
Amara mendekati suaminya yang masih bersantai walaupun waktu sudah menunjukkan jam delapan lewat. "Kamu nggak jadi ke kantor, Mas? Semalam kamu bilang mau mulai kerja hari ini."
"Ada tamu yang mau datang hari ini, Ra." Timpal Bian tanpa menatap istrinya. Dia masih sibuk menulis sesuatu di benda gepeng di tangannya.
"Tamu penting kah, sampai kamu harus bolos kerja segala.."
Bian mengangkat bahu. Meletakkan handphonenya lalu menatap ke arah istrinya. "Tamunya nggak penting, Sayang. Cuman, mereka memaksakan kehendak untuk datang pagi ini." Tidak
"Mm.." Amara manggut-manggut mendengar penjelasan suaminya. "Apa hal itu yang membuat Pak Daniel datang tadi pagi?"
Bian menghela nafas berat. "Iya," jawabnya dengan malas. Tersenyum saat melihat Amara mendekatinya dengan membawa putrinya. Ia langsung mengangkat tangannya untuk mengambil putrinya dari gendongan istrinya. "Adreena Sayang.. kenapa nggak bilang kalau datang mencari papa?"
"Papanya terlalu sibuk main hp." Amara yang menimpali. "Padahal anaknya datang membawa tangis tadi." Menyebikkan bibirnya kesal.
Bian terdiam beberapa saat sambil menatap istrinya. "Tadi cuman balas chat dari teman, Sayang. Dia bilang mau bergabung di Perusahaan."
Mendengar kata berbalas chat membuat Amara langsung fokus ke arah suaminya. "Teman siapa? Cewek apa cowok?" Menatap suaminya dengan tajam.
"Eh," Bian memperbaiki posisi duduknya karena terkejut mendengar nada bicara istrinya. "Ni orang main curigaan aja. Ini teman aku yang dulu itu, Ra, si Boby. Masih ingat nggak sama dia? Dia yang sering main ke Apartemen dulu."
"Oh," Amara menahan senyum. "Jelas aku ingat lah, Mas. Aku kan cuman nanya aja." Mengalihkan pandangannya tetapi melirik ke arah suaminya yang sedang mengendus-endus pipinya di pipi Adreena.
"Aku nggak berminat sama sekali untuk main serong, Sayang. Kalau ada teman perempuan yang mau bergabung, aku pasti lapor dulu sama Ibu Bos. Aku nggak mau kejadian kemarin terulang kembali. Kirain aku nggak takut, melihat kondisi kamu yang drop kayak kemarin. Aku benar-benar tidak bisa membolak balik perasaanku waktu itu. Aku berharap, kejadian kemarin itu tidak akan pernah terulang lagi. Ngeri kalau mengingatnya lagi." Bian menyerahkan kembali Adreena pada Amara. "Adreena Nggak bisa diam. Kayaknya dia lapar, Sayang."
Amara mengambil alih putrinya sambil tersenyum. "Mau bobok pagi dia, Mas. Udah satu bulan, kamu belum hafal kebiasaan anak kamu."
"Hmm... masih menyesuaikan dengan keadaan. Yang wajib hafal kebiasaan anak itu mamanya dulu. Kalau papa biasanya tidak terlalu dibutuhkan saat usianya masih segini. Yang nggak boleh hilang itu kamu, Sayang."
"Huh," Amara mendengus. "Salah itu, Mas. Tapi, iya.. iya.. kamu selalu..."
Tok.. tok.. tok..
__ADS_1
Bian dan Amara saling pandang saat pintu kamarnya di ketuk.
"Tuan, Nyonya, ada tamu di bawah." Terdengar suara Sumi dari balik pintu.
"Kamu turun duluan, Mas. Nanti aku nyusul kalau Adreena sudah bobok."
"Nggak turun juga nggak apa-apa, Ra. Aku malah menyarankan kamu untuk diam saja di kamar. Ini tamunya agak aneh orangnya."
Amara menautkan alisnya seraya menatap suaminya dengan heran. "Tamunya siapa sih, Mas?"
"Mm.. itu.. siapa namanya.. papanya Ibu Khanza yang terhormat. Tapi, aku takut dia menyakiti kamu dengan ucapannya nanti. Kamu diam saja di kamar. Kalau dia mencari kamu nanti.." Bian terdiam, melirik istrinya yang sedang menunggu jawabannya. "Aku akan mencari alasan agar kamu tidak perlu menemuinya."
Amara menghela nafas berat. "Terserah kamu aja, Mas." Kembali fokus pada anaknya yang sedang menyusu dengan kuat.
Bian tersenyum lemah. Dia hanya khawatir kalau Edward mengeluarkan ucapan yang tidak pantas seperti yang dilakukannya pada Daniel pagi tadi. Ia memilih untuk segera menemui Edward, agar masalah cepat selesai.
***********
Hampir setengah jam Bian duduk di depan Edward. Ia mulai kesal karena pria itu memohon, tetapi terkesan seperti memaksakan kehendak. Ia terus-terusan meminta Bian untuk mencabut laporannya pada putrinya. Tapi, dia tidak mengizinkan Bian bicara sama sekali.
"Cukup, Pak Edward!" Bian beranjak bangkit karena kesal. "Dari tadi saya hanya mendengarkan keluh kesah anda. Anda sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasan yang ingin saya sampaikan."
"Pak Bian..."
"Tadi pagi, saya dengar sendiri, anda menghubungi Kak Daniel sampai mengganggu istirahatnya, memintanya untuk memberitahukan kalau anda mau datang minta maaf. Tapi, saat saya sudah keluar menemui anda, apa yang saya dengar sekarang. Ini bukan permohonan maaf, Pak. Anda terkesan seperti memaksa saya untuk membebaskan putri anda."
"Saya kasihan pada putri saya, Pak Bian."
"Terlepas anda kasihan atau tidak, dia sudah mencurangi saya. Tidak ada orang tua yang tidak sayang pada anaknya. Saya pun, mungkin akan menyesali hal ini, jika saya adalah ayahnya Nona Khanza. Tapi, seandainya saya yang menjadi Pak Edward, saya akan membiarkan putri saya merasakan akibat dari perbuatannya."
"Saya akan ganti handphone Pak Bian dengan yang baru. Saya bahkan akan membelikan handphone yang lebih mahal dari yang di rusak putri saya itu, Pak. Saya hanya mau, Pak Bian mencabut laporan itu, agar putri saya bisa bebas."
__ADS_1
"Tidak, Pak. Kalau saya mempermasalahkan handphone yang di ambilnya itu, dari dulu kita sudah berdamai. Tapi, saya menghukum putri Pak Edward karena kelakuan tidak terpujinya itu."
"Khanza sudah minta maaf secara pribadi pada Pak Akmal. Apakah permintaan maafnya tidak dianggap sama sekali?"
"Dia bersalah pada siapa dan minta maaf pada siapa?" Bian menatap Pak Edward dengan tajam. Dia benar-benar kesal karena orang ini terlalu egois dan tidak memikirkan masalah orang lain. "Putri Pak Edward meneror istri saya sampai istri saya koma, Pak. Seharusnya putri Bapak minta maaf pada istri saya."
"Saya yang akan mewakilkan permintaan maafnya sekarang, Pak Bian."
"Tidak perlu." Bian mengangkat tangannya. "Saya sedang sibuk, Pak. Kalau ada yang perlu Pak Edward sampaikan lagi, Pak Edward bisa menghubungi Kak Daniel. Saya permisi, assalamu'alaikum.."
"Pak Bian.. Pak Bian.. saya belum selesai ngomong, Pak."
Bian tidak menghiraukan teriakan Edward. Kalau terus-terusan berdebat dengan Pria paruh baya itu, dia khawatir tidak bisa mengontrol emosinya dan terjadi hal yang tidak diinginkan.
Amara yang melihat suaminya masuk ke kamar dengan wajah di tekuk, mendekat dengan heran. "Ada apa, Mas?" Menepuk pelan pundak suaminya.
"Hah," membuang nafas dengan kasar. "Emosiku hampir meledak, Ra. Pak Edward benar-benar egois. Pantas saja Kak Daniel menolak untuk datang dan lebih memilih untuk ke Kantor daripada harus berhadapan dengannya."
"Memangnya dia ngomong apa?"
"Hah, sudahlah, Ra. Aku nggak ada nafsu untuk mengingatnya lagi. Aku mau duha dulu biar lebih tenang." Menarik pelan tubuh istrinya sampai Amara duduk di sampingnya. Menangkup pipi istrinya dan menatap matanya dalam. "Aku nggak mau ada orang yang menyakitimu lagi, Sayang. Cukup sekali dan takkan pernah terulang lagi."
"Mas.." Amara menahan tangan Bian yang masih menangkup pipinya. "Jangan merasa bersalah gitu, Mas. Aku baik-baik saja sekarang."
Bian menurunkan tangannya seraya merubah posisi duduknya. "Keadaan kamu waktu itu selalu menjadi mimpi buruk dalam tidurku."
"Maafkanlah mereka, Mas. Perasaan kamu pasti lebih tenang kalau kamu memaafkan mereka. Kamu terus terbayang seperti ini karena kamu menyimpan dendam untuk mereka."
Bian melirik ke arah handphonenya saat benda gepeng itu tiba-tiba berbunyi nyaring. Memicingkan matanya melihat nama kakeknya yang terpampang di layar handphonenya. Ia menyerahkan handphone itu pada Amara. "Kamu yang jawab. Aku mau ambil air wudhu." Berlalu dari hadapan istrinya tanpa menunggu persetujuan.
"Aku harus bilang apa, Mas?"
__ADS_1
"Terserah kamu. Kalau Kakek bertanya, bilang saja aku sedang di kamar mandi. Setelah dari kamar mandi, aku mau langsung shalat dan tidak mau diganggu dengan apapun." Menutup pintu kamar mandi. Menyerahkan semuanya pada Amara. Kakeknya pasti mau menanyakan tentang kedatangan Edward. Dia benar-benar muak dengan hal itu dan lebih memilih untuk menghindar saja.
*************