Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Permintaan Aneh Amara


__ADS_3

Bian duduk perlahan di samping pembaringan istrinya. Matanya melirik ke arah ibu dan papa mertuanya dengan malu-malu.


"Anak muda sekarang ya, Bu." Pak Arif menggeleng-geleng pelan.


"Iya, tapi setidaknya mereka sudah menjadi pasangan yang halal, Pak. Setidaknya kita tidak was-was lagi melihat mereka bersama dan membicarakan hal-hal seperti tadi."


"Ehehehe.." Bian tersenyum meringis pada istrinya.


"Makanya, Mas.. jangan bicara yang aneh-aneh kalau tidak di kamar sendiri." Amara sedikit berbisik. "Untung aja Kak Ayra dan Kak Ardian sudah keluar. Kalau tidak.. habis dah kamu diomelin Kak Ayra."


"Sssttt..." Melotot sambil menahan senyum.


"Iya udah, Nak. Ibu dan Pak Arif mau shalat dulu. Kalau kami sudah keluar, terserah kalian mau ngomongin apa." Bu Santi dan Pak Arif langsung berlalu keluar.


Bian kembali tersenyum meringis ke arah istrinya. "Mereka udah keluar, Ra. Sekarang kamu lanjut makan ya, Sayang." Melayangkan satu suapan kecil ke mulut istrinya.


Amara menelan dengan susah payah. "Nanti dilanjutkan, Mas. Perut aku mual lagi nih." Menhsn tangan Bian yang sudah mengangkat sendok ke depan mulutnya.


"Baru dua suap, Sayang."


"Perut aku tidak bersahabat, Mas." Menutup mulutnya dengan tangannya yang bebas dari jarum infus.


"Sekali saja, Sayang." Bian masih memaksa. Dia sampai memaksa Amara memindahkan tangannya.


"Ma..."


Satu suapan kembali masuk ke mulut Amara. Namun...


"Huek..."


Makanan itu langsung keluar mengenai Bian. Hal itu membuat Amara langsung menutup mulutnya. Mengambil kantong plastik berwarna hitam yang sudah disediakan ibu mertuanya untuk menampung muntahnya yang sudah memenuhi mulutnya. Setelah merasa baik-baik saja, ia menatap suaminya. "Mas.. maaf..."


"Astagfirullahal'adzim ..." Bian menatap pakainnya yang sudah berubah warna. "Sayang..."


"Maaf, Mas. Aku kan udah bilang, jangan ditambah lagi. Kamunya ngeyel sih.." mengambil tisu untuk mengelap mulutnya.


Bian tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menarik nafas panjang beberapa kali.


"Maaf, Mas.." menyentuh tangan suaminya. Beralih mengelap bekas muntahan yang mengenai pakaian suaminya.


"Nggak apa-apa, Sayang. Tapi, aku harus ganti pakai apa sekarang?" Menatap istrinya dengan sendu.

__ADS_1


"Kamu pulang saja, Mas. Aku nggak apa-apa kok kalau di tinggal sebentar."


"Yakin nggak apa-apa?" Menatap istrinya lama untuk meyakinkan.


"Mm.." Amara mengangguk mantap. Dia harus terlihat yakin agar suaminya tidak ragu meninggalkannya.


"Tunggu sebentar, akan akan segera kembali." Bian beranjak bangkit dan keluar dari ruang rawat Amara. Sampai di parkiran Rumah Sakit, ia tidak melihat mobil kakaknya yang barusan terparkir beberapa meter dari tempatnya parkir. Dia tidak mungkin meninggalkan istrinya sendirian sementara kondisinya belum stabil. Ia celingukan menatap ke pinggir jalan. Bibirnya langsung menyunggingkan senyum tipis saat melihat ada Toko pakaian di depan Rumah Sakit itu. Tanpa berpikir dua kali, dia langsung mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil. Memilih keluar dari area Rumah Sakit.


Bian kembali ke ruang rawat Amara dua puluh menit setelah dia keluar tadi.


"Assalamu'alaikum, Ra." Bian menutup pintu dengan pelan. Tersenyum seraya berjalan mendekat pada istrinya.


"Cepat sekali, Mas. Kalau dihitung, ini hanya waktu bolak-balik saja."


"Sssttt.. jangan banyak protes. Aku mandi dulu ya." Bian melepas pakaiannya dan meletakkannya di atas sofa.


"Mas, ini bukan rumah. Disiplin sedikit apa. Bagaimana kalau ada orang masuk dan kamu sedang seperti itu."


"Ehehehe.. iya.. aku akan bawa ini ke dalam kamar mandi." Memungut pakaiannya yang sudah terlanjur dibuka.


Amara menghela nafas berat. Sejak kapan suaminya itu lupa tempat seperti ini.


***********


Hari ini Amara diizinkan untuk pulang karena kondisinya sudah membaik. Dia bahkan tidak mual lagi sejak kemarin. Hanya wajahnya yang masih terlihat sedikit pucat dan wajahnya yang semakin tirus karena tubuhnya kekurangan nutrisi.


"Selamat sore Nyonya. Selamat menikmati kembali hari-hari yang penuh menyenangkan di rumah Tuan dan Nyonya." Sambutan hangat dan senyum kebahagiaan datang dari Sumi dan Ida ketika melihat Amara masuk di pintu utama rumah.


"Terimakasih, Bi, Ida."


"Bi Sumi siapkan makan malam untuk Nyonya. Dia mau istirahat sementara makanannya siap."


"Baik, Tuan." Bi Sumi mengangguk patuh mendengar perintah tuannya. Ia langsung berlalu ke dapur untuk mempersiapkan makanan untuk Amara. Melihat daftar makanan dan cara pengolahannya yang sudah di kirim Bian untuknya tadi pagi.


Bian membawa Amara naik ke kamarnya untuk istirahat. "Kamu istirahat ya. Aku mau mengambilkan kamu roti gandum yang sudah dibelikan Ibu tadi pagi."


"Sebenarnya aku nggak mau di kamar, Mas. Aku pingin keliling-keliling di bawah. Aku mau metik buah kelengkeng di rumah Ibu. Pasti rasanya sangat enak."


Bian mengernyit, "Pohon kelengkeng di rumah Ibu tinggi-tinggi, Sayang. Kalau kamu mau makan buah kelengkeng, aku akan pergi membelikannya untukmu."


"Aku nggak mau, Mas." Amara langsung menggeleng. Melayangkan tatapan kesal untuk suaminya.

__ADS_1


Bian menghela nafas berat. Berjongkok di hadapan istrinya yang duduk di sisi ranjang. "Terus kamu maunya apa, Ra? Katanya mau makan kelengkeng. Mau dibelikan, kok malah nggak mau."


"Aku maunya yang dipetik, Mas. Beli sama metik itu beda. Kalau beli itu, kamu harus mengeluarkan uang untuk mendapatkannya. Sedangkan kalau metik, kamu harus mengeluarkan tenaga agar bisa mendapatkannya."


"Apa bedanya, Sayang.. mau aku beli atau petik, namanya tetap buah kelengkeng."


"Tapi aku maunya yang di petik, Mas Bianku Sayang.." Menguyel-uyel pipi suaminya karena geregetan. Bian terlalu bersikeras dan tidak mau mengalah. "Kalau kamu beli, aku tidak akan memakannya. Rasanya juga pasti tidak seenak yang dipetik." Melipat tangan di dada seraya membuang pandangannya.


"Iya.. iya.. aku akan carikan di rumah Ibu." Beranjak bangkit seraya menggaruk-garuk kepalanya bingung. Mengambil posisi duduk di sebelah istrinya. Melirik ke arah Amara yang terlihat masih membuang pandangannya.


"Apa kamu akan bahagia kalau aku berhasil membawa buah kelengkeng yang ada di halaman rumah Ibu?"


"Tentu saja, Mas. Aku akan langsung memakannya sampai habis di hadapan kamu."


"Hmm..." Bian termenung mendengar jawaban istrinya. Sepertinya ini maksud Daniel yang mengatakan, kalau wanita hamil itu akan menginginkan hal-hal yang aneh. Kalau tidak dituruti, maka itu bisa jadi masalah karena perasaan wanita hamil itu terkadang sangat sensitif. "Mm.. kamu mau apa lagi selain buah kelengkeng itu?"


Amara menatap suaminya dengan heran. "Kenapa Mas Bian menanyakan itu? Kalau aku menyebit semuanya, apakah kamu akan mengabulkannya?"


Tersenyum lembut seraya menarik tubuh Amara ke dalam pelukannya. "Selama aku mampu, insya Allah aku akan mengabulkan permintaanmu."


Hati Amara berbunga-bunga, tersenyum kecil dalam pelukan suaminya. Semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Bian. "Terimakasih, Mas. Semoga Allah selalu memberkahi kehidupan rumah tangga kita."


"Aamiin, Sayang."


"Sekarang kamu pergi ambilkan buah kelengkengnya gih ..." menarik tubuhnya perlahan dari pelukan suaminya. Menatap mata suaminya dengan berbinar. Rasanya udah di ujung lidah aku, Mas."


"Hmm.. kamu ini ada-ada saja. Tunggu sebentar, aku akan meminta tukang kebun untuk memetikkannya untukmu."


Tatapan Amara langsung berubah. "Suami aku itu kamu, Mas.. bukan tukang kebun. Yang mau makan itu istri kamu. Masa kamu tega meminta tukang kebun yang mencarikannya untukku."


"Iya kan, tapi.." Bian mengurungkan niatnya untuk melanjutkan ucapannya. Dia tidak mau melanjutkan perdebatan karena Amara pasti tetap pada pendiriannya. "Kalau begitu, aku.. aku sendiri yang akan memetiknya untukmu. Tunggu sebentar di sini."


"Aku ikut, Mas." Menahan tangan suaminya yang susah siap melangkah keluar dari kamar.


Bian langsung melotot. "Kamu diam saja di sini, Sayang. Aku nggak akan lama kok." Panik karena dia sudah berniat akan membohongi Amara. Dia sendiri tidak bisa manjat. Kalau Amara ikut, itu berarti dia tidak bisa minta bantuan pada siapapun.


"Ayo, Mas." Menarik tangan Bian untuk keluar.


"Kamu istirahat saja, Ra. Kamu baju saja keluar dari Rumah Sakit. Apa kamu sudah lupa pesan Dokter tadi? Kamu tidak boleh banyak beraktivitas. Nanti kalau kandungan kamu sudah masuk trimester kedua, kamu baru boleh beraktivitas."


"Sebentar saja, Mas." Amara merengek, mencoba untuk membujuk suaminya.

__ADS_1


"Nggak boleh, Sayang. Kamu istirahat saja. Aku tidak akan lama kok. Ini baru jam lima. Aku akan kembali setengah jam lagi." Mendudukkan kembali tubuh Amara di sisi ranjang. Memberikan ciuman hangar di dahi dan bibir istrinya.


***********


__ADS_2