Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Tindakan Kakek


__ADS_3

Pak Akmal pergi menemui keluarga Khanza keesokan harinya. Orang tua wanita itu menyambutnya dengan tatapan yang kurang bersahabat.


"Ada apa Pak Akmal datang kemari?" Pak Edward, papanya Khanza langsung melontarkan pertanyaan itu begitu mereka duduk di ruang tamu. "Kalau hanya untuk mewakilkan permintaan maaf cucu Bapak, maaf, saya tidak bisa memberikan maaf secepat itu. Putri saya satu-satunya hampir kehabisan nafas karena ulah cucu Bapak. Apalagi dia melakukan itu di Konveksi. Dia juga mengeluarkan ucapan yang tidak senonoh untuk putri saya. Baik sadar atau tidak, yang diucapkannya itu sudah merusak citra anak saya sebagai seorang Direktur."


Pak Akmal mengangguk-angguk seraya tersenyum kecil. "Saya mengerti perasaan anda, Pak Edward. Saya datang ke sini bukan untuk mewakilkan cucu saya untuk minta maaf. Cucu saya bahkan mengharamkan dirinya untuk datang minta maaf. Jadi, saya tidak berani datang untuk mewakilkan permintaan maafnya. Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya pada Pak Edward, cucu saya itu bukan orang yang sembarangan dalam mengambil keputusan. Usianya memang masih sangat muda. Tapi, dalam kematangan caranya berpikir, itu adalah hal yang tidak perlu di ragukan lagi."


"Heh," Pak Edward tersenyum sinis. "Lalu kejadian kemarin apa namanya, Pak? Dia datang mengamuk ke Konveksi, melakukan kekerasan pada anak saya, apalagi sampai mengatakan hal-hal buruk pada putri saya."


"Itu terjadi karena kesalahan Nona Khanza sendiri."


Pak Edward mengernyit mendengar ucapan Pak Akmal. "Apa maksud Pak Akmal berkata begitu? Sudah jelas-jelas putri saya tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Putri saya bilang, di bertemu dengan cucu Bapak ketika pertemuan di luar kota itu. Pertemuan itu adalah pertemuan terakhir mereka."


"Itu memang benar. Lebih baik saya langsung pada inti pembicaraan saja. Tujuan saya datang kesini, untuk meminta Pak Edward untuk tidak sembarangan lapor polisi."


Edward kembali mengernyit. Permintaan Pak Akmal benar-benar membuatnya naik pitam. Belum lagi Bian tidak mau datang minta maaf secara pribadi pada putrinya. "Loh, apa maksud Pak Akmal berkata demikian? Itu hak saya. Kenapa anda harus marah kalau saya lapor polisi. Apa anda takut, citra anda sebagai pengusaha sukses hancur gara-gara masalah ini?"


Giliran Pak Akmal yang tersenyum sinis. "Saya meminta Pak Edward melakukan ini, karena saya tidak mau melihat Pak Edward malu sendiri nantinya. Saya juga mau membatalkan kontrak kerja sama yang sudah di tanda tangani oleh Bian dan Nona Khanza. Cucu saya tidak mau menjalin kerja sama dengan Nona Khanza, karena sikap Nona Khanza yang sudah sangat keterlaluan."


"Omongan anda semakin ngelantur, Pak Akmal. Kenapa anda sangat tidak profesional dalam hal ini. Anda meminta saya untuk tidak lapor polisi pada kasus cucu anda. Lalu anda juga membatalkan kontrak kerja sama yang sudah disepakati secara sepihak. Ini sih namanya anda mau menang sendiri, Pak." Pak Edward semakin emosi.


"Kalau anda lapor polisi, pihak kami akan lapor balik atas kasus pencurian yang dilakukan pitri anda. Dia mencuri smartphone milik cucu saya ketika acara makan malam di hotel Xx. Selain mencurinya, dia juga menghancurkan smartphone itu. Nona Khanza juga mengirim tiga gambar fitnah pada cucu menantu saya yang membuat cucu menantu saya koma selama berhari-hari. Selain itu, dia juga mengirim kata-kata provokatif yang dibaca oleh Bian sendiri. Belum lagi, putri anda juga membayar orang untuk menabrak dirinya dan membayar orang untuk mengambil gambarnya dalam kecelakaan "


Edward terdiam. Tidak memiliki kata-kata untuk melakukan pembelaan.


"Kalau anda lapor polisi, perlakuan Bian pada putri anda akan dipidana. Tapi, anda juga perlu ingat, putri anda akan terkena banyak kasus atas tindakan cerobohnya."


"Apa anda punya bukti sehingga berani mengancam saya seperti ini?"

__ADS_1


Pak Akmal mendekatkan wajahnya pada Edward. "Apa Pak Edward sudah lupa saya siapa? Sudah berapa lama anda mengenal saya. Apa saya perlu mengingatkan anda, kalau mata dan telinga saya bertebaran di mana-mana."


Edward mengalihkan pandangannya. Ia hampir lupa kalau yang dia hadapi saat ini bukanlah orang sembarangan.


"Saya bisa menuntut putri anda karena berani mencuri dan merusak smartphone cucu saya yang harganya tidak main-main. Selain itu, dia juga hampir mengihilangkan nyawa cucu menantu saya. Satu yang perlu anda ingat, Pak Edward. Cucu saya mencekik putri anda, itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan apa yang sudah dia lakukan. Jika anda tatap nekat untuk memperpanjang kasus ini, jangan salahkan saya kalau kasus ini akan menyeret putri kesayangan anda sampai masuk ke jeruji besi. Saya pamit, assalamu'alaikum ..." Pak Akmal langsung bangkit tanpa sedikit pun melirik Edward. Ia tidak memikirkan lagi persahabatan yang sudah cukup lama terjalin dengannya.


**********


Bian kembali menemui istrinya di Rumah Sakit. Walaupun Amara masih diam seribu bahasa, setidaknya istrinya itu tidak menolak kehadirannya seperti sebelumnya.


"Nak, Ibu mau pulang sebentar. Kamu coba ajak istri kamu ngobrol baik-baik. Sepertinya dia sudah tidak marah lagi sama kamu. Dari kemarin dia menanyakan kamu terus. Kenapa kamu tidak datang, kenapa kamu tidak ada kabar. Dia bilang, apa kamu marah karena dia mengusir kamu waktu itu."


Bian tersenyum kecil pada ibunyakalian, akan mencobanya, Bu."


"Ibu akan tinggalkan kalian, biar kalian bisa lebih leluasa ngobrol berdua. Selesaikan masalah dengan baik-baik. Kalian berdua sudah berkeluarga, sudah dewasa. Ibu tidak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian. Ibu hanya ambil tempat seperlunya saja. Sekarang keadaan sudah terlihat lebih kondusif. Ibu bisa pulang dengan tenang tanpa harus memikirkan keadaan istri kamu." Menepuk-nepuk pundak putranya. "Kamu juga belum memberikan nama untuk putri cantik kamu." Berbisik di telinga putranya.


"Aku sudah mempersiapkan nama untuknya, Bu." Jawab Bian, mendongak menatap ibunya seraya tersenyum.


Bian menarik nafas dalam selepas kepergian ibunya. Dia menatap ragu ke arah ranjang istrinya. Amara membuka matanya. Tapi, wanita itu sedang sibuk belajar memberikan ASI untuk bayinya. Walaupun ragu, Bian akhirnya bangkit dan berjalan mendekati istrinya.


"Ra..." melirik dengan ragu.


"Mm..." Amara juga melirik lalu kembali menatap putrinya.


"Aku..."


Tok... tok... tok...

__ADS_1


Bian mengurungkan niatnya melanjutkan ucapannya. Ia menghela nafas berat saat melihat Pak Akmal dan Daniel masuk ke dalam ruangan. "Ada apa lagi, Kek?" Menatap kakeknya dengan kesal.


"Ah, kamu ini nggak seru banget sih. Kakek datang kemari karena rindu pada cucu dan cicit Kakek. Lagian, kamu mau berduaan, diajak bicara saja nggak sama istri." Berucap sambil menahan senyum.


"Huh, ini semua tidak akan terjadi jika Kakek tidak memaksakan kehendak Kakek untuk bekerja sama dengan wanita gila itu." Timpal Bian sambil membuang pandangan.


"Hahaha... kamu benar-benar terlihat kesal dengan Nona Khanza, Nak." Pak Akmal duduk santai di samping Bian. Melipat kakinya sambil menatap ke arah Amara. "Amara, Sayang. Bagaimana keadaan kamu sekarang? Kakek sudah menangkap biang keroknya. Kedepannya, insya Allah wanita itu tidak akan berani mengganggu rumah tangga kalian. Hah," menggerak-gerakkan kakinya untuk bergaya.


Bian menatap kakeknya dengan tajam. "Apa Kakek sudah mengambil keputusan?" Tanyanya dengan serius. Ia benar-benar ingin terlepas dari Khanza. Kalau perlu, ia tidak ingin bertemu lagi dengan wanita itu.


"Hmm... tentu saja. Untuk apa menyimpan masalah terlalu lama. Kamu saja yang lalai dalam menjaga barang berharga kamu. Kamu itu memang cerdas dalam pekerjaan. Tapi, kamu masih kurang cerdas mengurus rumah tangga sendiri."


"Aku kan nggak tau kalau wanita itu bisa selicik ini, Kek." Bian melengos kesal.


"Seharusnya kamu jujur dari awal, kalau kamu akan pergi dengan wanita itu juga. Jika kamu berkata jujur, setidaknya Amara tau dan dia tidak akan mudah terpengaruh gambar-gambar fitnah itu."


"Itu sudah berlalu, Kek. Aku nggak mau lagi mengingatnya, apalagi membahasnya. Aku terlihat seperti laki-laki bodoh saat dipermainkan wanita itu."


"Hah, sebenarnya ini juga salah Kakek yang terlalu percaya pada Nona Khanza dan tidak melakukan penyelidikan terlebih dahulu. Seandainya Kakek tau kalau dia ada rasa sama kamu, sampai dia terobsesi seperti ini. Kakek pasti akan pikir-pikir dulu sebelum menerima tawaran Edward waktu itu." Pak Akmal beralih menatap ke arah Daniel yang masih setia berdiri di sampingnya. "Tunjukkan pada Bian semua hasil penelusuran kita tiga hari terakhir ini."


"Baik, Tuan." Daniel mendekati meja dan meletakkan tas ransel yang di bawanya.


"Sebenarnya semua bukti ini adalah hasil kerja keras Daniel dan anak buahnya. Kakek hanya mengeluarkan perintah saja."


"Huh, gayanya saja selangit."


"Heh, jangan ngomong gitu, Nak. Kakek memang tidak bermodalkan tenaga. Tapi, Kakek bermodalkan materi, sehingga semua ini bisa diusut dengan cepat."

__ADS_1


"Iya ... iya... Kakek selalu benar." Bian beralih menatap ke arah laptop ysng sedang dibuka Daniel..


***********


__ADS_2