Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Bahagia itu Sederhana


__ADS_3

"Tidak ada yang perlu di bahas lagi kan, Kak?" Bian menatap Daniel lalu beralih menatap jam tangannya.


Mendengar pertanyaan tuannya membuat Daniel mengalihkan pandangannya dari berkas yang baru saja di tanda tangani Bian. "Ada apa Tuan menanyakan itu?"


"Saya ada janji dengan Rara. Kemarin gagal gara-gara pekerjaan molor sampai selesai shalat Maghrib. Sekarang aku nggak mau memberikan janji palsu lagi untuknya."


"Oh," Daniel meletakkan berkas di tangannya. Menatanya dengan rapi sebelum akhirnya beralih menatap Bian. "Sebenarnya, Tuan harus membawa berkas ini pada Tuan Besar. Tapi, jika Tuan ada janji dengan Nyonya, biar saya yang mengantarnya ke Tuan Besar. Silahkan Tuan menikmati waktu bersama istri Tuan."


"Terimakasih," Bian langsung bangkit. Senyum manis mengembang di wajah tampannya. "Kalau ada pekerjaan yang urgent, call me.."


"Baik, Tuan." Daniel menggeser tubuhnya agar Bian bisa lewat.


"Kalau begitu saya pulang duluan. Selamat bekerja, semoga sukses." Menjabat tangan Daniel dengan pasti.


*********


Bian memarkirkan mobilnya di sebuah restoran seafood yang cukup terkenal.


"Kita mau ke sini, Mas?" Amara menatap suaminya dengan heran. Suaminya tidak pernah mengatakan apapun sebelumnya. Bian hanya bilang mau mengajaknya keluar dan memintanya untuk mempersiapkan diri.


"Kemarin kamu mengigau dalam tidur. Kamu bilang udang saus pedas yang aku belikan enak sekali. Kamu pasti bermimpi sedang makan seafood." Menatap Amara yang masih menatapnya menunggu kelanjutan ucapannya. "Sebenarnya, aku sudah merencanakan hari ini dari jauh-jauh hari. Tapi, waktu yang aku miliki sangar minim. Maaf ya, aku baru bisa membawa kamu kemari. Sekalian juga mau minta maaf lagi karena aku masih sering salah ucap selama ini. Aku belum bisa menjadi suami yang sempurna untuk kamu."


"Nggak usah bahas yang begituan ah, Mas. Aku juga bukan istri yang sempurna untuk kamu. Aku juga sering menuntut dan banyak maunya." Menyentuh pelan lengan suaminya.


Bian tersenyum kecil. "Aku suka kamu yang seperti ini, Ra. Tapi, aku juga suka kamu yang manja dan banyak maunya." Mengusap-usap kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. "Ayo turun.."


"Tunggu dulu."


Bian mengurungkan niatnya untuk turun. "Ada apa?"


"Mm.. apa tidak sebaiknya kita shalat dulu, Mas. Sebentar lagi maghrib. Kalau kita makan dulu, takutnya terburu-buru dan tidak menikmatinya."


"Mm... boleh," Bian menatap jam tangannya. Waktu maghrib masuk lima belas menit lagi. Tapi, Amara mungkin tidak mau terburu-buru. Melirik istrinya seraya tersenyum kecil. Sudah lama istrinya ingin makan seafood. Amara memang tidak pernah menyampaikan hal itu padanya. Namun, ia sering mendapati Amara memasaknya. Mengatakan masakannya sendiri tidak enak walaupun pada kenyataannya sangat enak.

__ADS_1


"Mm... Mas," melirik suaminya dengan malu-malu.


"Ada apa lagi, Sayang?" Kembali menatap istrinya. Menahan senyum melihat ekspresi malu-malu istrinya.


"Aku.. aku nggak pernah bilang mau makan seafood sama kamu. Kok kamu tau kalau aku lagi ingin makan itu."


"Insting seorang suami.." jawab Bian datar. "Sudah lama aku tau. Tapi, aku hanya mencari waktu yang tepat. Dari kemarin memang ada waktu. Tapi waktunya nggak banyak. Aku ingin benar-benar menemani kamu tanpa melibatkan pekerjaan sedikit pun. Malam ini kamu bisa keliling sepuasnya. Makan dan jalan-jalan. Atau mungkin kamu juga mau shoping. Apa sekalian mau belanja perlengkapan bayi?"


Amara mengerjap-ngerjap, tetapi kemudian mendengus. "Terlalu dini, Mas. Kata orang, kita tidak boleh mempersiapkan perlengkapan bayi sebelum bayinya lahir." Menatap sekitar yang mulai gelap. "Kita cari Masjid dulu. Kita mau ngapain, nanti dipikirkan. Kayaknya aku akan menghabiskan waktu di restoran ini saja nanti." Kembali menatap ke arah pintu restoran yang terlihat padat pengunjung.


"Mau makan dulu atau mau shalat dulu?" Bian kembali bertanya untuk lebih meyakinkan, karena Amara terlihat tidak sabar.


"Ish, shalat dulu lah, Mas."


"Tapi air liur kamu terlihat mau jatuh."


"Mas..." Amara melotot dengan kesal.


"Ehehehe.. bercanda, Sayang. Kita shalat dulu kalau begitu." Bian memanggil tukang parkir yang sudah lama menunggunya. Memberikan tip padanya sebelum meninggalkan tempat itu.


"Makanannya enak, Ra..?" Bertanya sambil menopang dagu. Tak sedikit pun ia mengalihkan perhatiannya dari istrinya.


"Mm.." Amara mengangguk mantap. Tidak terlalu menghiraukan apapun yang dilakukan suaminya. "Kamu nggak makan, Mas?" Berhenti mengunyah makanannya. Ia baru sadar kalau Bian belum menyentuh makanannya dan hanya fokus memperhatikannya.


"Kalau kamu kenyang aku juga ikut kenyang."


Amara menyebikkan bibirnya. "Kata-kata seperti itu hanya gombalan basi, Mas. Mana ada aku yang makan lalu kamu ikutan kenyang." Mencomot udang besar dan langsung melahapnya.


"Hehehe... ternyata kata-kata seperti itu sudah basi ya. Aku cuman iseng aja mengatakan itu tadi." Menggaruk-garuk kepalanya. "Aku tidak terlalu suka makanan seperti ini, Ra. Aku lebih suka makan hasil masakan kamu. Apalagi udang bumbu balado yang kamu buat waktu itu. Hmm.. rasanya masih terasa di mulutku sampai hari ini."


Amara mengernyit, mencoba mengingat hari terakhir dia masak udang. "Mm.. udang balado yang aku masak tiga hari yang lalu, itu maksud kamu?"


Bian mengangguk. "Itu rasanya enak banget loh."

__ADS_1


"Aku nggak suka, Mas. Nggak tau juga kenapa aku bisa tidak suka. Padahal Bu Sumi dan Ida juga bilang enak."


"Aku mau kamu masak seperti itu lagi untukku nanti. Bawakan sebagai menu makan siang."


"Kalau kamu suka, tentu saja aku akan memasaknya dengan sepenuh hati." Menyuapkan lagi makanan ke mulutnya. "Ayo kamu coba dulu yang ini, Mas. Jangan katakan hal konyol kayak tadi lagi. Yang ada nanti kamu malah tidak bisa tidur karena perut kamu bunyi terus minta diisi." Menyodorkan satu piring yang sudah diisi dengan sedikit nasi ke hadapan suaminya. "Makan dulu, biar perut bisa diajak kompromi nantinya."


Bian menarik nafas panjang. Sebenarnya, dia tidak berselera makan dengan menu yang terhidang di depannya. Tapi, dia harus makan demi menjaga perasaan istrinya.


"Hmm..."


Amara dan Bian langsung mengangkat wajahnya saat mendengar suara seseorang yang terdengar tidak asing.


"Istri anda terlihat sangat menikmati makan malam ini, Pak Bian. Dia terlihat seperti orang yang kelaparan. Apa anda tidak memberinya makan dengan baik?"


Bian tersenyum ketus. Baru saja dia sangat bahagia menikmati waktu berdua dengan istrinya. Entah angin dari mana yang membawa Nona Khanza ke tempatnya saat ini.


"Aku tidak bebas mengatakan apa pun di Perusahaan. Tapi, saya rasa di tempat ini tidak ada yang bisa melarang aku. Ini di luar jam kerja. Kebetulan juga kita tidak bertemu karena akan membahas pekerjaaan."


"Terus, mau kamu apa sekarang?" Bian beranjak bangkit. "Jangan pernah berniat untuk mengganggu kami. Aku dan istriku sedang menikmati makan malam kami. Apa kamu tidak ada pekerjaan yang bermanfaat, sehingga berniat melakukan hal tak berguna seperti ini?"


"Oh.. tenang dulu, Pak Bian. Aku datang hanya ingin menyapa kalian. Kebetulan pas masuk tadi, mataku langsung ke tempat duduk ini. Aku nggak ada niat buruk, Pak. Aku hanya mau lihat, Bagaimana sih cara Amara ini meluluh lantahkan hati Pak Bian yang sempurna." Khanza duduk di kursi kosong tanpa dipersilahkan.


Amara meneguk tandas air dalam gelas minumnya. "Sepertinya kamu sangat tertarik dengan rumah tanggaku dengan Mas Bian."


"Oh, tentu saja. Rumah tangga kalian itu sebuah misteri yang belum terpecahkan olehku. Aku terkadang masih tidak percaya, kenapa Pak Bian bisa menikah dengan mu." Berucap tanpa malu. Ia bahkan menatap Amara dengan tajam.


"Kenapa harus tidak habis pikir, Nona Khanza. Aku sendiri yang telah memilih Amara. Dia adalah wanita yang ditakdirkan Allah untukku. Aku juga mencintainya. Kami saling mencintai dengan cara sederhana. Semua yang terlihat dalam hubungan kami adalah kenyataan yang tidak di rekayasa." Bian tersenyum kecil. "Satu yang perlu anda tau, Nona." Beralih menatap istrinya. "Aku mencintai Rara karena dia adalah wanita yang tampil apa adanya tanpa ada kepura-puraan." Bian langsung memanggil pelayan setelah selesai bicara. Meminta bil pembayaran dan mengajak istrinya meninggalkan tempat itu.


Beberapa kali mengusap wajahnya dengan kasar seraya beristighfar. Moodnya langsung rusak karena kedatangan wanita aneh itu.


"Mas," Amara menyentuh tangan suaminya karena Bian terlihat tidak tenang.


"Maafkan aku untuk kejadian tadi, Ra. Makan malam kita jadi terganggu karenanya."

__ADS_1


"Kenapa kamu yang harus minta maaf, Mas. Aki sih tidak terlalu menghiraukannya. Jika dipikirkan, wanita itu akan semakin senang mengganggu kita. Cukup dengan mengabaikannya, itu lama-lama akan membuatnya bosan sendiri."


Bian tersenyum kecil. Amara terlihat lebih bijak dalam menghadapi masalah ini.


__ADS_2