolak mentah-mentah. Ia tetap berdiri di tempatnya. Menunjukkan sikap manjanya agar Bob luluh. Bersikeras dengan tujuannya untuk melunakkan perasaan Bob.
“Tidak mau. Hari ini aku libur dan tidak ada kegiatan apapun, jadi aku akan menunggumu disini. Kita perlu bicara dan makan siang,” ujarnya bersikeras dengan dirinya sendiri.
Bob menolaknya mentah-mentah. “Tidak perlu! Pekerjaanku sangat banyak. Pulanglah,” kata Bob dengan paksa.
Soraya bersungut-sungut pada Bob menampakkan bahwa ia sangat kecewa pada Bob yang kesekian kalinya.
“Padahal aku datang sudah berdandan cantik selama dua jam agar kau senang dan memujiku. Tapi apa yang aku dapat, kau malah menyuruhku pergi dan tidak mau memaafkanku,” kata Soraya dengan nada kesal. Ia mendesah sebentar, menatap Bob dengan tajam dan kembali bersuara. ”Baiklah. Semuanya sampai disini saja. Takdirku harus pergi dari kehidupanmu. Kita akhiri saja!” ujarnya dengan sikap mengancam. Karena ia begitu yakin Bob akan menolaknya.
Bob yang disintakkan dengan kata-kata itu hanya bisa menerima begitu saja. Lagipula, memang itu yang diharapkannya sekarang.“Aku bisa apa jika kau yang memintanya!” Balas Bob dengan dingin.
__ADS_1
Soraya tak menduga jika ancamannya sama sekali dituruti oleh Bob. Padahal niatnya hanya untuk mempermainkan Bob. Kini Bob menganggapnya dengan begitu serius.
“Apa kau yakin? Kupikir kita akan bisa memulainya kembali. Dan siapa yang salah, kau selalu saja yang meminta maaf padaku. Tapi setelah kau tau aku membuat kesalahan yang begitu besar, aku justru tidak meminta maaf padamu, melainkan ingin mengakhiri hubungan kita. Aku adalah wanita yang kejam dan tidak punya perasaan,” keluh Soraya dengan perasaan sedih. Ia sadar jika apa yang terjadi sekarang adalah murni karna kesalahannya.
Bob tertegun dan terdiam mendengarnya. Ia tak ingin berlarut-larut dalam hubungan yang sudah renggang ini. Lagipula perasaanya pada Soraya sudah mulai memudar saat semenjak ia telah didustai oleh Soraya waktu itu. Ia tidak bisa memberi harapan untuk percaya lagi pada Soraya. Sudah cukup kecewa untuk kedua kalinya. Bob pasrah dan mengakhiri semuanya sebagai jalan terbaiknya.
“Jika memang itu yang terbaik, mengapa tidak? Kau bebas sekarang dan carilah pria yang lebih baik. Aku tahu saat kau bersamaku, kau lebih banyak mengalami kehidupan yang sulit. Dan kita tidak ditakdirkan,” katanya dengan bijak.
Soraya tak percaya. Pupus sudah harapanya kini. Ia bermaksud tidak ingin seperti ini. Tapi apalah daya, ia sendiri mungkin tidak bisa mempertahankan hubunganya sendiri.
“Apa sekarang kau benar-benar ingin melepaskanku?” tanya Soraya dengan pandangan lekat kearah Bob. “Baiklah. Aku mengerti sekarang. Kita memang harus mengakhirinya sekarang, karena semua ini adalah kesalahanku,” gumamnya dengan tegar, penuh penyesalan.
Bob membenarkan. “Ya benar. Karena sepertinya hubungan kita tak bisa diteruskan lagi,”
Soraya terdiam menunduk mendengarnya. Ia meneteskan air matanya begitu mengingat kejadian yang sudah berlalu ketika ia mengkhianati Bob dari belakang. Yang akhirnya Bob mengetahuinya dan melihatnya sendiri.
“Baiklah. Kita memang harus berpisah, maka kita akan berpisah sebagaimana yang kau minta. Aku harap kau memikirkanya baik-baik. Aku masih menerimamu sampai kapanpun. Maafkan aku,” ketus Soraya.
Bob hanya diam membungkam. Dan tak peduli dengan ancaman Soraya. Baginya keputusanya sudah bulat dan tak ingin kecewa untuk kesekian kalinya.
“Aku pergi. Jaga dirimu” gumam Soraya dengan kesal, lalu meninggalkan tempat itu. Padahal dalam hatinya ia masih berharap Bob akan mencegahnya untuk pergi. Tapi kali ini tak ada reaksi dari Bob. Ia benar-benar dicampakkan setelah lima bulan menjalani hubungan. Hingga akhirnya semua itu berujung perpisahan.
Bob mengangguk. “Hmm,” balas Bob dan berlalu begitu saja, ia memalingkan pandangannya dari Soraya. Tanpa ragu ia tak menatap gadis itu untuk terakhir kalinya.
Bob tampak tegar dan kembali melanjutkan pekerjaanya. Ia menghela napas panjang dan melepaskan perlengkapannya. Para pekerja kontruksi yang berada disitu langsung menyambar dan menghampiri Bob dengan rasa penasaran. Mereka berbondong-bondong melemparkan seribu pertanyaan pada Bob.
“Bos, apa yang terjadi? Apa kalian bertengkar? Aku melihat gadis itu pergi sambil menangis,” seru salah pekerja yang datang duluan dan menunggu jawaban dari Bob.
Bob tidak menyahutnya.
“Kenapa bos malah membiarkan gadis cantik itu pergi begitu saja? Cepat tahan dia. Dia mungkin saja belum pergi jauh dan menunggumu,” seru pekerja bertubuh pendek disebelahnya tanpa ragu.
Lalu datang lagi sebuah pertanyaan yang mengejutkan dari anak buah Bob sebelum Bob sempat bersuara. “Bos. Apa kalian putus? Aku tidak sengaja mendengarnya tadi. Apa itu benar? Kenapa?” matanya membesar.
Para pekerja yang mendengarnya mendongak kaget. Matanya membelalak membesar.
“Benarkah?” seru pekerja dengan serentak dan kaget.
“Bagaimana bisa? Itu tidak masuk akal.” Lanjut pekerja tadi.
“Itu benar. Lihat saja bagaimana gadis itu menangis dan pergi. Sepertinya hatinya sangat hancur.” kata pekerja bertubuh pendek tadi merasa kasihan. “Kasihan sekali gadis itu.”
Para pekerja mulai berdebat yang tak jelas. Bob yang diam saja langsung menanggapi dengan marah-marah.
“Ada apa dengan kalian? Apa kalian ingin dipecat? Aku ini bosmu. Jangan ikut campur urusan pribadiku. Semuanya sudah berakhir. Bangunan ini harus segera siap dalam waktu dekat. Semuanya kembali bekerja, cepat!” ketus Bob.
Bukannya takut, para pekerja malah tetap mempermasalahkan urusan Bob dengan wanita tadi.
“Kenapa? Padahal kami berharap akan melihat gadis itu lagi. Dia sangat cantik dan juga seksi. Tidak pernah ada seorang gadis yang datang seperti dia sebelumnya.”
“Apa kau sudah gila? Apa dalam otak kalian hanya gadis cantik dan seksi?” balas Bob.
“Sebaiknya kalian lanjutkan bekerja. Aku tidak ingin terjadi kesalahan sedikitpun. Jadi cepat bekerja. Atau aku akan memotong gaji kalian?” Bob mengeluarkan senjata ampuhnya.
Mendengar itu, para pekerja langsung kalang kabut dan kabur.
“Baik!!” semuanya jadi kikuk dan menurut dan kembali melanjutkan pekerjaan.
__ADS_1
Bob mendesah.
“Ada-ada saja mereka,” keluhnya. Ia pun melanjutkan pekerjaannya hingga benar-benar selesai untuk hari ini.