
Satu bulan kemudian...
Bian dan Amara sudah pindah ke rumah baru mereka. Mereka juga sudah kembali dari Tanah Suci melaksanakan ibadah umroh. Bahkan, Bian sudah kembali sibuk di Perusahaan barunya. Bisa dibilang dia bertambah sibuk setelah menempati tempat baru ini. Ia semakin sering pulang malam karena banyaknya pekerjaan yang menuntut untuk segera di selesaikan.
Siang itu...
Seperti biasa, Amara pergi mengantarkan makan siang untuk suaminya. Sebagian besar karyawan sudah mengenalnya di tempat itu. Hanya beberapa yang terlihat masih cuek saat dirinya melintas. Itu pun mereka akan menunduk malu saat tau siapa Amara.
Bian baru saja keluar dari ruangannya saat Amara tiba di lantai lima tempat ruangan suaminya.
"Kamu sudah sampai, Sayang." Bian memeluk dan mencium dahi istrinya. Beralih melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Aku ada pertemuan mendadak. Kamu tunggu saja di dalam ruangan. Mm.. sayangnya di sini tidak ada kamar khususnya." Bian mencoba berpikir agar istrinya aman istirahat di dalan ruangannya tanpa ada yang mengganggu.
"Mikirin apa sih, Mas?" Amara melambai-lambaikan tangannya di depan wajah suaminya.
"Mm.. kamu bisa rebahan di sofa. Kunci pintunya dari dalam biar kamu aman istirahat. Aku akan usahakan untuk segera kembali." Bian kembali mencium dahi istrinya dan segera berlalu.
Amara hanya menghela nafas berat melihat kepergian suaminya. Ada rasa kasihan karena suaminya bekerja maraton setiap hari. Masalah bulan madu pun tidak pernah di bahas lagi karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Waktu pergi umroh satu minggu kemarin pun, Bian langsung mulai bekerja keesokan harinya.
Amara langsung mengunci pintu ruangan dan memilih untuk duduk di sofa. Mengambil handphone dari dalam tasnya untuk mengusir rasa bosan karena menunggu.
Saat Amara sedang asyik berselancar dengan benda gepengnya, ada pesan masuk dari Ameena.
Mara, gue nggak tau kalau gedung kantor suami lho berada di samping Rumah Sakit tempat gue bekerja. Ini gue sedang bersama mertua lho. Gue sedang belanja di toko miliknya.
"Eh," Amara langsung menegakkan duduknya. Dia tidak terlalu memperhatikan daerah sekitar tempat ini walaupun sudah sering bolak-balik. Ia langsung menghubungi Ameena untuk memastikan.
"Hallo Amara sayang. Gue di toko Bu Santi. Lho mau bicara nggak sama dia. Mertua lho nggal lagi sibuk kok. Dia cuman sedang mengawasi karyawannya yang sedang menata barang."
"Hmm... gue nggak mau ganggu Ibu, Na. Gue sedang di kantor Kak Bian nih. Lho bisa kesini nggak?"
Eh, buset.. gue sedang kerja, Sayang. Kita cuman boleh keluar untuk mengisi perut sebentar. Kenapa nggak lho aja yang kemari? Mumpung gue masih di sini nih."
"Nggak ada suami di sini, Na. Dia sedang rapat. Gue nggak bisa minta izin untuk keluar."
"Lho bisa kirim pesan ke dia. Nanti juga pasti dibaca kalau sudah selesai."
"Hmm.. nggak bisa kayak gitu lah, Na. Sama saja artinya gue keluar tanpa izin. Nanti aja dah kita ketemu pas gue balik dari sini. Gue akan mampir ke toko Ibu."
"Ya elah.. si istri paling berbakti. Tapi nggak apalah. Nanti jam dua gue pulang. Kita bisa ngobrol bebas kalau jam kerja gue udah kelar. Gue tutup dulu ya.. mau balik kerja. Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam..." Amara tersenyum menatap layar handphonenya. Dia belum sempat bertemu dengan Ameena sejak pindah rumah. Ameena selalu sibuk kerja sehingga dia tidak bisa saling mengunjungi.
__ADS_1
*********
Malam itu....
Bian menyambut uluran tangan istrinya usai mendirikan shalat Isya. Hari ini dia pulang cepat karena tidak ada pekerjaan yang membuatnya harus lembur.
"Ambil Al-Qur'an, Sayang. Sudah beberapa hari ini aku nggak pernah menyimak bacaan kamu."
"Iya, Mas." Amara beranjak bangkit. Mengambil Al-Qur'an terjemahan agar suaminya tidak khilaf saat mencubit hidungnya saat menyimaknya nanti.
Lima belas menit Bian menyimak bacaan istrinya. Setelah itu, ia merebahkan kepalanya di atas pangkuan Amara.
"Aku capek, Ra." Memeluk perut istrinya. Amara tersenyum lembut sambil mengusap-usap kepala suaminya. "Namanya juga kerja, Mas.. pasti capek. Tidur terlalu lama aja lelah, apalagi kerja."
Bian tersenyum lemah. "Ini sudah ada isinya apa belum?" Mengendus-endus wajahnya di perut istrinya yang masih datar.
"Hmm... aku nggak berani berharap, Mas. Takutnya gagal dan aku kecewa sendiri."
Bian menautkan alisnya, mendongak menatap istrinya. "Memangnya kamu pernah mencoba mengetesnya?"
Amara menatap suaminya dengan sendu. "Udah dua kali, Mas. Saat kita masih tinggal di rumah Kakek. Sekarang sudah telat satu bulan. Tapi, aku nggak mau mencoba lagi. Kemarin pas di tes aja, aku nggak datang bulan selama dua bulan. Tapi hasilnya malah mengecewakan. Lagian juga nggak ada tanda-tandanya kalau aku hamil. Orang hamil biasanya akan merasakan gejala kan."
"Iya, Mas." Jawab Amara lemah.
"Aku mau keluar sebentar, Ra. Aku mau buat teh hangat."
"Biar aku yang buatkan, Mas." Amara segera beranjak bangkit. Tidak mau membiarkan suaminya melakukan hal itu sendiri. "Mas Bian istirahat saja." Segera keluar untuk membuatkan suaminya segelas teh.
Bian mengusap wajahnya dengan kasar setelah istrinya keluar. Sebenarnya dia tidak ingin minum teh. Tapi, dia hanya ingin menghindar karena merasa bersalah mempertanyakan masalah kehamilan pada Amara. Raut wajah Amara langsung berubah saat dia bertanya tadi. Entah kenapa istrinya sangat sensitif dengan hal itu.
Bian mendekati meja rias istrinya yang terlihat sangat rapi. Istrinya itu memang cinta kebersihan. Walaupun dia menyediakan dua asisten rumah untuknya, Amara sering kali membantu asistennya agar rumahnya cepat terlihat rapi.
Sampai saat ini Amara tidak pernah lagi membahas masalah pekerjaan. Bian tau, kalau ibu dan kakaknya tidak setuju melihat Amara pergi bekerja. Sepertinya, istrinya sudah mendapatkan nasehat yang panjang lebar dari ibu dan kakaknya, sehingga dia tidak pernah lagi membahas hal itu.
Bian memicingkan mata saat melihat sesuatu yang tersusun rapi diantara masker wajah milik istrinya. Dengan ragu, ia meraih benda itu. Ia menarik sudut bibirnya saat mengetahui benda apa itu. Tes pack dengan berbagai merek dan harga yang bervariasi. Sejak kapan istrinya suka mengoleksi benda itu. Entahlah..
Sebenarnya Bian juga mengharapkan kehadiran seorang anak. Tapi, dia tidak terlalu menonjolkan hal itu di depan istrinya. Saat mereka tes kesuburan waktu itu, merka berdua baik-baik saja. Namun, pengaruh obat yang dikonsumsi Amara sebelum ini yang membuat istrinya agak lambat bisa hamil.
"Ini tehnya, Mas."
"Eh," Bian tersentak kaget. Segera meletakkan kembali tes pack yang diambilnya tadi. Menggantinya dengan masker wajah agar istrinya tidak curiga.
__ADS_1
"Mas Bian mau maskeran, kenapa memegang masker itu?" Amara berjalan mendekat.
"Mm.. iya nih, kayaknya wajahku kusam karena kurang perawatan. Kamu mau bantu maskerin aku kan?"
"Boleh, mau masker yang mana?" Mengambil masker yang dipegang suaminya. "Yakin mau pakai yang macha, Mas. Nggak mau yang jeruk aja. Muka Mas Bian kan kusam. Kalau mau terlihat lebih segar, pakai yang jeruk aja ya.." mengganti dengan yang berwarna orange.
"Terserah kamu, Sayang. Aku tadi cuman asal pilih saja. Aku tidak terlalu paham dengan yang begituan."
"Tunggu sebentar di sini, aku mau ambil air." Amara membawa masker berwarna orange. Bian langsung menarik nafas lega. Untungnya dia berhasil mengalihkan perhatian istrinya. Bukannya apa. Tapi, dia hanya tidak mau membuat istrinya semakin mengkhawatirkan masalah kehamilan.
Acara masker-maskeran akhirnya berhasil membuat Amara sibuk sendiri merawat wajah suaminya. "Kayaknya aku mau berubah profesi, Mas."
"Maksudnya...?" Bian berkata kaku karena takut merusak masker yang sudah menempel dan akan segera kering.
"Aku kan seorang Perawat. Aku berubah saja menjadi Perawat yang bertugas merawat wajah Mas Bian biar semakin glowing."
"Boleh.. mau digaji berapa perbulan?" Masih kaku. Hal itu membuat Amara tertawa renyah karena suaminya tidak berani menggerakkan bibirnya untuk bicara bebas. "Kamu terlihat lucu, Mas. Hahaha... kayak robot kekurangan energi."
"Makanya kapan boleh dibuka? Aku juga capek nahennya. Aku beneran kekurangan energi nih."
"Maksudnya...?" Amara lebih mendekat pada suaminya.
"Nanti aku jelaskan. Ini kapan bisa di buka?"
Amara melirik jam di handphonenya. "Oke, time is enough. Sudah bisa dibersihkan sekarang."
Bian tersenyum sumringah setelah Amara selesai membersihkan wajahnya. " Waktunya isi energi sekarang." Menarik tubuh istrinya sampai menempel padanya.
"Mas Bian mau makan lagi? Ayo aku bantu siapkan."
Bian langsung membuang nafasnya dengan kasar. "Hadeh, kok kamu nggak paham sih, Ra." Bian melengos. "Yang kekurangan energi itu perut bawah, Sayang. Bukan perut yang mengandung lambung."
Amara langsung melotot. "Jadi maksud kamu..."
"Iya, kita ikhtiar lagi malam ini."
Amara mendengus. "Ikhtiarnya belum membuahkan hasil."
"Ikhtiarnya sering-sering makanya. Masalah berhasil atau tidak, itu urusan belakang."
*******
__ADS_1