
Bu Santi memasukkan kembali handphonenya ke dalam tas setelah selesai membalas pesan putranya.
"Sepertinya Mas Bian sudah menemukan tes pack itu, Bu." Ucap Amara tiba-tiba tanpa menatap mertuanya. Tatapan matanya terlihat kosong karena masih memikirkan masalah semalam.
"Aku berniat memberikan kejutan untuknya, Bu." Menatap Bu Santi seraya tersenyum lemah. Air mata mulai berjatuhan tanpa diminta.
"Sudah, Nak. Jangan dipikirkan terus. Kalau kamu terus memikirkan masalah semalam, perasaan kamu tidak akan pernah bisa baik-baik saja. Kamu akan terus merasa terpuruk. Itulah penyebabnya, kenapa kita dilarang bergantung kepada sesama makhluk. Jangan terlalu dipikirkan. Bian juga sudah menyadari kesalahannya." Menyandarkan tubuh Amara pada tubuhnya.
"Aku hanya tidak menyangka, Bu."
"Sudah, jangan di bahas lagi. Kalau kamu bosan, nanti Ibu ajak kamu ikut ke Toko. Kamu bisa bertemu Ameena di sana. Setiap hari Ameena selalu datang ke Toko."
Amara mengangguk-angguk seraya mengusap air matanya. Mudah-mudahan dengan bertemu sahabatnya itu, perasaan sedihnya bisa berkurang.
Tepat setelah itu, nama Amara Andini di panggil Dokter. Bu Santi langsung memapah Amara masuk ke ruang periksa.
Sementara itu...
Bian terus memperhatikan lalu lalang orang yang keluar masuk dari Klinik. Pria itu bisa melihat kalau mobil istrinya masih terparkir di sana, yang menandakan kalau Amara dan ibunya masih berada di tempat itu.
Menjelang siang, barulah Bu Santi mengajak Amara kembali. Namun, Bu Santi tidak mengajak Amara pulang ke rumah, melainkan mengajaknya ke toko miliknya. Ia harus bisa membuat Amara benar-benar melupakan kejadian itu sementara waktu, agar tidak menangis terus-menerus.
Namun....
Diam-diam, Bian mengikuti kendaraan yang dibawa ibunya dari belakang. Dia sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak menghampiri istrinya. Sebenarnya, dia pun ingin marah karena Amara menyembunyikan masalah kehamilannya. Jika pun Amara mengatakan semuanya dari awal, kejadian semalam pasti bisa dihindari.
Bian POV...
Aku melajukan mobilku dengan pelan mengikuti mobil Ibu. Ffuuhh.. kenapa hari ini terasa begitu panjang. Rara benar-benar mengabaikan keberadaan ku. Tadi aku melihatnya menatap ke arah mobilku sebelum Ibu memintanya untuk masuk. Apakah wanita akan selalu seperti ini kalau sedang marah?
Ya Allah.. baru beberapa jam istriku mengabaikan ku, aku sudah seperti ini. Bagaimana kalau Rara seperti ini sampai berhari-hari? Hah, aku tidak berani memikirkan yang macam-macam. Sepertinya aku akan mogok kerja karena khawatir tidak bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
Aku hanya bisa mengernyit saat Ibu membelokkan kendaraannya. Apa maksud Ibu? Untuk apa dia membawa Rara ke toko saat keadaannya sedang tidak baik-baik saja seperti ini.
Aku tetap diam di dalam mobil saat Ibu sudah memarkiran mobilnya dan membawa Rara masuk. Huh, Rara menutup kepalanya dengan jaket tebal miliknya. Terlihat sangat lucu, dia memakai jaket tebal saat cuaca sedang sangat panas.
Aku keluar dari mobil setelah merasa semua aman. Memilih untuk masuk ke dalam toko dan mencari tau apa yang terjadi. Aku mengintip ke dalam ruang kerja Ibu. Ah, ternyata Ibu sedang fokus menatap komputer. Kemana istriku? Kenapa dia tidak bersama Ibu saat ini.
"Jangan mengendap-endap seperti maling. Masuk dan duduk baik-baik di depan Ibu."
__ADS_1
Ucapan Ibu membuatku terperanjat kaget. Aku langsung masuk dan duduk di hadapannya.
Aku langsung mendapatkan tatapan tidak bersahabat dari Ibu. "Kenapa kamu mengikuti Ibu? Ibu sudah bilang sama kamu, jangan ganggu istri kamu saat ini. Amara membenci kamu, Nak."
Aku melengos mendengar ucapan Ibu. Istriku yang begitu mencintaiku. Bagaimana bisa Ibu mengatakan Rara membenciku. "Rara tidak membenciku, Bu. Dia cuman kesal karena aku salah semalam." Jawab ku santai. Ibu tau kalau aku sangat keras kepala dan tidak akan mudah menyerah kalau sudah menginginkan sesuatu.
"Apa yang kamu inginkan sekarang? Jangan berharap terlalu banyak karena Ibu takut kamu kecewa." Ibu terus menatapku dengan tatapannya yang aneh itu.
________
Brak..!
"Katakan mau kamu apa. Ibu harus menyelesaikan pekerjaaan Ibu. Kamu kira Ibu duduk di sini, hanya sekedar menatap benda datar itu tanpa harus menyelesaikan sesuatu?" Bu Santi akhirnya bersikap tegas karena Bian tak kunjung bicara.
Bian melirik ibunya. "Aku mau bicara dengan Rara, Bu."
Bu Santi menghela nafas berat. Sepertinya putranya itu tidak akan mau menyerah sebelum Amara sendiri yang menolak keberadaannya. "Dia sedang istirahat di lantai dua. Kamu tau kan caranya menghadapi orang yang sedang marah?"
Bian mengangguk ragu. "I.. insya Allah, Bian ingat, Bu."
"Huh, jawaban kamu meragukan." Mendengus seraya membuang pandangannya dari Bian. "Minta maaf itu yang paling utama. Jangan memotong ucapannya dan tetap mengaku salah." Menjelaskan dengan berapi-api tanpa mengedipkan matanya.
"I.. iya, Bu."
"Iya, Bu." Bian beranjak bangkit seraya menarik nafas dalam. Ibunya tidak mungkin mempersulit hubungannya dengan Amara. Terlihat jelas kalau Bu Santi juga tidak suka dengan rumah tangga putranya yang seperti ini. Apalagi mengingat kalau mereka belum setahun menikah.
***********
Malam itu..
Bian menunggu ibunya kembali dari toko. Ini adalah malam ketiga istrinya mengasingkan diri karena tidak mau berdekatan dengannya.
"Kamu menunggu Ibu lagi, Nak?" Bu Nanti menatap prihatin sambil mengusap-usap pipi Bian yang sedang mendongak menatapnya.
"Tentu saja, Bu. Aku akan selalu seperti ini sampai Ibu membawa Rara kembali kepadaku."
Bu Santi menghela nafas berat seraya duduk di samping putranya. "Ibu sudah membujuknya. Mudah-mudahan istri kamu membuka, mempertimbangkan dan memikirkan apa yang Ibu sampaikan padanya lewat pesan tadi sore."
"Sebenarnya dia dimana sih, Bu? Kenapa dia harus bersembunyi dariku seperti ini? Aku ini suaminya loh, Bu." Membuang nafas dengan kasar karena kesal. Dihindari beberapa hari oleh istrinya membuat kewarasannya berkurang banyak.
__ADS_1
"Ibu juga tidak menyangka kalau dia akan merah selama ini. Kemarin dia minta izin dan Ibu hanya mengiyakan tanpa memikirkan efeknya yang seperti ini."
Bian beranjak bangkit seraya mengusap wajahnya dengan kasar. "Bian masuk dulu, Bu." Kembali ke rumahnya dengan wajah lesu. Bu Santi tidak bisa berkata apa-apa. Dia pun menyesali keadaan ini. Dia bahkan tidak pernah bertemu Amara sejak pamit padanya tiga hari yang lalu. Sedangkan Amara mematikan handphonenya dan memutus kontak
********
Amara membolak-balik tubuhnya di atas ranjang. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun, matanya masih sulit terpejam karena memikirkan suaminya.
"Mara, tidur. Lho ini aneh deh. Tiga malam bersama gue, tapi lho nggak pernah istirahat dengan baik." Ameena akhirnya mengeluarkan uneg-unegnya karena temannya itu sangat bersikeras tidak mau pulang. "Lho itu rindu sama Kak Bian. Jangan egois, Mara. Kasihan anak dalam kandungan lho."
"Lho ngomong apaan sih, Na. Gue baik-baik aja kok. Lho aja yang terlalu memperhatikan gerak-gerik gue."
"Bagaimana tidak diperhatikan. Lho membuat ranjang ini bergoyang. Yang ada malah kayak ada gempa karena lho yang nggak bisa diam."
Amara tidak menimpali. Ia akhirnya memilih membelakangi Ameena karena tidak nyaman dipelototi terus oleh mata lebar temannya itu.
"Nih laki lho nanyain lho terus nih." Ameena memberikan handphonenya pada Amara. Memaksa Amara menatap benda itu, agar temannya itu membaca puluhan pesan yang dikirim Bian karena mengkhawatirkan keadaannya.
Amara menelan ludahnya. Tanggul air matanya terasa mau jebol. Ia segera menatap ke lain arah, agar tidak menatap handphone Ameena yang masih menyala di depannya.
Handphone itu tiba-tiba berbunyi dan terpampang nama Bian. "Ish," Amara mendesah kesal. Menyingkirkan handphone itu dari hadapannya. Dadanya berdebar hebat saat melihat nama suaminya. Tidak bisa dipungkiri kalau dirinya memang sangat merindukan dekapan hangat pria itu.
Ameena mengambil handphonenya dan segera turun dari ranjang. Keluar dari kamarnya sebelum menjawab panggilan itu.
"Halo..." sedikit berbisik karena tidak mau Amara mendengar apa yang dibicarakannya dengan Bian.
"Kenapa kamu tidak menjawab pesanku, Na? Kamu bilang Rara ada di rumah kamu kan. Apa dia baik-baik saja?"
"Dia baik-baik saja. Cuman aku nggak tau kenapa dia berubah menjadi wanita keras kepala seperti ini. Aku tidak tau bagaimana harus membujuknya. Lebih baik Kak Bian datang saja ke rumahku. Aku tidak mau ikut berdosa karena melindungi wanita yang kabur dari suaminya."
"Apa kira-kira dia mau menerima kedatanganku?"
"Dia mau terima atau tidak. Ini rumahku. Yang berhak memutuskan akan menerima Kak Bian kan aku."
"Aku akan kesana sekarang."
"Aku tunggu kedatangan Kak Bian. Awas saja kalau Kak Bian nggak datang. Aku akan mengusir istri Kak Bian dan membiarkannya terlantar di jalanan."
"Aku akan datang. Jangan apa-apakan istriku."
__ADS_1
"Heh, kalian berdua sama-sama keras kepala. Padahal saling merindukan. Yang satunya gengsi, yang satunya lagi punya malu tapi keterlaluan malunya. Sudahlah, lima belas menit, Kak Bian harus sudah ada di depan rumahku. Kalau tidak, jangan salahkan aku kalau terjadi apa-apa pada Amara.
**********