Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Perawatan Lengkap


__ADS_3

Bu Santi dan Ameena membereskan semua barang yang akan di bawa pulang. Setelah Dokter memeriksa Amara secara lengkap. Amara dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang.


"Hah," Ameena menghempaskan tubuhnya di atas sofa setelah selesai mengemas semua barang yang perlu di bawa pulang. "Kenapa nggak pilih terapi di rumah aja, biar tidak terlalu lama di Rumah Sakit." Ucapnya sambil memejamkan matanya.


"Hasilnya tidak akan maksimal kalau terapinya di rumah." Timpal Bian tanpa mengalihkan pandangannya dari benda gepeng di tangannya.


"Ni orang nimbrung aja. Kenapa belum berangkat kerja sih. Ini sudah jam sepuluh lewat." Ameena melirik Bian. Ucapannya terdengar sewot.


"Aku sudah minta Kak Daniel untuk mengundur jadwalnya. Aku harus memastikan istriku pulang dengan baik." Masih fokus menatap layar handphone.


Bu Santi menghela nafas berat seraya duduk di samping Bian. "Tidak boleh seperti itu dong, Nak." Itu kewajiban kamu loh. Jadi seorang pemimpin itu harus bisa istiqomah. Jangan hanya mengikuti keinginan sendiri saja. Kasihan karyawan kamu sudah mempersiapkan diri untuk mengikuti rapat. Kamu malah seenaknya mengundur waktu."


Bian meletakkan handphonenya lalu menatap ibunya. "Bian tidak berniat seperti itu, Bu. Bian memikirkan kinerja para karyawan. Cuman, kebetulan hari ini ada salah satu anggota yang tidak bisa hadir karena sakit. Aku harus memastikan semuanya hadir, agar keputusan yang diambil disetujui oleh semua anggota."


Bu Santi tersenyum lembut. " Alhamdulillah, ternyata putra Ibu masih memikirkan tanggung jawabnya." Mengusap-usap kepala putranya.


Melihat hal itu membuat Ameena mengernyit. "Bu, Kak Bian udah dewasa loh. Kok kepalanya masih suka di elus-elus kayak gitu? Kayak anak kecil.. hehe.."


"Ini adalah suatu bukti kasih sayang seorang Ibu, Na." Bian beranjak bangkit dan pindah ke samping Amara. Dia tidak mau terjadi perdebatan lagi dengan Ameena. Gadis itu tidak pernah mau kalah kalau berdebat.


"Ya elah, Pak Bos pakai acara menghindar segala." Ameena tersenyum mengejek.


Bian melengos. "Mulut kamu nggak ada saringan, Na. Bicara sama kamu itu ibarat motor nggak ada rem. Maunya melaju terus, nggak mikirin ada kerikil ada jurang Dan lain sebagainya." Beralih menatap istrinya yang hanya bisa menahan senyum.


"Kamu beneran mau ke salon setelah pulang dari sini?"


Amara tersenyum kecil. "Kalau Kak Bian mengizinkan. Aku.. aku tergantung Kak Bian saja." Menunduk malu.


Bian ikut tersenyum. Melihat ekspresi Amara seperti itu membuat hatinya berbunga-bunga. "Apa perlu aku yang menemani."


"Eh, ke salon itu menghabiskan banyak waktu, Mas. Mau apa, nungguin sampai berjam-jam? Duduk di ruang tunggu itu sangat membosankan." Ameena ikut nimbrung seraya bangkit dari sofa, berjalan mendekat ke Amara dan Bian.


"Nggak perduli berapa jam menunggu. Intinya aku bisa melihat istriku bahagia. Kalau capek nunggu di ruang tunggu, aku akan masuk ke tempat perawatan. Rara kan sudah menjadi istriku. Jadinya nggak ada dosa kan, melihatnya dalam keadaan bagaimana pun?" Jawab Bian tanpa mengalihkan pandangannya dari Amara. Tidak perduli dengan ekspresi Ameena yang melotot kuat. Matanya terlihat mau keluar.

__ADS_1


"Eh, lempeng banget Kak Bian berkata begitu. Kalau Kak Bian ikut masuk, aku nggak bisa dong ikut perawatan."


Bian menegakkan duduknya seraya beralih menatap Ameena. "Kamu mau perawatan untuk siapa? Jangankan punya suami, pacar aja nggak punya. Lagian nggak ada laki-laki yang betah sama kamu. Mulut kamu itu, Na.. Ya Allah deh.." Bian bergidik ngeri membayangkan mulut Ameena yang tidak bisa berhenti nyerocos.


"Huh," Ameena langsung melengos. "Gue kayak gini karena nggak laku-laku. Hmm.. tapi, kayaknya ucapan Kak Bian mengandung unsur kebenaran. Mulut gue ini sering bicara semuanya sama orang. Nggak tau kenapa gue bisa kayak gini. Dulunya bini lho yang suka bicara kayak gue ini. Tapi.. ya sudahlah, gue mah mau menunggu aja, sambil mencoba untuk memperbaiki diri sedikit demi sedikit."


"Niat kamu baik. Mudah-mudahan Allah segera menunjukkan jalan pada jodoh kamu, agar segera bertemu dengan mu." Bian kembali menatap istrinya setelah selesai bicara. "Di daerah sini ada beberapa salon, Sayang. Aku udah browsing tadi. Kamu pilih saja mau mendatangi salon yang mana. Nanti aku suruh Kak Daniel mengatur kunjungan kamu, biar kamu nggak capek nunggu." Mendekatkan layar handphonenya pada Amara untuk menunjukkan beberapa salon yang berhasil ditemukannya.


"Apa Kak Bian tidak berniat untuk mempertimbangkan saran yang di berikan Ibu barusan?" Amara mencoba memberikan usul.


"Saran Ibu yang mana maksud kamu?"


"Mm.." Amara melirik Ameena. Yang di lirik hanya mengangkat bahu.


"Aku ingin perawatan di rumah saja, Kak."


"Mm.." Bian terlihat mempertimbangkan. "Tapi, kalau kamu minta perawatan di rumah, itu berarti kamu harus menunggu sampai orangnya siap untuk melayani kamu. Sudah pasti dia akan datang di luar jam kerjanya."


Bian akhirnya mengangguk menyetujui saran ibunya. Pria itu langsung menghubungi Daniel untuk memintanya mencarikan orang yang bisa dipanggil ke rumahnya.


**********


Daniel menahan senyum saat melihat Bian datang ke Kantor setelah lewat waktu zuhur. Melihat ekspresi asistennya seperti itu membuat Bian menautkan alisnya heran. "Kenapa ekspresi Kak Daniel kayak gitu? Apa ada yang salah dengan penampilanku hari ini?" Ucapnya sambil memperhatikan penampilannya sendiri. Sepatu... cek, celana... cek, kemeja... cek, dasi... cek. Jas... cek.


"Nggak ada yang salah kan?" Kembali menatap Daniel.


"Tidak ada yang salah, Tuan. Cuman.. saya sedikit aneh karena melihat Tuan datang jam segini. Biasanya Tuan selalu tepat waktu. Tuan terlalu sibuk atau terlalu bahagia karena Nona Amara diizinkan pulang. Entah, saya juga tidak bisa menyimpulkan." Daniel mengangkat bahu.


Bian tidak menanggapi. "Jam berapa orang itu bisa datang. Aku akan meminta istriku untuk bersiap."


"Dia akan datang pukul tiga sore, Tuan. Sepertinya Nona Amara harus shalat ashar dulu sebelum melakukan perawatan total. Perawatan total itu menghabiskan banyak waktu."


"Itu bisa di atur." Jawab Bian datar. Pria itu mulai fokus pada kertas di yang menumpuk di atas meja kerjanya.

__ADS_1


________


Tepat pukul tiga, Bian merenggangkan ototnya. Dua jam fokus menatap perkejaan membuat otot-ototnya terasa kaku. Pria itu beranjak bangkit. Memanggil Daniel untuk membereskan pekerjaannya.


"Kak Daniel, aku mau pulang."


"Hah..?!" Daniel spontan langsung bangkit dari duduknya. "T.. Tuan mau pulang?"


"Iya. Kak Daniel siapkan mobil. Kalau ada pekerjaan mendesak, Kak Daniel kirim saja ke rumah. Rara membutuhkan ku saat ini."


Sepersekian detik Daniel melongo. Tuannya ini masih saja terlihat bodoh jika itu menyangkut dengan Amara. "B.. baik, Tuan."


Bian menarik sebelah bibirnya. Melangkah keluar mendahului Daniel yang masih berdiri seperti orang setengah sadar.


Bian duduk di depan kamar menunggu orang yang membantu istrinya keluar. Waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat sepuluh menit. Tetapi, keadaan masih sama seperti sejak awal dia duduk di sofa itu. Ia akhirnya mencoba menghubungi istrinya.


"Ra, apa perawatannya belum selesai?" Bertanya dengan hati-hati karena takut menyinggung istrinya.


"Ini Ameena, Kak. Amara sebentar lagi selesai. Gue juga udah ketiduran karena capek menunggunya. Boro-boro bisa ikut perawatan. Dua jam setengah waktu gue terbuang sia-sia karena menunggu istri lho melakukan perawatan total. Kak Bian dimana sekarang?" Suara Ameena terdengar malas. Entah karena kesal karena lelah menunggu, atau mungkin kesal karena tidak bisa ikut melakukan perawatan.


"Aku ada di depan kamar dari tadi, Na. Kalau kamu capek, kamu keluar saja. Biar aku yang masuk menemani Rara."


"Ok.. Kak Bian harus tanggung jawab karena menyita banyak waktuku. Aku minta ganti rugi. Give me money for change my time. Gue juga mau melakukan perawatan lengkap."


Pintu kamar terbuka, menampakkan wajah kusut Ameena. Wanita itu menatap sinis Bian yang sedang berdiri santai. "Waktu gue terbuang sia-sia. Ngarep banget tadi bisa perawatan total. Taunya, satu orang aja menghabiskan waktu sampai sekian jam."


"Terimakasih udah mau menjaga Rara. Nanti aku transfer ganti ruginya."


Mendengar kata transfer membuat tampang Ameena langsung berubah. "Kalau kayak gini mah, di suruh jagain Amara sehari semalam pun, gue akan sanggup banget, Kak. Mudah-mudahan rizki Kak Bian semakin lancar. Dan.. semoga malam pertamanya malam ini juga berjalan lancar. Silahkan masuk, Tuan. Tuan akan sangat terkejut melihat perubahan wajah Nona Amara. Istri Tuan benar-benar semakin cantik."


Bian tersenyum seraya menggeleng-geleng pelan melihat tingkah Ameena. Kata transfer berhasil merubah segalanya.


*********

__ADS_1


__ADS_2