Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Perjuangan


__ADS_3

Amara bangkit setelah Myta keluar dari ruang perawatannya. Sudah tiga hari di Rumah Sakit itu, baru sekarang dia mendekati meja tempat tasnya tergeletak. Dengan ragu, ia meraih tas itu. Membukanya perlahan untuk melihat isi di dalamnya.


Amara tertegun, matanya terasa sulit berkedip menatap tas itu. Tidak ada handphone di dalamnya. Pantas saja tidak ada yang menghubunginya selama ini. Sudah pasti keluarganya tidak tau harus menghubunginya kemana. Air mata kembali keluar. Ini adalah yang kesekian kalinya gadis itu menangis. Dia harus segera memberi kabar agar orang tuanya tidak khawatir lagi.


Namun, bagaimana dia akan menghubungi keluarganya. Myta bahkan tidak pernah mengeluarkan handphone di hadapannya. Myta seperti sengaja melakukan itu. Amara akhirnya membawa tas itu ke pembaringannya.


Setelah membuka kembali tas itu. Tangannya meraih dompet yang masih tersimpan rapi di dalamnya. Membuka dompet itu dengan perasaan was-was. Bibirnya mengulas senyum tipis saat mendapati isi dompet itu masih sama seperti semula.


"Pa, maafkan Mara. Papa pasti sedang kebingungan di sana. Jangan cari Mara lagi, Pa. Mara baik-baik saja di sini. Mara akan hubungi Papa kalau Mara sudah keluar dari Rumah Sakit ini." Tersenyum menatap sekeliling lalu meraba foto Pak Arif yang tersimpan di dompetnya.


Amara menoleh ke arah pintu saat pintu itu terbuka lebar. Seorang Dokter masuk diiringi dengan dua orang perawat di belakangnya. Amara memperbaiki posisi duduknya karena sudah pasti Dokter itu akan memeriksa keadaannya.


Dokter itu tersenyum lembut pada Amara setelah memeriksanya. Memutuskan untuk mengizinkan Amara pulang karena kondisi gadis itu terlihat cukup stabil.


**********


Satu minggu berlalu...


"Belum ada perkembangan, Tuan." Daniel berkata dengan menundukkan kepalanya di hadapan Bian. Satu minggu dilakukan pencarian, tetapi anak buah Daniel belum mendapatkan titik terang. Jangankan titik terang, sedikit harapan pun tidak ada sama sekali. Jika saja juru kunci dari masalah ini tidak sedang terbaring di Rumah Sakit, Bian pasti sudah berhasil memaksa neneknya untuk mengatakan semuanya. Sayangnya, sampai sekarang wanita paruh baya itu masih di ruang ICU. Belum lagi Pak Akmal yang tidak mengizinkan Bian lapor polisi.


"Kita harus bagaimana lagi, Kak Daniel. Anak buah Kak Daniel bahkan sudah mencarinya sampai ke lubang tikus." Bian memijit pelipisnya. Pria itu benar-benar dalam kesulitan. Bahkan di sekitar matanya timbul lingkaran hitam karena dia kurang tidur.


"Tuan istirahatlah dulu. Kita lanjutkan pencarian besok pagi. Ini sudah jam sepuluh malam, Tuan. Alangkah baiknya Tuan istirahat, agar besok bisa mencari Nona Amara dengan badan yang sehat."

__ADS_1


Bian melirik tajam Daniel. "Bagaimana aku bisa istirahat dengan baik sedangkan aku tidak tau keadaan Rara, Kak?! Bagaimana perasaan Kak Daniel jika hal ini terjadi pada Kak Daniel?!" Menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Emosinya sering meledak-ledak sejak Amara hilang. Untungnya dia masih bisa mengendalikan diri. Ia masih memiliki iman untuk menahan diri dari bertindak melewati batas kebolehannya.


Daniel hanya menunduk. Semarah apapun Bian, tetapi pria itu selalu menjaga tutur bahasanya. Itu adalah nilai plus yang tidak pernah Daniel jumpai di orang lain. Walaupun dia berstatus sebagai seorang Asisten dan Bian seorang CEO. Tapi, Bian selalu menghormatinya dan memanggilnya kakak karena usianya yang lebih tua. "M.. maafkan saya, Tuan." Ucapnya kemudian setelah cukup lama terdiam.


"Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika aku gagal menemukan Rara." Ucap Bian dengan ekspresi datar. "Hah," menghela nafas berat seraya memejamkan matanya. "Kak Daniel pulanglah. Benar kata Kak Daniel, kita butuh istirahat. Kalau tubuh kita terlalu lelah, yang ada malah menjadi musibah untuk diri kita sendiri." Berbalik menatap Daniel. "Terimakasih sudah menemaniku seharian ini, Kak."


Daniel hanya menatap Bian tanpa berkata apapun. Rasa kasihan pada Bian karena masalah ini semakin menjadi.


"Kak Daniel pulanglah! Ada istri dan anak yang sedang menunggu kepulangan Kak Daniel." Menepuk pundak Daniel yang masih tertegun menatapnya.


"B.. baik, Tuan. Saya berjanji akan terus menemani Tuan untuk mencari keberadaan Nona Amara."


Bian tersenyum kaku. "Terimakasih, Kak." Bian berbalik membelakangi Daniel. Berjalan mendekati jendela dan menatap keluar rumah. Terdengar helaan nafas berat beberapa kali. Ia merasa lelah. Bukan hanya lelah fisik saja. Bian juga merasakan tekanan batin. Di sisi lain, dia kesal pada neneknya karena kehilangan Amara. Namun, di sisi lain dia juga kasihan pada wanita yang terbaring lemah dan belum sadarkan diri itu. Seburuk-buruk Bu Fatimah, wanita itu tetaplah neneknya. Bu Fatimah tetaplah ibu dari Almarhum Bapaknya.


Hah, ini adalah hari ke tujuh. Ya Allah, sudah satu minggu Rara hilang. Aku tidak tau kemana akan menumpahkan kekesalan ini. Ingin marah, tapi marah sama siapa? Apakah aku akan memarahi Nenek?


Iya, ini semua memang salah Nenek. Nenek yang terlalu ambisius dan menuntut kesempurnaan. Nenek yang selalu mengukur semua dengan harta kekayaan. Aku ingin marah, tapi aku tidak bisa melakukan itu. Aku tidak bisa menyalahkan orang yang sedang koma. Yang ada aku malah khawatir. Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada Nenek saat aku sedang memarahinya. Semua harus benar-benar dipikirkan dengan matang sebelum dilakukan.


Semoga kejadian ini menjadi pelajaran berharga untuk Nenek. Aku benar-benar tidak menyangka kalau Nenek nekat melakukan ini. Yang membuatku semakin bingung, Nenek berani menyumpahi dirinya sendiri dan Allah membayar tunai ucapannya itu. Aku sampai mencari informasi lewat beberapa anak buahnya. Tapi, tak satu pun dari orang yang aku temui mengetahui pasti keberadaan Rara. Mereka hanya ikut terlibat saat penculikan Rara. Tetapi, orang yang benar terlibat sampai Rara dibawa pergi hanya sopir yang menemani Nenek. Ya Allah, keduanya malah sedang koma di Rumah Sakit. Mudah-mudahan Allah segera menunjukkan kebenaran ini.


Aku menghempaskan tubuhku di atas sofa. Perasaan ini terasa hancur. Tidak ada lagi penyemangat hidup yang membuatku semangat bekerja. Senyuman Rara kini hanya ada dalam mimpiku saja. Ya Allah ... Rara... kamu dimana..? Apakah kamu baik-baik saja di sana..?


Aku benar-benar menyimpan rasa bersalah atas kejadian ini. Bukan hanya rasa bersalah pada diriku. Tapi, aku juga merasa bersalah pada keluarga Rara. Terutama Papa Arif. Papa merasa sangat terpukul atas kejadian ini. Andai saja aku tidak terlalu meremehkan keberanian Nenek waktu itu. Mungkin ini semua tidak akan terjadi. Ibu juga sering menangis sekarang karena memikirkan Rara. Hmm... kenapa baru sekarang aku berandai-andai setelah semuanya terjadi.

__ADS_1


Ya Allah, hanya kepadaMu tempat hamba berharap. Semoga Engkau memudahkan jalan untuk kami bisa bertemu. Ya Allah, semoga Rara adalah takdirku, walaupun aku tidak tau dimana dirinya saat ini..


________


Bian beranjak bangkit setelah lelah merenung. Duduk termenung terlalu lama tidak akan menyelesaikan masalah, pikirnya.


Pria itu keluar dari ruang kerjanya. Saat berbalik setelah menutup pintu, matanya tak sengaja menatap ke arah ibunya yang sedang duduk sendirian di ruang tamu. Bian akhirnya mendekat dan duduk di samping wanita itu.


"Kenapa Ibu belum istirahat?" Bian menggenggam erat tangan sang Ibu.


"Hmm..." Bu Santi menatap Bian seraya mengusap-usap wajahnya. "Ibu belum mengantuk, Nak. Ibu memikirkan Amara. Semoga dia baik-baik saja di sana. Semoga Nenekmu tidak bertindak berlebihan padanya. Hah, kok Ibu merasa dia tiba-tiba akan datang dan memeluk Ibu, Nak. Kamu kan tau sendiri, calon istri kamu itu sangat suka memeluk Ibu." Kembali menatap Bian dengan air mata menggenang. "Ibu merindukan Amara, Nak." Menarik tubuh putranya memeluknya dengan erat.


Bian tidak bisa berkata apapun. Tangannya terangkat membalas pelukan erat ibunya. Matanya terpejam menahan gejolak perasaan yang campur aduk.


"Aku.. aku juga merindukannya, Bu. Aku.. aku tidak akan menyerah untuk mencarinya sampai aku menemukannya. Aku pastikan Nenek akan menyesal karena berbuat seperti ini pada Rara."


"Jangan berkata begitu, Nak." Bu Santi mengusap-usap pundak Bian. "Nenekmu pasti khilaf, Nak. Maafkanlah dia. Aku yakin, nenekmu pasti menyesal melakukan itu."


Bian melengos. "Iya, Nenek memnag khilaf, Bu. Tapi, khilafnya sudah kelewatan. Dia bahkan berani menyumpahi dirinya sendiri sampai Allah..."


"Ssstt..." Bu Santi menghentikan ucapan putranya. "Jangan katakan apapun, Nak. Maafkanlah nenekmu."


Bian hanya diam. Untuk mengatakan memaafkan itu belum bisa dia lakukan. Dia sudah bertekad, kata maaf itu akan ia berikan jika Amara sudah ditemukan.

__ADS_1


********


__ADS_2