Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Cobaan untuk Bian


__ADS_3

Bian duduk di sebelah kakeknya yang berbaring lemah. Tangannya menggenggam erat tangan kakeknya yang sudah mengeriput. Matanya terus menatap kakeknya dengan prihatin


"Tau kayak gini Kakek nggak usah pulang aja kemarin."


Pak Akmal tersenyum sambil menepuk-nepuk tangan cucu kesayangannya itu. "Kakek sudah merasa kurang sehat sejak di rumah kamu waktu itu. Tapi, kalau Kakek tetap diam di sana. Kakek akan semakin merepotkan kalian. Ibu kamu sudah sangat lelah, Nak. Selain harus membiayai kamu, dia juga menjadi tulang punggung keluarga. Ibu kamu tidak pernah menolak uang dari Kakek. Tapi Kakek sangat tau, kalau ibumu itu tidak pernah menggunakan uang yang Kakek berikan. Uang itu masih tersimpan utuh di Bank."


Bian hanya tersenyum kecil menanggapi. Hanya tangannya yang semakin erat menggenggam erat tangan Pak Akmal.


Pak Akmal menatap sekeliling ruangan. Melihat hanya ada Ardian selain mereka, ia kembali menatap Bian. "Bian, Kakek mau ngomong serius sama kamu."


Bian menarik nafas panjang. "Kakek mau ngomong apa, ngomong saja."


"Besok kamu berangkat ke Singapura."


"Hah?!" Bian tersenyum kaget. "U.. untuk apa, Kek?"


Pak Akmal menatap Bian prihatin. Sebenarnya belum waktunya dia melakukan ini pada cucunya itu. Tapi, kondisi kesehatannya yang semakin menurun mengharuskannya untuk melakukan ini. "Kamu harus mengikuti ujian khusus. Kamu akan pergi bersama Ardian besok."


"T.. tapi, Kek." Bian mencoba melakukan negosiasi. Dia belum melakukan persiapan apapun untuk ke tempat itu.


"Jika kamu berangkat besok, kamu bisa istirahat dua hari sebelum ujian. Kakek tau kamu pasti merasa berat. Apalagi kamu harus naik pesawat untuk ke tempat itu. Tapi, satu yang perlu kamu ingat, Sayang. Pasti ada kata pertama kali."


"Kenapa tidak membicarakan ini dari jauh-jauh hari, Kek? Setidaknya, aku bisa mempersiapkan diri untuk menaiki benda itu." Bian berkata sambil membuang pandangannya. Cobaan ini sepertinya akan lebih menegangkan baginya daripada ujian skripsi yang baru kemarin dia lewati.


"Kakek tidak mau kamu menolak. Itulah mengapa ini dibicarakan secara mendadak."


Bian berdecak seraya menatap ke sembarang arah. Menarik nafas dalam lalu membuangnya dengan kasar.


"Hmm... jangan mengeluh, Nak. Kamu adalah calon pemimpin. Pemimpin itu harus bersikap tegas dan tidak boleh cemen. Masa naik pesawat kamu nggak berani sih?"

__ADS_1


"Tapi, Kek. Kakek kan tau sendiri... ck..!" Bian kembali membuang pandangan seraya kembali membuang nafas dengan kasar.


"Sudahlah, Dek. Kamu kan ingin melihat Kakek istirahat. Kalau kamu ngeluh terus, Kakek tidak akan bisa menikmati masa tuanya dengan bersantai. Sudah waktunya kamu menggantikan beliau."


Bian beralih menatap Ardian. "Kenapa tidak Abang saja yang menggantikan posisi Kakek. Atau kalau Abang kurang pantas, kenapa tidak pakai Kak Zidane atau Abah Ismail saja. Atau mungkin Ummi Ainun yang paling pantas."


"Kamu ini ngomong apa sih?!" Pak Akmal menepuk tangan Bian yang masih menggenggam tangannya. "Tidak ada yang pantas selain kamu, Sayang. Walaupun Ainun adalah anak Kakek dan saudara dari Almarhum Bapak kamu, dia tidak pantas mengambil posisi ini. Hanya kamu yang paling pantas. Kakek tau kamu pasti bisa."


Bian hanya diam. Sebenarnya, pria itu masih membutuhkan penjelasan. Dia belum paham dengan semua ini. "Aku perlu bimbingan untuk menghadapi tahap ini, Kek." Ucapnya setelah cukup lama diam.


"Kamu bisa belajar dari Kakak ipar kamu. Ardian juga memiliki jabatan yang penting di Perusahaannya. Walaupun Perusahaan itu tidak sepenuhnya milik dia, tetapi kamu perlu belajar banyak darinya."


"Terserah Kakek kalau begitu." Mengalah mungkin itu lebih baik, pikir Bian.


"Oh iya, Nak. Kakek sudah meminta Amara untuk datang kemari."


Bian kembali tersentak. Kenapa semua terjadi seperti surprise untuknya. "Loh, Kakek..."


Mulut Bian sedikit terbuka, tetapi tidak ada kata yang bisa ia ucapkan. Kakeknya memang banyak berkuasa dan dia tidak bisa menentang kekuasaan itu.


"Sudah lah, Bi. Kita ini hanya anak kecil bagi Kakek. Tidak usah banyak protes, biar urusan berjalan lancar. Apa kamu lupa, kalau Kakak iparmu ini dulunya mantan orang sombong dan banyak tingkah?" Ardian bangkit dari sofa, berjalan mendekati Pak Akmal dan Bian.


"Huh, jangan mengingat masa kelam itu, Bang. Aku tidak mau perasaan jahatku yang ingin menonjok Abang kembali datang." Bian melengos kesal. Kesombongan Ardian di masa lalu benar-benar membuatnya kesal kalau diingat.


"Hahaha.." Ardian malah tertawa melihat ekspresi adik iparnya. "Bukannya Abang mau mengingat masa kelam itu, Dek. Abang cuma mau, kamu mengambil pelajaran dari itu. Orang yang sombong seperti Abang saja, sekarang hanya bisa nurut kalau Kakek Akmal sudah bertitah. Apalagi kamu yang memiliki sifat baik. Belum lagi, kamu adalah anak yang penurut pada orang tua, walaupun kamu teguh pendirian.


"Aku yang mau nurut sama Ibu. Aku berani membantah, kalau itu selain Ibu yang memberikan perintah."Jawab Bian dengan ekspresi datar.


"Seandainya Ibu meminta kamu untuk ... m.. melepas ... Amara, bagaimana?"

__ADS_1


"Abang, ngomong apa sih?! Ibu nggak mungkin sejahat itulah. Ibu tau kok, kalau aku tidak akan membawakan calon menantu yang membuatnya tidak nyaman."


Ardian menahan senyum. Reaksi Bian terlihat sangat berlebihan. Dari sini saja, dia sudah bisa menebak, kalau Bian adalah tipe laki-laki setia. Sepertinya adik iparnya itu akan sulit berpindah ke lain hati jika hubungannya dengan Amara kandas di tengah jalan. "Kamu terlalu serius menanggapi gurauan Abang."


Bian hanya menghela nafas berat menanggapi. Ia kembali menatap Kakeknya. "Baiklah, Kek. Mulai sekarang, aku akan mengikuti permainan Kakek. Apapun yang akan Kakek perintahkan, aku akan menurut selama itu tidak melewati batas toleransiku."


Pak Akmal menarik ujung bibirnya. "Kata-kata yang selalu Kakek tunggu dari dulu, Nak." Melepaskan tangannya dari genggaman Bian lalu menepuk-nepuk pundak cucunya itu.


"Kakek harus janji sama Bian, saat pulang dari Singapura nanti, Kakek harus sudah sembuh. Bian sangat tidak suka melihat kondisi Kakek yang seperti ini."


"Insya Allah, Nak. Jika cucu Kakek ini selalu nurut, Kakek tidak akan banyak beban pikiran. Otomatis, Kakek jadinya bisa lebih santai."


Bian beranjak bangkit. "Kalau begitu, Bian mau ke Pesantren lagi, Kek. Bian mau istirahat. Bukan hanya istirahatkan badan saja. Tapi, Bian juga mau istirahatkan pikiran untuk menghadapi hari esok."


"Iya, Sayang." Pak Akmal mengangguk senang. Melihat cucunya tidak terlalu banyak protes dengan keputusannya membuatnya bisa menarik nafas lega. Menatap kepergian Bian dengan senyum yang masih mengembang di wajah tuanya.


"Oh iya, Kek." Bian kembali berbalik setelah sampai di ambang pintu. Hal itu membuat pria paruh baya yang sudah mempersiapkan diri untuk merebahkan tubuhnya, terpaksa kembali duduk.


"Ada apa, Nak?"


"Mm ... apa aku bisa bertemu Rara sebelum pergi nanti? Jam berapa kira-kira dia akan sampai di sini? Hmm... mudah-mudahan dia bisa sampai pagi."


Pak Akmal tersenyum lemah sambil menatap Bian. Sedangkan Ardian hanya bisa menggeleng-geleng pelan. "Kita berangkat sore, Dek. Kamu tidak usah mengkhawatirkan hal kecil seperti itu. Kakek pasti sudah mengatur semuanya."


Bian tersenyum meringis lalu kembali menatap Pak Akmal. Masih ada hal yang mengganjal di hatinya. Jika dia tidak memastikan itu pada kakeknya terlebih dahulu. Dia tidak akan bisa meninggalkan Amara di lingkungan keluarganya, sementara dia akan pergi. "Kek, Nenek tidak suka dengan Rara. Apa Kakek bisa menjamin kalau Rara akan baik-baik saja walaupun aku tidak ada bersamanya nanti?"


"Kamu benar-benar teliti, Dek. Mana mungkin Ibu dan Chay membiarkan calon anggota baru keluarga mereka tidak nyaman di lingkungan keluarga besar. Percaya sama Abang. Amara akan baik-baik saja selama kamu pergi." Ardian menepuk pundak Bian untuk meyakinkan.


"Tapi, Abah dan Ummi juga belum mengenal Rara." Ucap Bian lagi dengan ragu.

__ADS_1


Ardian menarik nafas dalam. "Percaya sama Abang, kalau Abah dan Ummi akan menjaga perasaan Amara. Mereka tidak mungkin membuat kecewa wanita pilihanmu. Mereka pasti akan menjaga wanitamu, seperti mereka menjagamu."


**********


__ADS_2