Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Pil Kontrasepsi


__ADS_3

"Minum ini setiap malam." Bu Fatimah menyodorkan sekotak obat pada Amara. "Ini hanya vitamin, agar kamu tidak gampang sakit."


Amara menautkan alisnya menatap kotak obat itu. Kotak berwarna kuning bertuliskan Mikro*****. Walaupun dia seorang perawat. Tetapi dia tidak pernah melihat kotak obat itu. Ia mengambil obat itu. Tidak ada niat sama sekali untuk meminumnya. Kejahatan yang pernah dilakukan Bu Fatimah sebelumnya, membuatnya selalu berhati-hati jika berhubungan dengan wanita itu. "Terimakasih, Nek. Aku akan mencoba mencari kandungan obat ini terlebih dahulu. Jika obat ini baik untuk tubuh ku, aku akan meminumnya setiap malam. Selamat malam.." Amara langsung masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.


Amara mengusap-usap dadanya seraya membuang nafas dengan kasar. "Huh, Astagfirullah... mudah-mudahan Nenek cepat sadar ya Allah.." ia segera mengambil handphonenya. Menatap obat di tangannya dengan tatapan nanar. Ucapan Bu Fatimah yang mengatakan itu hanya vitamin tidak bisa ia percayai begitu saja. Ia tersenyum sinis sambil sibuk mengetik kata kunci untuk obat itu.


"Hah...?!" Amara menganga lebar melihat hasil pencariannya. "Ya Allah.." mengusap wajahnya dengan kasar. Ia hanya memperhatikan merek jual obat itu tanpa memperhatikan kandungannya. Selama ini hanya merek jual An***** yang tidak asing di telinganya. "Itu berarti, Nenek tidak ingin aku mengandung anak Kak Bian." Kembali menghela nafas berat. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengambil gambar obat itu dan mengirimnya pada suami, ibu mertua dan kakak iparnya.


Assalamu'alaikum, Kak. Nenek tiba-tiba memberikan obat itu padaku. Dia memintaku untuk meminumnya setiap malam. Apakah aku harus meminumnya, atau bagaimana?


Pesan terkirim, tetapi belum terbaca. Amara yakin kalau suaminya masih sibuk. Ia beralih ke nomor Chayra. Setelah mengirim gambar, ia menuliskan pesan di bawah gambar itu.


Assalamu'alaikum, Kak Ayra. Maaf karena aku mengganggu istirahat Kak Ayra. Nenek tiba-tiba memberikan obat itu padaku. Apakah aku harus meminumnya seperti permintaan Nenek?


Chayra langsung beralih ke kontak ibu mertuanya. Menuliskan pesan yang hampir sama seperti yang dituliskannya pada suami dan kakak iparnya.


Ia menunggu beberapa saat sampai ada yang membalas pesan yang di kirimnya. Di tinggal sendiri di rumah itu membuatnya harus selalu waspada dengan semua kemungkinan yang bisa saja terjadi. Hari pertama dan kedua masih aman-aman saja. Namun, di hari ketiga ini, ujian mulai datang dari Bu Fatimah.


Ting...!


Ting...!


Ting...!


Tiga pesan beruntun masuk ke handphone Amara. Amara membuka pesan dari suaminya terlebih dahulu.


Aku masih di luar, Sayang. Nanti aku hubungi kamu kalau sudah kembali ke hotel.


Amara beralih membaca pesan dari Chayra dan Bu Santi.


Astagfirullah, itu pil kontrasepsi, Dek. Kamu jangan meminumnya. Tapi, kalau mau menunda untuk punya momongan, kamu bisa tanyakan pada suamimu. Tapi, semua itu harus dipertimbangkan dengan matang-matang. Banyak orang yang hilang kesuburannya karena menggunakan kontrasepsi sebelum waktunya.


Kapan Ummi memberikan itu? Katakan pada Bian kalau itu obat yang tidak patut di konsumsi oleh pengantin baru. Ibu ingin segera menggendong cucu ibu, Nak. Jangan coba-coba mengkonsumsinya. Lusa Ibu akan datang mengunjungi kalian. Ingat, jangan coba-coba mengkonsumsinya. Atau kamu buang saja langsung ke tempat sampah.

__ADS_1


Bibir Amara merekah membaca pesan itu. Ia menarik nafas lega. "Hah, yang lain aja mendukung. Ngapain aku perduli dengan keinginan Nenek." Ucapnya bicara pada dirinya sendiri. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Ingin tidur tetapi perutnya lapar. Untuk makan makanan yang di dapur ia merasa enggan. Untuk delivery pun, sudah jam segini. Ia akhirnya memilih untuk meminum air dan memilih untuk memejamkan mata.


*********


Bian kembali ke hotel setelah jam sepuluh malam. Ia shalat Isya terlebih dahulu sebelum menghubungi istrinya. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menempelkan handphone di telinganya.


"Assalamu'alaikum, Sayang. Sudah tidur kah?" Bian memperbaiki posisinya agar nyaman bicara dengan istrinya.


"Wa'alaikum salam. Aku nggak bisa tidur, Kak. Aku terkejut saat Nenek memanggilku tadi."


"Kamu buang saja obat itu, Sayang. Apapun yang di berikan Nenek, jangan kamu hiraukan. Ucapannya pun, anggap saja angin lalu. Aku nggak mau ribut lagi sama dia."


"Iya.. mau bagaimana lagi. Mau di dengar pun, yang akan sakit pasti aku. Ucapan pedasnya itu loh, Kak. Apalagi dia itu cuman berani bertindak saat Kak Bian nggak ada. Kalau Kak Bian di rumah, mana pernah dia berani macam-macam." Amara akhirnya mengeluarkan uneg-uneg yang di tahannya. Lama-lama ia kesal juga dengan sikap arogan Bu Fatimah.


"Sudah, jangan ngeluh, Ra. Sabar... insya Allah semuanya tidak akan bertahan lama."


"Huh," Amara mendengus kesal. "Kalau Nenek masih saja seperti ini, aku lebih baik tinggal di Apartemen. Atau mungkin di kontrakan, aku juga mau kok. Percuma tinggal di rumah mewah kalau hati nggak tenang."


"Ssstt.. nggak boleh ngomong gitu." Bian menghela nafas berat. Tersenyum seraya menggeleng-geleng pelan. "Aku masih sanggup menyewakan tiga unit Apartemen sekaligus untukmu, Sayang. Tapi, kamu harus memikirkan perasaan Kakek kalau kita pergi. Aku juga ada satu unit Apartemen di dekat kantor. Tapi, aku tidak mau membawamu ke sana karena aku memikirkan perasaan Kakek. Dari jauh-jauh hari dia memintaku untuk membawamu ke rumah itu saat kita sudah menikah."


Bian langsung memperbaiki posisinya mendengar kata 'pergi' keluar dari mulut istrinya. "Eh, maksud kamu pergi..."


Amara menahan senyum. "Hmm.. aku mau pergi dari rumah ini. Baru dua minggu tinggal, Nenek udah menyuruhku minum pil kontrasepsi. Bagaimana aku bisa hamil kalau kayak gini."


Bian menautkan alisnya. "Maksud kamu apa berkata begitu, Sayang?" Sedikit meninggikan suaranya karena tidak suka dengan ucapan istrinya.


"Obat yang aku kirim tadi." Amara menjeda ucapannya. "Kak Bian kira itu obat apa?"


"Aku nggak pernah melihat kemasan obat seperti itu." Jawab Bian datar.


"Udah ah, malas menjelaskannya. Kak Bian istirahat saja. Pasti Kak Bian capek karena harus mengatasi masalah besar. Aku mau istirahat, assalamu'alaikum.." Amara langsung mematikan sambungan telepon. Emosinya terasa ingin meledak saat suaminya terdengar tidak perduli dengan apa yang sedang di alaminya. Mungkin juga karena pengaruh menstruasi yang membuatnya seperti ini.


Sementara itu... Bian terkejut karena istrinya tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia mencoba menghubungi Amara kembali, tetapi panggilannya ditolak. Ia akhirnya memilih untuk membuka pesan gambar yang di kirim Amara tadi. Saat membalas pesan istrinya, dia hanya membaca pesan tanpa memperhatikan gambar itu. Saat Amara bertanya tadi pun, ia hanya menjawab dengan asal. Tidak tau kalau hal itu malah membuat istrinya kesal.

__ADS_1


"Ini obat apaan sih..?" Menatap gambar itu dengan teliti. Namun, ia terkejut saat ada panggilan masuk dari ibunya. Ia menautkan alisnya heran. Tidak biasanya ibunya masih bangun lewat dari jam sepuluh malam.


Dengan sedikit ragu, Bian mengusap ikon berwana hijau di layar handphonenya. "Assalamu'alaikum, Bu."


"Kenapa kamu belum pulang kerja sampai sekarang, Nak?"


"Eh," Bian kehilangan kata-kata. Ibunya sampai mengabaikan salamnya.


"Ibu sudah menjawab salam kamu tadi, tapi tidak terdengar." Jawab Bu Santi, seakan-akan bisa membaca apa yang dipikirkan putranya.


"Eh," Bian masih bingung dan tidak tau mau berkata apa-apa.


"Kamu sedang mengerjakan apa, sampai tidak ingat rumah, Nak?"


Bian mengerjap-ngerjap bingung. "Aku.. aku memang tidak di rumah, Bu. Aku sedang menyelesaikan masalah di kantor cabang di kota B. Aku bersama Kak Zidane di sini."


Tidak terdengar jawaban dari sebrang. Bian masih menunggu walaupun ibunya diam.


"H.. halo, Bu..."


"Itu berarti kamu di luar kota." Ucap Bu Santi datar.


"I.. iya, Bu."


"Apa masalah itu cukup serius, sehingga kamu sampai meninggalkan istrimu?"


Bian menelan ludahnya. Bodohnya dia tidak memberi tahu ibunya saat berangkat kemarin. "I.. iya, Bu. Masalah ini cukup serius. Kak Zidane khawatir kalau berita ini sampai ke telinga Kakek dan mempengaruhi kondisi kesehatannya."


Bu Santi menghela nafas berat. Segera selesaikan, agar kamu bisa menjaga istrimu. Jangan sampai dia di ancam dan mengkonsumsi pil kontrasepsi yang diberikan oleh Ummi. Assalamu'alaikum..."


Tut... tut... tut...


Bian tertegun. Kenapa ibunya ikut membahas pil kontrasepsi. Ia akhirnya kembali membuka gambar itu dan mencari tau sendiri.

__ADS_1


**********


__ADS_2