
Malam itu, Bian tidak bisa tidur. Satu bulan terakhir ini, Amara sulit dihubungi. Bian memang berhasil menghubunginya beberapa hari yang lalu. Gadis itu bilang kalau dia ada praktek dan akan jarang memegang handphone. Terakhir pertemuan mereka adalah malam ketika Bian mengantar gadis itu kembali ke kostnya, saat membawanya ke rumah Chayra. Malam itu pun ia tidak sempat bicara karena Amara yang langsung tidur di mobil begitu mobil berjalan lima menit.
Bian bangkit setelah capek rebahan. Cukup lama rebahan tetapi tidak mendapatkan posisi yang nyaman. Meraih handphone yang tergeletak di sampingnya. Sejak Amara jarang menghubunginya, ia jadi malas melihat benda gepeng itu. Lebih memilih membaca buku daripada bermain handphone.
"Ya Allah..." Bian menghela nafas berat. Hari-harinya terasa panjang dan membosankan tanpa ada yang menghiburnya. Rasanya ingin mendatangi kost Amara agar bisa melihat gadis itu. Tapi saat kontak terakhir mereka, Amara bilang akan praktek di luar, bukan di Kampus tempatnya kuliah sekarang.
Tangannya tiba-tiba mengetik sesuatu di handphone yang hanya ditatapnya sejak tadi.
Assalamu'alaikum, Mara. Aku merindukanmu.. apa kamu masih sibuk dan tidak boleh diganggu?????
Aku ingin bertemu. Kita perlu bicara. Informasikan kapan kamu ada waktu, biar aku menjemputmu ke kostan.
Langsung mengirimnya pada Amara tanpa berpikir panjang. Sudah lama ia ingin bicara, tetapi Amara tidak pernah ada waktu untuk menemuinya. Jangankan menemuinya, untuk membalas pesannya pun, gadis itu terkadang tidak ada waktu.
Sementara itu di tempat Amara..
Gadis itu baru saja selesai menunaikan shalat Isya. Mukenah masih melekat di kepalanya. Tapi, Ameena langsung memintanya untuk mengambil handphone karena ada panggilan masuk saat Amara shalat tadi.
"Ada pesan juga kayaknya. Lho lihat aja, siapa tau dari Papa.. atau mungkin saja dari Kak Bian. Dia menanyakan kamu terus dari kemarin." Ameena berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari depan cermin. Gadis itu sedang memoles wajahnya dengan krim malam.
"Gue mau doa dulu sebentar, Na. Waktu untuk mengingat Allah cuman beberapa menit. Masa iya, gue harus potong dengan melihat pesan. Itu bisa nanti dulu kan? Pesan itu tidak akan hilang kok." Amara kembali berbalik ke arah kiblat. Hal itu membuat Ameena menghela nafas berat. Sejak Amara hijrah, gadis itu paling suka merenung lama setelah shalat. Terkadang juga sering menangis saat berdoa. Ameena tau, kalau temannya itu memiliki beban hidup yang tidak ringan.
Akhirnya Ameena berbalik dan menatap punggung Amara. Sampai sekarang temannya itu tidak tau ucapan Bian waktu di Kafe. Sudah lama ia ingin mengatakan itu padanya. Tapi, Bian selalu mencegahnya dan mengatakan kalau dia yang akan ngomong langsung pada Amara.
"Kenapa menatap gue seperti itu, Na?"
"Eh," Ameena terkejut saat menyadari Amara sedang menatapnya tajam. Ternyata temannya itu sudah selesai berdoa. "Ngagetin aja lho."
"Mau tidur juga, masih pakai acara menghayal dulu. Lagi ada masalah emangnya?" Ucap Amara sambil melipat mukenahnya.
"Ng.. nggak ada kok. Gue cuman perhatiin lho tadi. Tapi, kok gue malah menghayal. Sini, gue pakaikan night cream biar wajah lho semakin kinclong." Ameena sengaja mengalihkan pembicaraan. Takutnya kalau dipancing, dia malah keceplosan mengatakan yang dia hayalkan tadi pada Amara.
__ADS_1
Amara menggeleng. "Big no, Na. I don't like it." Lebih memilih duduk di sisi tempat tidur, mengambil benda gepeng yang katanya membawa informasi penting.
"Huh, lho ini nggak ada enak-enaknya di ajak skincare-an. Untungnya wajah lho mulus walaupun nggak pakai apa-apa. Kita ini udah dewasa, Mara. Pakai skin care itu sudah wajar."
"Tapi gue nggak suka, Na. Lagian wajah gue nggak bermasalah kok. Malas rasanya kalau harus menambah modal untuk membeli skin care. Lho aja sering mengeluh karena harga skin care yang tidak bersahabat di kantong." Amara menatap handphonenya. Ada dua panggilan tak terjawab dari papanya. Amara sampai lupa, kalau hari ini papanya pulang ke rumah. Matanya melirik pesan. Ada banyak pesan, tetapi gadis itu memilih untuk mengabaikannya terlebih dahulu. Jika membacanya sekarang, takutnya dia malah lupa untuk menghubungi papanya.
"Assalamu'alaikum, Pa." Amara tersenyum sumringah begitu terhubung dengan papanya.
"Nak, Papa udah transfer jatah bulanan kamu. Papa tambahkan lima ratus ribu. Tapi, Papa harap kamu jangan bilang sama Tante kamu. Papa nggak mau ada masalah kedepannya. Mendengar tidak ada keributan dua tahun terakhir ini aja, Papa sangat bahagian, Nak."
"Iya, Pa. Dari dulu juga Mara nggak pernah bilang apa-apa sama Tante. Yang ada Tante aja yang terlalu berlebihan dalam menyikapi semuanya."
"Sudahlah, besok Papa mau ke tempat kamu bersama Carissa. Kamu mau dibawakan apa?"
"Terserah Papa saja. Ditengok Papa saja sudah Alhamdulillah banget, walaupun tidak bawa apa-apa."
"Ah, kamu ini, Nak. Sudah tau Papa sibuk kerja. Kamu sehat kan di sana?"
"Alhamdulillah sehat, Pa. Aku baru selesai praktek. Kemarin satu minggu bolak balik. Kami praktek di Universitas Xxx. Katanya di Universitas tempat Mara masih kekurangan alat." Amara tiba-tiba menguap panjang. Dia memang jarang istirahat siang akhir-akhir ini. Itulah mengapa, usai shalat Isya, biasanya dia langsung tidur.
"Nggak ada waktu, Pa. Mara harus kerjakan ini itu. Kalau ada waktu, Mara selalu usahakan untuk istirahat."
"Iya sudah, besok kita bicara lagi. Papa tutup ya, Nak."
"Iya, Pa. Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam.."
Amara menarik nafas lega setelah sambungan telepon terputus. Ia beralih membuka pesan masuk yang banyak belum dibuka. Matanya langsung tertuju pada dua pesan masuk dari Bian. Bibirnya mengulas senyum membaca pesan pertama. Dalam hatinya, ia juga mengakui kalau dirinya sangat merindukan pria itu. Ingin bertemu tentu saja. Tapi, kesibukan yang tidak bisa dikesampingkan membuatnya tidak bisa melakukan banyak hal.
"Na, Kak Bian katanya merindukan aku. Tau nggak, aku ini merasa gimana gitu membaca pesan ini. Mm.. berasa kayak mimpi"
__ADS_1
"Huh," Ameena melengos. "Jelaslah dia merindukan lho. Setiap hari kerjaannya menanyakan kamu melulu. Padahal aku udah jelaskan kalau kita sedang sibuk."
Amara tersenyum kecil. "Mengapa laki-laki sesempurna dia, harus mengkhawatirkan wanita sampah seperti aku."
"Iya jelas lah, Mara.. Lho itu kan wa..." Ameena langsung menutup mulutnya. Hampir saja mulutnya keceplosan mengatakan itu lagi. Biasanya Amara selalu bertanya kenapa dirinya sering mengatakan kalau Amara adalah wanitanya Bian. "Sudahlah, nggak usah dibahas. Ujung-ujungnya pasti itu lagi jawaban yang akan gue berikan.
Amara tidak menimpali. Ia kembali menatap handphonenya. " Na, Kak Bian ingin bertemu."
"Suruh saja dia kemari besok. Besok kan hari minggu." Ameena mendekati Amara lalu rebahan disampingnya.
"Iya.. gue nggak bisa besok, Na. Papa juga mau kemari. Kalau mereka berpapasan, bagaimana?"
"Ya elah, Mara. Lho kan bisa mengatur waktunya. Kalau Papa lho datang pagi, lho minta Kak Bian datang sore hari, atau sebaliknya."
Amara menghela nafas berat. "Besok lah kita lihat kondisinya." Ikut rebahan di samping Ameena. Mendongak menatap langit-langit kamarnya. "Sebenarnya Kak Bian mau ngomong apa ya.. Kok gue kepikiran dia sih. Aku malah nggak pernah membalas pesannya karena kesibukan kemarin."
Ameena melirik Amara. "Gue kan udah bilang sama lho untuk membalas pesannya. Sibuk sih sibuk, Mara. Tapi kalau hanya untuk membalas pesan, tidak akan sampai mengganggu kegiatan kemarin."
Amara tersenyum lemah. "Gue cuman mau fokus aja, Na. Gue nggak suka ada gangguan ketika ada yang membutuhkan konsentrasi penuh saat diselesaikan."
"Iya.. iya.. Amara mana pernah mau malah kalau itu menyangkut masalah pelajaran." Ameena membuang pandangannya.
"Pesannya gue balas atau bagaimana ya, Na?"
"Balas saja. Bagaimana kalau Kak Bian ngambek dan tidak mau bertemu lho lagi?"
"Ah, masa sih.. Kak Bian itu sudah dewasa. Yang suka ngambek itu cuma anak kecil."
"Terserah lho mau bilang apa. Tapi intinya, lho harus membalas pesan itu. Laki-laki setampan gitu kok tega diabaikan. Kalau gue mah, diajak ketemuan sekarang tun, gue akan menemuinya. Tapi, sayangnya gue nggak seberuntung lho, Mara." Ameena melirik Amara sekilas lalu menatap langit-langit seperti yang dilakukan Amara.
"Bertemu itu ada waktunya, Na. Ini sudah malam. Kalau mau bertemu sekarang, yang ada kita malah mengganggu penghuni yang lain nanti."
__ADS_1
Ameena hanya mengangkat bahu mendengar ucapan Amara.
*******