Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Akhir dari Sebuah Drama


__ADS_3

Bian pulang dengan wajah lesu. Ini adalah hari kelima dia bolak-balik ke rumah Amara. Amara benar-benar tidak mau menemuinya sampai saat ini. Apakah perbuatannya waktu itu kelewatan bantas sehingga gadis itu masih enggan bicara padanya?


Bian menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu rumahnya. Telapak tangannya menutupi wajahnya yang lesu. Keadaan ini benar-benar menguji kesabaran dan kekuatannya.


Ting..!


Bian menegakkan duduknya. Ia berharap pesan itu datang dari Amara. Namun, harapan itu langsung pupus saat melihat pesan masuk itu dari Humaira.


Assalamu'alaikum, Bi. Kakak udah di Jakarta sekarang. Bagaimana dengan hadiah itu, apa Amara suka?


Bian menghela nafas berat membaca pesan itu. Ia meletakkan handphonenya karena merasa tidak perlu membalas pesan itu. Kembali menyandarkan tubuhnya di sofa dan menutup wajahnya. Hari-harinya benar-benar terasa berat.


Suara panggilan masuk di handphonenya memaksa Bian untuk mengangkat kepalanya lagi. Ia berdecak saat kakak sepupunya itu malah menghubunginya. Dengan malas, Bian meraih handphonenya dan meletakkannya asal di dekat telinganya.


"Ada apa, Kak?"


"Eh, ni anak nggak pakai salam segala."


"Huh, habisnya Kak Mayra menyebalkan. Coba saja aku tidak mengikuti saran Kak Mayra waktu itu, Rara pasti tidak akan marah sampai sekarang." Mengomel sambil memperbaiki posisi duduknya.


Humaira tertegun mendengar pengaduan adiknya. "M.. maksud kamu, Amara masih masih marah.."


"Rara belum mau bertemu denganku dan juga belum mau bicara. Jangankan memberi hadiah itu, dia bahkan menghindar dariku." Bian langsung memotong saking kesalnya.


"Astagfirullahal'adzim.. kok bisa seperti itu sih. Kakak kan cuma iseng aja bilang gitu kemarin." Humaira menggigit ujung jarinya.


Bian menautkan alisnya. "M.. memangnya Kak Mayra bilang apa sama Rara. Nggak mungkin kan dia sampai semarah itu kalau hanya gara-gara kita meninggalkannya di Bandara saja."


Humaira terdiam memikirkan bagaimana caranya mengatasi masalah ini. "Padahal aku nggak ngomong yang aneh-aneh kok kemarin. Aku hanya bilang, kamu lupa waktu karena bertemu teman wanitamu." Ucapnya setelah lama terdiam.


Bian langsung melotot. "Ya Allah, Kak. Pantas saja Ameena juga ngamuk. Kak Mayra kenapa bertindak sampai sejauh itu." Mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku nggak mau tau. Pokoknya Kak Mayra bantu jelaskan ke dia. Aku sedang banyak pikiran, Kak. Dua minggu lagi mau wisuda, setelah itu aku harus berangkat lagi ke Singapura." Bian mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Pantas saja Amara sampai semarah ini. Ternyata Humaira membuat drama seolah-olah dirinya pergi selingkuh waktu itu.


"Hmm.. Kakak harus bilang apa, Bi?" Tersenyum meringis membayangkan ekspresi kesal adiknya.

__ADS_1


"Bilang, kalau kesalah pahaman itu adalah rencana Kak Mayra. Aku sudah capek bolak-balik tetapi Rara tidak perduli sama aku. Sekarang Kak Mayra hubungi dia. Aku tunggu kabar baiknya."


Tut.. tut.. tut..


Bian langsung menghempaskan tubuhnya. Benar-benar tidak menyangka, kakak sepupunya itu sampai senekat itu mengatakan hal sebodoh itu pada Amara.


Ia mengambil kembali handphonenya. Menulis pesan pada Amara. Baru menulis beberapa Kata, Bian menghapusnya dan memilih untuk melakukan panggilan. Namun, Amara tidak menjawab karena dalam panggilan lain. Ia akhirnya menulis pesan kembali.


Ra, kamu masih di rumah atau sudah di Kost? Aku akan datang sekarang. Kita harus menyelesaikan masalah kemarin.


Terbaca tetapi tidak ada balasan. Sepertinya Amara masih melakukan panggilan sehingga tidak membalas pesannya.


Sementara itu...


Amara tidak bisa berkata apa-apa. Barusan Humaira menghubunginya dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya terjadi. Wanita itu sampai mengirimkan beberapa foto yang diambilnya saat berada di toko perhiasan.


Tapi...


Amara masih ragu dengan penjelasan itu. Mana mungkin ada Toko Perhiasan yang buka sepagi itu. Humaira juga tidak menjelaskan untuk apa mereka ke Toko Perhiasan jam segitu.


**********


Bian duduk menunggu di teras rumah Amara. Rumah itu terlihat sepi. Namun, Bian tidak berani menyimpulkan kalau rumah itu kosong. Kemarin keadaan rumah seperti ini dan ternyata penghuninya sedang mengurung diri di dalam kamar.


"Eh, Nak Bian kapan datang, Nak?"


Bian langsung mengangkat wajahnya mendengar suara itu. "Papa.." ucapnya seraya tersenyum ramah, meraih tangan Pak Arif dan menciumnya.


"Amara pergi kuliah, Nak. Tadi dia coba bawa mobil." Pak Arif menjelaskan pada Bian agar pria itu tidak merasa diabaikan lagi oleh putrinya.


"Oh, Rara sudah berani bawa mobil sendiri, Pa.." hanya itu respon Bian.


"Iya, Nak. Kemarin juga dia tidak mau belajar. Tapi, Ameena meledeknya terus." Pak Arif duduk di samping Bian. "Papa tidak bisa membantu Nak Bian mengatasi masalah kalian." Menepuk pelan pundak Bian. "Tapi, pas berangkat tadi wajah Amara terlihat lebih bersemangat. Mudah-mudahan ngambeknya cukup sampai disini." Masih menepuk-nepuk pundak Bian.

__ADS_1


"Aamiin, Pa. Bian juga berharap begitu. Salah paham ini jadi se-fatal ini gara-gara kakak sepupuku. Dia mengarang cerita pada Rara, sehingga Rara salah paham sama aku."


Pak Arif manggut-manggut. Pria itu juga merasa kasihan Pada Bian. Jika memang pria itu tidak tulus pada putrinya, tidak mungkin dia terus mendatangi rumahnya walaupun Amara tidak peduli.


"Sepertinya Amara tidak akan pulang ke rumah malam ini, Nak. Tadi Papa memberinya uang lebih karena dia bilang mau tidur di kostnya. Kalau Nak Bian mau bicara serius, Nak Bian cari saja ke Kostnya nanti. Kalau sekarang dia pasti masih kuliah karena Papa baru pulang mengantarnya. Papa khawatir, makanya membuntutinya dari belakang pakai motor."


Bian mengangguk seraya mencium tangan Pak Arif. Setelah berpamitan, Bian langsung meluncur ke Kost Amara. Dalam hatinya sudah bertekad untuk menyelesaikan masalah ini. Drama ini harus berakhir hari ini.


Sampai masuk waktu Ashar, Bian masih menunggu di depan Kost Amara. Pria itu tersenyum saat melihat Amara dan Ameena yang sedang berjalan mendekat ke arahnya. Ia meraba kotak kecil di saku jasnya. Kotak yang berisi kalung dan cincin yang dibelinya untuk Amara.


"Kenapa Kak Bian kemari?" Ameena yang menyapa. Sedangkan Amara terlihat cuek dan langsung masuk ke dalam kostnya.


"Aku datang untuk memperjelas semuanya. Aku mau minta maaf karena meninggalkan kalian di Bandara waktu itu."


Ameena melipat tangannya di dada sambil merengut kesal. "Sudah terlanjur sakit hati, Kak. Kak Bian sudah keterlaluan."


"Aku ingin bicara pada Rara, Na."


"Orangnya di dalam. Kalau Kak Bian ngomong dari sini, dia pasti mendengarnya kok."


Bian menghela nafas berat seraya menatap ke dalam kost. "Pagi itu, aku dan Kak Mayra ke Toko Perhiasan."


Ameena melengos. "Jangan ngarang cerita deh, Kak. Mana ada Toko Perhiasan buka dini hari. Kalau mau menjelaskan, berikan penjelasan yang masuk akal."


"Aku belum selesai ngomong, Na." Bian menghela nafas berat. "Kakek sudah menghubungi manager toko itu sehari sebelum kedatangan kami. Aku nggak tau kalau Kak Mayra sudah merencanakan semua itu. Aku hanya mengikuti permainannya saja. Masalah meninggalkan kalian di Bandara itu, itu juga rencana dia. Handphoneku diambilnya sehingga aku tidak bisa menghubungi kalian." Bian mengambil kotak kecil di saku jasnya.


"Na, aku ke Toko Perhiasan itu untuk membeli ini." Bian meletakkan kotak kecil itu di atas meja. "Aku bahkan tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan ini. Kak Mayra memintaku untuk membuktikan keseriusanku pada Rara. Itulah mengapa sebelum dia pulang, dia mengajakku untuk membeli ini. Aku... aku nggak tau kalau surprise yang aku persiapkan malah menjadi seperti ini. Yang seharusnya kasih surprise itu aku, tapi malah aku yang mendapat surprise dengan kemarahan Rara."


Ameena tidak bisa berkata apa-apa. Hanya matanya yang menatap kotak kecil di atas meja.


"Masalah wanita yang disebut Kak Mayra, itu tidak ada. Kami tidak bertemu siapapun selain Manager toko dan dan seorang karyawannya. Kak Mayra bilang, sebelum kasih surprise aku harus membuat Rara kesal dulu sama aku. Hah, nggak tau aja, kalau keisengan Kak Mayra malah berakhir fatal seperti ini. Maaf ya, Na." Bian beranjak bangkit. Menatap ke dalam kost seraya menarik nafas dalam.


"Rara, aku mau pulang dulu. Aku sudah menjelaskan semuanya pada Ameena. Satu yang perlu kamu tau, aku tidak pernah berkhianat. Aku sayang kamu, Ra. Assalamu'alaikum..."

__ADS_1


*********


__ADS_2