Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Tanggung Akibatnya Sendiri


__ADS_3

Bian menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Terasa ada yang kurang karena tidak ada Amara yang merapikan dasi dan jasnya sebelum berangkat kerja. Ibunya masih di bawah menunggunya. Mengawasinya agar tidak mendekati kamar tamu tempat istrinya beristirahat.


Ia melangkah dengan ragu menuruni anak tangga. "Ibu.. aku berangkat dulu." Mengulurkan tangan pada ibunya yang sedang memperhatikan layar handphone.


"Mm..." Bu Santi menimpali tanpa menatapnya. Hal itu membuatnya menghela nafas berat. Tingkat kekecewaan ibunya pasti sudah tinggi, sehingga enggan untuk sekedar menatapnya.


"Ibu, apa aku boleh pamit pada Rara?"


Bu Santi langsung mengalihkan pandangannya, menatap Bian dengan tajam. "Kamu jangan membuat luka baru, Nak. Istri kamu tidak mau melihat kamu saat ini."


"Aku akan pamit dari depan pintu, Bu. Aku berjanji tidak akan mengganggunya." Menatap ibunya dengan penuh keyakinan.


Bu Santi menatap putranya lama sebelum akhirnya mengangguk menyetujui keingingan putranya. Bian melangkah mendekati kamar tamu setelah mendapat persetujuan dari ibunya.


Bian menarik nafas dalam, menatap pintu kamar dengan tatapan sendu. Tangannya terangakat dan mulai mengetuk pintu dengan ragu. "Rara, aku mau berangkat kerja. Kamu jaga diri baik-baik, Sayang. Aku akan usahakan untuk pulang cepat, biar kita bisa selesaikan masalah semalam. Aku tidak kuat berjauhan terlalu lama dengan kamu. Belum sehari saja sudah rindu berat. Jangan marah lama-lama ya, Ra."


"Siapa yang meminta kamu ngomong panjang lebar, Bian?" Bu Santi menepuk pundak Bian. Menatap putranya itu dengan kesal. "Disuruh pamit, eh, malah ngomong ngelantur nggak jelas kemana-mana."


"Ehehehe.." Bian tersenyum salah tingkah seraya mengusap-usap tengkuknya. "Biasanya kan, Rara selalu mencium tanganku sebelum aku berangkat kerja, Bu. Dia juga selalu merapikan jas dan dasiku."


Bu Santi melengos. "Lalu apa yang kamu harapkan pagi ini? Apa kamu berharap Amara akan keluar dan melakukan hal itu untukmu?" Menarik tubuh Bian lebih mendekat. "Biar Ibu yang merapikan pakaian kamu. Jangan harapkan apapun dari Amara saat ini. Yang perlu kamu syukuri, istrimu tidak bersikap bodoh dengan pergi dari rumah. Dia masih memikirkan kamu, itulah mengapa dia tidak melaporkan semua kecerobohan kamu pada Pak Arif."


"Maafkan Bian, Bu." Menunduk di depan ibunya. Jarang sekali ibunya itu memarahinya. Tapi, sekalinya marah, dia dimarahi seperti anak kecil yang ketahuan mencuri buah mangga tetangga.


"Sudah, kamu berangkat kerja sana."


Bian menatap ke arah pintu kamar sebelum akhirnya melangkah pergi. Tidak ada gairah untuk bekerja. Yang ada di pikirannya hanyalah istrinya. Dia ingin sekali melihat Amara. Ingin mengetahui keadaan wanitanya itu dan mendekap tubuhnya.


Sampai di kantor...


Kedatangan Bian disambut dengan senyuman penuh semangat oleh Daniel.


"Selamat pagi, Tuan. Saya akan membacakan jadwal Tuan hari ini." Mengangkat secarik kertas yang sudah di persiapkannya dari tadi.


"Tunggu, Kak!"


Daniel langsung menatap Bian. Mengurungkan niatnya untuk membacakan jadwal tuannya. "Apa ada yang salah dengan sambutan saya, Tuan?"


Bian menggeleng. "Tidak ada yang salah. Aku cuman mau menanyakan sesuatu pada Kak Daniel."


"Tuan mau menanyakan apa?" Daniel meletakkan kertasnya di atas meja dan beralih fokus menatap Bian.


"Apa jadwal hari ini tidak padat? Aku mau pulang, Kak. Aku tidak bisa konsentrasi kerja."

__ADS_1


Daniel menautkan alisnya mendengar ucapan Bian. Dua hari belakangan ini dia sibuk dan tidak sempat mengawasi apa yang terjadi di sekitar Bian.


"Aku tidak bisa konsentrasi karena kepalaku pusing. Kali ini, aku mau Kak Daniel bisa bekerja sama dengan baik. Rara juga sedang sakit. Dia membutuhkan aku menemaninya."


"Baiklah, Tuan. Saya akan menyusun ulang jadwal yang sudah saya susun untuk Tuan."


"Terimakasih.." Bian langsung meraih kunci mobilnya tanpa basa basi. Pikirannya benar-benar buntu saat ini. Yang ada di pikirannya hanya Amara dan Amara.


Daniel tidak berani mengatatakan apapun. Dia hanya menatap kepergian tuannya. Memebereskkan kembali dua berkas pangajuan yang seharusnya disetujui Bian hari ini. Untungnya tidak ada pertemuan dengan orang luar, sehingga Daniel tidak terlalu pusing memikirkan hal itu.


Bian melajukan kendaraannya dengan kecepatan normal di jalan raya yang masih padat pengguna. Terdengar helaan nafas beberapa kali. Pria itu masih mengingat-ingat apa saja yang di ucapkannya pada Amara semalam, sehingga istrinya itu sampai enggan bertemu dengannya. Beberapa kali mengusap wajahnya dengan kasar. Beberapa kalimat yang diingatnya memang terdengar sangat menyakitkan.


"Hah, ya Allah... aku seolah-oleh menuduh istri ku sebagai wanita penghibur." Kembali mengusap wajahnya dengan kasar saat mengingat waktu dirinya meminta Amara melepaskan jas milik Ardian.


Sampai rumah...


Bian masih berdiam diri di dalam mobil. Mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil saat melihat ibunya membawa Amara masuk ke dalam mobil milik istrinya itu. Dari tempatnya, dia bisa melihat keadaan istrinya. Wajah Amara yang terlihat bengkak. Melihat hal itu membuat perasaan bersalah semakin menghantuinya. Teringat saat istrinya memintanya menghentikan kendaraannya karena mual. "Huh .... astagfirullah.... ya Allah.. suami macam apa aku ini." Memukul setir kemudi karena kesal dengan kebodohannya sendiri.


Amara menatap seklias ke arah mobil suaminya sebelum masuk ke dalam mobilnya. Bian menelan ludahnya melihat hal itu. Andaikan tidak ada masalah, Amara pasti sudah berlari ke arahnya dan mengganggunya.


Bian masuk ke dalam rumah setelah mobil yang dibawa ibunya keluar dari halaman rumah. Naik ke kamarnya untuk istirahat sejenak karena kepalanya terasa berat. Selain banyaknya beban pikiran, kepalanya juga pusing karena kurang istirahat.


Namun...


Matanya malah tidak bisa terpejam saat sudah merebahkan tubuhnya. Ia akhirnya bangkit kembali. Matanya menatap sekitar kamar yang benar-benar sepi karena tidak ada istri yang biasanya selalu mengisi sunyi.


Tangannya perlahan menarik laci. Laci itu juga sangat rapi. Istrinya memang tidak suka skincare-an. Tapi, kalau masalah kerapian dan kebersihan, hal itu tidak perlu di ragukan lagi.


"Eh," Bian mengangkat kotak kecil yang sudah diikat pita. "Ini apaan?" Membolak-balik kotak itu karena penasaran. Kotak kecil itu seperti sebuah kado yang sudah dipersiapkan oleh istrinya untuk seseorang. Karena penasaran, Bian akhirnya menarik ujung pita dan memutuskan untuk membuka kotak itu. Tidak mungkin istrinya itu menyiapkan kado untuk seseorang sementara dirinya tidak mengetahui hal itu.


Bian terhenyak melihat isi kotak itu. Ia langsung fokus ke tempat masker wajah. Dimana ia menemukan banyak tes pack waktu itu. Tes pack itu sudah tidak ada di tempat. Bian langsung berdiri. Ia seperti kesulitan mengatur nafasnya melihat isi kotak itu. Tanpa pikir panjang, ia langsung meraih kunci mobilnya dan bergegas menuruni anak tangga.


Bian mencoba menghubungi istrinya untuk menanyakan keberadaannya. Namun, sepertnya Amara sengaja tidak menjawab panggilannya. Ia beralih menghubungi ibunya. Satu kali panggilan, ia langsung mendapat jawaban.


"Assalamu'alaikum, Bu.."


"Wa'alaikum salam.. ada apa, Nak?"


"Ibu membawa Rara kemana?"


"Ini kami sedang di klinik A. Ibu membawa istri kamu ke Dokter kulit untuk memeriksa keadaannya."


"Kenapa Ibu tidak pernah bilang tentang kehamilan Rara padaku?"

__ADS_1


"Maksud kamu apa sih, Nak? Ibu tidak berhak mengatakan apapun padamu, jika Amara tidak menginginkan nya."


"Ibu.."


"Sudah, kamu terlalu menguras emosi jiwa dari kemarin. Ibu jadinya ikut kesal karena kamu yang banyak tingkah."


"Ibu, aku cuman mau menanyakan tentang tes pack ini. Apa ini milik Rara atau orang lain?"


"Tanyakan itu padanya nanti."


Bian menghela nafas berat. "Tapi kapan, Bu. Sekarang saja dia enggan menjawab panggilanku."


"Pikirkan bagaimana caranya. Kamu harus bisa membujuk dan merayunya agar mau balik lagi padamu."


"Bagaimana caranya, Bu?"


Giliran Bu Santi yang menghela nafas berat. "Ibu menyuruh kamu yang berpikir Bian. Kamu itu sudah dewasa sekarang. Kamu tidak hanya memikirkan tentang dirimu sendiri. Tapi, kamu juga harus memikirkan tentang istri dan janin yang ada dalam kandungan istri kamu."


"Apa Rara mau memaafkan kesalahanku, Bu?"


"Ibu rasa kamu sudah cukup dewasa untuk memikirkan hal kecil seperti itu. Sudah dulu, Amara sudah di panggil Dokter. Kamu cukup instropeksi diri dan jangan banyak tingkah. Assalamu'alaikum..."


Tut.. tut.. tut...


Bian tertegun setelah sambungan telepon terputus. Terduduk lemah karena tidak tau apa yang harus dilakukannya sekarang. Mungkin itu yang membuat istrinya sedikit manja dan menyebalkan menurutnya. Ternyata ada benihnya yang sedang tumbuh dalam rahim wanita itu.


Ting...!


Menatap handphonenya saat ada pesan masuk dari ibunya.


Amara tidak mau pulang ke rumah kamu. Dia bilang mau menenangkan diri dan akan pulang kalau perasaannya sudah membaik.


Bian hanya menelan ludahnya membaca pesan itu. Ia langsung menulis pesan balasan untuk ibunya.


Terus dia mau pulang kemana, Bu. Kemana aku akan mencarinya untuk minta maaf?


Menarik nafas dalam setelah pesannya terkirim.


Ting...!


Nggak tau. Kamu cari tau sendiri. Tanggung akibatnya sendiri, karena itu adalah kesalahan kamu.


Aaarrrgghhh...!

__ADS_1


Bian langsung melempar handphonenya ke kursi penumpang di sampingnya. Mengacak-acak rambutnya frustasi membaca pesan dari ibunya.


*********


__ADS_2