Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Perjuangan Seorang Suami


__ADS_3

Bian menggaruk-garuk kepalanya sambil mendongak di bawah pohon kelengkeng yang tidak main-main tingginya. Belum lagi pohon yang berukuran tidak biasa itu membuatnya semakin bingung bagaimana cara memanjatnya.


Berjalan mendekati pos satpam untuk menanyakan cara memanjat pohon. Seumur hidupnya dia tidak pernah memanjat pohon. Jangankan pohon besar seperti ini, yang kecil saja tidak pernah dia naiki.


"Mas, kamu mau kemana?" Amara langsung bangkit saat melihat suaminya berjalan menjauh.


"Eh," berbalik menatap istrinya. "Aku mau ke post satpam sebentar. Mau mengambil tangga agar bisa mengambilkan buah kelengkeng itu untukmu." Menunjuk ke arah pohon yang berbuah lebat. Kembali melanjutkan langkahnya.


Bian sedikit celingukan menatap post satpam. Namun, karena tidak menemukan apa yang dicarinya, dia terpaksa mendekati satpam. "Pak..." sedikit berteriak saat melihat satpam rumahnya sedang asyik membaca koran dengan headset menutupi telinganya.


Satpam itu mengangkat wajahnya dengan tatapan tajam. Namun, saat melihat tuannya yang memanggil, ia langsung berdiri sambil melepas headset di telinganya. Berjalan keluar lalu menunduk sopan di hadapan Bian. "M... maaf, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?" Tersenyum kaku pada Bian.


"Mm..dari tadi aku celingukan cari tangga, tapi aku nggak melihat ada tangga. Bapak ada tangga tidak?"


"Tangga?" Pak Satpam itu menggaruk kepalanya bingung. "Untuk apa Tuan mencari tangga?"


Bian tersenyum kaku. "Anu, Pak. Rara mau makan buah kelengkeng. Tapi, dianya mau makan buah yang itu. Dia nggak mau yang dibeli, Pak."


"Hah...?" Satpam itu menganga bingung. "Kenapa harus seperti itu, Tuan?"


"Aku juga nggak tau, Pak. Kenapa orang hamil harus menginginkan hal-hal yang aneh seperti ini. Mau langsung manjat, akunya nggak bisa. Sudah gitu pohonnya benar-benar kayak gitu lagi."


"Oh.. Nyonya hamil, Tuan.. alhamdulillah.." tersenyum sumringah mendengar cerita tuannya. "Kalau itu keinginan wanita hamil, Tuan harus segera menurutinya. Kata orang tua zaman dulu, kalau keinginan ibunya tidak tersampaikan ketika masih hamil, anaknya akan ileran nanti pas sudah keluar."


Bian melotot seraya menelan ludahnya. "Ah, Bapak ini ada-ada saja. Mana ada kayak gitu, Pak.." Melambaikan tangannya tidak percaya.


"Eh, itu sudah banyak buktinya, Tuan."


"Ah, udah ah, Pak. Bapak carikan aku tangga sekarang. Iya.. walaupun aku tidak percaya. Tapi, aku akan memenuhi keinginan istriku. Bukan karena aku takut anakku ileran nanti. Tapi, aku nggak bisa tidak mengabulkan permintaannya selama aku masih mampu memenuhi permintaannya."


"Hmmm..." Pak Satpam mulai berpikir dimana akan mendapatkan tangga. "Di sini tidak ada tangga, Tuan. Tapi, saya akan coba carikan di belakang. Mudah-mudahan Ibu ada simpanan di belakang." Bergegas ke bagian belakang rumah.


"Mas..."


Bian tersentak saat mendengar suara istrinya di belakangnya. "Loh, kok kemari. Ada apa, Sayang?"

__ADS_1


"Kamu ngomongin apa sih dengan Pak Satpam. Aku kehabisan air liur nih, karena kamu terlalu lama." Memanyunkan bibirnya karena keinginannya belum juga terpenuhi.


Bian menatap istrinya lemah. "Aku nggak bisa manjat pohon sebesar itu, Sayang. Pak Satpam sedang carikan tangga. Sabar ya.." menyentuh pundak istrinya, agar Amara mau mengerti keadaannya yang sedang kebingungan.


"Iya.. mau bagaimana lagi, Mas. Aku sih pandai naik pohon. Tapi, aku nggak mungkin manjat sendiri kan.."


"Nggak .. nggak.." Bian langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku nggak mau kamu melakukan itu sendiri. Duduk saja di sana seperti tadi. Biar aku yang berusaha nanti."


"Cepetan, Mas."


Bian mengernyit mendengar keluhan istrinya. Amara adalah orang yang penyabar. Tapi, entah apa yang membuatnya sangat ngebet ingin makan buah itu saat ini.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Pak Satpam kembali dengan menenteng tangga dengan panjang lima meter. Bu Santi mengikut di belakang Satpam itu karena tidak percaya kalau putranya diminta panjat pohon kelengkeng oleh istrinya.


"Ini tangganya, Tuan. Mau saya pasangan di pohon yang mana?"


"Mm.." Bapak saja yang pilihkan. Aku nggak tau pohon yang mana yang paling mudah di panjat."


"Nak," Bu Santi mendekati Bian dan Amara. "Ini maksudnya apa? Ibu tanya Pak Satpam, dia bilang disuruh cari tangga sama kamu."


Bu Santi menautkan alisnya. "Kamu masih untung kalau keinginannya masih mudah seperti ini. Kamu tinggal manjat aja, selesai urusannya."


"Tapi, Bu... masalahnya aku kan nggak bisa manjat. Lebih baik aku diminta untuk hitung jutaan angka akuntansi daripada menaiki pohon itu."


Bu Santi menarik nafas panjang seraya tersenyum kecil. "Itu adalah ujian kamu sebagai seorang suami. Siapa suruh kamu nggak belajar manjat dari dulu. Sudah tau dirinya laki-laki dan bakalan jadi suami. Sekarang tanggung sendiri akibatnya." Beralih meraih tangan menantunya. "Ayo, Nak. Kita tunggu suami kamu di bangku sana. Apa harus dia yang memanjat pohonnya?" Mengerjapkan matanya pada Amara agar mengiyakan ucapannya. Namun, Amara hanya diam sambil menahan senyum.


Dua wanita itu duduk di bangku panjang di bawah pohon kelengkeng yang paling besar. Mata mereka fokus ke arah Bian yang masih wanti-wanti untuk menaiki anak tangga. Peluh sudah mulai bercucuran di dahinya, walaupun perjuangan baru saja dimulai.


Melihat perjuangan suaminya membuat Amara merasa kasihan pada Bian. "Ibu.. aku nggak jadi mau makan buah kelengkeng yang itu. Kasihan Mas Bian, dia pasti keringat dingin karena tidak bisa manjat."


"Eh, nggak boleh kayak gitu dong, Nak. Dia berani buntingin kamu, itu berarti dia sudah siap dengan apapun kemungkinan yang terjadi. Permintaan kamu ini termasuk mudah, Nak. Kakak kamu dulu, dia itu ngidamnya tengah malam. Belum lagi setiap malam itu, dia selalu ditemani keluar untuk beli sate."


"Wah.." Amara tercengang mendengar cerita mertuanya. "Apa.. apa mungkin itu yang membuat Adzra tidak suka makan sate sekarang?" Tertawa kecil mengingat tampang kesal Adzra kalau disuguhkan sate di depannya.


"Dia sudah bosan dari sononya." Bu Santi menggenggam hangat tangan menantunya lalu menatap ke arah Bian yang sudah berdiri di anak tangga paling atas. "Suami kamu benar-benar berjuang, Nak. Ayo, kita masuk saja. Sepetinya dia tidak nyaman ditatap terus sama kita." Beranjak bangkit dan menarik pelan tangan Amara agar ikut bangkit.

__ADS_1


"Mas Bian sudah berhasil menggapai cabang terendahnya, Bu."


"Ayo makanya kita masuk dulu. Nanti kamu tinggal menunggu hasilnya di dalam."


Walaupun terasa berat, Amara akhirnya beranjak bangkit. Menoleh ke arah suaminya sebelum akhirnya mengikuti Bu Santi masuk ke dalam rumah.


Dua puluh menit kemudian...


Bian turun dari pohon dengan peluh bercucuran. Senyum kebahagiaan terpancar dari wajah tampannya. Berhasil membawa turun satu kresek buah kelengkeng, rasanya seperti menang lomba lari maraton. Ia melangkah gontai memasuki rumah ibunya.


"Ra, Rara... aku sudah berhasil mendapatkan buahnya untukmu. Ini..." meletakkan hasil perjuangannya di hadapan Amara dan ibunya. "Kamu mau makan di sini atau nanti di rumah?"


"Mm.. di rumah aja, Mas. Sebentar lagi masuk waktu Maghrib. Kita belum mandi kan."


"Iya udah, kalian pulang sana. Nanti Ibu ke rumah kalian untuk makan malam."


"Buahnya aku tinggal setengahnya untuk Ibu." Tangan Amara sudah masuk ke dalam kantong plastik.


"Nggak usah, Nak. Kamu saja yang makan. Itu adalah hasil perjuangan suami kamu. Kamu lihat, keringatnya sampai sebanyak itu."


Bian hanya bisa tersenyum meringis. Meraih tangan istrinya dan langsung mengajaknya pulang.


Sampai rumah..


"Kayanya kamu keringat dingin deh, Mas, pas manjat tadi. Nih, baju kami sampai basah kayak gini. Celana kamu juga basah parah, Mas." Memperhatikan bagian bawah tubuh suaminya yang memang terlihat basah melebihi batas normal orang berkeringat.


Bian tersenyum meringis. "Mm.. kalau yang di bawah.. itu bekas keringat yang di dalam tubuh ikut tersedot keluar."


"Hah, maksudnya?" Menatap suaminya dengan heran.


"Hehehe.. saking tegangnya pas manjat tadi. Aku sampai tidak sadar kalau keringat yang tersimpan di dalam kantong kemih ikut keluar."


Amara terdiam beberapa saat. Mencoba memahami maksud ucapan suaminya. "Mas..." melotot pada suaminya. "Ini.. maksudnya kamu pipis di celana, Mas..."


"Ehehehe..." menggaruk-garuk kepalanya sambil tersenyum meringis. "Iya.. mau bagaimana lagi, Sayang. Takdir sudah menggariskan itu untukku."

__ADS_1


********


__ADS_2