
Bian menarik nafas dalam ketika berjumpa dengan lampu merah lagi. Nasibnya sedang malang kali ini. Sudah tiga kali selama perjalanan menuju kost Amara, perjalanannya harus di jeda oleh lampu merah.
"Ya Allah, kenapa lampu merah lagi?" Bian mengusap wajahnya dengan kasar. Terus beristighfar sambil menunggu lampu hijau lagi. Waktu menunjukkan pukul dua belas lewat dua puluh menit. Dia baru setengah perjalanan, tapi sudah menghabiskan waktu dua puluh menit. "Huh, kayaknya aku hanya bisa makan di sana lalu langsung pulang." Ucapnya seraya menghela nafas berat. Ia meraih handphonenya. Takutnya Amara khawatir dan mengira dirinya tidak jadi datang ke tempat gadis itu.
"Assalamu'alaikum, Ra. Aku udah di jalan. Tunggu aku, sebentar lagi aku sampai." Langsung mematikan sambungan telepon karena lampu sudah hijau kembali.
Amara menautkan alisnya sambil menatap layar handphonenya. "Maksud Kak Bian apa sih?" Ucapnya dengan bingung.
"Ada apa, Mara?" Ameena mendekati Amara seraya duduk di samping temannya itu. "Jangan bilang kalau Kak Bian nggak jadi datang kesini karena sibuk."
"Ck.. lho apa-apaan sih?!" Amara memukul pelan paha Amara. "Kak Bian bilang dia udah di jalan dan sebentar lagi sampai. Tapi, dia terdengar buru-buru tadi. Makanya aku heran, kenapa coba nelpon kalau memang lagi buru-buru." Menghela nafas berat.
Ameena menatap Amara sambil tersenyum. "Itu pertanda dia khawatir, Mara. Dia takut kalau lho mengiranya tidak datang." Sambil mengusap-usap wajah Amara.
"Apaan sih, Na?!" Memindahkan tangan Ameena dari pipinya. "Kalau gue sih nggak maksa. Bisa datang, alhamdulillah. Kalau nggak datang juga gue nggak bisa ngomong apa-apa. Dia kan memang sedang sangat sibuk akhir-akhir ini. Jangan sampai karena memaksakan diri untuk datang, kewajiban yang harus dipenuhi jadi terbengkalai."
"Kak Bian itu bertanggung jawab orangnya, Mara. Dia tidak akan mengorbankan suatu kewajiban hanya untuk melakukan sesuatu yang bisa dilakukan nanti dulu. Seandainya dia tidak datang hari ini, pasti ada rasa kecewa yang bakalan lho rasain. Tapi, sebenarnya lho itu termasuk tipe orang yang pandai menyembunyikan perasaan. Gue tau, hati lho mungkin udah berjingkat senang karena Kak Bian akan datang menemui lho. Tapi, kalau dilihat dari luar, tampang lho biasa-biasa aja."
Amara menarik sudut bibirnya mendengar analisa temannya. "Udah ah, lho terlalu cerewet jadi orang. Gue mau ganti baju dulu." Beranjak bangkit meninggalkan Ameena.
"Lho mau berpenampilan kayak gitu juga, Kak Bian akan tetap mencintai lho. Yang namanya cinta itu, tidak akan melihat tampang dan penampilan."
Amara membuang nafas dengan kasar seraya berbalik. "Cinta memang tidak memandang rupa, Na. Tapi masa iya gue mau ketemuan pakai mukena kayak gini." Amara melengos seraya meninggalkan Ameena. Ameena hanya cekikikan menanggapi. Mereka memang baru selesai melaksanakan shalat Zuhur. Tapi, Amara membuka kitab suci Al-Qur'an usai shalat tadi. Bacaannya memang belum baik. Tapi, dia berniat untuk mengasah lidahnya agar tidak kaku lagi.
Lima belas menit kemudian, Bian sampai di lokasi Kost Amara. Sebelum keluar dari mobilnya, ia menatap ke arah Pos jaga. Hanya bisa berdoa, semoga bukan Satpam menyebalkan yang jaga hari ini. Mengeluarkan handphone dari sakunya untuk menghubungi Amara kembali.
"Assalamu'alaikum, Rara. Aku udah di depan. Satpamnya nggak ada nih. Bagaimana aku mau masuk?"
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, Kak. Aku ke sana sekarang."
Tut.. tut.. tut..
Bian tersenyum seraya memasukkan kembali handphonenya. Ia kembali menatap ke Pos Satpam. Senyumnya mengembang saat melihat sudah ada Satpam yang duduk di sana. Tapi, yang membuatnya bisa bernafas lega adalah, Satpamnya bukan Satpam menyebalkan.
Lamunannya buyar saat menyadari pintu mobilnya diketuk dari luar.
"Kak Bian tidur ya?" Amara menatap Bian dengan heran. "Dari tadi perasaan tingkah Kak Bian aneh terus," ucapnya pelan hampir tak terdengar.
"Kamu ngomong apa sih, Ra. Hehe.." Bian cengar-cengir salah tingkah. Sebenarnya ia mendengarkan ucapan Amara, tetapi ia sengaja bertanya karena suara gadis itu sangat kecil. "Mm.. kita makan bersama ya, Ra. Aku lapar banget."
Amara hanya menjawab dengan anggukan kepala. Membantu Bian membawa kantong plastik yang dikeluarkannya dari dalam mobil.
"Ini ... Kak Bian bawa apa sih, sampai sebanyak ini?" Amara mencoba melihat isi kantong plastik.
"Heh, masuk aja, Kak. Lagian ini kan siang hari. Yang dilarang itu kalau malam hari. Ayo," Amara menarik lengan baju Bian.
"Eh, kamu ini..."
"Kenapa..?" Amara berbalik menatap Bian sambil menahan senyum. Walaupun jantungnya terasa mau copot karena menahan gejolak perasaannya. Tapi ia berusaha bersikap normal. Aura laki-laki di belakangnya ini benar-benar kuat.
"Nggak ada. Aku cuman sayang kamu." Jawab Bian dengan ekspresi datar seraya menatap ke sembarang arah.
Blush..!
Pipi Amara langsung menyemburkan rona merah. Bian hanya melirik lalu kembali menatap ke lain arah. Tapi, kali ini dia menahan senyum karena menikmati ekspresi Amara.
__ADS_1
Amara meremas lengan baju Bian yang tadi ditariknya. Hal itu membuat Bian meringis karena kulitnya ikut terjepit. "Aw.. Ra ... kamu kenapa cubit aku? Aku ..."
"Eh, m.. maaf, Kak.. maaf.." Spontan Amara melepaskan tangannya. Akhirnya mereka melanjutkan langkahnya tanpa ada percakapan lagi. Mereka diam menikmati perasaan berbunga-bunga yang semakin menjadi-jadi.
"Kalian kenapa lama sekali sih?" Ameena bersungut kesal saat melihat kedatangan Bian dan Amara.
Bian tidak menjawab. Dia malah nyelonong masuk ke ruang tamu dalam kost, untuk meletakkan dua kantong besar yang dibawanya. "Yang kamu bawa, tinggalkan saja di luar, Ra. Itu makan siang kita." Ucapnya saat sudah kembali keluar.
"Mm.. Kak Bian yakin, nggak mau makan di dalam? Di luar banyak godaan loh. Jangan sampai Amara meminta Kakak menutup mata nantinya. Soalnya disini itu banyak cewek cantiknya. Yang lebih cantik dari Amara juga banyak. Yang pakai cadar juga banyak." Ameena bercerita dengan semangat.
Bian tersenyum seraya mendudukkan tubuhnya di kursi panjang. "Duduk sini, Ra." Menepuk tempat kosong di sebelahnya agar Amara duduk di sana. "Aku nggak perduli. Mau ceweknya berapapun, intinya cuman ada Rara di hatiku. Kami sudah berjanji untuk saling menjaga perasaan masing-masing. Menjaga itu memiliki arti yang luas dalam hubungan kami. Bukan hanya menjaga hati, tetapi kami juga harus menjaga mata dari melihat yang lebih sempurna, menjaga telinga dari mendengar yang lebih baik darinya, menjaga lisan untuk tidak saling menyakiti." Bian menjelaskan sambil menatap tajam Ameena. "Jangan bahas yang lain dulu. Perut butuh diisi karena capek dari pagi." Bian mengakhiri ucapannya sambil membuka kantong pembungkus tiga porsi makanan yang dibawanya. Menyodorkan satu porsi pada Ameena sedangkan yang satunya dia simpan. "Ra, kita makan sepiring berdua. Nanti kalau mau nambah, kita buka yang satu porsi lagi.
Ameena hanya melongo mendengar penjelasan Bian. Menelan ludahnya mendengar Bian yang mengatakan akan makan sepiring berdua dengan Amara. Dalam hatinya, ia bertepuk tangan kagum karena ucapan Bian itu terdengar sangat bermakna. Seumur hidupnya, dia tidak pernah mendapatkan kata-kata seperti itu dari kekasihnya. Seumuran hidupnya juga, tidak pernah ada laki-laki yang mengajaknya makan sepiring berdua.
Sedangkan Amara, gadis itu hanya menunduk. Tidak bisa mengatakan apapun, karena ucapan Bian benar-benar menyentuh jiwanya. Mereka menikmati makan siang tanpa ada yang membuka percakapan.
Bian melirik jam tangannya setelah selesai makan. "Ra, sepertinya aku akan kembali ke Kampus sekarang." Menatap Amara yang masih menikmati makanannya.
Amara berhenti mengunyah makanannya, beralih menatap Bian. "I.. iya, Kak. Tunggu sebentar, aku mau menghabiskan makananku dulu, biar aku bisa mengantar Kak Bian."
"Iya," timpal Bian sambil tersenyum. "Mm.. Ra," memanggil dengan hati-hati.
Amara kembali menatap Bian. "Iya, Kak.."
"Ibu titip salam sama kamu. Kamu diminta untuk datang ke rumah. Ibu rindu masak bareng kamu." Bian menarik nafas dalam. "Kalau kamu mau, aku mau membawa kamu sekarang." Melirik Amara menunggu jawaban gadis itu.
********
__ADS_1