Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Amara, beginilah rasanya


__ADS_3

Bian beberapa kali menarik nafas panjang. Hari ini, kakek dan neneknya akan membawa seorang gadis untuk berkenalan dengannya. Ingin menolak, tetapi tidak bisa ia lakukan lagi. Sudah terlalu banyak penolakan dan kakeknya tidak suka itu.


"Nak," pintu kamar diketuk.


Bian menoleh ke arah pintu saat mendengar suara sang Ibu. "Pintunya tidak dikunci, Bu." Bian berucap lalu kembali menatap pantulan wajahnya di depan cermin.


Bu Santi berjalan mendekat seraya tersenyum. "Kenapa tampang kamu seperti ini, Nak?" Bu Santi mengusap wajah putranya. "Seharusnya kamu bahagia, hari ini adalah hari bahagiamu."


Bian menghela nafas berat. "Hmm.. perasaanku tidak tenang, Bu. Aku merasa belum siap untuk semua ini." Berucap sambil menunduk. Bagiamana pun juga, ia memikirkan perasaan Amara jika tau masalah ini. Iya.. walaupun status mereka hanya berteman. Tapi, Bian selalu berusaha untuk menjaga perasaan Amara.


"Hmm.. apa benar begitu, Nak?" Bu Santi berjalan menjauhi putranya. Duduk di sisi ranjang seraya menatap Bian.


"Seharusnya Kakek dan Nenek menceritakan ini kepadaku dari jauh-jauh hari. Aku jadinya tidak ada persiapan untuk menemui mereka." Bian mendengus karena tidak suka dengan sikap kakeknya yang otoriter. Selalu memaksakan kehendaknya tanpa meminta pertimbangannya terlebih dahulu.


"Kamu tidak tawakal pada Allah, Nak. Ibu tidak suka kamu yang kayak gini. Mana Bian yang selalu menyerahkan semua urusannya pada Allah. Kakek kamu cuma mau mengenalkan kamu, Nak. Iya.. kalau kamu memang tidak tertarik untuk ta'aruf dengan gadis itu, kamu bisa menentukannya nanti. Niat Kakek dan Nenek kamu baik, Nak. Mereka hanya tidak mau, kalau kamu salah memilih pasangan. Mencari pasangan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, Nak."


Bian menatap ibunya. Senyuman kecil ia kembangkan untuk wanita yang sudah melahirkannya itu. Ibunya selalu saja mengajarkannya untuk selalu khusnuzon pada orang lain.


Melihat putranya yang hanya diam menatapnya, Bu Santi kembali mendekati Bian, menepuk pundak putranya dengan lembut. "Jika kamu merasa tidak cocok dengannya, masih ada teman-teman kamu yang lain. Kamu bisa mencarinya sendiri. Tinggal menjelaskan pada Kakek dan Nenek kamu. Kalau ibu sih, tidak mau mencarikan wanita untuk kamu. Ibu percaya, kalau kamu akan membawakan menantu terbaik untuk Ibu." Menepuk-nepuk pipi putranya. "Semangat, Sayang. Kamu kebanggaan Ibu." Bu Santi mendaratkan satu ciuman di dahi putranya. "Jangan kusut lagi, Sayang. Kamu bersiap ya, Ibu tunggu kamu di ruang tamu sambil menunggu tamu kita datang."


Bian menghela nafas berat. "I.. iya, Bu. Maafkan Bian." Bian mendongak seraya tersenyum pada ibunya. Menatap Bu Santi sampai wanita itu keluar dari kamarnya.


Selepas kepergian ibunya, Bian kembali termenung. Benar kata ibunya, dia tidak mungkin terpuruk hanya karena merasa belum siap untuk berkenalan dengan wanita. Bian akhirnya bangkit dan menarik nafas panjang beberapa kali.


Bian akhirnya keluar dari kamar setelah berhasil menguasai pikirannya. Harus mempersiapkan diri luar dan dalam. Dia sudah mengiyakan permintaan kakeknya untuk menerima keluarga wanita yang akan bertamu ke rumahnya bersama kakek dan neneknya.


Baru saja menarik nafas lega di ruang tamu, Bian kembali dikagetkan dengan kedatangan keluarga kakaknya. Sebenarnya bukan hal itu yang membuatnya terkejut, tetapi Amara yang ikut datang bersama Chayra dan Ardian.

__ADS_1


Bian bahkan menyembunyikan hal ini rapat-rapat dari gadis itu. Tapi.. Chayra malah membawanya datang disaat kakeknya akan datang.


Amara bercanda bersama Chayra di halaman rumah. Mereka tertawa melihat Ardian yang naik ke atas pohon kelengkeng.


"Eh, Neng Amara datang juga ya.." Pak Amir menyapa Amara yang duduk memangku Farel, adiknya Adzra.


"Kak Ayra nggak ngizinin aku kembali ke kostan tadi, Pak. Mumpung masih libur katanya. Aku kan jarang bisa datang sekarang. Terlalu banyak tugas kuliah, Pak."


"Hmm.. pantesan Neng Amara jarang kemari. Kenapa tidak kuliah di tempat Tuan Bian aja, biar bisa sering-sering kemari."


"Hihihi.." Amara tersenyum meringis. "Nggak mampu aku, Pak. Kampus itu isinya horang kayah semua, Pak. Kalau orangnya missqueen kayak aku, bisa-bisa cuman ditindas nanti. Nggak mampu sih, sebenarnya."


"Ah, kamu ini ngomong apa sih, Dek. Mana ada kayak gitu. Aku juga lulusan Universitas itu kok. Menuntut ilmu itu bukan masalah kaya atau tidak, Dek. Tapi, masalah kesungguhan hati dan ketekunan kita. Uang itu tidak menjamin semuanya." Chayra berucap sambil menepuk-nepuk pelan paha Amara.


"Hihihi.. aku hanya merasa tidak mampu aja, Kak. Harus menyiapkan mental juga kalau mau di sana." Amara mengalihkan pandangannya. Menatap ke arah Ardian yang masih di atas pohon.


Iringan mobil Pak Akmal masuk ke halaman rumah. Chayra langsung bangkit melihat itu. Ia mendongak menatap suaminya di atas pohon. "Mas, turun. Tamunya sudah datang." Menginstruksikan pada suaminya agar segera turun.


"Loh, tamu.. maksud Kak Ayra?" Amara yang tidak tau apa-apa akhirnya melontarkan pertanyaan.


"Anu, Dek. Tamu dari Pesantren. Kakek dan Nenek membawa keluarga wanita yang akan dikenalkan pada Bian."


"Oh," Amara langsung kehilangan kata-kata.


"Ayo kita masuk.." Chayra menarik tangan Amara karena putranya sudah diambil alih Ardian dari gendongan Amara.


"Mm.. ng.. nggak deh, Kak. A.. aku.. aku disini saja. Aku.. aku nggak enak sama Kakek dan Nenek."

__ADS_1


"Eh, nggak boleh kayak gitu, Dek. Aku sudah mengajak kamu kemari." Chayra masih kekeh untuk membawa Amara masuk ke dalam rumah. "Lagian, kamu kan sudah berteman dengan Bian. Memangnya kamu tidak mau melihat calon istri teman kamu?"


Amara menelan ludahnya. Perasaannya sudah tak karuan saat mendengar penjelasan Chayra tadi. Ditambah mendengar kata 'calon istri' membuat perasaan Amara semakin kalut. "Mm.. aku.. aku ke kamar kecil dulu, Kak. Nanti aku nyusul ke dalam." Amara langsung berlalu tanpa menunggu jawaban Chayra.


Chayra menautkan alisnya. "Mara kenapa sih, Mas? Apa dia sakit perut, sehingga wajahnya terlihat ditekuk seperti itu?"


"Keadaan seperti tadi memiliki dua kemungkinan, Sayang. Kalau tidak sakit perut, mungkin ada sesuatu yang membuatnya harus menghindar."


Chayra menggeleng-geleng pelan, tidak mengerti dengan penjelasan suaminya.


Amara bergegas masuk ke dalam kamar mandi yang terletak di belakang rumah. Rasa sesak tidak bisa ia tahan lagi. Ia terisak menghadapi kenyataan ini. "Ya Allah.. kenapa sesakit ini.." Amara menepuk-nepuk dadanya. Hatinya benar-benar sakit. Laki-laki yang dia kagumi selama ini akan dijodohkan dengan orang lain.


"Kamu ini kenapa, Mara? Kamu itu hanya..." Amara mengusap air matanya. "Astagfirullahal'adzim.." air mata kembali tumpah. Amara benar-benar tidak bisa menahan perasaannya. Satu tahun yang lalu dia mendengar ucapan Pak Akmal dan Bu Fatimah membahas tentang hal ini. Saat itu, Amara hanya berdo'a semoga yang dikatakan Bu Fatimah dan Pak Akmal itu tidak terjadi. Tetapi, Allah berkehendak lain. Amara terus menangis. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir.


Amara berhenti terisak saat pintu kamar mandi itu diketuk. "Siapa di dalam?"


Amara terdiam, suara itu tidak asing di telinganya. Ia segera mengusap air matanya dan membasuh wajahnya.


Ceklek..!


"Eh, ternyata Neng Amara di dalam.." Bi Idah tersenyum melihat Amara yang keluar. Tetapi, raut wajahnya seketika berubah saat melihat hidung Amara yang memerah. "Loh, Neng Amara kenapa nangis?" Bi Idah meraih wajah Amara, menangkup pipi wanita itu.


"Permisi, Bi." Amara menepis tangan Bi Idah, bergegas meninggalkan wanita itu.


"Loh, Neng.. Astagfirullah.. ini ada apa sebenarnya.." Bi Idah mencoba mengejar Amara. Tetapi gadis itu tidak ia temukan keberadaannya.


"Waduh, ini sebenarnya ada apa? Barusan pas berangkat dari rumah, Neng Amara baik-baik saja." Bi Idah segera masuk ke dalam rumah. Niatnya untuk buang air kecil ia urungkan karena panik melihat Amara yang terlihat lelah menangis.

__ADS_1


Bi Idah ke ruang tamu, dimana semua anggota keluarga dan tamu sedang berkumpul. Ia mendekati Chayra dan membisikkan sesuatu di telinga wanita itu.


__ADS_2