
Bian sedang berusaha menjelaskan pada Satpam perihal keterlambatannya membawa Amara pulang. Satpam itu terlihat sedikit marah. Melihat ekspresi Satpam itu membuat Amara dan Ameena langsung kabur. Membiarkan sendiri Bian menjelaskan pada Satpam.
"Aku kan sudah memperingatkan berulang kali, Adek jangan membawa mereka pulang terlambat."
"Maaf, Pak. Insya Allah, lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi." Bian berucap sambil menatap ke arah ruang Kost Amara. Gadis itu sudah masuk bersama Ameena. Tinggal dirinya yang harus berurusan dengan Satpam.
Satpam itu melengos. "Lain kali kalau mau membawanya keluar, Adek minta izin sama Ibu Kost, biar tidak usah berurusan denganku."
Bian langsung menatap Pak Satpam. "Maksud Bapak, saya harus izin langsung ke Ibu Kostnya, begitu?"
"Adek memang cerdas. Iya, memang begitu maksudku. Ibu Kostnya nggak galak kok. Cuman, dia tidak suka kalau ada anak Kost yang tidak mematuhi peraturan yang sudah dibuatnya. Atau kalau Adek mau mengajak Amara dan Ameena keluar, bawa mereka pagi, siang atau sore hari. Itu sudah terjamin aman dan Adek tidak akan diinterogasi seperti ini."
Bian tersenyum. "Hmm.. tadi siang ada acara keluarga, Pak. Terus paginya ada Papa Rara yang datang kemari."
Pak Satpam menautkan alisnya mendengar ucapan Bian. "Siapa Rara?" tanyanya, masih menautkan alisnya.
"Ehhehehe.. Rara itu Amara maksudku, Pak." Bian tersenyum meringis.
"Oh, panggilan spesial tuh..?!"
Bian hanya menanggapi dengan senyuman. Dia tidak suka membahas masalah begituan dengan sembarang orang. "Konsekuensi yang harus saya terima apa, Pak?" Sengaja mengalihkan pembicaraan. Raut wajahnya pun ikut berubah.
"Wah, Adek ternyata bertanggung jawab orangnya. Patut jadi pemimpin."
"Aku memang calon pemimpin. Katakan konsekuensi yang harus aku terima, Pak." Bian berkata dengan ekspresi datar. Ternyata berurusan dengan Satpam yang ini agak ribet karena orangnya cerewet. Berbeda dengan Satpam muda yang pernah dia kacangin beberapa bulan yang lalu. Sayangnya, yang punya jadwal jaga hari ini adalah Satpam yang agak meremehkan orang lain. Bian hanya tidak mau kalau Pak Anton ikut mendekat dan menyelesaikan masalahnya. Hal itu sangat dia hindari karena tidak suka kalau pria berkepala pelontos itu ikut campur urusannya. Berita akan sampai ke Kakeknya kalau Pak Anton turut andil.
"Kamu anak kuliahan ya?"
Bian memutar bola matanya seraya membuang nafas dengan kasar. "Aku Mahasiswa semester akhir, Pak."
"Jurusan kamu apa?"
Bian langsung menatap Satpam itu dengan tajam. "Apa aku harus menjelaskan itu ke Bapak? Seharusnya Bapak tinggal memberitahuku konsekuensi saja. Andaikan aku harus membayar denda, aku akan membayarnya. Aku tidak suka terlalu banyak basa-basi, Pak. Pengawal sudah menungguku dari tadi. Aku tidak mau dia ikut terjun dalam masalah kecil seperti ini."
Satpam itu langsung menatap ke arah tatapan Bian. Menatap Anton yang terlihat fokus menatap ke arah mereka. "Kamu siapa sebenarnya?" Beralih menatap Bian.
__ADS_1
"Aku calon suaminya Amara."
"Maksudku, siapa orang tuamu?"
Bian kembali membuang nafas dengan kasar. Beristighfar beberapa kali, agar dirinya tidak tersulut emosi.
Pak Satpam itu tersenyum mengejek. "Bayar denda lima ratus ribu."
Bian langsung mengeluarkan dompet tanpa protes. Memejamkan matanya menahan kesal saat melihat dompetnya cuman berisi satu lembar uang lima puluh ribuan. "Hmm.." kembali menghela nafas berat. Mengambil handphone dari saku jasnya untuk menghubungi Amara.
"Assalamu'alikum, Ra. Bisa keluar sebentar. Bawakan aku uang lima ratus ribu. Aku nggak bawa uang cash. Pak Satpam meminta denda karena aku telat membawa kamu pulang." Bian langsung mematikan sambungan telepon. Kembali menatap ke Pak Satpam. "Tunggu sebentar, Pak. Aku sudah meminta Rara untuk keluar. Aku nggak punya uang."
"Baiklah, saya tunggu."
Bian kembali menatap ke arah kamar kost Amara. Tersenyum saat melihat gadis itu keluar dan bergegas menghampirinya.
"Ada masalah apa, Kak?" Amara sedikit ngos-ngosan sampai di depan Bian.
"Aku didenda karena terlambat membawa kamu kembali. Mana uangnya, sini?" Bian menyodorkan tangannya pada Amara. "Nanti kamu ambil gantinya di ATM yang kamu pegang. Aku benar-benar nggak suka bawa uang cash. Dompet terlalu tebal jadi nggak nyaman di kantong."
"Iya, kamu istirahat dengan baik ya. Udah makan, kan?"
Amara tersenyum. "Mm.. belum, Kak. Aku dan Ameena shalat dulu. Takutnya kami ketiduran dan nanti malah buru-buru shalat Isya kalau bangun tengah malam."
"Bagus, sekarang masuk lagi ya.." spontan tangan Bian mengusap kepala Amara yang tertutup mukena.
"Eh," Amara mengangkat wajahnya. Pipinya menyemburkan rona merah. Perlakuan Bian ini..
"Udah, masuk sana.." Bian tersenyum lembut pada gadis itu.
"I.. iya, Kak." Segera berlalu dari hadapan Bian.
Bian berbalik menghadap Satpam setelah Amara masuk kembali ke dalam kamarnya. "Ini uangnya, Pak."
Satpam itu mendengus. "Nggak ada malu banget, Dek. Yang punya kesalahan situ sendiri. Kenapa Amara yang harus menanggung uang dendanya. Malu sedikit apa? Datang pakai mobil, kok uang lima ratus ribu aja nggak punya. Pakai alasan nggak punya uang cash segala." Mengambil uang dengan kasar dari tangan Bian.
__ADS_1
"Hati-hati kalau ngomong, Pak. Jangan sampai Bapak dipecat dari tempat ini karena tidak sopan pada tamu. Aku pamit, Assalamu'alaikum.." Kembali menghela nafas berat. Segera berlalu dari hadapan Satpam yang menyebalkan itu.
Bian POV..
Aku menyandarkan tubuhku setelah masuk ke dalam mobil. Huh, ya Allah... berurusan dengan orang seperti itu benar-benar menguras kesabaran. Untungnya aku masih waras sehingga tidak terpancing ucapan-ucapan buruk Satpam itu. Mudah-mudahan hanya aku yang dia perlakukan seperti ini.
Hmm.. aku harus menenangkan pikiranku kembali. Interogasi tidak akan berakhir sampai di sini saja. Sampai rumah nanti, aku harus berhadapan kembali dengan Ibu. Iya.. aku sudah persiapkan jawaban untuk Ibu dari sebelum berangkat tadi. Tapi, yang membuatku sangat kesal adalah pertemuan dengan Satpam yang menyebalkan ini. Mudah-mudahan kejadian malam ini tidak terulang lagi. Aku memang bersalah. Tapi, interogasinya itu terlalu berlebihan menurutku. Untuk apa dia sampai bertanya ke ranah pribadi segala. Sedangkan aku paling tidak suka dengan orang yang meremehkan identitas orang lain.
Ting...!
Aku langsung mengambil handphone di saku jasku. Oh, ternyata ada chat masuk dari Rara. Hah, menyebut nama itu membuat perasaanku berbunga-bunga. Wanita itu ... aku apa-apaan sih. Mengambil handphone untuk melihat pesan, kok malah asyik memikirkannya.
Kak, kata Ameena, denda kalau telat kembali ke Kost itu cuman lima puluh ribu. Ameena sering di denda karena kejadian serupa, tapi dendanya tidak pernah berubah. Tapi, besok aku akan bertanya pada Ibu Kost.
Aku tersenyum sinis membaca pesan Rara. Menatap tajam ke arah Pos Satpam. Jika yang dikatakan Rara ini benar, itu berarti Satpam menyebalkan ini harus diberi pelajaran. Aku juga heran, mana ada sih denda sampai sebanyak itu. Untung aku orang beruang, sehingga tidak keberatan ketika mendengar nominal yang dia sebut tadi.
Hah, aku kembali menghela nafas berat. Aku harus segera pulang. Aku ingin segera bertemu Ibu, bersimpuh di kakinya dan menceritakan apa yang sudah aku lakukan malam ini. Sepertinya Ibu akan terkejut. Ibu... anakmu sudah berani mengikat hati seorang gadis. Wanita yang diam-diam Ibu juga sukai. Mudah-mudahan Allah meridhoi kami sampai jenjang yang lebih serius. Aku ingin melihat Ibu bahagia melihatku bersama wanita pilihanku dan pilihan Ibu juga.
Hmm... aku cuma berharap, semoga Allah memudahkan rencana ini ke depannya.
_________
Bian meninggalkan tempat itu setelah berhasil membuang perasaan kesalnya. Dia sudah mempersiapkan dari jauh-jauh hari pertemuan dengan ibunya, setelah berhasil mengungkapkan perasaanya pada Amara. Melirik ke belakang, melihat mobil hitam milik Pak Anton yang selalu membuntutinya kemanapun dia pergi. Ia hanya bersyukur, Pak Anton tidak mendekat saat perdebatannya dengan Pak Satpam tadi.
Sampai rumah, Bian mendapati ibunya sedang duduk di depan rumah. Sudah bisa dipastikan, kalau wanita itu pasti sedang menunggu kepulangannya.
"Ibu.. kenapa belum..." Bian ingin berbasa-basi, tapi ibunya buru-buru memotong. "Jangan katakan apa pun, Nak. Ibu tidak akan bisa istirahat dengan tenang sebelum kamu masuk ke dalam rumah."
Bian meraih tangan ibunya, mencium tangan itu lalu memeluk tubuhnya. "Ibu.."
"Kamu kemana aja, Nak.. kenapa jam segini baru kembali?" Melepaskan pelukan putranya perlahan.
Bian tersenyum lemah. Tubuhnya perlahan melorot dan bersimpuh di kaki ibunya. "Ibu ... putramu ini sudah berani mengikat hati wanita."
*********
__ADS_1