Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Pesan Kakek untuk Amara


__ADS_3

Amara tidak bisa berkata apa-apa. Hanya bisa menelan ludahnya menyimak semua ucapan Pak Akmal.


"Amara.. apa kamu masih di sana?"


"Amara.."


"Eh, i.. iya, Kek. Mara masih di sini kok." Amara mengembungkan pipinya, memenuhinya dengan oksigen "Kakek bilang apa tadi?"


"Hmm.. pasti menghayal ya.."


"Ng.. nggak kok, Kek. Mara.. cuman.. bingung aja tadi mau bilang apa. Hehehe..." Amara cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Tok.. tok.. tok..


"Assalamu'alaikum, Amara Andini.. Ameena datang. Mohon untuk membukakan pintu dulu."


Amara membuang nafas dengan kasar. Ingin rasanya dia pura-pura tidur dan mengabaikan ketukan di pintu. Tapi, iya khawatir kalau Ameena sampai melakukan ancamannya di handphone tadi.


"Amara.. apa kamu mendengarkan Kakek?"


"Astagfirullah..." Amara mengusap wajahnya dengan kasar. Karena terlalu sibuk memikirkan ketukan di pintu, ia sampai lupa kalau sedang bicara dengan Pak Akmal. "Maaf, Kek. Ada teman Mara yang datang." Timpal Amara seraya bangkit. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu karena melihat Ameena sudah masuk ke dalam rumah.


"Huh, gerakan lho terlalu lambat, Mara. Om sudah bukakan gue pintu duluan." Ameena melengos seraya masuk ke dalam kamar Amara, melewati pemiliknya seperti tanpa dosa. "Coba kalau bukan Kak Bian yang minta gue untuk datang sekarang. Malas sekali deh, keluar rumah malam-malam gini." Sambungnya sambil mendaratkan pantatnya di sisi ranjang. Beralih menatap Amara yang masih berdiri di ambang pintu. Menautkan alisnya saat melihat handphone menempel di telinga Amara.


Amara menempelkan jari telunjuknya di depan bibir untuk mengisyaratkan pada temannya itu agar tidak berisik. Ameena mengangguk paham dan memilih untuk diam melihat Amara.


"Sudah tentang, Kek. Silahkan Kakek lanjutkan mau ngomong apa. Insya Allah, tidak akan ada gangguan berikutnya."


Ameena melototkan matanya sambil menelan ludah. Jika yang disebut Kakek oleh Amara tadi adalah kakeknya Bian. Itu berarti...


Ameena akhirnya hanya bisa pasrah menunggu keputusan Bian. Pria itu sudah berjanji akan memberikan sejumlah uang untuknya, jika dia mau menemani Amara malam ini. Tapi, jika Pak Akmal mendengar yang diucapkannya tadi ... "Hah," hanya bisa menarik nafas panjang beberapa kali lalu membuang nafasnya dengan kasar.


Kembali pada Amara yang sedang melakukan panggilan dengan Pak Akmal.


"Amara, dengarkan Kakek, Nak!"


"I.. iya, Kek. Mara sedang mendengarkan Kakek." Amara menjawab sambil duduk di samping Ameena.


"Kakek memberikan gelang itu padamu karena Kakek yakin, kalau kamu mencintai cucu Kakek dengan tulus. Kakek bisa melihat ketulusan itu dari tingkah laku kamu, Nak." Pak Akmal menjeda ucapannya. "Ke depannya, Kakek hanya berharap kamu tetap seperti ini. Menjaga perasaan, menjaga hati dan saling menjaga diri. Gelang itu hanya sebuah lambang, Nak. Tapi, gelang itu menjadi bukti kalau Kakek ingin kamu yang menjadi pendamping cucu Kakek."

__ADS_1


Amara hanya bisa menarik nafas dalam. Dadanya sudah bergemuruh sejak Pak Akmal berkata, kalau dirinya ingin mengatakan sesuatu padanya.


"Amara ... ke depannya, tolong jaga hubungan kalian agar selalu harmonis. Jangan pernah melakukan kontak fisik sebelum kalian terikat dengan pernikahan. Mempunyai hubungan khusus di luar nikah itu, bukan berarti membolehkan kalian untuk melakukan kontak fisik. Kakek sangat membenci hal itu. Kakek tau kamu adalah wanita yang baik dan tentunya bisa menjaga diri."


"I.. insya Allah..." Amara menjawab dengan mulut bergetar. Air mata sudah mengalir di pipinya tanpa ia sadari.


"Oh iya, Nak. Bian itu sangat suka diperhatikan. Sering-seringlah memberi dia kejutan agar dia semakin menyayangimu."


"Oh, benarkah begitu, Kek?"


"Iya. Tidak usah memberinya kejutan yang wow. Kamu cukup mengantarkan makan siang, atau apalah. Mendatanginya di tempatnya tanpa sepengetahuan dia. Cucu kesayanganku itu akan sangat senang dengan hal itu. Dia akan merasa diistimewakan, Nak."


Amara tersenyum sambil mengusap air matanya. "Mara paham, Kek. Terimakasih bocorannya. Mara akan mempraktekkan itu kalau Mara sudah pulih nanti."


"Iya, Sayang. Sekarang istirahatlah. Besok Bian akan datang untuk mengantarkan vitamin untuk kamu."


"Eh, tadi sore kan udah, Kek." Amara menegakkan duduknya. Mendengar kata vitamin, membuat ya benar-benar terkejut.


"Ah, yang dibelikan Bian tadi sore kurang bagus, Nak. Kakek sudah merekomendasikan yang lebih baik."


"Mm..." Amara akhirnya tidak bisa berkata apa-apa. Standar Pak Akmal sudah pasti berbeda dengan dirinya. Kalau Amara, tidak pernah memikirkan hal-hal seperti itu. Intinya hanya berpengaruh pada kondisi tubuhnya, itu sudah baik menurutnya.


"Wa'alaikumsalam.." Amara menahan senyum sambil meletakkan handphonenya.


"Hmm.. yang sedang berbunga-bunga di kasih restu... ew.. mukanya sampai merona merah kayak gitu.." Ameena menyebikkan bibirnya. Merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan keras. "Huh, pakai acara melarang gue berisik segala. Kan nggak seru Mara.. kalau nggak berisik. Ih, apakah selamanya gue akan seperti ini. Menjadi teman sekaligus Satpam dalam hubungan kalian."


Amara hanya mengangkat bahu sambil tersenyum.


Ameena menyeringai tipis melihat respon temannya.


*********


Satu minggu kemudian...


Pagi itu, Amara keluar dari rumah usai melaksanakan shalat subuh. Dia sudah bertekad untuk mulai beraktivitas hari ini. Vitamin yang dibelikan Pak Akmal memang manjur. Dia merasa lebih segar setelah satu hari mengkonsumsi vitamin itu.


Amara meraih handphonenya untuk menghubungi Ameena. Temannya itu hilang kabar sejak dua hari yang lalu. Kontak terakhir dengannya, gadis itu meminta Amara untuk tidak mencarinya selama dua hari. Dia ingin menghabiskan gajinya sebagai Satpam selama Amara sakit kemarin.


Amara tersenyum saat panggilannya langsung dijawab Ameena. "Jemput gue pagi ini, Na. Gue mau masuk kuliah. Liburnya cukup sampai di sini."

__ADS_1


"Siap, Bu Bos. Lho siap-siap aja. Setengah jam lagi gue datang."


Tut... tut... tut...


Panggilan langsung terputus. Amara kembali menghirup udara segar pagi itu. Cukup lama dia tidak menikmati udara sejuk ini. Ia masuk kembali ke dalam rumah setelah cukup lama menikmati udara sejuk itu.


Usai mandi, Amara mendengar suara mobil Ameena di depan rumah. Amara tersenyum kecil. Ternyata temannya itu bisa tepat waktu setelah menjadi Satpam untuknya.


"Mara... gue mau berangkat duluan ya." Suara menggelegar Ameena memenuhi ruang tamu rumah Amara.


"Tunggu sebentar lah, Na. Gue cuman mau pakai jilbab saja."


"Big no.." Ameena menghempaskan tubuhnya di atas sofa. "Laki lho mau datang menjemput lho. Kalau dia sudah ada, Satpam lebih baik menjauh."


"Dia nggak pernah bilang mau datang, Na." Jawab Amara. Merasa heran karena tidak ada chat masuk dari Bian sama sekali.


"Mana gue tau. Intinya, dia akan datang pagi ini. Lebih baik lho dandan yang cantik aja sambil menunggu kedatangannya."


"Nggak, Na. Lho nggak boleh pergi sebelum dia datang. Gue berangkat sama siapa nanti kalau dianya nggak datang?"


"Om Arif mana?" Ameena celingukan. Baru sadar kalau Pak kumis satu itu tidak terlihat dari tadi.


Amara keluar dari dalam kamar setelah merasa penampilannya sudah rapi. "Papa sudah aktif bekerja, Na. Sudah dari tiga hari yang lalu. Dikasih cuti cuman dua minggu. Itu aja, Papa mengambil cuti tahunan, makanya bisa selama itu."


"Oh," Ameena diam beberapa saat. "Terus, Carissa bagaimana nanti, Mara? Lho kan kuliah. Pulangnya tidak pasti jam berapa. Carissa..."


"Gue udah minta dia untuk pulang sekolah ke Koster. Gue juga udah minta nomor handphone gurunya. Biar nanti beliau yang chat gue kali Carissa pulang sekolah. Tapi kalau kita pulang duluan, lho harus mau berkorban untuk mengantar gue menjemputnya ke sekolah."


"Mm... iya deh nggak apa-apa." Ameena akhirnya mengalah. Ada rasa kasihan pada Carissa. Terlalu muda untuk diminta mandiri. "Eh, Mara.."


"Mm..."Amara menjawab tanpa menoleh. Dia masih fokus menatap layar handphonenya.


"Tante Hanum memangnya kemana? Apa dia tidak ada niat untuk mengasuh putrinya, walaupun mereka sudah pisah?"


Amara mengangkat bahu. "Kata Papa, Tante mau jadi TKW di Arab Saudi. Gue sih kurang tau pasti. Cuman Papa bilang gitu kemarin."


Ameena langsung melengos. "Nggak ada yang kasih duit tuh dia. Makanya sekarang jadi TKW. Dulu tinggal terima uang banyak, eh.. malah jadi ibu tiri yang kejam."


"Udah, Na. Kamu ini ah.."

__ADS_1


*********-


__ADS_2