Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Ilmu yang Utama, Wajah Tampan Hanya Pelengkap


__ADS_3

Amara memanyunkan bibirnya seraya menghela nafas berat. Menatap layar handphone yang sudah terputus dengan Bian. Tapi, hal itu tidak bertahan lama karena ia langsung tersenyum setelah itu. Kesal bercampur bahagia ia rasakan. Perasaan ini sudah lama hilang dari dirinya. Namun, kali ini ternyata Allah yang Maha Kuasa mengembalikan perasaan bahagia itu untuknya.


Handphone yang masih ditangannya kembali berdering, membuatnya kembali menatap benda gepeng itu. Sambil tersenyum, ia mengusap layar handphone itu. "Assalamu'alaikum..." diam menunggu salamnya dijawab dari sebrang.


"Wa'alaikum salam.. kenapa dimatikan, Ra?"


"Kak Bian kan sedang kerja. Nanti kita teleponan lagi kalau ada waktu senggang."


Bian mendengus. "Nggak bisa, Ra. Aku akan berangkat ke pertemuan setengah jam lagi. Pulangnya pasti setelah shalat isya. Akan lebih baik kalau aku menghabiskan waktu menunggu ini sambil teleponan dengan kamu. Kalau pulang malam, biasanya aku langsung terkapar karena kecapekan."


"Huh," Amara memanyunkan bibirnya sambil menahan senyum. "Aku sih seneng banget sebenarnya. Hahaha..." berkata lirih hampir tak terdengar. Hanya suara tawanya yang terdengar jelas di telinga Bian.


"Eh, kamu bilang apa?"


"Ng.. nggak bilang apa-apa." Jawab Amara dengan spontan.


"Rara..."


"Apa, Kak? Kak Bian lanjut kerja. Nanti kita bicara lagi."


"Aku nggak mau. Aku butuh penyemangat sebelum berangkat berperang."


Daniel tiba-tiba datang lagi. Bian langsung menghidupkan loudspeaker dan meletakkan handphonenya di atas meja. "Ada apa lagi, Kak? Tadi aku meminta Kak Daniel untuk menungguku di bawah."


"Mobil sudah siap, Tuan." Ucap Daniel tanpa memperdulikan protes Bian.


Bian langsung mendengus. "Tadi katanya kita berangkat jam setengah dua. Kok malah dimajukan lagi. Apa Kak Daniel sengaja me...?"


"Perwakilan dari PT. Angkasa sudah sampai, Tuan." Daniel langsung memotong karena tidak mau Bian terus melayangkan protes.


"Apa..?!" Bian langsung bangkit karena terkejut. Mengambil handphone di atas meja. "Ra, nanti aku telepon lagi. Aku harus pergi sekarang."


Amara tidak banyak protes. Wanita itu langsung mengiyakan ucapan Bian. "Good luck."


"Miss you, Sayang."


"Miss you too."


Bian memasukkan handphonenya ke dalam saku jasnya. Memperbaiki beberapa titik yang ia rasa kurang sempurna.


"Sudah tampan dan sempurna tanpa harus dirapikan, Tuan. Rona-rona kebahagiaan juga sudah terlihat jelas di wajah Tuan. Itu semua sudah lebih dari cukup untuk menjadi modal rapat kita siang ini."

__ADS_1


Bian menautkan alisnya. "Kak Daniel jangan ngomong ngawur. Kalau nggak ada ilmu yang sudah dipersiapkan sebagai bekal, wajah tampan dan bahagia tidak ada gunanya, Kak. Ilmu yang utama, wajah tampan itu hanya pelengkap. Aku hanya bersyukur, Allah memberiku ketampanan juga, sehingga aku mendapatkan dua-duanya. Huh, kayaknya Kak Daniel cuman senang menggodaku saja." Bian melengos membuang pandangannya seraya melengos kesal.


Daniel menggaruk-garuk kepalanya pura-pura bingung. "Bercanda sekali-kali perlu, Tuan. Kalau terlalu kaku, orang akan takut dekat dengan kita."


Bian menarik sebelah bibirnya, Memperbaiki jasnya seraya berjalan keluar. Daniel mengekor di belakangnya dengan gaya khas anak buah yang patuh pada atasannya.


"Kak Daniel juga dulu kakunya minta ampun. Semua serba menunduk. Bicara sama aku aja selalu menunduk. Jangankan ngomong sama Kakek." Melirik Daniel sambil menahan senyum.


"Astagfirullah..." Daniel menghentikan langkahnya seraya menepuk jidatnya.


Bian berbalik. "Ada apa, Kak?"


"Aku lupa, Tuan. Tuan Besar meminta Tuan untuk menghadapnya malam ini."


Bian terdiam. "Ada masalah apa?"


"Sepertinya, ini menyangkut masalah Nyonya Besar. Semalam Nyonya Besar di bawa pulang. Sepertinya beliau akan dibawa ke rumah Bu Ainun, agar Bu Ainun tidak capek bolak-balik karena beliau juga mengurus anak-anaknya."


Bian mengangguk-angguk mendengar cerita Daniel. "Mungkin itu lebih baik, Kak. Kak Daniel kan tau, Nenek itu masih bisa protes ingin ini ingin itu. Sakit aja masih banyak maunya, apalagi kalau dia sembuh. Sebenarnya Ibu mau mengurusnya, tapi dia sendiri yang tidak mau diurus Ibu. Hah, aku jadinya ikut lepas tangan. Padahal kalau dipikir, Ummi Ainun sangat sibuk. Selain mengurus anak dan suami, dia juga harus mengurus para santrinya. Tapi mau bagaimana lagi. Mudah-mudahan semuanya baik-baik saja. Mudah-mudahan tidak ada masalah serius yang membuat Kakek harus memanggilku ke sana."


Daniel hanya mengangguk mengiyakan ucapan Bian. Mereka melanjutkan langkahnya untuk menghadiri pertemuan penting hari ini.


*********


"Tuan mau ganti baju dulu atau mau langsung ke rumah Tuan Besar?" Ucap Daniel setelah memasuki kawasan Apartemen tempat tinggal Bian. Mereka bisa pulang lebih cepat dari perkiraan karena lebih cepat mencapai kesepakatan.


"Aku mau ganti pakaian dulu. Badan ku juga terasa lengket. Kak Daniel pulang saja sekarang. Nanti jemput aku jam delapan malam. Untuk saat ini, aku mau istirahat sebentar." Ucap Bian seraya membuka pintu mobil. Entah mengapa ia merasa sangat capek. Padahal jadwal hari ini tidak terlalu padat.


Daniel menatap Bian dengan tatapan prihatin. Pria itu tidak bisa berbuat banyak untuk membantu Tuannya itu. Sebenarnya ia kasihan pada Bian. Keegoisan Bu Fatimah memaksa Pak Akmal harus menunda niat baik cucu kesayangannya. Ia akhirnya memilih untuk pulang terlebih dahulu. Masih ada istri dan anak yang membutuhkan kehadirannya.


Sementara itu...


Bian menarik nafas panjang beberapa kali. Dari tadi pikirannya kacau karena di minta menghadap pada kakeknya. Jika sudah diminta menghadap, pasti ada masalah serius yang akan dibahas. Ia bangkit dengan malas. Ia harus mandi agar tubuhnya lebih segar.


Namun, Bian mengurungkan niatnya saat melihat panggilan masuk dari sang Kakek. Ia menghela nafas berat sebelum menjawab panggilan itu.


"Assalamu'alaikum, Kek." Menjawab panggilan dengan malas.


"Wa'alaikum salam.. kenapa tidak langsung kemari, Nak?"


Bian menghela nafas berat. "Aku capek, Kek. Aku mau istirahat sebentar. Nanti malam aku ke sana."

__ADS_1


"Kakek ingin membicarakan masalah pernikahan kamu, Nak. Itulah mengapa Kakek ingin kamu datang."


"Aku akan datang, Kek. Tapi, saat ini aku mau istirahat sebentar. Aku benar-benar capek." Bian melirik jam tangannya. "Ini juga masih sore, Kek. Kakek meminta ku untuk datang malam hari."


"Kakek memintamu datang kemari setelah selesai rapat."


"Tapi, Kak Daniel tidak protes saat aku bilang nanti malam." Jawab Bian tidak mau kalah.


"Iya.. iya.. terserah kamu. Uhuk.. uhuk.. Kakek akan menunggu kedatangan kamu. Uhuk.. uhuk.."


Bian mengernyit saat mendengar suara kakeknya. "Kakek sakit?"


"Mm.. Tidak, Nak. Kakek cuman batuk saja. Kakek hanya ingin melihat kamu segera kemari. Kalau perlu, Kakek ingin kamu membawa Amara kemari. Kakek ingin melihat calon istri kamu itu, Nak."


"Rara masih di Singapura, Kek. Kakek sendiri yang malarang aku untuk membawanya kembali."


"Kakek tidak pernah malarang kamu, Nak. Kakek hanya meminta Daniel untuk menahan kamu agar tidak membawanya ke hadapan Nenek kamu."


Bian menautkan alisnya. Jika benar begitu, itu berarti Daniel mampunyai urusan dengan neneknya juga. "Akan aku perjelas nanti."


"Iya sudah kalau begitu, kamu istirahat lah, Nak. Kakek tau kamu tidak mudah menjalani hari-harimu. Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikum salam.." Bian tertegun setelah sambungan teleponnya terputus. Saat bicara tadi, kakeknya seperti kesulitan bernafas. Bian segera menepis pikiran buruk yang merayap di pikirannya. Ia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Bian segera menghubungi Daniel setelah selesai bersiap. Mendengar suara kakeknya yang seperti kesusahan bernafas membuatnya tidak enak kalau harus menunda untuk mengunjunginya. Tidak ingin kalau terjadi apa-apa pada kakeknya.


Ia duduk memilih menghubungi Amara selama menunggu kedatangan Daniel. Namun, Amara pun tidak menjawab panggilannya karena sedang bekerja.


Daniel datang lima belas menit setelah Bian turun. "Kak Daniel kenapa lama sekali?" Langsung melayangkan protes begitu masuk ke dalam mobil.


"Maaf, Tuan. Aku baru kembali dari Tuan Besar. Papa menghubungiku untuk membantunya membawa Nyonya Besar ke rumah Bu Ainun."


"Mm... itu berarti aku tidak akan bertemu Nenek sekarang." Bian tersenyum kecil. "Hmm.. sepertinya itu lebih baik."


"Tuan Besar juga..." Daniel terdiam.


"Juga apa, Kak?" Bian menatap Daniel dengan tajam.


"Tidak ada apa-apa, Tuan. Aku lupa mau bilang apa."


"Huh, kebiasaan deh."

__ADS_1


Daniel tersenyum kaku melirik Bian. Untung saja mulutnya tidak keceplosan mengatakan apa yang terjadi sebenarnya.


__ADS_2