Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Hadiah dari Kakek


__ADS_3

Amara menatap pergelangan tangannya. Bibirnya mengulas senyum melihat gelang yang melingkar indah di pergelangan tangannya.


"Bagaimana, kamu suka nggak, Ra?" Bian menatap ragu pada Amara. Sedikit ragu karena wanita itu belum memberikan respon.


"Mm.." Amara mengalihkan pandangannya pada Bian. "Menurut Kak Bian, aku bakalan suka atau bagaimana?"


"Hmm.." Bian menyebikkan Bibirnya. "Kamu ini, ditanya kok malah balik bertanya sih."


Amara tersenyum melihat tampang kusut Bian. "Kak Bian udah menjanjikan ini satu minggu yang lalu. Kalau Kakek tau, Kakek pasti marah karena Kak Bian mengabaikan amanah darinya."


"Aku sibuk, Rara.." Bian mengusap wajahnya. Dibilang orang yang tidak amanah sangat dihindarinya sajak dulu. "Kamu juga sakitnya lama, Ra. Aku jadinya nggak ada yang nyemangatin. Habis dari Kampus, sampai Apartemen sepi. Mau makan, harus rebus mi instan dulu baru bisa makan."


Amara menghela nafas berat. Walaupun sudah keluar dari Rumah Sakit, tetapi wanita itu masih terlihat lemah. "Kenapa nggak pulang aja kalau begitu? Ibu selalu menyediakan makanan sehat dan bergizi kok di rumah."


"Ibu nggak ada di rumah, Ra. Kan Ibu ikut sama Kakek dan Nenek ke Pesantren. Mau ke makam Almarhum Bapak. Udah lama nggak mengunjungi Bapak di sana. Aku juga pingin ikut kemarin, tetapi keadaan yang tidak memungkinkan. Belum lagi Kakek dan Nenek pulang pakai pesawat. Huh, hal yang sangat menyebalkan." Bian berkata sambil menatap lurus ke depan.


"Kak Bian nggak suka naik pesawat?" Amara bertanya dengan polosnya karena melihat Bian yang terlihat kesal dengan hal itu.


"Aku benci pesawat. Aku nggak tau kapan terakhir menaikinya. Kata Ibu sih waktu kami menjemput Bapak ke Kalimantan. Hah, karena benda itu, aku harus kehilangan sosok ayah dalam hidupku."


"Hah...?" Amara melongo bingung.


Bian melirik Amara lalu kembali menatap ke depan. "Bapak meninggal dalam kecelakaan pesawat terbang, Ra." Diam dengan tatapan kosong. "Kamu jangan marah ya, karena aku memanggil Papa kamu dengan sebutan Papa." Sambungnya setelah cukup lama diam. "Selama ini aku selalu menganggap Abah Ismail ayahku. Tapi, semakin kesini aku merasa semakin jauh dengan Abah. Abah pernah memintaku tinggal di Pesantren. Tapi waktu itu aku menolak. Sejak saat itu, Abah marah padaku dan jarang menghubungiku." Bian beranjak bangkit setelah menyelesaikan kalimatnya. "Ra..."


"Mm..." Amara mendongak menatap Bian.


"Aku mau pulang dulu. Nanti sore aku kesini lagi. Hadiah dari Kakek jangan dilepas ya.." Bian mengusap-usap kepala Amara.


"Iya, Kak. Hati-hati..." melambai pada Bian yang sudah berjalan menjauh.


"Oh iya, Ra." Bian berbalik setelah sampai di depan mobil.


"Mm..."


"Mau makan apa, biar sekalian aku belikan oas kembali nanti."


Amara tersenyum lembut. "Aku nggak mau makan apa-apa, Kak. Masih nggak ada nafsu makan."


"Hmm... kalau begitu nanti aku belikan kamu vitamin biar kamu cepat bugar." Bian melambai lalu masuk ke dalam mobil.


Amara hanya mengangguk seraya tersenyum kembali. Menunggu sampai mobil pria itu menjauh dari rumahnya. Masuk kembali ke dalam rumah setelah yakin kalau Bian tidak akan kembali lagi.


"Nak Bian sudah pergi, Nak?"

__ADS_1


"Eh, Papa.." Amara mendekati Pak Arif yang sedang duduk di ruang tamu. "Dia mau ke Apartemennya. Sepertinya mau istirahat. Katanya semalam tidak bisa tidur karena rindu sama Ibu."


"Oh, ibunya kemana memangnya?"


"Berkunjung ke Pesantren, Pa."


"Apa dia memang selalu seperti tadi, Nak?"


Amara menatap Pak Arif dengan heran. "Kenapa, Pa?"


Pak Arif memperbaiki posisi duduknya seraya menghela nafas berat. "Apa Nak Bian tidak pernah mau masuk ke dalam rumah saat berkunjung?"


Amara tersenyum mendengar pertanyaan papanya. Papanya itu terlihat tidak enak karena Bian menolak untuk masuk ke dalam rumah dan lebih memilih duduk di teras rumah.


"Kak Bian memang nggak pernah masuk, Pa." Berucap sambil melepas jilbabnya. "Lebih tepatnya nggak pernah datang untuk bertamu. Dia memang pernah kemari dulu. Tapi, melihat tampang Tante Hanum saja membuat tamu malas untuk masuk."


"Ah, kamu kini ada-ada saja." Pak Arif mengacak-acak rambut Amara. Kedatangan Carissa membuat perhatian mereka teralihkan. "Assalamu'alsikum.."


"Wa'alaikum salam, Cantik.." Amara mencium pipi adiknya.


"Kak, tadi Rissa bertemu dengan Kakak yang tampan itu. Itu loh Kak yang sering antar Kakak dulu itu. Dia memberi Rissa uang, Kak. Ini..." Carissa mengeluarkan uang seratus ribu dari saku baju seragamnya.


"Loh, kok Rissa terima, Nak?" Pak Arif menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Ya udah, kamu juga masuk gih. Kamu harus banyak istirahat biar cepat pulih." Pak Arif mengusap-usap kepala Amara.


"Iya, Pa. Nanti kalau Papa lapar, Papa bangunin Mara ya."


"Nggak, Nak! Kalau Papa lapar, Papa akan delivery order. Kalau kamu sudah sembuh nanti, baru Papa akan meminta kamu untuk masak."


Amara hanya mengangkat bahu lalu beranjak bangkit. Tidak mungkin dia akan berdebat dengan papanya hanya karena masalah sepele seperti itu. Lagian, papanya seperti itu karena tidak mau dia sampai kecapekan.


********


Ting...!


Amara meraih handphonenya dengan mata terpejam. "Siapa yang mengirim pesan jam segini?" Bertanya pada dirinya sendiri sambil mengucek-ngucek matanya. Saat melihat jam di handphonenya, waktu baru menunjukkan pukul sembilan malam. Itu berarti bukan orang yang mengirim pesan yang tidak tau waktu untuk mengirim pesan. Tapi memang dirinya yang tidur terlalu awal.


Amara Andini...


Kenapa hilang kabar..


Kak Bian bilang, kemarin dia mengantarkan hadiah dari kakeknya untuk lho. Gue penasaran banget, Mara. Lho tau sendiri kalau gue nggak kuat penasaran. Sekarang gue sedang dalam perjalanan ke rumah lho. Gue belah nekain nih, datang ke rumah lho untuk melihat hadiah itu.

__ADS_1


Amara mengernyit. Tangannya langsung mengetik balasan untuk Ameena. Bisa-bisanya temannya itu sampai nekat datang ke rumahnya.


Pintu gue sudah tertutup, Na. Kalau mau bertamu besok saja. Gue juga udah tidur nih.


Amara cekikikan setelah pesannya terkirim. Ia membayangkan ekspresi Ameena saat membaca pesan itu.


Ting..!


Gue nggak perduli. Mau lho udah tidur atau apa. Yang penting gue udah dalam perjalanan ke rumah lho. Gue akan ketuk-ketuk pintu saay sampai nanti. Kalau perlu, gue akan gedor-gedor tuh pintu sambil teriak-teriak sampai lho sekeluarga bangun.


Gue bela-belain datang ke rumah lho jam segini. Masa lho tega sih, nggak bukain gue pintu. Lagian ini juga perintah laki lho. Gue diminta untuk jaga lho karena lho butuh teman katanya.


Amara membuang nafasnya dengan kasar. Malas rasanya kalau harus membalas lagi pesan itu. Ameena tidak akan mau mengalah apapun itu kasusnya. Ia akhirnya meletakkan handphonenya. Pandangannya beralih ke gelang yang melingkar cantik di pergelangan tangannya. Sampai sekarang, dia masih ragu kalau hadiah itu benar-benar dari Pak Akmal atau itu hanya dari Bian.


Amara meraih kembali handphonenya saat benda gepeng itu kembali berbunyi. Tapi, kali ini bukan pesan masuk, melainkan panggilan masuk.


Amara mengerutkan keningnya. Nomor handphone tidak terdaftar di kontaknya. Tapi, ia segera menepis pikiran buruk yang merayap di pikirannya. Mengusap ikon berwarna hijau seraya menarik nafas dalam.


"H.. halo.." hanya kata itu yang keluar. Ingin mengucap salam tetapi ia urungkan.


"Assalamu'alaikum.."


"W.. wa'alaikumsalam.." Amara terdiam, mencoba mengingat-ingat suara di balik telepon. Terdengar tidak asing, tapi pikiran Amara belum bisa menebak suara itu.


"Cucu Kakek sudah sehat? Kata Bian kamu sampai masuk Rumah Sakit kemarin. Sakit apa, Sayang?"


"Oh," Amara langsung salah tingkah setelah menyadari siapa yang menghubunginya. "K.. Kakek.."


Pak Akmal tertawa kecil. "Hmm... kenapa lama sekali baru mengenali suara Kakek?"


"Hehehe.. tadi mikir dulu, Kek. Kakek sehat di sana?"


"Alhamdulillah, sehat. Hadiah dari Kakek sudah disampaikan Bian, kan?"


"Mm.. s.. sudah, Kek. Terima kasih, Kek. Mara nggak punya apa-apa untuk membalas hadiah ini."


"Kamu pakai kan?"


"I.. iya, Kek."


"Hmm.. bagus kalau begitu. Kamu nggak usah memikirkan dengan apa kamu akan membalas itu. Gelang itu Kakek pesankan khusus untuk kamu. Hanya Ayra dan ibunya yang mempunyai yang sama persis dengan punyamu itu."


Amara tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa menelan ludahnya menyimak semua yang dikatakan Pak Akmal.

__ADS_1


********


__ADS_2