Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Butuh Waktu Berdua


__ADS_3

Amara di antar Bian masuk ke dalam kamarnya setelah acara sidang selesai. Namun, saat Amara akan menutup pintu kamar itu...


"Tunggu, Ra!"


Amara mengurungkan niatnya untuk menutup pintu, menatap Bian dengan heran. "Ada apa, Kak?"


"Aku.." Bian melirik Amara lalu menunduk. "Aku masih ingin ngobrol dengan kamu. Sudah lama kita tidak ada waktu untuk bicara serius atau mungkin sekedar ngobrol." Melirik jam tangannya. "Baru jam sembilan, Ra. Nggak apa-apa kan, kalau aku meminta waktumu sebentar." Menatap Amara dengan penuh harap.


"Mm.. bagiamana ya, Kak..? Aku khawatir kalau Kak Ayra tiba-tiba muncul. Yang ada Kak Bian malah berdebat lagi dengan dia."


Bian menatap ke arah belakangnya. "Insya Allah, aman kok. Aku sudah melihatnya masuk tadi ke dalam kamarnya."


"Masa sih?! Kak Bian sampai memantaunya, agar bisa ngobrol dengan aman."


Bian mengangguk kecil sambil tersenyum. Bagaimana pun juga, dia juga capek mendengar kakaknya itu ngomel karena mempermasalahkan semua gerak-geriknya yang bersangkutan dengan Amara.


Amara akhirnya duduk di sofa depan kamar itu. Gadis itu sempat heran. Di setiap kamar, pasti dilengkapi dengan satu sofa panjang di depannya.


Bian mengambil posisi di sebelah Amara. Pria itu memberi jarak sekitar dua jengkal. Takutnya saat sedang asyik ngobrol, kakaknya muncul dan merusak suasana.


"Mau ngomongin apa?" Melirik Bian lalu menatap lurus ke depan.


"Hah," Bian tersenyum seraya membuang nafasnya dengan kasar. "Aku juga nggak tau mau ngomongin apa, Ra. Tapi, aku rindu duduk berdua dengan kamu." Beralih menatap Amara. Kita baru tiga hari bersama dan kita nggak pernah ada waktu pribadi. Di Singapura, kita sibuk mengurus wanita itu. Huh, aku sampai mengorbankan hasil keringatku untuk membiayai hidupnya satu tahun ke depan."


"Kenapa Kak Bian mau sih?! Seharusnya Kak Bian menolak biar dia tau bagaimana sulitnya mencari uang. Dia itu nggak pernah kerja selama kami tinggal bersama. Makan dan minumnya di tanggung aku setelah aku masuk kerja." Amara melengos kesal. "Jika dia butuh uang, mulutnya pasti berubah manis. Padahal dia masih ada simpanan uang yang diberikan Nyonya Besar."


"Eh, udah mau nikah dengan cucunya, masih aja seneng bilang Nyonya Besar. Mulai sekarang, kamu harus bilang nenek."


Amara tersenyum kecut. "Nggak enak, Kak. Aku akan bilang Nenek kalau dia sendiri yang memintaku untuk memanggilnya begitu."


"Dasar keras kepala." Bian mengacak-acak jilbab Amara.


"Ish, jangan di acak-acak dong. Ini jilbab segi empat, Kak. Kalau berantakan, harus dibuka dulu baru bisa rapi." Berusaha memperbaiki jilbabnya karena ulah Bian.


Bian tersenyum sambil menatap wanita itu. "Ra.."


"Mm.." menjawab tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kenapa nggak pakai jilbab instan kayak Kak Ayra. Jadinya nggak ribet kalau di acak-acak kayak tadi."

__ADS_1


"Hmm.." Amara menghentikan aktivitasnya lalu menatap Bian. "Pinginnya sih kayak gitu, Kak. Tapi aku takut nggak bisa istiqomah. Kata Kak Ayra, istiqomah itu berat. Akan datang berbagai cobaan ketika kita sudah memantapkan niat untuk istiqomah."


"Di coba saja dulu. Urusan bisa istiqomah dan tidak itu urusan belakang. Aku akan selalu mendukungmu. Intinya kamu pakai jilbab, yang bisa menutup mahkota kamu. Istiqomah itu memang berat, Ra. Itulah mengapa orang yang bisa istiqomah itu sangat diutamakan."


Wajah Amara menyemburkan rona merah. Gadis itu menunduk karena merasakan kulit wajahnya memanas. Tidak mau Bian menyadari hal itu.


"Pernah dengar ini nggak, Ra?"


"Mendengarkan apa?" Melirik Bian lalu kembali menunduk.


"Tatap aku, Sayang. Kok nunduk sih.." Bian meraih kepala Amara, memaksanya untuk mengangkat wajahnya.


"Eh, jangan melakukan kontak fisik, Kak. Nanti aku laporin ke Kak Ayra, biar Kak Bian kena marah lagi."


"Jangan.. aku capek berdebat terus dengan Kak Ayra.."


"Kita juga kan belum halal. Besok kita boleh tatap-tatapan setelah halal."


Bian menahan senyum. "Sepertinya kamu tidak mau menatap aku bukan karena hal itu."


"Maksudnya apa..?" masih menunduk.


"Wajah kamu merona merah kayak gitu. Kamu terlihat malu-malu kucing bicara empat mata denganku."


"Hah," Bian membuang nafasnya dengan kasar. "Kalau mengikuti keinginan hati, aku masih mau bicara dengan kamu, Ra. Tapi, kita harus istirahat. Besok adalah hari yang akan menentukan hasil perjuangan cinta kita selama ini. Banyak cobaan yang sudah berhasil kita lewati." Bian menatap Amara. Yang di tatap masih menunduk, tidak mau menatapnya.


"Ra, tatap aku, Sayang."


"Eh, hmm.." Amara mengangkat kepalanya. "Hehehe.. maaf. Masih malu karena wajah ini tiba-tiba merona merah."


"Ahahaha.. akhirnya ngaku juga. Sudah ah, nanti kamu ngambek lagi. Sekarang kamu istirahat ya. Tidur yang nyenyak biar besok segar saat akad nikah." Tersenyum lembut menatap Amara.


"Udah, jangan tatap aku kayak gitu. Nanti wajahku memerah lagi." Amara kembali menunduk malu.


"Ih, kok aku jadi geregetan melihat kamu malu-malu kayak gini." Tangan Bian sudah terangkat, bersiap untuk menjembel pipi Amara. Namun, ia segera beristigfar dan menundukkan pandangannya. "Astagfirullah.." memejamkan matanya untuk menahan gejolak perasaannya. "Aku.. aku pergi dulu ya, Ra. Semoga acara besok berjalan dengan lancar. Dan Allah mempertemukan kita besok dalam ikatan yang halal."


"Aamiin.."


"Aku pergi, assalamu'alaikum..." Bian beranjak bangkit. Pria itu meninggalkan depan kamar itu tanpa berani berbalik lagi. Dia takut tidak bisa menahan diri dan malah kembali duduk di samping Amara.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam.." Amara menjawab dengan suara lirih. Menatap punggung Bian yang sudah berjalan menjauh.


"Serius banget, sampai tidak bisa berkedip menatapnya."


"Eh," Amara tersentak kaget dan langsung menoleh ke sumber suara. "K.. Kak Mayra.." beranjak bangkit saat melihat gadis itu.


"Ngomongin apa sama Bian? Aku lihat kamu senyum-senyum terus dari tadi." Humaira berjalan mendekat. Menghempaskan tubuhnya di atas sofa seraya melipat tangannya di dada.


Amara ikut duduk. "Kami Hanya ngobrol saja, Kak. Sudah lama kami tidak duduk bersama. Bertemu pun, baru kemarin. Hah, aku hanya heran, Kak. Perjalanan hubunganku dengan Kak Bian benar-benar rumit. Cobaan silih berganti menghampiri kami. Aku hampir-hampir putus asa, Kak. Tapi, rencana Allah memang indah. Mungkin kami memang ditakdirkan untuk bersama. Tapi, sebelum kebersamaan itu, kami harus melewati ujian yang tidak lah mudah."


"Udah..." Humaira mengusap-usap punggung Amara. "Kenangan buruk jangan diingat. Intinya kalian sudah berhasil melewati cobaan itu. " Kamu memang ditakdirkan untuk Bian. Ke depannya, semoga Allah selalu mempersatukan hati kalian. Semoga Allah selalu memberkahi setiap langkah yang kalian tempuh. Semoga Allah memberkahi rumah tangga kalian. Semoga Allah memberikan keturunan yang soleh dan solehah."


"Aamiin.. terimakasih doanya, Kak. Semoga Kak Mayra juga segera menyusul kami."


"Aamiin.." Humaira menatap sekitar. "Aku boleh nggak tidur bersama kamu malam ini?"


"Hah..?!" Amara sedikit terkejut. "Kak Mayra mau tidur dengan aku?" menunjuk dirinya sendiri.


"Iya.." jawab Humaira tanpa ragu. "Aku mau ambil kuman pernikahan dari kamu. Siapa tau ada kuman yang nyangkut di aku, terus aku bisa cepat menyusul kalian menikah."


Amara tertawa kecil mendengar ucapan Humaira. "Kak Mayra ada-ada aja. Masuk yuk..!" menarik tangan Humaira agar ikut bangkit.


Perasaan Amara langsung berubah ketika memasuki kamar. Rasa cemas itu kembali muncul menghantui pikirannya. Usai mengambil air wudhu dan membaca beberapa ayat suci Al- Qur'an, ia duduk di sisi ranjang, membelakangi Humaira yang masih sibuk dengan benda gepengnya.


"Kok masih duduk? Ayo, tidur sini. Ranjangnya masih tersisa banyak."


"Iya, Kak. Kakaknya Mayra istirahat saja duluan. Nanti aku menyusul."


"Aku biasanya tidur lewat dari jam sebelas malam. Tapi, karena besok adalah acara sakral adikku yang paling tampan, aku akan berusaha untuk tidur lebih awal malam ini. Sini, kamu tidur juga, Amara. Besok adalah hari bahagia kamu. Sangat terlihat tidak enak kalau kamu menguap karena mengantuk saat acara nanti." M menepuk-nepuk bagian ranjang yang kosong di sebelahnya.


"Aku.. aku nggak bisa tidur, Mbak. Saat di Singapura aku selalu meminum segelas jus buatan Mbak Myta sebelum tidur."


"Maksud kamu..?" Humaira menautkan alisnya heran.


"Aku ingin ke dapur untuk membuat jus. Mungkin dengan begitu aku bisa istirahat dengan baik."


"Nggak usah, Dek. Aku akan meminta bantuan Asisten untuk membuatkan kamu jus, seperti yang kamu inginkan."


"Nggak usah, Kak. Aku bisa membuatnya sendiri."

__ADS_1


Humaira mengangkat tangannya, mengisayaratkan pada Amara agar tidak melakukan protes. "Segelas jus strawberry segar. Segera antarkan ke kamar nol tiga belas." Humaira mengirim pesan suara itu lalu beralih menatap Amara. "Tunggu sebentar, mereka sedang membuatnya untukmu."


Amara hanya mengangguk kecil.


__ADS_2