Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Jangan Sentuh Milikku


__ADS_3

"Mm... begitu.." Bian manggut-manggut sambil menahan senyum. "Kalau begitu, kamu mau kan menikah denganku?"


"Hah..?!" Amara tersentak kaget. Bukan hanya Amara. Ameena bahkan sampai terjungkal dari tempat duduknya.


"Hei, what happen, Na?" Amara langsung bangkit untuk membantu Ameena. Ingin tertawa tetapi kasihan melihat temannya itu meringis kesakitan.


Ameena berusaha bangkit sambil merenggut kesal. "Kak Bian ini kenapa sih, senang sekali membuat kejutan yang seperti ini."


"Apa..?" Bian menahan senyum.


"Kalau mau ngajak nikah itu, jangan kayak gini. Adakan persiapan dulu. Ini main ngomong tanpa saringan bikin orang kaget aja." Ameena melengos kesal. Mengusap-usap rok bagian belakangnya.


Bian akhirnya tidak tahan untuk tidak tersenyum. "Yang aku ajak nikah itu Rara, Na.. bukan kamu."


Ameena mengepalkan tangannya. Kepalan tangan itu langsung melayang di punggung Bian. Namun, tangan kekar Daniel tiba-tiba menahan tangan itu dan menghempaskannya dengan kasar. "Saya mohon Nona bisa menjaga sikap. Jangan sampai saya berbuat kasar karena anda menyakiti Tuan kami." Mata Daniel bahkan menatap tajam Ameena tanpa berkedip.


Ameena menelan ludahnya dengan susah payah karena terasa nyangkut di tenggorokannya. "M.. maafkan saya, Pak."


Bian beralih menatap Amara. "Ra, aku mau ngomong serius. Kamu ikut aku ke rumah ya.." ucapan Bian mengalihkan perhatian Daniel yang masih mencengkeram pergelangan tangan Ameena. "Apa kita akan berangkat sekarang, Tuan?" Ucap Daniel seraya melepaskan tangan Ameena.


"Iya.." Bian beranjak bangkit. "Kak Daniel jangan terlalu kaku. Kami biasa bercanda seperti tadi."


"Baik, Tuan." Daniel mengangguk hormat.


"Na, mau ikut ke rumah, atau mau diam di sini?" Bian bertanya sambil menahan senyum. Untuk pertama kalinya dia melihat Ameena mengeluarkan ekspresi yang seperti itu. Biasanya gadis itu selalu masa bodoh. Ternyata gertakan Daniel membuatnya mati kutu dan tidak berani berkata semaunya.


"A.. aku.. aku di sini saja, Kak." Ameena menundukkan kepalanya.


"Aku ada oleh-oleh loh, untuk kamu. Kamu kan sudah jadi Satpam yang baik untuk Rara."


Ameena mengangkat wajahnya seraya menatap Bian. Sepersekian detik ia tertegun menatap pria itu. Terlihat sangat berbeda. Terlihat lebih berwibawa karena pakaian resmi yang dikenakannya. Ketampanannya naik berlipat-lipat dengan pakaian seperti itu. "Aku.. aku.. tidak mau ikut, Kak." Ameena menarik nafas dalam, mencoba menguasai pikirannya yang terasa halu. "Kalau Kak Bian berniat memberi hadiah untukku, Kak Bian bisa menitipnya lewat Amara nanti."


"Mm... boleh." Bian beralih menatap Amara. "Ayo, Ra." Tatapannya berubah ketika menatap wanitanya.


Mereka meninggalkan halaman Kost menuju parkiran di dekat Post Satpam. "Kak Daniel, aku akan duduk di belakang bersama Rara." Ucap Bian setelah mereka sampai di depan mobil.


"Silahkan, Tuan." Daniel akhirnya masuk dan duduk di balik kemudi. Setelah memastikan tuannya duduk dengan baik, ia mulai menjalankan kendaraannya.


"Ra.. setelah dari sini, aku ada kunjungan ke Tiongkok. Lebih tepatnya, aku akan ke Tiongkok karena ada urusan."

__ADS_1


Amara langsung menatap Bian. Untuk pertama kalinya wanita itu menatap dalam sang pujaan hati setelah dari Kost tadi. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Namun, tatapan matanya sudah cukup dimengerti Bian, kalau wanitanya itu butuh penjelasan.


"Aku akan pergi sekitar dua minggu, Ra. Ada yang perlu aku pelajari di sana. Selama aku pergi, kamu jaga diri baik-baik ya. Kak Daniel juga akan ikut, jadinya aku tidak bisa memantau kamu dua puluh empat jam. Ada orang suruhannya yang akan tetap mengawasi kamu."


Amara tersenyum kecil. Melihat kekhawatiran di mata Bian membuat dada wanita itu berdebar tak menentu. "Insya Allah aku bisa jaga diri, Kak. Kak Bian juga jaga diri dengan baik. Jangan cuman mengkhawatirkan aku, lalu Kak Bian melalaikan diri sendiri."


"Hah, aku tidak akan bisa melalaikan diri sendiri, Ra. Kamu kan tau, aku punya cctv berjalan yang selalu mengikuti dan memantau gerak-gerik ku."


"Yes.. i know about that." Amara akhirnya hanya bisa tersenyum. Mengalihkan pandangannya karena terlalu lama bertatapan dengan Bian.


Lama mereka diam karena tidak ada yang membuka percakapan setelah itu. Amara menguap beberapa kali. Terkena AC mobil membuat rasa kantuknya datang kembali. Apalagi saat Bian datang tadi, dia dipaksa bangun oleh Ameena. Ia menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan mata. Melihat hal itu Bian mengernyit. "Kamu ngantuk, Ra?"


"Mm.." menjawab tanpa merubah posisinya.


Bian menatap lurus ke depan. "Ternyata kamu masih suka tidur di mobil."


"Hmm.." Amara diam beberapa saat. "Kebiasaan itu akan sulit di rubah, Kak. Lagian kalau tidur di mobil kan, sudah pasti aman."


"Kamu ini, Ra. Aman sih aman. Tapi ujung-ujungnya leher kamu alan sakit nanti karena posisi tidur yang tidak baik."


Amara hanya diam mendengar ucapan Bian. Bagaimanapun juga yang dikatakan pria itu adalah fakta. Melihat Amara tidak menimpali ucapannya, Bian menarik nafas dalam. Tatapan wanita itu sudah redup karena mengantuk. "Tidurlah, aku tau kalau kamu pasti lelah." Mengusap-usap kepala Amara yang berbalut hijab instan.


"Jangan dikucek, Rara.. nanti mata kamu merah." Bian menarik lengan baju Amara agar gadis itu menurunkan tangannya. Melihat tingkah gadis itu benar-benar membuatnya gemes. "Kalau memang ngantuk jangan dipaksakan untuk melek. Kamu tidur saja, aku akan menjaga kamu."


"Hehehe.." Amara cengengesan.


Bian hanya diam menatap wanita itu. Akhir-akhir ini dia sering sekali memikirkan wanita itu. Amara sangat polos dan tidak pandai menyembunyikan perasaannya. Sejauh ini saat ada pertemuan penting, pria itu sering mendapati wanita bersikap elegan tapi penuh dengan kepura-puraan.


Amara berbeda, dia adalah wanita yang hidup dengan fakta. Apa yang dia jalani itu adalah kenyataan dan tidak ada yang disembunyikan atau di dramakan


Baru lima menit berjalan, mata Amara sudah terpejam. Bian hanya bisa tersenyum. Perlahan, ia menarik kepala Amara lalu menjatuhkannya di atas pundaknya.


Lima belas menit kemudian...


"Apa saya perlu membantu Tuan untuk membangunkan Nona Amara?" Daniel menatap tuannya dengan prihatin. Padahal tidak ada yang terlalu menyiksa. Hanya kepala Amara yang bersandar di pundak pria itu.


"Kak Daniel tidak perlu melakukan itu. Aku akan membangunkannya sendiri."


"Tapi.." tangan Daniel terulur untuk memindahkan kepala Amara.

__ADS_1


"Jangan menyentuhnya, Kak. Aku tidak mau ada orang yang menyentuh barang milikku." Bian langsung menepis tangan Daniel.


"M.. maaf, Tuan. Saya hanya melihat Tuan tidak nyaman karena Nona Amara bersandar."


"Aku yang membuatnya bersandar. Kak Daniel masuklah duluan. Bilang ke Ibu kalau aku sudah sampai."


"Baik, Tuan." Daniel akhirnya berlalu dengan perasaan was-was. Dua tahun lebih bersama Bian, dia baru tau kalau Bian tidak suka kalau barang miliknya di sentuh orang lain.


Bian membuang nafas dengan kasar. Tiba-tiba dia merasa bersalah karena membentak Daniel tadi. Perlahan, ia menepuk-nepuk kepala Amara untuk membangunkan gadis itu.


"Ra.. bangun.. kita sudah sampai rumah."


"Rara.. bangun.."


Amara membuka matanya. Menatap sekeliling sambil mengumpulkan kembali kesadarannya. "Eh," mengangkat kepalanya dan baru sadar kalau dirinya tidur nyenyak di pundak Bian.


"M.. maaf, Kak. Aku.. aku tidak sadar."


"Ayo kita turun.." Bian tidak menghiraukan tatapan bersalah Amara. Ia langsung turun untuk membukakan pintu untuk wanitanya itu.


"Kak, aku minta maaf." Amara turun dari mobil dengan wajah ditekuk.


Bian berbalik seraya menatap wanitanya itu dengan heran. "Maaf untuk apa, Sayang?"


Amara menelan ludahnya. "Aku.. aku membuat Kak Bian tidak nyaman selama perjalanan."


"Nggak usah merasa bersalah gitu, Ra. Tadi aku yang membuatmu seperti itu. Ayo masuklah, Ibu sudah menunggu kita di dalam."


Amara menarik nafas dalam. Dadanya kembali berdebar-debar tak menentu. Berada di samping Bian membuatnya sulit mengontrol detak jantungnya. Pria itu terlalu menarik dan selalu saja membuatnya dag dig dug.


Bian tersenyum kecil saat melihat Amara yang mengekor di belakangnya. Wanita itu terlihat lucu karena merasa bersalah tadi. Padahal, jika dia tidak menarik kepalanya, Amara pasti akan tidur dengan posisinya semula.


"Rara, kamu setelah ini cuci muka." Bian berkata dengan ekspresi datar.


"Hah..?!" Amara terkejut, tetapi buru-buru ia menyembunyikan ekspresinya. "Apa wajahku terlihat buruk?"


"Heh," Bian tersenyum jahil. "Tidak seperti itu. Aku hanya ingin kamu mencuci muka, biar terlihat lebih segar.."


Amara melengos. Sepertinya Bian sedang menggodanya gara-gara dia tidur tadi.

__ADS_1


**********


__ADS_2