Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Hadiah Kecil dari Kakek


__ADS_3

Satu minggu kemudian...


"Sudah boleh pulang.."


"Alhamdulillah..." Bian tersenyum bahagia mendengar ucapan Dokter itu. Kata-kata yang selalu dinantinya sejak beberapa hari yang lalu.


Dokter itu tersenyum kecil. "Istri Pak Bian insya Allah, sudah sembuh total. Luka jahitannya saja sudah kering dan sembuh. Ke depannya, Pak Bian bisa menghubungi saya kalau butuh sesuatu."


"Mm... apa itu bisa, Dokter?"


"Tentu saja, Pak. Pak Akmal sudah menunjuk saya secara langsung sebagai Dokter pribadi Bu Amara. Beliau tidak mau memilih Dokter pria karena khawatir Pak Bian dan Bu Amara tidak nyaman."


"Oh," Bian akhirnya hanya bisa tersenyum. Tidak menyangka kalau kakeknya yang suka ikut campur itu memberikan yang terbaik untuk istrinya.


"Kalau begitu saya pamit dulu, Pak Bian, Bu Amara. Besok pagi saya akan datang ke rumah Pak Bian untuk memantau kondisi Bu Amara."


"Eh, iya, Dok. Terimakasih ..."


Bian duduk kembali di samping Amara. Istrinya itu terlihat gelisah dari tadi. Ingin bertanya, tapi ia segan pada Dokter muda yang sedang memeriksa keadaan Amara tadi. Ia meraih tangan Amara seraya menggenggamnya erat. "Ada apa, Ra?"


"Ng ... nggak ada apa-apa, Mas." Mengalihkan pandangannya dari suaminya. Terlihat enggan menatap suaminya.


"Kamu jangan bohong, Sayang. Apa aku ada salah lagi, atau ada hal lain yang membuatmu terlihat tidak tenang dari tadi."


"Aku ... aku hanya tidak enak, Mas. Aku merasa Kakek terlalu berlebihan." Timpal Amara dengan kepala tertunduk.


"Maksudnya," Bian memperbaiki posisi duduknya. tanpa sedikitpun melepaskan tangan istrinya.


"Aku sudah tidak merasakan sakit di bagian mana pun lagi, Mas. Sebenarnya aku juga sudah diizinkan pulang sejak tiga hari yang lalu."


"Mmm..." Bian kembali memperbaiki posisi duduknya.


"Aku dengar percakapan Kakek dengan Dokter Arini. Aku harus benar-benar sembuh total sebelum diizinkan pulang. Tapi, untuk apa Kakek meminta Dokter Arini sampai datang ke rumah untuk memantau keadaanku. Dia pasti capek, Mas."


Bian menghela nafas berat mendengar pengaduan istrinya. "Itu adalah bentuk kasih sayang Kakek pada kita, Ra. Lagian, Kakek juga memberikan upah untuknya."


"Iya, tapi..."

__ADS_1


"Sssttt..." Bian meletakkan jari telunjuknya di bibir istrinya. "Kita tidak busa menjangkau pikiran Kakek. Biarkan dia berbuat apapun yang dia mau, yang penting kita nyaman. Kamu lihat sendiri kan, kalau Kakek turun tangan, Nenek pun tidak bisa bergerak bebas seperti dulu."


Amara akhirnya hanya diam. Benar kata suaminya, kalau dia tidak bisa menjangkau pikiran kakeknya.


"Kamu istirahat saja dulu sementara Ibu datang. Aku akan membereskan semua barang-barang yang akan kita bawa pulang." Mencium dahi istrinya sekilas lalu beranjak bangkit. Menatap sekeliling kamar untuk mencari barang-barang yang perlu di bawanya kembali pulang ke rumah.


***********


"Turunnya pelan-pelan, Sayang." Bian melompat keluar dari mobil saat melihat istrinya membuka pintu mobil sendiri. Mencengkram lengannya dengan kuat karena khawatir kalau istrinya itu tidak bisa menjaga dirinya sendiri.


"Mas..." Amara menatap suaminya dengan kesal. Suaminya itu benar-benar berlebihan. "Aku akan hati-hati. Tapi ini tolong di lepas dulu." Menunjuk tangan Bian yang mencengkram lengannya. "Kamu mencengkeramnya terlalu kuat. Itu malah yang menyakitiku."


Ardian yang melihat kejadian itu tersenyum seraya menyentuh tangan istrinya. "Kok Bian jadi seperti ini ya? Perasaan dulu dia itu orangnya sangat cuek dan tidak mau perduli dengan wanita." Berbisik pelan karena takut Bian mendengarnya.


"Sstt... jangan berisik nanti dia dengar. Kamu aja dulu lebaynya minta ampun, Mas. Apa kamu lupa, kalau kamu pernah menjadi budak cinta?"


Ardian menjauhkan wajahnya seraya tersenyum kecil. "Ah, sampai sekarang pun, aku masih menjadi budak cinta Chayra Azzahra. Aku mah, semakin ke sini malah semakin tunduk pada cinta kita."


Chayra langsung menepis lengan suaminya. "Jangan ngomong kayak gitu di depan banyak orang. I don't like to hear that."


"Hehehe... mana berani aku, Sayang. Mm.. maksud aku, aku nggak akan ngomong kayak gitu pada orang lain. Aku hanya ngomong begini pada kamu saja."


Amara tidak bisa berkata apa-apa saat melihat pemandangan kamar di depan matanya. Kamarnya sudah berubah bentuk dan wujud. Ruangan pribadinya dengan Bian itu sudah di dekorasi ulang oleh suaminya menjadi kamar untuk mereka bertiga.


"K.. kapan kamu mempersiapkan semua ini, Mas?" Melirik Bian lalu kembali menatap ke arah sekelilingnya.


"Sudah dari beberapa hari yang lalu." Ikut menatap ke arah setiap sudut seperti yang dilakukan istrinya. "Ini semua saran dari Kakek, Ra." Kembali menatap istrinya. "Aku tidak bisa memikirkan hal-hal kecil seperti ini ketika kamu masih terbaring di Rumah Sakit." Melangkah dengan tatapan masih fokus pada kamar hasil rancangannya. "Kamu harus nyaman, Sayang. Merawat anak itu bukan hanya masalah tenaga. Tapi, juga menyangkut masalah waktu dan terkadang sering menguras kewarasan." Kembali menatap istrinya.


"Terimakasih untuk semuanya, Mas."


Bian menjawab dengan anggukan kecil. "Kamu istirahat dulu sekarang. Nanti malam Ibu akan datang untuk membahas masalah pemberian nama anak kita dan acara aqiqah."


"Dek... ada Kakek dan yang lain di bawah."


Amara dan Bian saling pandangan mendengar suara kakaknya. Pintu kamar itu padahal terbuka. Tapi, kakaknya tidak mau menampakkan batang hidungnya.


"Kamu istirahat saja, biar aku yang turun ke bawah menemui mereka." Membantu Amara membaringkan tubuhnya sebelum akhirnya berlalu keluar untuk menemui keluarga besarnya.

__ADS_1


Bian mendapati Chayra duduk di sofa depan kamarnya. "Kak Ayra, kenapa tidak masuk tadi?"


"Nggak enak. Kamu dan Rara sedang membicarakan sesuatu tadi. Tapi, Kakek nggak sabaran dan memintaku untuk memanggil kamu. Pusing aku, Dek." Beranjak bangkit, meraih tangan adiknya agar mereka turun bersama.


"Kakak pusing kenapa? Apa rasa capek karena jagain Rara selama di Rumah Sakit baru terasa?"


"Ish," Chayra mencubit lengan adiknya. "Nggak ada lah, capek karena hal itu. Kakak cuma pusing melihat barang bawaan Kakek di bawah."


"Hah..?" Bian mengernyit tidak mengerti.


"Nanti juga kamu akan lihat sendiri."


Bian tertegun melihat halaman rumahnya setelah mereka sampai di bawah. Beberapa orang terlihat sedang memasang alat-alat permainan yang biasa di lihatnya di Play Group. Di sana juga sudah berdiri beberapa anggota keluarga besarnya. Keempat anaknya Zidane bahkan sedang bermain di wahana yang sudah terpasang. "Kak, ini apaan..?" menatap kakaknya dengan tatapan tidak percaya.


Chayra mengangkat bahu. "Jangan tanya Kakak, Dek. Kakak juga nggak tau apa maksud Kakek dengan semua ini. Mungkin Kakek mau membuka TK karena cicitnya terlalu banyak."


"Hah, benarkah.." Bian berjalan keluar rumah untuk melihat lebih dekat apa yang terjadi.


"Eh, Bian.. Kakek bilang, kamu mau punya banyak anak, makanya mau di bukakan sekolah TK, biar nggak capek bolak balik antar." Zidane menepuk pundak Bian sambil tersenyum. Mendekatkan mulutnya ke telinga adiknya itu. "Dek, Kakek sudah terlampau sayang sama kamu, makanya sampai memasangkan wahana sebanyak ini di halaman rumah kamu. Besok-besok kalau Kakak datang berkunjung, nggak perlu lagi ke Timezone. Halaman rumah kamu sudah melebihi Timezone. Hah," menarik nafas dalam. "Sepertinya kamu harus menambsh anak lagi, Bi. Satu lusin sudah cukup untuk mengisi wahana yang terpasang di sini."


"Hus, Kak Zidane jangan ngomong ngelantur. Istriku saja belum sembuh, nggak boleh ngomongin hal itu dulu."


"Hahaha... lain kali kalau Amara hamil lagi, kamu harus jaga jarak dari calon pelakor. Hmm.. jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi."


"Aku memutuskan untuk mengusut tuntas masalah itu, Kak."


"Tidak terdengar buruk. Kalau ditindak lanjuti, setidaknya mereka akan jera dan tidak akan berani mengulanginya lagi."


"Itu juga yang aku pikirkan. Sebenarnya Kakek sempat menentang keputusanku itu. Tapi .. tiba-tiba dia bilang terserah. Ke depannya, aku hanya tidak mau mereka bertindak aemau mereka pada istriku."


Zidane tersenyum kecil. "Kayaknya dulu.kamu sering memberikan harapan palsu untuk wanita itu, makanya sekarang dia balas dendam."


"Nggak adalah, Kak." Bian melangkah lebih mendekat pada Kakeknya. Pak Akmal langsung tersenyum melihat kedatangan cucu tersayangnya.


"Kakek.."


"Jangan protes. Ini hanya hadiah kecil, Nak. Ke depannya, kalau putri kamu punya adik dan adik, mereka bisa main bersama di sini."

__ADS_1


"Hehehe..." Bian tersenyum meringis seraya menggaruk-garuk kepalanya bingung.


**********


__ADS_2