Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Kamu Menyebalkan


__ADS_3

Khanza beberapa kali melirik ke arah Amara yang sama sekali tidak tertarik untuk memperhatikan gerak-geriknya. Namun, Amara terlihat tidak perduli dan acuh tak acuh. Ia hanya fokus menatap handphonenya, walaupun Khanza beberapa kali sengaja menyindirnya.


Sementara itu, Daniel beberapa kali tidak bisa menjawab pertanyaan Khanza, karena Khanza menanyakan hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan kontrak kerjasama yang sedang mereka bahas.


Brak..!


Tiba-tiba Bian menggebrak meja dengan kuat. Berdiri lalu menatap Khanza dengan tajam. "Jangan libatkan masalah penyakit hati anda dalam pekerjaan, Bu Direktur. Sungguh anda terlihat tidak profesional. Kita sedang membahas masalah kontrak kerjasama yang hampir mencapai kesepakatan. Jika anda terus seperti ini, lebih baik rencana kerjasama ini tidak dilanjutkan."


"Eh, maksud Kak Bian apa?" Khanza ikut berdiri. "Memangnya saya salah ngomong apa, sampai Kak Bian harus menggebrak meja seperti itu. Bukankah anda yang lebih tidak profesional. Anda membawa istri ikut serta dalam rapat penting Perusahaan. Padahal istri anda tidak ada sangkut pautnya dengan rapat ini. Dia juga tidak memiliki kedudukan apapun di Perusahaan anda." Khanza membuang pandangan seraya melengos kesal. Benar-benar tidak menyangka kalau Bian berani mengatakan itu padanya.


Sepersekian detik Amara menatap suaminya dan Khanza secara bergantian. Namun, ia kembali menatap handphonenya. Masih terlihat tidak perduli dengan apa yang terjadi.


Sementara itu, Daniel hanya menganga bingung. Dia akui kalau Khanza memang beberapa kali mengajukan pertanyaan yang tidak nyambung dengan bahan yang sedang mereka bahas. Dari awal pertemuan pun, Bian sudah terlihat lebih berhati-hati dengan wanita itu. Tuannya juga terlihat tidak menjaga sikap sama sekali. Padahal, Bian yang ia kenal sangat menjawab image pada orang luar.


"Kalau Bu Khanza tidak tertarik bekerja sama dengan Perusahaan kami, lebih baik tidak usah membuang-buang waktu kami."


"Maksud Kak Bian apa? Aku tidak mungkin mengorbankan waktuku seharian kalau aku hanya main-main." Khanza lebih meninggikan suaranya.


"Saya tidak perduli berapa keuntungan yang akan kami peroleh jika bekerja sama dengan Perusahaan anda. Anda tidak bisa membedakan masalah pribadi anda dengan masalah pekerjaan. Itu membuat saya sangat tidak nyaman." Bian kembali duduk setelah menyelesaikan ucapannya. Ia menarik nafas panjang seraya beristighfar. Mendengar Khanza meremehkan istrinya benar-benar membuat darahnya terasa mendidih.


"Istighfar, Mas. Aku aja tidak marah, kok kamu yang ngegas sampai segitunya." Amara berusaha menenangkan suaminya. Mengambil selembar tissue dan mengelap peluh yang mengalir di pelipis suaminya.


"Aku menyayangimu, Ra. Aku marah karena milikku direndahkan orang. Aku milikmu dan kamu milikku. Jadi, aku percaya kalau kamu akan meradang sepertiku jika ada orang yang merendahkan aku di hadapanmu."


Khanza mendengus seraya membuang pandangannya. Dia sudah tidak bisa konsentrasi jika harus melanjutkan membahas kontrak kerjasama lagi. Melihat pria impiannya menggandeng wanita lain dan bersayang-sayangan dengan wanita lain membuat hatinya sakit. Terlebih wanita itu adalah Amara. Wanita yang ia rasa sangat jauh dari levelnya. Apalagi Amara yang hanya berasal dari keluarga yang sederhana dan tidak utuh, membuatnya sangat menyayangkan hal itu. Bian yang jatuh ke pelukan wanita itu. Bian seharusnya bersanding dan memilihnya untuk menjadi pasangannya.


"Lebih baik kita lanjutkan lain waktu saja, Pak." Khanza beralih menatap Daniel. "Saya akan menghubungi Pak Daniel jika saya sudah siap melanjutkan pembahasan ini lagi. Maaf karena saya membuat Kak Bian tidak nyaman dan tersinggung dengan ucapan saya. Saya pamit." Khanza meraih tas jinjingnya dan langsung berlalu tanpa ada niat untuk berbalik lagi. Dia benar-benar tidak bisa mengendalikan perasaannya kalau harus diam lebih lama lagi di hadapan pasangan itu. Jika dia menghindar, setidaknya dia bisa mempertahankan kewarasannya.


***********


Pagi itu..


Bian beberapa kali mengabaikan panggilan dari Daniel. Ia benar-benar ingin istirahat dari memikirkan tentang Perusahaan. Namun, entah apa yang akan disampaikan, sehingga asistennya itu berulang kali menghubunginya.

__ADS_1


"Mas, dijawab apa.. kasihan Pak Daniel. Mungkin ada hal penting yang ingin dia sampaikan pada kamu." Amara membawa handphone suaminya dan meletakkan benda gepeng itu di atas pangkuan Bian. Ikut duduk di samping suaminya.


"Biarin aja. Kalau dia benar-benar butuh, dia akan datang ke rumah. Lagian ini juga hari Minggu." Memindahkan handphone tadi ke atas meja. Mengaktifkan mode silent lalu menelungkupkannya agar tidak terganggu lagi.


Amara melototkan matanya. "Astagfirullah, Mas. Rumahnya Pak Daniel sangat jauh dari sini." Menatap suaminya heran. Tidak menyangka ucapan itu yang akan keluar dari mulut suaminya.


"Mm.. nggak jauh-jauh amat. Setengah jam juga sampai kalau jalanan senggang." Jawab Bian datar.


"Iya, tapi kan..."


"Sssttt.. jangan berisik." Bian merangkul pundak istrinya. Memaksa Amara agar meletakkan kepalanya di atas pundaknya. "Lebih baik kamu ikut nonton sama aku. Nih, kartunnya seru.."


Amara mengernyit. Berusaha mengangkat kepalanya yang masih di tahan Bian dengan tangannya. Mencubit lengan suaminya yang ia rasa menyebalkan dan lebih banyak bermalas-malasan dari kemarin.


Sejak pertemuan mereka dengan Khanza beberapa hari yang lalu. Bian sedikit berubah. Dia terlihat lebih perhatian pada istrinya. Namun, ia beberapa kali pulang cepat dan tidak menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Hal itu membuat Daniel menjadi korban. Dia yang harus capek bolak-balik mengantarkan pekerjaan Bian yang tidak selesai.


"Ish, kamu ini aneh deh, Mas. Orang-orang kayak kamu biasanya suka nonton berita masalah bisnis atau masalah politik. Lah, ini kok ngajakin aku nonton kartun spongebob. Apanya yang seru sih?!" Amara mendengus. Membiarkan kepalanya bersandar di pundak suaminya karena usahanya untuk mengangkatnya hanya sia-sia.


Tangan Bian tiba-tiba meraba perut istrinya. "Baby-nya kapan keluar ya, Ra. Coba kalau baby-nya udah lahir, rumah ini pasti tidak sesepi ini. Terus kalau hari Minggu, jam segini kayaknya kita sedang mengajaknya jalan-jalan menggunakan stroller.


Amara menahan senyum. "Ternyata khayalan kamu sudah sampai sejauh itu, Mas. Perut aku masih datar loh." Ikut mengelus-elus perutnya. Walaupun terlihat masih datar, tapi sudah terasa kalau ada isinya.


"Makanya kamu bekerja dengan baik, biar anak-anak kita bahagia nantinya. Kalau sudah jadi ayah, tanggung jawab Mas Bian bertambah."


Bian tersenyum kecil. Mendengar istrinya membahas tentang tanggung jawab, tiba-tiba saja ia teringat pada Almarhum bapaknya. Dia yang belum tau apa-apa saat orang tuanya itu pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. "Ra, bagaimana kalau aku tiba-tiba mati dan tidak bisa menjalankan kewajibanku sebagai orang tua?"


"Astagfirullahal'adzim.. kamu ngomong apa sih, Mas. Kamu menyebalkan deh. Dari kemarin bawaannya menyebalkan terus. Aku ingin bacok kamu lama-lama kalau kayak gini. Ngomong ngelantur nggak jelas. Please deh, Mas.. jangan ngomong yang aneh-aneh. Kamu kira aku mau jadi janda apa.. ish..." Amara membalik tubuhnya membelakangi suaminya.


"Kok ngambek sih.. aku kan cuma bercanda, Ra. Lagian aku juga nggak mau mati muda. Biar Bapak saja yang sudah terlanjur." Memeluk tubuh istrinya dari belakang. "Kita nonton lagi ya..." berusaha membalik tubuh istrinya. "Rara, Sayang.."


Amara menarik nafas panjang. "Aku akan menemani kamu, kalau kamu berjanji tidak akan ngomong yang aneh-aneh lagi. Kamu harus janji kalau kamu tidak akan menyebalkan lagi."


"Iya, Sayang..." Bian menahan senyum.

__ADS_1


"Terus kenapa ekspresi kamu kayak gitu?" Melirik lalu kembali menatap ke depan.


"Memangnya ekspresiku bagaimana, Ra? Kamu kan tau, suamimu ini bukan pria bermuka tebal. Apa yang ada dipikirannya, itu yang akan keluar di ekspresi wajahnya." Menempelkan wajahnya di leher istrinya.


Amara terdiam beberapa saat. Memikirkan apa yang akan diucapkannya. "Mm... aku nggak mau mendengarkan kalimat-kalimat aneh lagi." Membalik tubuhnya perlahan.


"Iya, Sayang." Melepaskan pelukannya perlahan. Begitu istrinya duduk tegak ia langsung merebahkan kepalanya di atas pangkuan Amara. Memeluk pinggang Amara dan menenggelamkan kepalanya di perut wanitanya itu.


"Aku...."


"Maaf, Tuan, Nyonya.."


"Eh," Bian langsung mendongak menatap istrinya.


"Bangun, Mas.. Ada Bi Sumi." Amara menatap suaminya tanpa berkedip. Wajahnya langsung menyemburkan rona merah. Kepergok sedang dalam posisi yang tidak biasanya membuatnya benar-benar malu.


Bian langsung tersenyum jahil. "Biarin aja." Kembali melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. "Ada apa, Bik?" Bertanya tanpa merubah posisinya. Menenggelamkan wajahnya di perut istrinya.


"Ada Pak Daniel di depan, Tuan." Jawab Bi Sumi sambil menunduk. Mendapati tuannya sedang berduaan membuatnya sedikit sungkan.


"Katakan padanya kalau aku sedang beristirahat."


"Baik, Tuan." Bi Sumi langsung berlalu.


"Mas..." kali ini Amara melotot lebar.


Bian melirik lalu kembali menenggelamkan wajahnya. "Jangan melotot, kamu terlihat lucu."


"Kamu.. benar-benar.. menyebalkan.. Maaasss..." mengeratkan giginya dengan kesal. Mencubit-cubit suaminya di beberapa bagian.


"Ampun, Sayang.. ampun..."


********

__ADS_1


__ADS_2